Selasa, 22 Desember 2015



PENGARUH GAYA KOGNITIF DALAM GAYA BELAJAR PEMBELAJARAN SISWA
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori Belajar Bahasa
Disusun oleh
     Nama : Sri Darmayanti
NIM : 1388201020
               Semester/Kelas : 5/A2
               Dosen : Haerudin, M.Pd



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Banyak Negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik,namun pendidikan merupakan tugas Negara yang amat penting. Namun, di negara-negara berkembang adopsi sistem pendidikan sering mengalami kesulitan untuk  berkembang. Cara dan sistem pendidikannya sering menjadi kritik dan kecaman.

Salah satu permasalahan yang menjadi sebab kenapa setiap sistem yang diterapkan tidak berkembang dengan baik, adalah faktor pemahaman para pendidik terhadap teori belajar. Banyaknya teori belajar yang telah tercipta oleh para ahli pendidikan yang menjadi sumber rujukan dalam proses pembelajaran tidak  di kuasai dan difahami oleh sebagian guru. Dan hal inilah yang menjadi akar permasalahan suksesnya tujuan pendidikan tercapai.

Mengapa anak (manusia) perlu dan harus dididik? Pertanyanya ini menuntut jawaban yang tidak berbeda dwngan pertanyaan mengapa anak (manusia) harus belajar ? sebagai jawaban pertanyaan ini, agaknya kita sependapat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk hidup yang sewaktu baru diliharikan sedemikian tidak berdayanya seperti bayi manusia. Sebaliknya, tidak ada makhluk lain di dunia ini yang setelah dewasa mampu menciptakan yang telah diciptakan manusia dewasa. Jika bayi manusia yang baru dilahirkan tidak mendapatkan bantuan dari manusia dewasa yang lain, tidak belajar, niscaya binasalah ia. Ia tidak mampu hidup sebagai manusia jika ia tidak dididik atau diajar oleh manusia.
Benar bahwa bayi yang baru dilahirkan elah membawa beberapa naluri atau instink dan pontensi-pontensi  yang diperlukan untuk kalangsungan hidupnya, tetapi jumlahnya terbatas sekali. Jika pontensi-pontensi bawaan itu tidak mungking berkembang baik tanpa pengaruh dari luar.  Di samping kepandaian-kepandaian yang bersifat jasmaniah 9 skill, motor ability), seperti : merangkak, duduk, berjalan tegak, lari, naik sepedah, makan dengan sendok, dan sebagianya, anak (manusia) itu membutuhkan kepandaian-kepandaian yang bersifat rohaniah. Manusia bukan hanya makhluk  biologis seperti halnya dengan hewan. Manusia adalah makhluk sosial dan budaya. Jelaslah kiranya, bahwa belajar sangat penting bagi kehiupan seorang manusia. Juga mengerti pula kita sekarang, mengapa anaka (manusia) membutuhkan waktu yang lama untuk belajar  sehingga menjadi manusia dewasa. Manusia selalu dan senantiasa belajar bilamanapun dan dimana dia berada.
Kemapuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Adanya yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menempuh cara yang berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama. Cara lain yang juga kerap disuaki banyak siswan adalah model pembelajaran yang menempatkan guru tak ubahnya seorang penceramah. Guru diharpakan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya jmereka pahami sendiri.
Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mantal seseorang yang atas kapasitas untuk menunjukkan perilaku yang berbeda. Perhatikan kalimat "menciptakan kapasitas. Dari perspektif kognitif, belajar dapat terjadi tanpa ada perubahan langsung dalam perilaku, bukti perubahan dalam struktur mental dapat terjadi dalam beberapa waktu kemudian. "struktur mental" bahwa perubahan termasuk skema, keyakinan, tujuan, harapan dan komponen lainnya. Dalam pelajaran david, karena randy misalnya sadar walaupun tentang kebutuhannya untuk membuat catatan, dan Tanta, Rendy dan Juan membentuk hubungan, dalam pikiran mereka, menghubungkan informasi dari grafik, transparansi, dan demonstrasi.

B.     Rumasan Masalah

1.      Apa saja gaya belajar dalam pembelajaran siswa?
2.      Apa tujuan gaya belajat efektif ?
3.      Gaya kognitif dalam  pembelajaran ?
4.      Pengarunya pembelajaran kognitif dalam pembelajaran ?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui apa saja gaya belajar dalam pelmbelajaran.
2.      Untuk memberi tahu tujuan gaya belajar.
3.      Mengetahui apa saja gaya kognitif dalam pembelajaran
4.      Untuk mengetahui pengaruh apa saja yang terdapat


BAB II
Pembahasan

A.    Gaya Belajar dalam Pembelajaran
Lain ladang, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah tersebut memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang sama. Termasuk apa bila mereka bersekolah di sekolahan yang sama aatu bahkan duduk di kelas yang sama. Apa pun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseoranguntuk mendapatkan gaya belajar yang tvepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.
Kita tidak bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasanan dan cara yang kita inginkan karena masing masing anak memiliki tipe atau gaya belajarnya sendiri-sendiri. Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya belajarnya. Banyak anak menurun peran belajaranya disekolah karena dirumah anak dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya. Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing.
Gaya belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar  (NASSP dalam Ardhana dan Willis, 1989 : 4). Definisi yang lebih menjurus pada gaya belajar bahasa dan yang dijadikan panduan pada penelitian ini dikemukakan oleh Oxford (2001:359) dimana gaya belajar didefinisikan sebagai pendekatan yang digunakan peserta didik dalam belajar bahasa baru atau mempelajari berbagai mata pelajaran.
  • Menurut Fleming dan Mills (1992), gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.
  • Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar. 
  • Willing (1988) mendefinisikan gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe (1979) memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan memandang lingkungannya. Dunn dan Griggs (1988) memandang gaya belajar sebagai karakter biologis bawaan.
Ada beberapa tipe gaya belajar yang bisa kita cermati dan mungkin kita ikuti apabila memang kita merasa cocok dengan gaya tersebut. yaitu :
1.      Gaya belajar visual
Gaya belajar seperti ini menjelaskan atau menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.
            Ada beberapa krakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama, kebutuhan melihat sesuatu (informasi / pelajaran) secara visual untuk mengetahui atau memahaminya. Kedua, memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna. Ketiga, memiliki pemahan yang cukup terhadap masalah artistik. Keempat, memiliki kesuliatan berdialog secara langsung. Kelima, terlalu reaktif terhadap suara. Keenam, suli mengikuti ajuran secara lisan. Ketujuh, seringsekali salah menginterpretasikan  kata atau ucapan.

Ciri-ciri gaya belajar visual :
1.      Cenderung melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
2.      Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
3.      Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
4.      Tak suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi
5.      Kurang mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
6.      Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan
7.      Dapat duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu
2.      Gaya Belajar Auditory Learners
gaya belajar ini adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang miliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua, memiliki kesuliatan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga, memiliki kesulitan menulisa maupun membaca.

            Ciri-ciri gaya belajar Auditory Learners :
1.      Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
2.      Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
3.      Cenderung banyak omong
4.      Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
5.      Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
6.      Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
7.      Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll
3.      Gaya Belajar Tactual Learners
individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan  tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Kedua adalah Hanya dengan  memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya  ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Ketiga adalahkita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran.
Untuk orang-orang yang memiliki karakter ini, pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan mnggunakan berbagai model atau peraga, berkerja di laboraturium atau bermami sambil belajar.
Menggunakan komputer bagi orang yang memiliki karakter ini akan sangat membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan.

Ciri-ciri gaya belajar Tactual Learners :
1.      Menyentuh segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
2.      Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
3.      Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
4.      Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
5.      Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
6.      Menyukai praktek/ percobaan
7.      Menyukai permainan dan aktivitas fisik


B.     Tujuan Gaya Belajar Efektif

Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Berikut gaya belajat yang mungkin bisa anda ikuti :
1.      Bermain dengan Kata
Gaya ini kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita, membaca, serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat,tangal, dan lain-lainnya dengan cara mendengar kemudian menyebutkan.

2.      Bermain dengan Pertanyaan
 Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat apabila itu dilakukan dengan cara bermain dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan dengan berbagai pertanyaan. Setiap kal muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil yang paling akhri atau kesimpulan.

3.      Bermain dengan Gambar
Ada sebagin orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, video, atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, bisa memilik kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu. Jika anda termasuk kelompok ini, tak salah apabila mencoba mengikutinya.

4.      Bermain dengan Musik
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrument musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi atau  melodi musik. Ini yang disebut sebagi ritme hidup. Mereka  berusaha mendapatkan infromasi baru mengenai beragam  hal dengan cara mengingat  musik atau  notasinya dengan  itu. Misalnya, mendengarkan musik jazz, lalu terpikir bagaimana lagu itu dibuat, siapa yang membuat, di mana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tetapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu.


C.    Gaya Kognitif dalam Pembelajaran

A.    teori belajar kognitif dan gaya kognitif
Salah satu karakteristik siswa adalah  gaya kognitif, gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar, baik berkaitan dengan cara penerimaan dan pengolahan  informasi, sikap terhadap indormasi, maupun kebiasaan yang berhubungan dengan lingkungan belajar.
Gaya kognitif merupakan  salah  satu variabel kondisi belajar yang menjadi salah  satu  bahan pertimbangan dalam  merancang  pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan untuk merancang atau memodifikasi materi pembelajaran, tujuan  pembelajaran, serta metode pembelajaran. Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya kognitif, tujuan, materi, serta metode pembelajaran, hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin. Hal ini sesuai denga pendapat  beberapa pakar yang menyatakan bahwa jenis strategi pembelajaran tertentu memerlukan  gaya belajar  tertentu.   
Adapun menurut pakar yang megemukakan teori kognitif yaitu menurut Paiget :
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
            Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi beberapa tahap yaitu:
a.       Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.
       Cirri-ciri tahap sensorimotor :
1)      Didasarkan tindakan praktis.
2)      Inteligensi bersifat aksi, bukan refleksi.
3)      Menyangkut jarak yang pendek antara subjek dan objek.
4)      Mengenai periode sensorimotor:
5)      Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pd banyak faktor lingkungan sosial dan kematangan fisik.
6)      Urutan periode tetap.
7)      Perkembangan gradual dan merupakan proses yang kontinu.

b.      Tahap pre – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
c.       Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d.      Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut.  Sebaliknya, akomodasi terjadi  jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / di kode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya.Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi

Menurut Jean Piagiet, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu :
a.   Asimilasi yaitu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif  yang sudah ada dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa), dengan prinsip perkalian (sebagai  informasi baru) itu yang disebut asimilasi.
b.    Akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
c. Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara “dunia dalam” dan “dunia luar”.

Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori motor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (pra-operasional) dan lain lagi yang dialami siswa lain yang telah sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional kongrit dan operasional formal). Jadi, secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur (dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya.

Ausburn merumuskan bahwa gaya kognitif  mengacu pada proses  kognitif seseorang yang berhubungan dengan pemahaman, pengetahuan, persepsi, pikiran, imajinasi, dan pemecahan masalah. Adapun  Shirley and Rita mengatakan bahwa gaya kognitif merupakan karakteristik individu dlam berpikir, merasakan, mengingat, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Informasi yang tersusun baik, rapi, dan tidak terlalu sistematis.
Sebagi karakteristik perilaku, gaya kognitif pada lintas kemampuan dan kepribadian serta dimanifestasikan pada beberapa aktivitas dan media. Gaya  kognitif  menunjukkan adanya variasi antara individu dalam pendekatannya terhadap satu tugas, tetapi variasi itu tidak menunjukkan tingkat inteligensi atau  kemampuan tertentu.sebagi karakteristik perilaku, karakteristik individu yang memiliki gaya kognitif  yang sama belum tentu memiliki kemampuan yang sama. Apalagi individu yang memiliki gaya kognitif yang berbeda kecenderungan perbedaan kemampuan yang memilikinya lebih besar.
Woolfolk menunjukkan bahwa dalam “ gaya kognitif  terdapat suatu cara yang  berbeda untuk melihat, mengenal, dan mengorganisasi informasi. Setiap individu akan  memilih cara yang disuaki dalam  memperoses dan  mengorganisasi informasi sebagai respon terhadap stimulus lingkungannya.”
Selanjutnya Keefe agak berbeda pandangannya dengan Woolfolk tentang dimensi gaya kognitif. Menurut Keefe, gaya kognitif dapat dipilah dalam dua kelompok, yaitu gaya dalam menerima informasi, dan gaya dalam pembentukan konsep dan retensi. Gaya dalam menerima informasi lebih berkaitan dengan persepsi dan analisis data, sedangkan gaya pembentukan konsep dan retensi lebih mengacu pada perumusan hipotesis, pemecahan masalah, dan proses ingatan. Keefe juga menambahkan, bahwa gaya kognitif merupakan bagian dari gaya belajar, dan gaya belajar berhubungan (namun berbeda)dengan kemampuan intelektual. Terdapat perbedaan antara kemampuan ( abillity) dan gaya (style). Kemampuan mengacu kepda isi kognitif yang menyatakan macam informasi apa yang telah diproses, dengan langkah bagaimana, dalam bentuk apa. Sedangkan gaya lebih mengacu pada proses kognitif yang menyatakan bagaimana isi informasi tersebut diproses.
B.     kedudukan kognitif dalam pembelajaran
            kedudukan gaya kognitif dalam proses pembelajaran tidak dapat diabaikan. Hal ini sesuai dengan pandangan reigeluth bahwa dalam variabel pengajaran, gaya kohgnitif merupakan salah satunya yaitu siswa yang masuk dalam gaya kognitif pembelajaran, di samping siswa lainnya seperti motivasi, sikap, bakat, minat, kemampuan berpikir, dan lain-lain. Sebagi salah satu siswa, kedudukan gaya kognitif dalam proses pembelajaran penting diperhatikan guru atau perancang pembelajaran sebab rancangan pembelajaran yang disusun dengan mempertimbnagkan gaya kognitif berarti menyajikan materi pembelajaran yang sesuai denga karakteristik dan potensi yang dimiliki siswa.
            Dengan demikian, untuk meningkatkan proses kognitif dalam diri siswa, diperlukan perhatikan terhadap karakteristik setiap individu siswa. Dalam rancangan pembelajaran pengorganisasian model claborasi dan pengorganisasian buku teks, sebelum rancangan disusun, hal yang dilakukan guru terlebih dahulu adalah mengadakan pengetesan terhadap karakteristik siswa yang diarahkan pada pengetesan tentang gaya kognitif. Dengan pengetesan gaya kognitif itu , guru atau perancang pembelajaran dapat mengetahui tentang gaya kognitif yang dimiliki siswa.
            Teori tentang pemrosesan informasi banyak membahas macam dan peran ingatan, di antaranya tentang peran ingatan sesaat (short-term memory) dan ingatan jangka panjang (long-term memory). Informasi dalam ingatan sesaat lebih cepat dilupakan dengan informasi yang dapat terolah dan terbentuk menjadi bagian dalam ingatan jangka panjang. Informasi yang masuk dalam memori jangka panjang akan menjadi pengetahuan seorang serta meningkatkan kemampuan kognitif seseorang. Kajian tentang hubungan pemrosesan informasi dengan penyampaian pembelajaran melalui penyajian visualisasi serta benda-benda geometri dan atau benda-benda spasial dalam meningkatkan kemampuan kognitif,
C.     peran gaya kognitif
            peran gaya kognitif dalam proses pembelajaran  mengacu dari pandangan para pakar tentang dimensi gay kognitif di atas menurut Woolfolk bahwa implementasi dalamnya pembelajaran sangat menetukan keberhasilan pembelajaran. Seorang siswa yang miliki gaya kognitif field dependence (FD), global perseptual merasakan beban yang berat, sukar memproses, mudah mempersepsi apabila informasi dimanipiulasi sesuai dengan konteksnya. Seorang yang memiliki diferensiasi psikologi field independence(FI), artikulasi ajan mempersepsinya secara analitis. Ia akan dapat memisahkan stimuli dalam konteksnya, tetapipersepsinya lemah kegtika terjadi perubahan konteks.
             Gaya kognitif memiliki nilai adaptif yang bervariasi dari budaya dan situasi sosial. Dalam situasi sosial orang yang FD umunya lebih tertarik mengamati kerangka situasi sosial, memahami wajah/cinta orang lain, tertarik pada pesan-pesan verbal dengan social contents, lebih besar memperhitungkan kondisi sosial eksternal sebagai feeling dan bersikap.
            Selain gaya kognitif FD dan Fi yang banyak dikaji dalam melihat karakteristik siswa, gaya kognitif lain yang tidak kalah penting adalah dimensi gaya kognitif spasial (GR) dan gaya kogntif analistis(GA). Dimensi gaya kognitif GR berkaitan dengan pembentukan imajinasi tentang objek ruang dalam pikiran, sedangkan dimensi gaya kognitif GA berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menganalisis secara kritis dalam memecahkan masalah. Berbagai penelusuran sejumlah penelitian, gaya kognitif dapat dibagi dalam beberapa kelompok, yakni gaya kognitif field independence (FI) dan field dependent (FD) yang cenderung digunakan untuk mengukur gaya kognitif pemahaman ilmu-ilmu sosial, serta gaya kognitif analitik (analytic) dan spasial (spatial) untuk mengukur gaya kognitif pemahaman ilmu-ilmu eksakta.
Berdasarkan uraian tentang koognitif tersebut, dapat diketahui bahwa gaya kognitif dapat dipandang sebagai satu variabel dalam pembelajaran. Dalam hal ini, kedudukan merupakan variabel karakteristik siswa, dan keberadaan bersifat internal. Artinya gaya kognitif merupakan kapabilitas seseorang yang berkembang seiring dengan perkembangan kecerdasaannya. Bagi siswa, gaya kognitif tersebut sifatnya given dan dapat berpengaruh pada hasil belajar mereka. Dalam hal ini, siswa yang memiliki gaya kognitif tertentu memerlukan strategi pembelajaran tertentu pula untuk memperoleh hasil belajar yang baik.
D.    Pengaruh Teori  Kognitif dalam Pembelajaran
Pengaruh yang ada dalam pembelajaran  dengang mengunakkan teori kognitif yaitu ,Teori belajar kognitif didasarkan pada keyakinan bahwa peserta didik aktif dalam upaya untuk memahami bagaimana dunia bekerja, kepercayaan ini konsisten dengan Piaget dan Vygotsky tentang pemandangan pengembangan pelajar. Pembelajar melakukan lebih dari sekedar menanggapi. Mereka mencari informasi yang membantu mereka dari jawaban pertanyaan, mereka memodifikasi pemahaman mereka berdasarkan pengetahuan baru, dan perubahan sikap mereka dalam menanggapi peningkatan pemahaman. teori belajar kognitif pandangan manusia sebagai "agen goal-directed yang aktif mencari informasi.

Dan siswa memahami tergantung pada apa yang dia tahu yaitu seperti :

 Dalam usaha mereka untuk memahami bagaimana di dunia bekerja, peserta didik menafsirkan pengalaman baru berdasarkan apa yang mereka sudah tahu dan percaya. Sebagai contoh, sering anak-anak tetap percaya bahwa bumi ini datar bahkan setelah guru menjelaskan bahwa itu adalah sebuah bola. Beberapa anak kemudian menggambar permukaan datar seperti di dalam atau di atas bola. Mereka beralasan bahwa orang tidak dapat berjalan di atas bola, dan ide dari permukaan yang datar tadi anak-anak mengetahui dan memahami ide untuk membantu mereka menjelaskan bagaimana orang dapat berdiri atau berjalan di permukaan bumi. Contoh ini juga membantu kita melihat mengapa menjelaskan sering tidak efektif untuk mengubah pemahaman peserta didik

Membangun pembelajar memahami dari rekaman seperti :

Pelajar tidak berperilaku seperti tape recorder, merekam dalam ingatan mereka dalam bentuk di mana itu disajikan segalanya, guru mengatakan kepada mereka atau apa yang mereka baca. Sebaliknya, mereka menggunakan apa yang telah mereka ketahui untuk membangun pemahaman tentang apa yang mereka dengar atau membaca yang masuk akal bagi mereka. Dalam upaya mereka untuk membuat informasi baru dimengerti, mereka secara dramatis dapat memodifikasi itu, begitu pula anak-anak yang membayangkan serabi pada bola. Kebanyakan peneliti sekarang menerima gagasan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri (greeno et al,1996).
Teori kognitif ini, yang didasari oleh pandangan adanya mekanisme dan proses  pertumbuhan, yaitu dari bayi kemudian anak berkembang menjadi individu yang dapat bernalar dan ber­fikir menggunakan hipotesa. Asumsi dasar yang melandasi deskripsi demikian ialah pengertian Jean Piaget mengenai perkembangan intelek dan konsepsinya tentang hakikat kecerdasan (Gredler, 1991).Dalam praktek belajar, teori kognitif terwujud dalam: “tahap-tahap perkembangan belajar” oleh Jean Piaget, “belajar ber­makna” oleh Ausuber, dan “belajar penemuan secara bebas” (free discovery learning) oleh Jerome Bruner. Ini mendasari ilmu pengetahuan yang menurut kognitifist dibangun dalam diri se­se­orang me­lalui proses interaksi dengan lingkung­an yang ber­ke­sinambungan. Proses ini tidak terpisah-pisah, tetapi merupakan proses yang meng­alir serta sambung-menyambung, dan me­nyeluruh. Seperti halnya proses membaca, bukan sekedar menggabungkan alfabet-alfabet yang terpisah-pisah; tetapi meng­gabungkan kata, kalimat atau paragraf yang di­serap dalam pikiran dan ke­semuanya itu menjadi satu, mengalir total se­cara ber­sama­an.
Tidak seperti model-model behaviorisme yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan  S –  R yang bersifat superfisial, kogni­tivisme merupakan suatu bentuk teori yang sering disebut model kognitif atau perseptual. Di dalam model ini tingkah laku seseorang di­tentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya.Belajar itu sendiri menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pe­mahaman, yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini juga menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan konteks seluruh situasi tersebut. Mem­bagi keseluruhan situasi menjadi komponen-komponen kecil dan mempelajarinya secara ter­pisah adalah sama dengan kehilangan se­suatu yang penting.Belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan infor­masi, emosi dan faktor-faktor lain. Belajar, men­cakup pengaturan stimulus yang diterima dan dinyesuaikan dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran sesorang berdasar­kan pengalaman-pengalaman sebelum­nya.
Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi Teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.

Peranan guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.Oleh karena itu, peran ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.


BAB III
Penutup

simpulan

Gaya belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar.
Gaya belajar seperti ini menjelaskan atau menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya.
            individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya.
Gaya kognitif merupakan  salah  satu variabel kondisi belajar yang menjadi salah  satu  bahan pertimbangan dalam  merancang  pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan untuk merancang atau memodifikasi materi pembelajaran, tujuan  pembelajaran, serta metode pembelajaran.


Daftar Pustaka

Suprijono, Agus. 2013.CooperativeLlearning Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta: pustaka pelajar

Minartirahyu. Blogspot. Co. id /2013/03. Pengertian-gaya-belajar-berbagai-macam.html

Uno, Hamzah B.2006. Orientasi baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta : Pt bumu aksara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar