Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR BAHASA
Teori Konstruktivisme



 



 







Nama : Siti Umamah
Kelas : A2
Npm : 1388201199
Dosen : Haerudin, M.Pd



Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tahun Akademik 2013/2014




KATA PENGANTAR



 
                  



AssalamualaikumWr.Wb.
Alhamdulillah Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan karunia terbesar-Nya atas selesainya penyusunan makalah teori belajar bahasa,  serta sholawat dan salam kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudulTeori Konstruktivisme Universitas Muhammadiyah Tangerang tahun pelajaran 2015/2016.dengan baik. Makalah  ini dibuat dan disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Tugas teori balajar bahasa pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT)  
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang sifatnya membangun akan menyempurnakan penulisan makalah ini serta bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan bagi peneliti selanjutnya.
Terima kasih.

WassalamualaikumWr.Wb.

Tangerang,  23 Desember2015

          Siti Umamah




DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1
B.  Rumusan Masalah................................................................................... 2
C.  Tujuan Penelitian..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.  Pengertian Teori kontruktivisme............................................................. 3
B.  Ciri-ciri pembelajaran konstruktivime..................................................... 4
C.  Prinsip-prinsip konstruktivisme............................................................... 4
D.  Tujuan Belajar......................................................................................... 5
E.   Konsep dasar  konstruktivisme............................................................... 8
BAB IIIPENUTUP
A.  Kesimpulan............................................................................................. 10
B.  Saran-saran.............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA









BAB  I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat intelektualitas serta kualitas kehidupan, maka pendidikan pun menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, tentu saja hal ini membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kondisinya. Sehingga berbagai teori, metode dan desain pembelajaran serta pengajaran pun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan. Jadi memang itulah yang menjadi esensi pendidikan itu sendiri, yakni bagaimana menciptakan sebuah kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang kontekstual dan mampu menyerap aspirasi zaman dengan tepat dan sesuai.
Guru di dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal, selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing – masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar, namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan konstruktivisme. Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru. Hubungan tersebut dikonstruksikan oleh siswa untuk kepentingan mereka sendiri. Elemen kuncinya adalah bahwa orang belajar secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu, setiap pelajaran di sekolah perlu diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar mengkonstruksikan pengetahuannya.



1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.         Apa yang dimaksud dengan konstruktivisme ?
2.         Bagaimana komparasi behaviorisme dan konstruktivisme ?
3.         Bagaimana pembelajaran menurut konstruktivisme ?
4.         Apa saja kendala - kendala dalam penerapan pembelajaran menurut konstruktivisme ?

1.3  TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.         Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konstruktivisme.
2.         Untuk mengetahui bagaimana komparasi behaviorisme dan konstruktivisme.
3.         Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran menurut konstruktivisme.
4.         Untuk mengetahui apa saja kendala - kendala dalam penerapan pembelajaran menurut konstruktivisme.

1.4  MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1.         Memberikan informasi mengenai pembelajaran konstruktivisme.
2.         Memberikan informasi dan pemahaman kepada pendidik bahwa peserta didik itu sebenarnya bukanlah seperti kertas putih yang kosong di mana guru bisa secara bebas membentuk pengetahuan siswa, tapi siswa adalah merupakan manusia yang sudah mempunyai pengetahuan yang mereka peroleh dari pengalaman lingkungan mereka sehari-hari.
3.         Memberikan informasi dan pemahaman kepada peserta didik bahwa yang sebenarnya peserta didik tersebut sudah memiliki pengetahuan awal dari pengalaman lingkungan mereka, bukan dibentuk baru oleh pendidik.








BAB  II
PEMBAHASAN


2.1  Konstruktivisme
2.1.1  Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan  guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Dalam hal tahap-tahap pembelajaran, pendekatan konstruktivisme lebih menekankan pada pembelajaran top-down processing, yaitu siswa belajar dimulai dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan (dengan bantuan guru), kemudian menghasilkan atau menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang dibutuhkan. Misalnya, ketika siswa diminta untuk menulis kalimat-kalimat, kemudian dia akan belajar untuk membaca, belajar tentang tata bahasa kalimat-kalimat tersebut, dan kemudian bagaimana menulis titik dan komanya.
Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa. Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya. Berdasarkan konstruktivisme, akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa (student centered instruction).

2.1.2 Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut.
a.     Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
b.    Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
c.     Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
d.    Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.

2.1.3  Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1.    Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2.    Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3.    Murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4.    Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5.    Struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan.
6.    Mencari dan menilai pendapat siswa.
7.    Menyesuaikan bahan pengajaran untuk menanggapi anggapan siswa.

       2.1.4 Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda memiliki kemampuan untuk mengkaji hakekat belajar menurut teori konstruktivisme dan menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran.
Sedangkan indikator keberhasilan belajar, jika anda dapat menjelaskan :
1.      Karakteristik manusia masa depan yang diharapkan.
2.      Konstruksi pengetahuan
3.      Proses belajar menurut teori konstruktivistik
4.      Perbandingan pembelajaran tradisional (behavioristik) dan pembelajaran konstruktivistik
1.Karakteristik manusia masa depan yang diharapkan
Upayamembangunan sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakterisitik manusia masa depan yang dikehendaki tersebut adalah  manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan , mengembangkan segenap aspek pontensi melalui proses belajar yang terus menurus untuk menentukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses .
Kepekaan, berarti ketajaman baik dalam arti kemampuan berpikiran, maupun kemudah tersentuhan hati nurani di dalam melihat dan merasakan segala sesuatu, mulai dari kepentingan orang lain samapi dengan kelestarian lingkungan merupakan gubahan sang pencipta. Langkah strategi bagi perwujudan tujuan di atas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya guna tinggi.
2. Konstruksi pengetahuan
Seperti telah diuraikan pada bab pendahuluan, untuk memperbaiki pendidikan terlebih dahulu harus mengetahui bagaiman manusia belajar dan bagaimana caramengajarnya.  Apa pengetahuan itu? Menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Proses mengkonstruksi pengetahuan.  Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan indaranya. Melalui interaksinya dengan objek dan lingkungan, misalnya dengan mellihat, mendengar, menjamah, membau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu.
              Von  Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu ; 1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan kwmbali pengalaman, 2)kemampuan membandingankan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan, dan 3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
Faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstrulksi pengatahuan seseorang yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan struksi kognitif yang dimilikinya.
3. Proses belajar menurut teori konstruktivistik
Para bagian ini akan dibahasa proses belajar dari pandangan konstruktivistik, dan dari aspek-aspek si-belajar, peranan guru, sarana balajar, dan evaluasi belajar.
Proses belajar konstruktivistik. Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasiyang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna 0leh siswa  kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomondasi yang bermuara pada pemutahkiraan stuktur kognitif. Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memilki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu.
Peranan guru. Dalam belajar konstruktivistikguru atau pendidik  berperan membantu agar proses pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan dengan lancar.guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa belajar.
Peranan kunci guru dalam interaksi pendidik adalah pengendalian, yang meliputi;
1)      Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
2)      Menumbuhkan kemampuan mengambil kdengan peluang optimal untuk berlatih.
Evaluasi belajar. Pandangan konstruktivistik mengemukan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interprensi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman.  Evaluasi belajar ra melengkapi pandangan behavioristik tradisional lebih diarahkan pada tujuan belajar. Sedangkan pandangan konstruktivistik menggunakan goal-free evaluation, yaitu suatu kontruksi untuk mengatasi  kelemahan evaluasi pada tujuan spesifik.
4.Perbandingan pembelajaran tradisional (behavioristik) dan pembelajaran konstruktivistik
            Proses pembelajaran akan efektif jika diketahui inti kegiatan belajar yang sesungguhnya. Pada bagian ini akan dibahas ciri-ciri pembelajaran tradisional atau behavioristik dan ciri-ciri pembelajaran konstruktivistik.
Kegiatan  pembelajaran yang  selama ini berlangsung , yang berpijak pada teori behavioristik , banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa diceramahkan. Dalam pelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks.dharapkan siswa memikili pandangan yang sama dengan guru ;atau sama  dengan buku teks tersebut. Alternatif- altrenatif perbeda interpretasi  di antara siswa  terhadap fenomena sosial yang kompleks tidak di pertimbangkan. Siswa belajar dalam isolasi ; yang mempelajari  kemampuan tingkat  rendah dengan  cara melengkapi `buku tugasnya seperti .



Pembelajaran tradisional
Pembelajaran kontruktivistik
1.      Kurikulum disajikan dari bagian-bagian menuju kesuluruhan dengan menekankan pada ketrampilan-ketrampilan dasar
1.kurikulum disajikan mulai dari keseluruhan menuju ke bagian-bagian, dan lebih mendekatkan pada konsep-konsep yang lebih luas
2.      Pembelajaran sangat taat pada kurikulum yang telah ditetapkan.
2.pembelajaran lebih menghargai pada pemunculan pertanyaan dan ide-ide siswa.
3.      Kegiatan kurikuleter lebih banyak mengandalkan pada buku teks dan buku kerja.
3.kegiatan kurikuler lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber data primer dan manipulasi bahan.
4.      Siswa-siswa dipandang sebagai “kertas kosong” yang dapat digoresi informasi oleh guru, dan guru-guru pada umumnya menggunakan cara didaktik dapat menyampaikan informasi kepada siswa.
4.siswa dipandang sebagai pemikir-pemikir yang dapat  memunculkan teori-teori tentang dirinya.
5.      Penilai hasil belajar atau pengetahuan siswa dipandang sebagai bagian dari pembelajaran dan biasanya dilakukan pada akhir pelajaran dengan cara testing.
Pengukuran proses dan hasil belajar siswa terjalin di dalam kesatuan kegiatan pembelajaran, dengan cara guru mengamati hal-hal yang sedang dilakukan siswa, serta melalui tugas-tugas pekerjaan.

2.1.5 Konsep Dasar Konstruktivisme
Berikut ini merupakan beberapa konsep kunci dari teori konstruktivisme antara lain:
1.      Siswa Sebagai Individu yang Unik
Teori konstruktivisme berpandangan bahwa pembelajar merupakan individu yang unik dengan kebutuhan dan latar belakang yang unik pula. Dalam teori ini tidak hanya memperkenalkan keunikan dan kompleksitas pembelajar tetapi juga secara nyata mendorong, memotivasi dan memberi penghargaan kepada siswa sebagai integral dari proses pembelajaran.
2.      Self Regulated Leaner (Pembelajar yang dapat mengelola diri sendiri )
Siswa dikembangkan menjadi seorang yang memiliki pengetahuan tentang strategi belajar yang efektif, yang sesuai dengan gaya belajarnya dan tahu bagaimana serta kapan menggunakan pengetahuan itu dalam situasi pembelajaran yang berbeda. Self Regulated Leaner termotivasi untuk belajar oleh dirinya sendiri, bukan dari nilai yang diperolehnya sebagai hasil belajar atau karena motivasi eksternal yang lain, misalnya dari guru atau orang tuanya.
3.      Tanggung jawab Pembelajaran
Dalam konstruktivisme ini berpandangan bahwa tanggung jawab belajar bertumpu kepada siswa. Teori ini menekankan bahwa siswa harus aktif dalam proses pembelajaran, dan berbeda pendapat dengan pandangan pendidikan sebelumnya yang menyatakan tanggung jawab pembelajaran lebih kepada guru, sedangkan siswa berperan secara pasif dan reseptif. Disini para pembelajar mencari makna dan akan mencoba mencari keteraturan dari berbagai kejadian yang ada di dunia, bahkan seandainya informasi yang tersedia tidak lengkap.
4.       Motivasi Pembelajaran
Motivasi belajar secara kuat bergantung kepada kepercayaan siswa terhadap potensi belajarnya sendiri. Perasaan kompeten dan kepercayaan terhadap potensi untuk memecahkan masalah baru, diturunkan dari pengalaman langsung di dalam menguasai masalah pada masa lalu. Maka dari itu belajar dari pengalaman akan memperoleh kepercayaan diri, serta motivasi untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks lagi.
5.      Peran Guru Sebagai Fasilitator
Jika seorang guru menyampaikan kuliah/ceramah yang menyangkut pokok bahasan, maka fasilitator membantu siswa untuk memperoleh pemahamannya sendiri terhadap pokok bahasan/konten kurikulum.
6.      Kolaborasi Antarpembelajar
Pembelajar dengan keterampilan dan latar belakang yang berbeda diakomodasi untuk melakukan kolaborasi dalam penyelesaian tugas dan diskusi-diskusi agar mencapai pemahaman yang sama tentang kebenaran dalam suatu wilayah bahasan yang spesifik.
7.      Proses Top-Down (Proses dari Atas ke Bawah)
Dalam proses ini siswa diperkenalkan dulu dengan masalah-masalah yang kompleks untuk dipecahkan dengan bantuan guru menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah seperti itu. Pada prinsipnya pembelajaran dimulai dengan pemberian dan pelatihan keterampilan-keterampilan dasar dan secara bertahap diberikan keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Usaha mengembangkan manusia dan masyarakat yang memiliki kepekaan, mandiri, bertanggung jawab, dapat mendidik dirinya sendiri sepanjang hayat, serta mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah, diperlukan layanaanpendidikan yang mampu melihat kaitan antara ciri-ciri manusia tersebut, dengan praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran untuk mewujudkannya. Pandangan konstruktivistik yang mengemukakan bahwa belajar merupakan usaha memberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui asimilasi dan akomodasiyang menuju pada penbentukan struktur kognitifnya, memungkinkan mengarah kepada tujuan tersebut.
Proses belajar sebagai suatu usaha pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomondasi, akan membentuk suatu konstruksi pengetahuan yang menuju pada kemutakhiran struktur kognitifnya.


















DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, O. (1990). Pengembangan Kurikulum: Dasar-dasar dan Perkembangannya. Bandung: Mandar Maju.
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:  kencana
            Anekaragammakalah. 2012. Makalah Teori Belajar Konstruktivisme. Blogspot.com; diakses online pada tanggal 7 Mei 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar