Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR BAHASA 
TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah teori belajar bahasa

                                                         DOSEN : Haerudin M,pd
                                                            Di susun oleh :
                                                            Nama: Fatimatu Zahra (1388201088)
                                                            Kelas/semester : A2/5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH TANGERANG
2015






KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya bisa menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan kepada dosen pembimbing yang sudah yang sudah mempercayai saya untuk membuat makalah teori belajar bahasa
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, serta masih banyak kekurangan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan untuk kita semua. Amin


Tangerang, 22 Desember  2015













DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………….                 ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………     .           iii
BAB I
A.    Latar BeLakang ……....…………………………………………                 4
B.     Tujuan   ……………….…………………………………………                 4
C.     Rumusan Masalah …………..…………………………….........                  4
BAB II
A.    Tujuan pembelajaran  …..……..………………………................                 5
B.     Uraian materi ....................................…………..……………....                   5
C.     Aplikasi Teori Behavioristik dalam kegiatan Pembelajaran …….                  9
D.     Premis dasar teori belajar behavioristik…………....……………                  11
E.     Classical Conditioning – Pavlov ....................................................                12
F.      Connectionism – Thorndike ..........................................................                 14
G.    Behaviosrism – Watson .................................................................                14       
H.    Penerapan teori belajar Pavlov, Thorndike, dan Watson dalam proses pembelajaran           
BAB III PENUTUP
A.    KESIMPULAN ………………………………….………………                17
B.     SARAN …………………………………………….………….…               18
DAFTAR PUSTAKA           





BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pada bagian ini dikaji tentang pandangan teori behavioristik terhadap proses belajar dan aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran pembahasan diarahkan pada pengertian belajar menurut teori behavioristik, belajar menurut pandangan Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Kajian diakhiri dengan penerapan teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran. Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia untuk belajar, terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia mempunyai sejarah sepanjang dan telah menghasilkan beragam teori. Salah satu teori belajar yang terkenal adalah teori belajar behavioristik (sering dierjemahkan secara bebas sebagai teori perilaku atau teori tingkah laku).
Dalam modul ini, kita akan bersama-sama mengkaji teori belajar behaviosristik dari segi sejarahnya, hakikatnya, pandangan teori belajar behavioristik terhadap unsur-unsur belajar, dan model-model pembelajaran yang dapat dirancang berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam teori belajar behavioristik. Setelah anda mempelajari modul ini Anda akan dapat menerapkan prinsip-prinsip teori behavioristik dalam proses pembelajaran.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik?
2.      Contoh pandangan teori belajar behavioristik terhadap unsur-unsur proses belajar?
3.      Cara merancang pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar behavioristik?

C.     TUJUAN
Tujuan dari makalah ini untuk memberikan informasi kepada tentang Teori belajar behavioristik dan penerapannya dalam pembelajaran



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda memiliki kemampuan untuk mengkaji hakikat belajar menurut teori belajar behavioristik dan penerapan teori tersebut dalam kegiatan pembelajaran.
Setelah indikator keberhasilan belajar jika anda dapat menjelaskan:
1)      Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik
2)      Teori belajar menurut Thorndike
3)      Teori belajar menurut Watson
4)      Teori belajar menurut Clark Hull
5)      Teori be;ajar menurut Edwin Guthrie
6)      Teori belajar menurut Skinner
7)      Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran

B.     URAIAN MATERI
1.      Pengertian Belajar menurut pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya pun sudah mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
Menurut teori ini yang terpenting adalah masukkan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respons. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati dan dapat diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
2.      Teori belajar menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat terwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat menguatamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionalisme.
3.      Teori belajar menurut Watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.  Dengan kata lain seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.
Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur. Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar. Pada tokoh aliran behavioristik cenderung untuk tidak memperhatikan hal-hal perubahan mental yang terjadi ketika belajar, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal itu penting.
4.      Teori belajar menurut Clark Hull
Clark hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunaan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
5.      Teori belajar menurut Edwin Guthrie
Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar.
6.      Teori belajar menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian juga dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku.
Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran berprogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh skinner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena sering kali tidak mampu menjelaskan belajar yang kompleks, sebab banyak variable atau hal-hal berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Contohnya, seorang siswa akan dapat belajar dengan baik setelah diberi stimulus tertentu. Tetapi setelah diberi stimulus lagi yang sama bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau belajar lagi. Di sinilah persoalannya, ternyata teori behavioristik tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini. Namun teori behavioristik dapat mengganti stimulus satu dengan stimulus lainnya dan seterusnya sampai respon yang diinginkan muncul. Namun demikian, persoalannya adalah bahwa teori behavioristik tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya.
Sebagai contoh, motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar. Pandangan behavioristik menjelaskam bahwa banyak siswa termotivasi pada kegiatan-kegiatan di luar kelas (bermain video-game), berlatih atletik), tetapi tidak termotivasi mengerjakan tugas-tugas sekolah. Siswa tersebut mendapatkan pengalaman penguatan yang kuat pada kegiatan-kegiatan di luar pelajaran, tetapi tidak mendapatkan penguatan dalam kegiatan belajar di kelas.
Pandangan behavioristik tidak sempura, kurang dapat menjelaskan adanya variasi emosi siswa, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang berpengaruh dalam hidup ini yang mempengaruhi proses belajar. Jadi pengertian belajar tida sesederhana yang dilukiskan oleh teori behavioristik.
C.    Aplikasi Teori Behavioristik dalam kegiatan Pembelajaran
Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku tertentu dapat dibentuk karena kondisi dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bla diberikan reinforcement, dan akan memghilang bila dikenai hukuman.
Istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih menjadi praktek pembelajaran di indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti kelompok bermain. Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di perguruan Tinggi, pembentukan perilau dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektifm pasti, tetap tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Fungsi murid atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ad melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadpkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa atau peserta didik adalah objek yang harus berprilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic’, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secar terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntur satu jawaban benar. Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keingunan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual.
Secara umum, langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Siciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1.      Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran
2.      Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entry behavior) siswa.
3.      Menentukan materi pelajaran
4.      Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topik, dsb.
5.      Menyajikan materi pelajaran
6.      Memberikan stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan, atau tugas-tugas
7.      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa
8.      Memberikan penguatan/reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif), ataupun hukuman
9.      Memberikan stimulus baru
10.  Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa
11.  Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman
12.  Demikian seterusnya
13.  Evaluasi hasil belajar

D.    Premis Dasar Teori Belajar Behavioritik
Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respons, yaitu proses manusia untuk memberikan respons tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar.
Proses S-R ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu dorongan atau  “drive” stimulus atau rangsangan, respons, dan penguatan atau “reinforcement”. Unsur dorongan diperlihatkan jika seseorang merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan ini. Dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut seseorang kemudian berinteraksi dengan lingkungannya yang menyediakan beragam stimulus yang menyebabkan timbulnya respons dari seorang tersebut. Respons atau reaksi diberikan terhadap stimulus yang diterima seseorang dengan jalan melakukan suatu tindakan yang dapat terlihat. Unusr penguatan akan memberi tanda kepada seseorang tentang kualitas respons yang diberikan, dan mendorong orang tersebut untuk memberikan respons lagi (respons yang sama ataupun respons yang berbeda).
Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi didalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan tingkah laku.
Namun demikian, tidak kalah penting adalah masukan/input yang berupa stimulus. Stimulus dapat dimanipulasi untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan. Stimulus meliputi segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan diraba oleh seseorang. untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan, selain manipulasi stimulus, ada faktor penting lain yang sangat berpengaruh, yaitu faktor penguatan (“reinforcement”) yang mulai diperkenalkan oleh Pavlov maupun Thorndike. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Penguatan dapat ditambahkan dan dikurangi untuk memperoleh respons yang semakin kuat ataupun semakin lemah.
E.     CLASSICAL CONDITIONING – PAVLOV
Percobaan yang dilakukan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) merupakan upaya untuk meliputi “conditioned reflexes” atau refleks terkondisi dalam percobaan Pavlov, seekor anjing akan berliur jika mencium bau daging. Bau daging merupakan stimulus yang tak terkondisi, sementara liur merupakan respons (refleks) yang juga tak terkondisi. Kemudian datang ditambah dengan cahaya lampu dan digunakan sebagai stimulus. Setelah pengulangan beberapa kali, diperoleh hasil bahwa anjing sudah akan berliur hanya oleh cahaya lampu, tanpa ada daging (proses asosiasi). Dengan demikian cahaya lampu menjadi stimulus yang terkondisi, dan liur menjadi respons yang terkondisi.
Teori pavlov didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorang, reaksi emosional yang di kontrol oleh sistem urat syaraf otonom, serta gerak refleks setelah menerima stimulus dari luar.
Ada tiga parameter yang diperkenalkan Pavlov melalui teori Classical Conditioning, yaitu rainforcement, extinction, and spontaneous recovery (penguatan, penghilangan, pengembalian spontan). Menurut Pavlov, respons terkondisi yang paling sederhana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi yang diikuti stimulus tak terkondisi dan respons tak terkondisi pada interval waktu tertentu. Dengan demikian, pembentukan repons terkondisi pada umumnya bersifat bertahap (gradual). Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama stimulus tak terkondisi, makin mantaplah respons terkondisi yang terbentuk, sampai pada suatu ketika respons terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi.
Jika penguatan dihentikan dan stimulus terkondisi dimunculkan sendirian tanpa stimulus tak terkondisi, ada kemungkinan frekuesi repons terkondisi akan kemudian menurun dan hilang sama sekali. Proses ini disebut penghilangan atau “extinction”. Misalnya cahaya dan daging untuk membuat anjing berliur. Jika hanya cahaya yang dimunculkan tanpa daging, lama kelamaan dapat terjadi anjing menjadi tidak berliur lagi. Namun demikian, bukan tidak mungkin pada suatu waktu anjing akan kembali berliur lagi (Respons terkondisi muncul kembali – “spontaneous”) walaupun hanya cahaya yang dimunculkan (tanpa daging). Disamping itu, dalam teori classical conditioning dikenal juga perampatan stimulus, yaitu kecenderungan untuk memberikan respons terkondisi terhadap stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi, meskipun stimulus tersebut belum pernah diberikan bersama-sama dengan stimulus tak terkondisi. Makin banyak persamaan stimulus baru dengan stimulus terkondisi yang pertama, makin besar pula perampatan yang dapat terjadi. Selain  perampatan stimulus,teori Classical Conditioning juga mengenai konsep deskriminasi stimulus, yaitu  suatu proses belajar untuk memberikan respons terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak memberikan respons sama sekali terhadap stimulus yang lain. Hal ini dapat diperoleh dengan jalan memberikan suatu stimulus tak terkondisi yang lain (Morgan,et.al.,1986) sehingga seseorang akan melakukan “selective association” – asosiasi terseleksi srimulus untuk memunculkan respons.


F.     CONNECTIONISM-THORNDIKE
Dasar-dasar teori Connetionism dari Edward L. Thorndike (1874-1949) juga dari sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Penelitian-penelitian Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mampu memecahan masalah dengan menggunakan “re akal, dan reasoning” atau dengan mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.
Dalam penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis binatang, yaitu anak ayam, anjing, ikan, kucing, dan kera, percobaan yang dilakukan mengharuskan binatang-binatang tersebut keluar dari kandang untuk memperoleh makanan. Untuk keluar dari kandang, binatang-binatang tersebut harus membuka pintu, menumpahkan beban, dan mekanisme lolos lainnya yang sengaja dirancang. Pada saat dikurung, binatang-binatang tersebut menunjukkan sikap mencakar, menggigit, menggapai dan bahkan memegang/mengais dinding kadang. Cepat atau lambat, setiap binatang akan membuka pintu atau menumpahkan beban untuk dapat keluar dari kandang dan memperoleh makanan. Pengurungan yang dilakukan berulang-ulang menunjukkan penurunan frekuensi binatang tersebut untuk melakukan pencakaran, penggigitan, penggapaian, atau pengisian dinding kandang, dan tentu saja waktu yang dibutuhkan untuk keluar kandang cenderung menjadi lebih singkat.
G.    BEHAVIORISM – WATSON
Walaupun john B. Watson (1878-1958) bukanlah ahli pertama yang melakukan kajian terhadap perilaku manusia dalam proses belajar, namun Watson lah yang melakukan penyimpulan atas teori Classical Conditioning dari Pavlov dan teori Connectionism dari Thorndike. Teori Behaviorism atau teori perilaku dari Watson sangat dipengaruhi oleh teori Pavlov maupun Thorndike yang menjadi landasan utamanya.
Menurut Watson, stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku pada umumnya, haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable). Dengan demikian. Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar, karena dianggap terlalu kompleks untuk diketahui. Watson menyatakan bahwa semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa adalah penting, namun hal ini tidak dapat menjelaskan apakah perubahan tersebut terjadi karena proses belajar atau proses pematangan semata. Hanya dengan tingkah laku yang dapat diamati (observable) maka perubahan yang bakal terjadi pada seseorang sebagai hasil proses belajar dapat diramalkan.
Interaksi antara stimulus dan respons terhadap berbagai situasi-proses perkondisian – menurut Watson merupakan proses pengemangan kepribadian seseorang. Pernyataan Watson tersebut dilandaskan kepada penelitian yang dilakukannya terhadap sejumlah bayi. Watson mengemukakan bahwa pada dasarnya bayi yang baru dilahirkan hanya memiliki tigas jenis respons emosional, yaitu takut, marah, dan sayang, kehidupan emosi manusia dewasa yang sangat kompleks, menurut Watson, merupakan hasil perkondisian dari tiga jenis respons emosional dasar tersebut terhadap situasi yang bervariasi. Walaupun cukup kompleks, namun hasil proses pengkondisian tersebut tetap dapat diukur sehingga, sekali lagi hasil proses belajar dapat diramalkan. Dalam hal interaksi antara stimulus dan respons, Watson menggunakan teori Classical Conditioning Pavlov yang dilengkapi dengan komponen penguatan dari Thorndike. Namun dalam hal perampatan hasil proses pengkondisian tiga emosi dasar bayi terhadap orang dewasa, Watson menggunakan tiga dalil belajar dan konsep perampatan hasil belajar dari Thorndike.
H.    PENERAPAN TEORI BELAJAR PAVLOV, THORNDIKE, DAN WATSON DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Teori belajar Classical Conditioning dari Pavlov, Conditionism dari Thorndike, dan Behaviorism dari Watson merupakan teori-teori dasar dari aliran perilaku dengan premis dasar yang relatif sama. Teori-teori ini di kemudian hari dikembangkan dan atau dimodifikasi oleh berbagai ahli menjadi beragam teori-teori baru dalam aliran perilaku, yang kemudian disebut aliran perilaku baru (neo-behaviorism). Sebelum kita membicarkan teori-teori belajar yang tergabung dalam aliran no-behaviorisme, marilah kita simak kemungkinan penerapan teori-teori belajar Pavlov, Thorndike, dan Watson dalam proses pembelajaran.
Konsep stimulus (Pavlov, Thorndike, Watson) diterapkan dalam proses pembelajaran dalam bentuk penjelasan tentang tujuan, rang lingkup, dan relevansi pembelajaran, dan dalam bentuk penyajian materi. Sementara itu, konsep respons (Pavlov, Thorndike, Watson) diterapkan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes dan atau ujian setelah materi disajikan, atau hasil karya sisw setelah prosedur pembuatan karya disampaikan. Proses pengkondisian atau interaksi antara stimulus dan respons (Pavlov) diterapkan dalam bentuk pemunculan stimulus yang bervariasi, baik stimulus tunggal, ganda, maupun kombinasi stimulus (perampatan dan atau diskriminasi stimulus – Pavlov). Misalnya penyajian materi melalui uraian (ceramah) dan contoh, diskusi, penemuan kembali, kerja laboratorium, permainan dengan menggunakan media tunggal maupun beragam media (papan tulis, OHT), vidoe, komputer, dan lain-lain). Hasil penelitian di dunia pembelajaran menyatakan bahwa penggunaan media yang beragam (dua atau lebih) secara variatif memghasilkan dampak positif yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran dari pada media tunggal secara terus-menerus  (Chisholm & Ely 1976). Selain itu, proses pengkondisian juga melibatkan konsep penguatan (Thorndike) yang diterapkan dalam bentuk pujian dan atau hukuman guru terhadap siswa serta penilaian guru terhadap hasil kerja siswa. Kreativitas guru dalam memanipulasi (Watson) proses pengkondisian ini membantu siswa secara positif dalam proses pembelajaran.























BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pembelajaran Teori belajar bahasa adalah kemampuan membaca yang memadai dapat dicapai dengan cara mengimbanginya dengan pemahaman sehingga menujukkan bahwa pembaca telah memperoleh kemampuan membaca. Membaca merupakan salah satu di antara empat keterampilan berbahasa (menyimak , berbicara, membaca , menulis ) penting untuk di pelajari dan dikuasai oleh setiap individu. Dengan membaca , seseorang dapat bersantai , berinteraksi dengan perasaan dan pikiran , memperoleh informasi , dan meningkatkan ilmu pengetahuan.
B.     Saran
Penulisan masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan oleh karenanya makalah ini dibaca diharapkan agar dapat memberikan saran dan kritikan yang membangun untuk kesempurnaan makalh ini dimasa yang akan datang.
















DAFTAR PUSTAKA
Soddis. Blogspot.com/2015/05/teori belajar behavioristik dan html
Winataputra, udin S.dkk teori belajar dan pembelajaran, jakarta: Universitas terbuka 2006
Hamzah B.uno.2006 Orientasi baru dalam psikologi pembelajaran. Jakarta: pt bumi aksara











Tidak ada komentar:

Posting Komentar