TEORI BELAJAR BAHASA
“Teori Konstruktivisme”
“Teori Konstruktivisme”
Nama :
Siti Umamah
Kelas : A2
Npm : 1388201199
Dosen : Haerudin, M.Pd
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tahun Akademik 2013/2014
KATA PENGANTAR
![]() |
AssalamualaikumWr.Wb.
Alhamdulillah Segala puji bagi
Allah SWT yang telah melimpahkan karunia terbesar-Nya atas selesainya
penyusunan makalah teori belajar bahasa, serta sholawat dan salam kepada junjungan
alam Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul“Teori Konstruktivisme” Universitas
Muhammadiyah Tangerang tahun pelajaran 2015/2016.dengan baik. Makalah ini dibuat dan disusun guna memenuhi salah
satu syarat untuk menyelesaikan Tugas teori balajar bahasa pada Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT)
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
sifatnya membangun akan menyempurnakan penulisan makalah ini serta bermanfaat
bagi penulis, pembaca, dan bagi peneliti selanjutnya.
Terima kasih.
WassalamualaikumWr.Wb.
Tangerang, 23 Desember2015
Siti
Umamah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah.......................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah................................................................................... 2
C. Tujuan
Penelitian..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Teori kontruktivisme............................................................. 3
B. Ciri-ciri pembelajaran konstruktivime..................................................... 4
C. Prinsip-prinsip konstruktivisme............................................................... 4
D. Tujuan Belajar......................................................................................... 5
E. Konsep dasar
konstruktivisme............................................................... 8
BAB IIIPENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................. 10
B. Saran-saran.............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring
berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat intelektualitas serta kualitas
kehidupan, maka pendidikan pun menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, tentu
saja hal ini membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan
kondisinya. Sehingga berbagai teori, metode dan desain pembelajaran serta
pengajaran pun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya
tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan. Jadi memang itulah
yang menjadi esensi pendidikan itu sendiri, yakni bagaimana menciptakan sebuah
kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang kontekstual dan
mampu menyerap aspirasi zaman dengan tepat dan sesuai.
Guru di dalam
melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu
pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih
optimal, selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari yang
harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus
bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing – masing
individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar,
namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran
tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah
satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan konstruktivisme. Martin.
Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme
menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui
hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.
Hubungan tersebut dikonstruksikan oleh siswa untuk kepentingan mereka sendiri.
Elemen kuncinya adalah bahwa orang belajar secara aktif mengkonstruksikan
pengetahuan mereka sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman
sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu,
setiap pelajaran di sekolah perlu diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar
mengkonstruksikan pengetahuannya.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat
rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan konstruktivisme ?
2.
Bagaimana komparasi behaviorisme dan
konstruktivisme ?
3.
Bagaimana pembelajaran menurut konstruktivisme ?
4.
Apa saja kendala - kendala dalam penerapan
pembelajaran menurut konstruktivisme ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konstruktivisme.
2.
Untuk mengetahui bagaimana komparasi
behaviorisme dan konstruktivisme.
3.
Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran
menurut konstruktivisme.
4.
Untuk mengetahui apa saja kendala
- kendala dalam penerapan
pembelajaran menurut konstruktivisme.
1.4 MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1.
Memberikan informasi mengenai pembelajaran konstruktivisme.
2.
Memberikan informasi dan pemahaman kepada pendidik bahwa peserta didik itu
sebenarnya bukanlah
seperti kertas putih yang kosong di mana guru bisa secara bebas membentuk
pengetahuan siswa, tapi siswa adalah merupakan manusia yang sudah mempunyai
pengetahuan yang mereka peroleh dari pengalaman lingkungan mereka sehari-hari.
3.
Memberikan informasi dan pemahaman kepada peserta didik bahwa yang sebenarnya
peserta didik tersebut sudah memiliki pengetahuan awal dari pengalaman
lingkungan mereka, bukan dibentuk baru oleh pendidik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konstruktivisme
2.1.1 Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme.
Konstruktiv
berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme
dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme
merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita
merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan konstruktivis dalam
pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan
strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan guru yang
membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Tran Vui juga
mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah
sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau
mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau
kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al
mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif
mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar
sebelumnya dengan belajar baru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan paradigma pembelajaran,
konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses
pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa
memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Dalam hal tahap-tahap pembelajaran, pendekatan
konstruktivisme lebih menekankan pada pembelajaran top-down processing, yaitu siswa belajar dimulai dari masalah yang
kompleks untuk dipecahkan (dengan bantuan guru), kemudian menghasilkan atau
menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang dibutuhkan. Misalnya, ketika
siswa diminta untuk menulis kalimat-kalimat, kemudian dia akan belajar untuk
membaca, belajar tentang tata bahasa kalimat-kalimat tersebut, dan kemudian
bagaimana menulis titik dan komanya.
Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki
tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar.
Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk
dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Aliran ini lebih menekankan
bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan
pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah
menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa
serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa. Oleh karena
itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada
siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan,
membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan
eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya. Berdasarkan konstruktivisme,
akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke
pembelajaran berpusat pada siswa (student
centered instruction).
2.1.2 Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno
(1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil
adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun
secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali
dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi
secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang
lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan
membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan
mulus.
Berikut ini
akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa
literatur yaitu sebagai berikut.
a.
Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada
sebelumnya.
b.
Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
c.
Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan
pengalaman.
d.
Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai
informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama
dengan orang lain.
2.1.3 Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang
diterapkan dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa
sendiri.
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan
dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3. Murid aktif megkonstruksi secara terus
menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran
dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5. Struktur pembelajaran seputar konsep
diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan.
6. Mencari dan menilai pendapat siswa.
7. Menyesuaikan bahan pengajaran untuk
menanggapi anggapan siswa.
2.1.4 Tujuan Pembelajaran
Setelah
mempelajari bab ini diharapkan anda memiliki kemampuan untuk mengkaji hakekat
belajar menurut teori konstruktivisme dan menerapkannya dalam kegiatan
pembelajaran.
Sedangkan indikator keberhasilan belajar, jika anda dapat
menjelaskan :
1.
Karakteristik manusia
masa depan yang diharapkan.
2.
Konstruksi pengetahuan
3.
Proses belajar menurut
teori konstruktivistik
4.
Perbandingan
pembelajaran tradisional (behavioristik) dan pembelajaran konstruktivistik
1.Karakteristik manusia masa depan yang
diharapkan
Upayamembangunan sumber daya manusia ditentukan oleh
karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki.
Karakterisitik manusia masa depan yang dikehendaki tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan,
kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan ,
mengembangkan segenap aspek pontensi melalui proses belajar yang terus menurus
untuk menentukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses .
Kepekaan, berarti ketajaman baik dalam arti kemampuan berpikiran,
maupun kemudah tersentuhan hati nurani di dalam melihat dan merasakan segala
sesuatu, mulai dari kepentingan orang lain samapi dengan kelestarian lingkungan
merupakan gubahan sang pencipta. Langkah strategi bagi perwujudan tujuan di
atas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya
guna tinggi.
2. Konstruksi pengetahuan
Seperti telah diuraikan pada bab pendahuluan, untuk
memperbaiki pendidikan terlebih dahulu harus mengetahui bagaiman manusia
belajar dan bagaimana caramengajarnya.
Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan
bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan
sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun
lingkungannya. Proses mengkonstruksi pengetahuan. Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan
menggunakan indaranya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungan,
misalnya dengan mellihat, mendengar, menjamah, membau, atau merasakan, seseorang
dapat mengetahui sesuatu.
Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996)
mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses
mengkonstruksi pengetahuan, yaitu ; 1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kwmbali pengalaman, 2)kemampuan
membandingankan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan 3)
kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
Faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses
mengkonstruksi pengetahuan adalah konstrulksi pengatahuan seseorang yang telah
ada, domain pengalaman, dan jaringan struksi kognitif yang dimilikinya.
3. Proses belajar menurut teori
konstruktivistik
Para bagian ini akan dibahasa proses belajar dari
pandangan konstruktivistik, dan dari aspek-aspek si-belajar, peranan guru, sarana
balajar, dan evaluasi belajar.
Proses belajar konstruktivistik. Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari
pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasiyang berlangsung satu
arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna 0leh
siswa kepada pengalamannya melalui
proses asimilasi dan akomondasi yang bermuara pada pemutahkiraan stuktur
kognitif. Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memilki
kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu.
Peranan guru. Dalam belajar konstruktivistikguru atau pendidik
berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa
berjalan dengan lancar.guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah
dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri.
Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa
belajar.
Peranan kunci guru dalam interaksi pendidik adalah
pengendalian, yang meliputi;
1) Menumbuhkan
kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan
bertindak.
2) Menumbuhkan
kemampuan mengambil kdengan peluang optimal untuk berlatih.
Evaluasi belajar. Pandangan konstruktivistik mengemukan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung
munculnya berbagai pandangan dan interprensi terhadap realitas, konstruksi
pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada
pengalaman. Evaluasi belajar ra
melengkapi pandangan behavioristik tradisional lebih diarahkan pada tujuan
belajar. Sedangkan pandangan konstruktivistik menggunakan goal-free
evaluation, yaitu suatu kontruksi untuk mengatasi kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik.
4.Perbandingan pembelajaran tradisional
(behavioristik) dan pembelajaran konstruktivistik
Proses pembelajaran akan efektif jika diketahui inti kegiatan belajar yang
sesungguhnya. Pada bagian ini akan dibahas ciri-ciri pembelajaran tradisional
atau behavioristik dan ciri-ciri pembelajaran konstruktivistik.
Kegiatan
pembelajaran yang selama ini
berlangsung , yang berpijak pada teori behavioristik , banyak didominasi oleh
guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa
diceramahkan. Dalam pelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku teks.
Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks.dharapkan siswa
memikili pandangan yang sama dengan guru ;atau sama dengan buku teks tersebut. Alternatif-
altrenatif perbeda interpretasi di
antara siswa terhadap fenomena sosial
yang kompleks tidak di pertimbangkan. Siswa belajar dalam isolasi ; yang
mempelajari kemampuan tingkat rendah dengan
cara melengkapi `buku tugasnya seperti .
|
Pembelajaran
tradisional
|
Pembelajaran
kontruktivistik
|
|
1.
Kurikulum disajikan
dari bagian-bagian menuju kesuluruhan dengan menekankan pada
ketrampilan-ketrampilan dasar
|
1.kurikulum
disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih
mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas
|
|
2.
Pembelajaran sangat
taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.
|
2.pembelajaran
lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
|
|
3.
Kegiatan kurikuleter
lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.
|
3.kegiatan
kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan
manipulasi bahan.
|
|
4.
Siswa-siswa dipandang
sebagai “kertas kosong” yang dapat digoresi informasi oleh guru, dan
guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dapat menyampaikan informasi
kepada siswa.
|
4.siswa
dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat
memunculkan teori-teori tentang dirinya.
|
|
5.
Penilai hasil belajar
atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran dan
biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.
|
Pengukuran
proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan
pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa,
serta melalui tugas-tugas pekerjaan.
|
2.1.5 Konsep
Dasar Konstruktivisme
Berikut ini merupakan beberapa
konsep kunci dari teori konstruktivisme antara lain:
1.
Siswa Sebagai Individu yang Unik
Teori konstruktivisme berpandangan
bahwa pembelajar merupakan individu yang unik dengan kebutuhan dan latar
belakang yang unik pula. Dalam teori ini tidak hanya memperkenalkan keunikan
dan kompleksitas pembelajar tetapi juga secara nyata mendorong, memotivasi dan
memberi penghargaan kepada siswa sebagai integral dari proses pembelajaran.
2.
Self Regulated Leaner (Pembelajar yang dapat mengelola diri sendiri )
Siswa dikembangkan menjadi seorang
yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar yang efektif, yang sesuai
dengan gaya belajarnya dan tahu bagaimana serta kapan menggunakan pengetahuan
itu dalam situasi pembelajaran yang berbeda. Self Regulated Leaner termotivasi
untuk belajar oleh dirinya sendiri, bukan dari nilai yang diperolehnya sebagai
hasil belajar atau karena motivasi eksternal yang lain, misalnya dari guru atau
orang tuanya.
3.
Tanggung jawab Pembelajaran
Dalam konstruktivisme ini
berpandangan bahwa tanggung jawab belajar bertumpu kepada siswa. Teori ini
menekankan bahwa siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, dan berbeda
pendapat dengan pandangan pendidikan sebelumnya yang menyatakan tanggung jawab
pembelajaran lebih kepada guru, sedangkan siswa berperan secara pasif dan
reseptif. Disini para pembelajar mencari makna dan akan mencoba mencari
keteraturan dari berbagai kejadian yang ada di dunia, bahkan seandainya
informasi yang tersedia tidak lengkap.
4.
Motivasi Pembelajaran
Motivasi belajar secara kuat
bergantung kepada kepercayaan siswa terhadap potensi belajarnya sendiri.
Perasaan kompeten dan kepercayaan terhadap potensi untuk memecahkan masalah
baru, diturunkan dari pengalaman langsung di dalam menguasai masalah pada masa
lalu. Maka dari itu belajar dari pengalaman akan memperoleh kepercayaan diri,
serta motivasi untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks lagi.
5.
Peran Guru Sebagai Fasilitator
Jika seorang guru menyampaikan
kuliah/ceramah yang menyangkut pokok bahasan, maka fasilitator membantu siswa
untuk memperoleh pemahamannya sendiri terhadap pokok bahasan/konten kurikulum.
6.
Kolaborasi Antarpembelajar
Pembelajar dengan keterampilan dan
latar belakang yang berbeda diakomodasi untuk melakukan kolaborasi dalam
penyelesaian tugas dan diskusi-diskusi agar mencapai pemahaman yang sama
tentang kebenaran dalam suatu wilayah bahasan yang spesifik.
7.
Proses Top-Down (Proses dari Atas ke Bawah)
Dalam proses ini siswa diperkenalkan
dulu dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dengan bantuan guru
menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan
masalah seperti itu. Pada prinsipnya pembelajaran dimulai dengan pemberian dan
pelatihan keterampilan-keterampilan dasar dan secara bertahap diberikan
keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Usaha
mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri,
bertanggung jawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu
berkolaborasi dalam memecahkan masalah, diperlukan layanaanpendidikan yang
mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktek-praktek
pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik
yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha memberian makna oleh siswa kepada
pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasiyang menuju pada penbentukan
struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut.
Proses
belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya
melalui proses asimilasi dan akomondasi, akan membentuk suatu konstruksi
pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, O. (1990). Pengembangan Kurikulum:
Dasar-dasar dan Perkembangannya. Bandung: Mandar Maju.
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif. Jakarta: kencana
Anekaragammakalah. 2012. Makalah
Teori Belajar Konstruktivisme. Blogspot.com; diakses online pada tanggal 7
Mei 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar