TEORI
BELAJAR BAHASA
TEORI
BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN
Makalah
ini untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah teori belajar bahasa
DOSEN
: Haerudin M,pd
Di
susun oleh :
Nama:
Fatimatu Zahra (1388201088)
Kelas/semester
: A2/5
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMADIYAH TANGERANG
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur marilah kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya saya bisa menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami ucapkan kepada
dosen pembimbing yang sudah yang sudah mempercayai saya untuk membuat makalah teori
belajar bahasa
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, serta masih banyak
kekurangan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat
menambah pengetahuan bagi pembaca dan untuk kita semua. Amin
Tangerang, 22 Desember 2015
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR …………………………………………………. ii
DAFTAR
ISI …………………………………………………………… . iii
BAB
I
A. Latar
BeLakang ……....………………………………………… 4
B. Tujuan ……………….………………………………………… 4
C. Rumusan
Masalah …………..……………………………......... 4
BAB
II
A. Tujuan
pembelajaran
…..……..………………………................ 5
B. Uraian
materi ....................................…………..…………….... 5
C. Aplikasi
Teori Behavioristik dalam kegiatan Pembelajaran ……. 9
D. Premis dasar teori belajar
behavioristik…………....…………… 11
E. Classical
Conditioning – Pavlov .................................................... 12
F. Connectionism
– Thorndike .......................................................... 14
G. Behaviosrism
– Watson ................................................................. 14
H. Penerapan
teori belajar Pavlov, Thorndike, dan Watson dalam proses pembelajaran
BAB
III PENUTUP
A. KESIMPULAN
………………………………….……………… 17
B. SARAN
…………………………………………….………….… 18
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pada
bagian ini dikaji tentang pandangan teori behavioristik terhadap proses belajar
dan aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran pembahasan diarahkan pada
pengertian belajar menurut teori behavioristik, belajar menurut pandangan
Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Kajian diakhiri
dengan penerapan teori belajar behavioristik dalam kegiatan pembelajaran. Proses
belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas
manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia
dari makhluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia untuk belajar,
terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia mempunyai
sejarah sepanjang dan telah menghasilkan beragam teori. Salah satu teori
belajar yang terkenal adalah teori belajar behavioristik (sering dierjemahkan
secara bebas sebagai teori perilaku atau teori tingkah laku).
Dalam
modul ini, kita akan bersama-sama mengkaji teori belajar behaviosristik dari
segi sejarahnya, hakikatnya, pandangan teori belajar behavioristik terhadap
unsur-unsur belajar, dan model-model pembelajaran yang dapat dirancang
berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam teori belajar behavioristik.
Setelah anda mempelajari modul ini Anda akan dapat menerapkan prinsip-prinsip
teori behavioristik dalam proses pembelajaran.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa
Pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik?
2. Contoh
pandangan teori belajar behavioristik terhadap unsur-unsur proses belajar?
3. Cara
merancang pembelajaran yang didasarkan pada teori belajar behavioristik?
C.
TUJUAN
Tujuan
dari makalah ini untuk memberikan informasi kepada tentang Teori belajar
behavioristik dan penerapannya dalam pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Tujuan
Pembelajaran
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan anda memiliki kemampuan untuk mengkaji hakikat
belajar menurut teori belajar behavioristik dan penerapan teori tersebut dalam
kegiatan pembelajaran.
Setelah
indikator keberhasilan belajar jika anda dapat menjelaskan:
1) Pengertian
belajar menurut pandangan teori behavioristik
2) Teori
belajar menurut Thorndike
3) Teori
belajar menurut Watson
4) Teori
belajar menurut Clark Hull
5) Teori
be;ajar menurut Edwin Guthrie
6) Teori
belajar menurut Skinner
7) Aplikasi
teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
B.
URAIAN
MATERI
1.
Pengertian
Belajar menurut pandangan Teori Behavioristik
Menurut
teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari
adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar
merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus
dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan
perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung
perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunya pun sudah
mengajarkannya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekkan
perhitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karena ia belum dapat
menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
Menurut
teori ini yang terpenting adalah masukkan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam contoh di atas, stimulus adalah
apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat
peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa,
sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi di
antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak
dapat diamati dan dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan
respons. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja
yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati dan dapat diukur.
Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang
penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
2.
Teori
belajar menurut Thorndike
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang
terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang
dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran,
perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut
Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat
terwujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang
tidak diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat menguatamakan pengukuran,
namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah
laku yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan
pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah
laku-tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah
banyak memberikan pemikiran dan inspirasi tokoh-tokoh lain yang datang
kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionalisme.
3.
Teori
belajar menurut Watson
Watson
adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike.
Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat
diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan
kata lain seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut
sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan.
Watson
adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan
dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur.
Asumsinya bahwa, hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan
perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak
belajar. Pada tokoh aliran behavioristik cenderung untuk tidak memperhatikan
hal-hal perubahan mental yang terjadi ketika belajar, seperti perubahan-perubahan
mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal
itu penting.
4.
Teori
belajar menurut Clark Hull
Clark
hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk
menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori
evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori
evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga
kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu teori Hull mengatakan bahwa
kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati
posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon
yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya,
teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama
setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering
dipergunaan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
5.
Teori
belajar menurut Edwin Guthrie
Demikian
juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan
respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa
stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis
sebagaimana yang dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan
antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu
dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus
agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga
mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap,
maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon
tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan
penting dalam proses belajar.
6.
Teori
belajar menurut Skinner
Konsep-konsep
yang dikemukakan oleh skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep
lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar
secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon
yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan
menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sederhana yang digambarkan oleh
para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh
seseorang/siswa tidaklah sederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus
yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara
stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.
Demikian juga dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi.
Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau
menjadi pertimbangan munculnya perilaku.
Pandangan
teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik.
Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar
pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program
pembelajaran seperti Teaching Machine, pembelajaran
berprogram, modul, dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada
konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan
program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh
skinner.
Teori
behavioristik banyak dikritik karena sering kali tidak mampu menjelaskan
belajar yang kompleks, sebab banyak variable atau hal-hal berkaitan dengan
pendidikan dan/atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan
stimulus dan respon. Contohnya, seorang siswa akan dapat belajar dengan baik
setelah diberi stimulus tertentu. Tetapi setelah diberi stimulus lagi yang sama
bahkan lebih baik, ternyata siswa tersebut tidak mau belajar lagi. Di sinilah
persoalannya, ternyata teori behavioristik tidak mampu menjelaskan
alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini. Namun
teori behavioristik dapat mengganti stimulus satu dengan stimulus lainnya dan
seterusnya sampai respon yang diinginkan muncul. Namun demikian, persoalannya
adalah bahwa teori behavioristik tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan
terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya.
Sebagai
contoh, motivasi sangat berpengaruh dalam proses belajar. Pandangan
behavioristik menjelaskam bahwa banyak siswa termotivasi pada kegiatan-kegiatan
di luar kelas (bermain video-game), berlatih atletik), tetapi tidak termotivasi
mengerjakan tugas-tugas sekolah. Siswa tersebut mendapatkan pengalaman
penguatan yang kuat pada kegiatan-kegiatan di luar pelajaran, tetapi tidak
mendapatkan penguatan dalam kegiatan belajar di kelas.
Pandangan
behavioristik tidak sempura, kurang dapat menjelaskan adanya variasi emosi siswa,
walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak
dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman
penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran
berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya.
Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang diamati.
Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang
mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori
behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier,
konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukan atau shaping,
yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan
peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor
yang berpengaruh dalam hidup ini yang mempengaruhi proses belajar. Jadi
pengertian belajar tida sesederhana yang dilukiskan oleh teori behavioristik.
C.
Aplikasi
Teori Behavioristik dalam kegiatan Pembelajaran
Aliran
psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik.
Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil
belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya,
mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau
perilaku tertentu dapat dibentuk karena kondisi dengan cara tertentu dengan
menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bla diberikan reinforcement, dan akan memghilang bila dikenai
hukuman.
Istilah-istilah
seperti hubungan stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai
hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (shaping) dengan penataan
kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan
unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga
sekarang masih menjadi praktek pembelajaran di indonesia. Hal ini tampak dengan
jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti
kelompok bermain. Taman kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan
sampai di perguruan Tinggi, pembentukan perilau dengan cara drill (pembiasaan)
disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi
teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal
seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa,
media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan
dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan
adalah obyektifm pasti, tetap tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur
dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar
adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar atau siswa. Siswa
diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang
diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus
dipahami oleh murid.
Fungsi
murid atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ad
melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang
dihasilkan dari proses berfikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik
struktur pengetahuan tersebut.
Karena
teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata
telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus
dihadpkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat.
Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga
pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau
ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan
yang perlu dihukum, dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan
sebagai bentuk perilaku sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan
belajar. Siswa atau peserta didik adalah objek yang harus berprilaku sesuai
dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada
di luar diri siswa.
Tujuan
pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan
pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic’, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali
pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes.
Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang
terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruan.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas
belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada
keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut.
Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi
menekankan pada respon pasif, keterampilan secar terpisah, dan biasanya
menggunakan paper and pencil test.
Evaluasi hasil belajar menuntur satu jawaban benar. Maksudnya, bila siswa
menjawab secara “benar” sesuai dengan keingunan guru, hal ini menunjukkan bahwa
siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai
bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah
selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan
siswa secara individual.
Secara
umum, langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang
dikemukakan oleh Siciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam
merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1. Menentukan
tujuan-tujuan pembelajaran
2. Menganalisis
lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entry behavior) siswa.
3. Menentukan
materi pelajaran
4. Memecah
materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok
bahasan, topik, dsb.
5. Menyajikan
materi pelajaran
6. Memberikan
stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis,
latihan, atau tugas-tugas
7. Mengamati
dan mengkaji respons yang diberikan siswa
8. Memberikan
penguatan/reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif),
ataupun hukuman
9. Memberikan
stimulus baru
10. Mengamati
dan mengkaji respons yang diberikan siswa
11. Memberikan
penguatan lanjutan atau hukuman
12. Demikian
seterusnya
13. Evaluasi
hasil belajar
D.
Premis
Dasar Teori Belajar Behavioritik
Menurut
teori belajar behavioristik, belajar merupakan perubahan tingkah laku hasil
interaksi antara stimulus dan respons, yaitu proses manusia untuk memberikan
respons tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar.
Proses
S-R ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu dorongan atau “drive” stimulus atau rangsangan, respons,
dan penguatan atau “reinforcement”. Unsur dorongan diperlihatkan jika seseorang
merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan
ini. Dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut seseorang kemudian berinteraksi
dengan lingkungannya yang menyediakan beragam stimulus yang menyebabkan
timbulnya respons dari seorang tersebut. Respons atau reaksi diberikan terhadap
stimulus yang diterima seseorang dengan jalan melakukan suatu tindakan yang
dapat terlihat. Unusr penguatan akan memberi tanda kepada seseorang tentang
kualitas respons yang diberikan, dan mendorong orang tersebut untuk memberikan
respons lagi (respons yang sama ataupun respons yang berbeda).
Teori
belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu
perubahan tingkah laku yang dapat dilihat, dan tidak begitu memperhatikan apa
yang terjadi didalam otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan
tingkah laku.
Namun
demikian, tidak kalah penting adalah masukan/input yang berupa stimulus.
Stimulus dapat dimanipulasi untuk memperoleh hasil belajar yang diinginkan.
Stimulus meliputi segala sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dicium,
dirasakan, dan diraba oleh seseorang. untuk memperoleh hasil belajar yang
diinginkan, selain manipulasi stimulus, ada faktor penting lain yang sangat
berpengaruh, yaitu faktor penguatan (“reinforcement”) yang mulai diperkenalkan
oleh Pavlov maupun Thorndike. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respons. Penguatan dapat ditambahkan dan dikurangi untuk memperoleh
respons yang semakin kuat ataupun semakin lemah.
E.
CLASSICAL CONDITIONING –
PAVLOV
Percobaan
yang dilakukan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) merupakan upaya untuk
meliputi “conditioned reflexes” atau
refleks terkondisi dalam percobaan Pavlov, seekor anjing akan berliur jika
mencium bau daging. Bau daging merupakan stimulus yang tak terkondisi,
sementara liur merupakan respons (refleks) yang juga tak terkondisi. Kemudian
datang ditambah dengan cahaya lampu dan digunakan sebagai stimulus. Setelah
pengulangan beberapa kali, diperoleh hasil bahwa anjing sudah akan berliur
hanya oleh cahaya lampu, tanpa ada daging (proses asosiasi). Dengan demikian
cahaya lampu menjadi stimulus yang terkondisi, dan liur menjadi respons yang
terkondisi.
Teori
pavlov didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorang,
reaksi emosional yang di kontrol oleh sistem urat syaraf otonom, serta gerak
refleks setelah menerima stimulus dari luar.
Ada
tiga parameter yang diperkenalkan Pavlov melalui teori Classical Conditioning,
yaitu rainforcement, extinction, and spontaneous recovery (penguatan,
penghilangan, pengembalian spontan). Menurut Pavlov, respons terkondisi yang
paling sederhana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu tindak lanjut
atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi yang diikuti
stimulus tak terkondisi dan respons tak terkondisi pada interval waktu
tertentu. Dengan demikian, pembentukan repons terkondisi pada umumnya bersifat
bertahap (gradual). Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama
stimulus tak terkondisi, makin mantaplah respons terkondisi yang terbentuk,
sampai pada suatu ketika respons terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada
stimulus tak terkondisi.
Jika
penguatan dihentikan dan stimulus terkondisi dimunculkan sendirian tanpa
stimulus tak terkondisi, ada kemungkinan frekuesi repons terkondisi akan
kemudian menurun dan hilang sama sekali. Proses ini disebut penghilangan atau
“extinction”. Misalnya cahaya dan daging untuk membuat anjing berliur. Jika
hanya cahaya yang dimunculkan tanpa daging, lama kelamaan dapat terjadi anjing
menjadi tidak berliur lagi. Namun demikian, bukan tidak mungkin pada suatu
waktu anjing akan kembali berliur lagi (Respons terkondisi muncul kembali –
“spontaneous”) walaupun hanya cahaya yang dimunculkan (tanpa daging). Disamping
itu, dalam teori classical conditioning dikenal juga perampatan stimulus, yaitu
kecenderungan untuk memberikan respons terkondisi terhadap stimulus yang serupa
dengan stimulus terkondisi, meskipun stimulus tersebut belum pernah diberikan
bersama-sama dengan stimulus tak terkondisi. Makin banyak persamaan stimulus
baru dengan stimulus terkondisi yang pertama, makin besar pula perampatan yang
dapat terjadi. Selain perampatan stimulus,teori
Classical Conditioning juga mengenai konsep deskriminasi stimulus, yaitu suatu proses belajar untuk memberikan respons
terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak memberikan respons sama sekali
terhadap stimulus yang lain. Hal ini dapat diperoleh dengan jalan memberikan
suatu stimulus tak terkondisi yang lain (Morgan,et.al.,1986) sehingga seseorang
akan melakukan “selective association”
– asosiasi terseleksi srimulus untuk memunculkan respons.
F.
CONNECTIONISM-THORNDIKE
Dasar-dasar
teori Connetionism dari Edward L. Thorndike (1874-1949) juga dari sejumlah
penelitian yang dilakukan terhadap perilaku binatang. Penelitian-penelitian
Thorndike pada dasarnya dirancang untuk mengetahui apakah binatang mampu
memecahan masalah dengan menggunakan “re akal, dan reasoning” atau dengan
mengkombinasikan beberapa proses berpikir dasar.
Dalam
penelitiannya, Thorndike menggunakan beberapa jenis binatang, yaitu anak ayam,
anjing, ikan, kucing, dan kera, percobaan yang dilakukan mengharuskan binatang-binatang
tersebut keluar dari kandang untuk memperoleh makanan. Untuk keluar dari
kandang, binatang-binatang tersebut harus membuka pintu, menumpahkan beban, dan
mekanisme lolos lainnya yang sengaja dirancang. Pada saat dikurung,
binatang-binatang tersebut menunjukkan sikap mencakar, menggigit, menggapai dan
bahkan memegang/mengais dinding kadang. Cepat atau lambat, setiap binatang akan
membuka pintu atau menumpahkan beban untuk dapat keluar dari kandang dan
memperoleh makanan. Pengurungan yang dilakukan berulang-ulang menunjukkan
penurunan frekuensi binatang tersebut untuk melakukan pencakaran, penggigitan,
penggapaian, atau pengisian dinding kandang, dan tentu saja waktu yang
dibutuhkan untuk keluar kandang cenderung menjadi lebih singkat.
G.
BEHAVIORISM
– WATSON
Walaupun
john B. Watson (1878-1958) bukanlah ahli pertama yang melakukan kajian terhadap
perilaku manusia dalam proses belajar, namun Watson lah yang melakukan
penyimpulan atas teori Classical
Conditioning dari Pavlov dan teori Connectionism
dari Thorndike. Teori Behaviorism atau teori perilaku dari Watson sangat
dipengaruhi oleh teori Pavlov maupun Thorndike yang menjadi landasan utamanya.
Menurut
Watson, stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku
pada umumnya, haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable). Dengan demikian. Watson
mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar,
karena dianggap terlalu kompleks untuk diketahui. Watson menyatakan bahwa semua
perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa adalah penting, namun hal ini
tidak dapat menjelaskan apakah perubahan tersebut terjadi karena proses belajar
atau proses pematangan semata. Hanya dengan tingkah laku yang dapat diamati (observable) maka perubahan yang bakal
terjadi pada seseorang sebagai hasil proses belajar dapat diramalkan.
Interaksi
antara stimulus dan respons terhadap berbagai situasi-proses perkondisian –
menurut Watson merupakan proses pengemangan kepribadian seseorang. Pernyataan Watson
tersebut dilandaskan kepada penelitian yang dilakukannya terhadap sejumlah
bayi. Watson mengemukakan bahwa pada dasarnya bayi yang baru dilahirkan hanya
memiliki tigas jenis respons emosional, yaitu takut, marah, dan sayang,
kehidupan emosi manusia dewasa yang sangat kompleks, menurut Watson, merupakan
hasil perkondisian dari tiga jenis respons emosional dasar tersebut terhadap
situasi yang bervariasi. Walaupun cukup kompleks, namun hasil proses
pengkondisian tersebut tetap dapat diukur sehingga, sekali lagi hasil proses
belajar dapat diramalkan. Dalam hal interaksi antara stimulus dan respons,
Watson menggunakan teori Classical
Conditioning Pavlov yang dilengkapi dengan komponen penguatan dari
Thorndike. Namun dalam hal perampatan hasil proses pengkondisian tiga emosi
dasar bayi terhadap orang dewasa, Watson menggunakan tiga dalil belajar dan
konsep perampatan hasil belajar dari Thorndike.
H.
PENERAPAN
TEORI BELAJAR PAVLOV, THORNDIKE, DAN WATSON DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Teori
belajar Classical Conditioning dari
Pavlov, Conditionism dari Thorndike,
dan Behaviorism dari Watson merupakan teori-teori dasar dari aliran perilaku
dengan premis dasar yang relatif sama. Teori-teori ini di kemudian hari
dikembangkan dan atau dimodifikasi oleh berbagai ahli menjadi beragam
teori-teori baru dalam aliran perilaku, yang kemudian disebut aliran perilaku
baru (neo-behaviorism). Sebelum kita membicarkan teori-teori belajar yang
tergabung dalam aliran no-behaviorisme, marilah kita simak kemungkinan
penerapan teori-teori belajar Pavlov, Thorndike, dan Watson dalam proses
pembelajaran.
Konsep
stimulus (Pavlov, Thorndike, Watson) diterapkan dalam proses pembelajaran dalam
bentuk penjelasan tentang tujuan, rang lingkup, dan relevansi pembelajaran, dan
dalam bentuk penyajian materi. Sementara itu, konsep respons (Pavlov,
Thorndike, Watson) diterapkan dalam bentuk jawaban siswa terhadap soal-soal tes
dan atau ujian setelah materi disajikan, atau hasil karya sisw setelah prosedur
pembuatan karya disampaikan. Proses pengkondisian atau interaksi antara
stimulus dan respons (Pavlov) diterapkan dalam bentuk pemunculan stimulus yang
bervariasi, baik stimulus tunggal, ganda, maupun kombinasi stimulus (perampatan
dan atau diskriminasi stimulus – Pavlov). Misalnya penyajian materi melalui
uraian (ceramah) dan contoh, diskusi, penemuan kembali, kerja laboratorium,
permainan dengan menggunakan media tunggal maupun beragam media (papan tulis,
OHT), vidoe, komputer, dan lain-lain). Hasil penelitian di dunia pembelajaran
menyatakan bahwa penggunaan media yang beragam (dua atau lebih) secara variatif
memghasilkan dampak positif yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran dari
pada media tunggal secara terus-menerus
(Chisholm & Ely 1976). Selain itu, proses pengkondisian juga
melibatkan konsep penguatan (Thorndike) yang diterapkan dalam bentuk pujian dan
atau hukuman guru terhadap siswa serta penilaian guru terhadap hasil kerja
siswa. Kreativitas guru dalam memanipulasi (Watson) proses pengkondisian ini
membantu siswa secara positif dalam proses pembelajaran.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran
Teori belajar bahasa adalah kemampuan membaca yang memadai dapat dicapai dengan
cara mengimbanginya dengan pemahaman sehingga menujukkan bahwa pembaca telah memperoleh
kemampuan membaca. Membaca merupakan salah satu di antara empat keterampilan
berbahasa (menyimak , berbicara, membaca , menulis ) penting untuk di pelajari
dan dikuasai oleh setiap individu. Dengan membaca , seseorang dapat bersantai ,
berinteraksi dengan perasaan dan pikiran , memperoleh informasi , dan
meningkatkan ilmu pengetahuan.
B. Saran
Penulisan
masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan oleh karenanya
makalah ini dibaca diharapkan agar dapat memberikan saran dan kritikan yang
membangun untuk kesempurnaan makalh ini dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Soddis. Blogspot.com/2015/05/teori belajar
behavioristik dan html
Winataputra, udin S.dkk
teori belajar dan pembelajaran, jakarta: Universitas terbuka 2006
Hamzah B.uno.2006
Orientasi baru dalam psikologi pembelajaran. Jakarta: pt bumi aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar