PENGARUH
GAYA KOGNITIF DALAM GAYA BELAJAR PEMBELAJARAN SISWA
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori
Belajar Bahasa
Disusun
oleh
Nama : Sri Darmayanti
NIM
: 1388201020
Semester/Kelas : 5/A2
Dosen : Haerudin, M.Pd
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Banyak Negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan
persoalan yang pelik,namun pendidikan merupakan tugas Negara yang amat penting.
Namun, di negara-negara berkembang adopsi sistem pendidikan sering
mengalami kesulitan untuk berkembang. Cara dan sistem pendidikannya
sering menjadi kritik dan kecaman.
Salah satu permasalahan yang menjadi sebab kenapa setiap
sistem yang diterapkan tidak berkembang dengan baik, adalah faktor pemahaman
para pendidik terhadap teori belajar. Banyaknya teori belajar yang telah
tercipta oleh para ahli pendidikan yang menjadi sumber rujukan dalam proses
pembelajaran tidak di kuasai dan
difahami oleh sebagian guru. Dan hal inilah yang menjadi akar permasalahan
suksesnya tujuan pendidikan tercapai.
Mengapa
anak (manusia) perlu dan harus dididik? Pertanyanya ini menuntut jawaban yang
tidak berbeda dwngan pertanyaan mengapa anak (manusia) harus belajar ? sebagai
jawaban pertanyaan ini, agaknya kita sependapat bahwa di dunia ini tidak ada
makhluk hidup yang sewaktu baru diliharikan sedemikian tidak berdayanya seperti
bayi manusia. Sebaliknya, tidak ada makhluk lain di dunia ini yang setelah
dewasa mampu menciptakan yang telah diciptakan manusia dewasa. Jika bayi
manusia yang baru dilahirkan tidak mendapatkan bantuan dari manusia dewasa yang
lain, tidak belajar, niscaya binasalah ia. Ia tidak mampu hidup sebagai manusia
jika ia tidak dididik atau diajar oleh manusia.
Benar
bahwa bayi yang baru dilahirkan elah membawa beberapa naluri atau instink dan
pontensi-pontensi yang diperlukan untuk
kalangsungan hidupnya, tetapi jumlahnya terbatas sekali. Jika pontensi-pontensi
bawaan itu tidak mungking berkembang baik tanpa pengaruh dari luar. Di samping kepandaian-kepandaian yang
bersifat jasmaniah 9 skill, motor ability), seperti : merangkak, duduk,
berjalan tegak, lari, naik sepedah, makan dengan sendok, dan sebagianya, anak
(manusia) itu membutuhkan kepandaian-kepandaian yang bersifat rohaniah. Manusia
bukan hanya makhluk biologis seperti
halnya dengan hewan. Manusia adalah makhluk sosial dan budaya. Jelaslah
kiranya, bahwa belajar sangat penting bagi kehiupan seorang manusia. Juga
mengerti pula kita sekarang, mengapa anaka (manusia) membutuhkan waktu yang
lama untuk belajar sehingga menjadi
manusia dewasa. Manusia selalu dan senantiasa belajar bilamanapun dan dimana
dia berada.
Kemapuan
seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya.
Adanya yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu,
mereka seringkali harus menempuh cara yang berbeda untuk bisa memahami sebuah
informasi atau pelajaran yang sama. Cara lain yang juga kerap disuaki banyak
siswan adalah model pembelajaran yang menempatkan guru tak ubahnya seorang
penceramah. Guru diharpakan bercerita panjang lebar tentang beragam teori
dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil
menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya jmereka pahami sendiri.
Dari
perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mantal seseorang
yang atas kapasitas untuk menunjukkan perilaku yang berbeda. Perhatikan kalimat
"menciptakan kapasitas. Dari perspektif kognitif, belajar dapat terjadi
tanpa ada perubahan langsung dalam perilaku, bukti perubahan dalam struktur
mental dapat terjadi dalam beberapa waktu kemudian. "struktur mental"
bahwa perubahan termasuk skema, keyakinan, tujuan, harapan dan komponen
lainnya. Dalam pelajaran david, karena randy misalnya sadar walaupun tentang
kebutuhannya untuk membuat catatan, dan Tanta, Rendy dan Juan membentuk
hubungan, dalam pikiran mereka, menghubungkan informasi dari grafik,
transparansi, dan demonstrasi.
B. Rumasan Masalah
1. Apa
saja gaya belajar dalam pembelajaran siswa?
2. Apa
tujuan gaya belajat efektif ?
3. Gaya
kognitif dalam pembelajaran ?
4. Pengarunya
pembelajaran kognitif dalam pembelajaran ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui apa saja gaya belajar dalam pelmbelajaran.
2. Untuk
memberi tahu tujuan gaya belajar.
3. Mengetahui
apa saja gaya kognitif dalam pembelajaran
4. Untuk
mengetahui pengaruh apa saja yang terdapat
BAB
II
Pembahasan
A. Gaya Belajar dalam Pembelajaran
Lain ladang, lain ikannya. Lain
orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah tersebut memang
pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tak semua orang punya gaya belajar yang
sama. Termasuk apa bila mereka bersekolah di sekolahan yang sama aatu bahkan
duduk di kelas yang sama. Apa pun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu
menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap
sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan
gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu
ketika, misalnya, kita harus memandu seseoranguntuk mendapatkan gaya belajar
yang tvepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.
Kita tidak
bisa memaksakan seorang anak harus belajar dengan suasanan dan cara yang kita
inginkan karena masing masing anak memiliki tipe atau gaya belajarnya sendiri-sendiri.
Kemampuan anak dalam menangkap materi dan pelajaran tergantung dari gaya
belajarnya. Banyak anak menurun peran belajaranya disekolah karena dirumah anak
dipaksa belajar tidak sesuai dengan gayanya. Anak akan mudah menguasai materi
pelajaran dengan menggunakan cara belajar mereka masing-masing.
Gaya
belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan
perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil
untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan
belajar (NASSP dalam Ardhana dan Willis,
1989 : 4). Definisi yang lebih menjurus pada gaya belajar bahasa dan yang
dijadikan panduan pada penelitian ini dikemukakan oleh Oxford (2001:359) dimana
gaya belajar didefinisikan sebagai pendekatan yang digunakan peserta didik
dalam belajar bahasa baru atau mempelajari berbagai mata pelajaran.
- Menurut Fleming dan Mills (1992), gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.
- Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar.
- Willing (1988) mendefinisikan gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe (1979) memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan memandang lingkungannya. Dunn dan Griggs (1988) memandang gaya belajar sebagai karakter biologis bawaan.
Ada beberapa tipe gaya belajar yang
bisa kita cermati dan mungkin kita ikuti apabila memang kita merasa cocok
dengan gaya tersebut. yaitu :
1.
Gaya belajar visual
Gaya
belajar seperti ini menjelaskan atau menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya,
bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham Gaya
belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk
kemudian bisa mempercayainya.
Ada beberapa krakteristik yang khas
bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama, kebutuhan melihat sesuatu (informasi / pelajaran) secara
visual untuk mengetahui atau memahaminya. Kedua,
memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna. Ketiga,
memiliki pemahan yang cukup terhadap masalah artistik. Keempat, memiliki kesuliatan berdialog secara langsung. Kelima, terlalu reaktif terhadap suara. Keenam, suli mengikuti ajuran secara lisan.
Ketujuh, seringsekali salah
menginterpretasikan kata atau ucapan.
Ciri-ciri
gaya belajar visual :
1.
Cenderung
melihat sikap, gerakan, dan bibir guru yang sedang mengajar
2.
Bukan
pendengar yang baik saat berkomunikasi
3.
Saat
mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman
lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
4.
Tak
suka bicara didepan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain.
Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi
5.
Kurang
mampu mengingat informasi yang diberikan secara lisan
6.
Lebih
suka peragaan daripada penjelasan lisan
7.
Dapat
duduk tenang ditengah situasi yang rebut dan ramai tanpa terganggu
2. Gaya Belajar Auditory
Learners
gaya
belajar ini adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa
memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar
menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami
informasi itu. Karakter pertama orang yang miliki gaya belajar ini adalah semua
informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua, memiliki kesuliatan
untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga, memiliki
kesulitan menulisa maupun membaca.
Ciri-ciri gaya
belajar Auditory Learners :
1.
Mampu
mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang
didiskusikan dalam kelompok/ kelas
2.
Pendengar
ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
3.
Cenderung
banyak omong
4.
Tak
suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat
mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
5.
Kurang
cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
6.
Senang
berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
7.
Kurang
tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya
anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll
3. Gaya Belajar Tactual
Learners
individu yang bersangkutan menyentuh
sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu
saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang
bisa melakukannya. Karakter pertama
adalah menempatkan tangan sebagai alat
penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Kedua adalah Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya
ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya. Ketiga adalahkita termasuk orang yang
tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran.
Untuk orang-orang yang memiliki
karakter ini, pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar
berdasarkan atau melalui pengalaman dengan mnggunakan berbagai model atau
peraga, berkerja di laboraturium atau bermami sambil belajar.
Menggunakan komputer bagi orang yang memiliki
karakter ini akan sangat membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat
aktif dalam melakukan touch,
sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan.
Ciri-ciri gaya belajar Tactual Learners :
1.
Menyentuh
segala sesuatu yang dijumapinya, termasuk saat belajar
2.
Sulit
berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
3.
Mengerjakan
segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh: saat guru menerangkan
pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya asyik menggambar
4.
Suka
menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
5.
Sulit
menguasai hal-hal abstrak seperti peta, symbol dan lambing
6.
Menyukai
praktek/ percobaan
7.
Menyukai
permainan dan aktivitas fisik
B.
Tujuan Gaya Belajar Efektif
Banyak
gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Berikut gaya belajat yang
mungkin bisa anda ikuti :
1. Bermain dengan Kata
Gaya ini kita mulai dengan mengajak
seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita, membaca,
serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita
mengingat nama, tempat,tangal, dan lain-lainnya dengan cara mendengar kemudian
menyebutkan.
2. Bermain dengan Pertanyaan
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan
bermanfaat apabila itu dilakukan dengan cara bermain dengan pertanyaan.
Misalnya, kita memancing keinginan dengan berbagai pertanyaan. Setiap kal
muncul jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil yang paling
akhri atau kesimpulan.
3. Bermain dengan Gambar
Ada sebagin orang yang lebih suka
belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, video, atau film.
Orang yang memiliki kegemaran ini, bisa memilik kepekaan tertentu dalam
menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan
membaca kartu. Jika anda termasuk kelompok ini, tak salah apabila mencoba
mengikutinya.
4. Bermain dengan Musik
Detak irama, nyanyian, dan mungkin
memainkan salah satu instrument musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada
banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara mengingat notasi
atau melodi musik. Ini yang disebut
sebagi ritme hidup. Mereka berusaha
mendapatkan infromasi baru mengenai beragam
hal dengan cara mengingat musik
atau notasinya dengan itu. Misalnya, mendengarkan musik jazz, lalu
terpikir bagaimana lagu itu dibuat, siapa yang membuat, di mana, dan pada saat
seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak
sebatas cerita tentang musik, tetapi juga manusia, teknologi, dan situasi
sosial politik pada kurun waktu tertentu.
C.
Gaya Kognitif dalam Pembelajaran
A.
teori
belajar kognitif dan gaya kognitif
Salah
satu karakteristik siswa adalah gaya
kognitif, gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar, baik
berkaitan dengan cara penerimaan dan pengolahan
informasi, sikap terhadap indormasi, maupun kebiasaan yang berhubungan
dengan lingkungan belajar.
Gaya
kognitif merupakan salah satu variabel kondisi belajar yang menjadi
salah satu bahan pertimbangan dalam merancang
pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan untuk
merancang atau memodifikasi materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, serta metode pembelajaran.
Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya kognitif, tujuan, materi,
serta metode pembelajaran, hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal
mungkin. Hal ini sesuai denga pendapat
beberapa pakar yang menyatakan bahwa jenis strategi pembelajaran
tertentu memerlukan gaya belajar tertentu.
Adapun
menurut pakar yang megemukakan teori kognitif yaitu menurut Paiget :
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir
sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak.
Piaget adalah ahli psikolog developmentat karena penelitiannya mengenai tahap
tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan
belajar individu. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan
kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan
adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain, daya berpikir
atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara
kualitatif.
Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi beberapa
tahap yaitu:
a. Tahap sensory
– motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2
tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih
sederhana.
Cirri-ciri tahap sensorimotor :
1) Didasarkan
tindakan praktis.
2) Inteligensi
bersifat aksi, bukan refleksi.
3) Menyangkut
jarak yang pendek antara subjek dan objek.
4) Mengenai
periode sensorimotor:
5) Umur
hanyalah pendekatan. Periode-periode tergantung pd banyak faktor lingkungan
sosial dan kematangan fisik.
6) Urutan
periode tetap.
7) Perkembangan
gradual dan merupakan proses yang kontinu.
b. Tahap pre
– operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7
tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa
tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak
abstrak.
c. Tahap concrete
– operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan
dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak
sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d. Tahap formal
– operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia
11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir
abstrak dan logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang
dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses,
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima
seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang
tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang
telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi / di kode ulang disesuaikan dengan
informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga
menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat
terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas
mentalnya.Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara
asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar
dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari
disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi
Menurut Jean Piagiet, bahwa proses belajar sebenarnya
terdiri dari tiga tahapan, yaitu :
a. Asimilasi yaitu proses penyatuan
(pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada
dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip
penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses
pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa),
dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru) itu yang disebut
asimilasi.
b. Akomodasi yaitu
penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa
diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian
tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
c. Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu
penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa
tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan
menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan
antara “dunia dalam” dan “dunia luar”.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap
sensori motor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai
tahap kedua (pra-operasional) dan lain lagi yang dialami siswa lain yang telah
sampai ke tahap yang lebih tinggi (operasional kongrit dan operasional formal).
Jadi, secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur
(dan juga semakin abstrak) cara berfikirnya.
Ausburn
merumuskan bahwa gaya kognitif mengacu
pada proses kognitif seseorang yang
berhubungan dengan pemahaman, pengetahuan, persepsi, pikiran, imajinasi, dan
pemecahan masalah. Adapun Shirley and
Rita mengatakan bahwa gaya kognitif merupakan karakteristik individu dlam
berpikir, merasakan, mengingat, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
Informasi yang tersusun baik, rapi, dan tidak terlalu sistematis.
Sebagi
karakteristik perilaku, gaya kognitif pada lintas kemampuan dan kepribadian
serta dimanifestasikan pada beberapa aktivitas dan media. Gaya kognitif
menunjukkan adanya variasi antara individu dalam pendekatannya terhadap
satu tugas, tetapi variasi itu tidak menunjukkan tingkat inteligensi atau kemampuan tertentu.sebagi karakteristik
perilaku, karakteristik individu yang memiliki gaya kognitif yang sama belum tentu memiliki kemampuan yang
sama. Apalagi individu yang memiliki gaya kognitif yang berbeda kecenderungan
perbedaan kemampuan yang memilikinya lebih besar.
Woolfolk
menunjukkan bahwa dalam “ gaya kognitif
terdapat suatu cara yang berbeda
untuk melihat, mengenal, dan mengorganisasi informasi. Setiap individu
akan memilih cara yang disuaki
dalam memperoses dan mengorganisasi informasi sebagai respon
terhadap stimulus lingkungannya.”
Selanjutnya
Keefe agak berbeda pandangannya dengan Woolfolk tentang dimensi gaya kognitif.
Menurut Keefe, gaya kognitif dapat dipilah dalam dua kelompok, yaitu gaya dalam
menerima informasi, dan gaya dalam pembentukan konsep dan retensi. Gaya dalam
menerima informasi lebih berkaitan dengan persepsi dan analisis data, sedangkan
gaya pembentukan konsep dan retensi lebih mengacu pada perumusan hipotesis,
pemecahan masalah, dan proses ingatan. Keefe juga menambahkan, bahwa gaya
kognitif merupakan bagian dari gaya belajar, dan gaya belajar berhubungan
(namun berbeda)dengan kemampuan intelektual. Terdapat perbedaan antara
kemampuan ( abillity) dan gaya (style). Kemampuan mengacu kepda isi kognitif
yang menyatakan macam informasi apa yang telah diproses, dengan langkah
bagaimana, dalam bentuk apa. Sedangkan gaya lebih mengacu pada proses kognitif
yang menyatakan bagaimana isi informasi tersebut diproses.
B.
kedudukan
kognitif dalam pembelajaran
kedudukan gaya kognitif dalam proses
pembelajaran tidak dapat diabaikan. Hal ini sesuai dengan pandangan reigeluth
bahwa dalam variabel pengajaran, gaya kohgnitif merupakan salah satunya yaitu
siswa yang masuk dalam gaya kognitif pembelajaran, di samping siswa lainnya
seperti motivasi, sikap, bakat, minat, kemampuan berpikir, dan lain-lain.
Sebagi salah satu siswa, kedudukan gaya kognitif dalam proses pembelajaran
penting diperhatikan guru atau perancang pembelajaran sebab rancangan
pembelajaran yang disusun dengan mempertimbnagkan gaya kognitif berarti
menyajikan materi pembelajaran yang sesuai denga karakteristik dan potensi yang
dimiliki siswa.
Dengan demikian, untuk meningkatkan
proses kognitif dalam diri siswa, diperlukan perhatikan terhadap karakteristik
setiap individu siswa. Dalam rancangan pembelajaran pengorganisasian model
claborasi dan pengorganisasian buku teks, sebelum rancangan disusun, hal yang
dilakukan guru terlebih dahulu adalah mengadakan pengetesan terhadap
karakteristik siswa yang diarahkan pada pengetesan tentang gaya kognitif.
Dengan pengetesan gaya kognitif itu , guru atau perancang pembelajaran dapat
mengetahui tentang gaya kognitif yang dimiliki siswa.
Teori tentang pemrosesan informasi
banyak membahas macam dan peran ingatan, di antaranya tentang peran ingatan
sesaat (short-term memory) dan
ingatan jangka panjang (long-term memory).
Informasi dalam ingatan sesaat lebih cepat dilupakan dengan informasi yang
dapat terolah dan terbentuk menjadi bagian dalam ingatan jangka panjang.
Informasi yang masuk dalam memori jangka panjang akan menjadi pengetahuan
seorang serta meningkatkan kemampuan kognitif seseorang. Kajian tentang
hubungan pemrosesan informasi dengan penyampaian pembelajaran melalui penyajian
visualisasi serta benda-benda geometri dan atau benda-benda spasial dalam
meningkatkan kemampuan kognitif,
C.
peran
gaya kognitif
peran gaya kognitif dalam proses
pembelajaran mengacu dari pandangan para
pakar tentang dimensi gay kognitif di atas menurut Woolfolk bahwa implementasi
dalamnya pembelajaran sangat menetukan keberhasilan pembelajaran. Seorang siswa
yang miliki gaya kognitif field
dependence (FD), global perseptual merasakan beban yang berat, sukar
memproses, mudah mempersepsi apabila informasi dimanipiulasi sesuai dengan
konteksnya. Seorang yang memiliki diferensiasi psikologi field independence(FI), artikulasi ajan mempersepsinya secara
analitis. Ia akan dapat memisahkan stimuli dalam konteksnya, tetapipersepsinya
lemah kegtika terjadi perubahan konteks.
Gaya kognitif memiliki nilai adaptif yang
bervariasi dari budaya dan situasi sosial. Dalam situasi sosial orang yang FD
umunya lebih tertarik mengamati kerangka situasi sosial, memahami wajah/cinta
orang lain, tertarik pada pesan-pesan verbal dengan social contents, lebih besar memperhitungkan kondisi sosial
eksternal sebagai feeling dan
bersikap.
Selain gaya kognitif FD dan Fi yang
banyak dikaji dalam melihat karakteristik siswa, gaya kognitif lain yang tidak
kalah penting adalah dimensi gaya kognitif spasial (GR) dan gaya kogntif
analistis(GA). Dimensi gaya kognitif GR berkaitan dengan pembentukan imajinasi
tentang objek ruang dalam pikiran, sedangkan dimensi gaya kognitif GA berhubungan
dengan kemampuan seseorang dalam menganalisis secara kritis dalam memecahkan
masalah. Berbagai penelusuran sejumlah penelitian, gaya kognitif dapat dibagi
dalam beberapa kelompok, yakni gaya kognitif field independence (FI) dan field
dependent (FD) yang cenderung digunakan untuk mengukur gaya kognitif
pemahaman ilmu-ilmu sosial, serta gaya kognitif analitik (analytic) dan spasial (spatial)
untuk mengukur gaya kognitif pemahaman ilmu-ilmu eksakta.
Berdasarkan
uraian tentang koognitif tersebut, dapat diketahui bahwa gaya kognitif dapat
dipandang sebagai satu variabel dalam pembelajaran. Dalam hal ini, kedudukan
merupakan variabel karakteristik siswa, dan keberadaan bersifat internal.
Artinya gaya kognitif merupakan kapabilitas seseorang yang berkembang seiring
dengan perkembangan kecerdasaannya. Bagi siswa, gaya kognitif tersebut sifatnya
given dan dapat berpengaruh pada
hasil belajar mereka. Dalam hal ini, siswa yang memiliki gaya kognitif tertentu
memerlukan strategi pembelajaran tertentu pula untuk memperoleh hasil belajar
yang baik.
D.
Pengaruh
Teori Kognitif dalam Pembelajaran
Pengaruh
yang ada dalam pembelajaran dengang
mengunakkan teori kognitif yaitu ,Teori belajar kognitif didasarkan pada keyakinan
bahwa peserta didik aktif dalam upaya untuk memahami bagaimana dunia bekerja,
kepercayaan ini konsisten dengan Piaget dan Vygotsky tentang pemandangan
pengembangan pelajar. Pembelajar melakukan lebih dari sekedar menanggapi.
Mereka mencari informasi yang membantu mereka dari jawaban pertanyaan, mereka
memodifikasi pemahaman mereka berdasarkan pengetahuan baru, dan perubahan sikap
mereka dalam menanggapi peningkatan pemahaman. teori belajar kognitif pandangan
manusia sebagai "agen goal-directed yang aktif mencari informasi.
Dan siswa memahami tergantung pada apa yang dia tahu
yaitu seperti :
Dalam usaha mereka untuk memahami bagaimana di
dunia bekerja, peserta didik menafsirkan pengalaman baru berdasarkan apa yang
mereka sudah tahu dan percaya. Sebagai contoh, sering anak-anak tetap percaya
bahwa bumi ini datar bahkan setelah guru menjelaskan bahwa itu adalah sebuah
bola. Beberapa anak kemudian menggambar permukaan datar seperti di dalam atau
di atas bola. Mereka beralasan bahwa orang tidak dapat berjalan di atas bola,
dan ide dari permukaan yang datar tadi anak-anak mengetahui dan memahami ide
untuk membantu mereka menjelaskan bagaimana orang dapat berdiri atau berjalan
di permukaan bumi. Contoh ini juga membantu kita melihat mengapa menjelaskan sering
tidak efektif untuk mengubah pemahaman peserta didik
Membangun
pembelajar memahami dari rekaman seperti :
Pelajar
tidak berperilaku seperti tape recorder, merekam dalam ingatan mereka dalam
bentuk di mana itu disajikan segalanya, guru mengatakan kepada mereka atau apa
yang mereka baca. Sebaliknya, mereka menggunakan apa yang telah mereka ketahui
untuk membangun pemahaman tentang apa yang mereka dengar atau membaca yang
masuk akal bagi mereka. Dalam upaya mereka untuk membuat informasi baru dimengerti,
mereka secara dramatis dapat memodifikasi itu, begitu pula anak-anak yang
membayangkan serabi pada bola. Kebanyakan peneliti sekarang menerima gagasan
bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri (greeno et al,1996).
Teori
kognitif ini, yang didasari oleh pandangan adanya mekanisme dan proses
pertumbuhan, yaitu dari bayi kemudian anak berkembang menjadi individu yang
dapat bernalar dan berfikir menggunakan hipotesa. Asumsi dasar yang melandasi
deskripsi demikian ialah pengertian Jean Piaget mengenai perkembangan intelek
dan konsepsinya tentang hakikat kecerdasan (Gredler, 1991).Dalam praktek
belajar, teori kognitif terwujud dalam: “tahap-tahap perkembangan belajar” oleh
Jean Piaget, “belajar bermakna” oleh Ausuber, dan “belajar penemuan secara
bebas” (free discovery learning) oleh Jerome Bruner. Ini mendasari ilmu
pengetahuan yang menurut kognitifist dibangun dalam diri seseorang melalui
proses interaksi dengan lingkungan yang berkesinambungan. Proses ini tidak
terpisah-pisah, tetapi merupakan proses yang mengalir serta
sambung-menyambung, dan menyeluruh. Seperti halnya proses membaca, bukan
sekedar menggabungkan alfabet-alfabet yang terpisah-pisah; tetapi menggabungkan
kata, kalimat atau paragraf yang diserap dalam pikiran dan kesemuanya itu
menjadi satu, mengalir total secara bersamaan.
Tidak
seperti model-model behaviorisme yang mempelajari proses belajar hanya sebagai
hubungan S – R yang bersifat superfisial, kognitivisme merupakan
suatu bentuk teori yang sering disebut model kognitif atau perseptual. Di dalam
model ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya
tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya.Belajar itu sendiri
menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak
selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini juga menekankan pada
gagasan bahwa bagian-bagian suatu situasi saling berhubungan dengan konteks
seluruh situasi tersebut. Membagi keseluruhan situasi menjadi
komponen-komponen kecil dan mempelajarinya secara terpisah adalah sama dengan
kehilangan sesuatu yang penting.Belajar merupakan suatu proses internal yang
mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain.
Belajar, mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan dinyesuaikan dengan
struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran sesorang berdasarkan
pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Teori
belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat
mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan
maksimal. Faktor kognitif bagi Teori belajar kognitif merupakan faktor pertama
dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta
didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana
fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal
melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan
guru menurut teori belajar psikologi kognitif ialah bagaimana dapat
mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi
kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi
aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan
memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui
proses belajar mengajar di kelas.Oleh karena itu, peran ahli teori belajar
psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang
mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif
yang dimiliki oleh peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi
masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan
belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.
BAB III
Penutup
simpulan
Gaya
belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan
perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil
untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan
belajar.
Gaya belajar seperti ini menjelaskan
atau menitikberatkan pada ketajaman penglihatan.
Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham
Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya
untuk kemudian bisa mempercayainya.
individu
yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia
bisa mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti
ini yang tak semua orang bisa melakukannya.
Gaya
kognitif merupakan salah satu variabel kondisi belajar yang menjadi
salah satu bahan pertimbangan dalam merancang
pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan untuk
merancang atau memodifikasi materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, serta metode pembelajaran.
Daftar Pustaka
Suprijono, Agus. 2013.CooperativeLlearning Teori dan Aplikasi
Paikem. Yogyakarta: pustaka pelajar
Minartirahyu. Blogspot. Co. id /2013/03.
Pengertian-gaya-belajar-berbagai-macam.html
Uno, Hamzah B.2006. Orientasi baru
dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta : Pt bumu aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar