TEORI BELAJAR
BEHAVIORISTIK DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Tugas
ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa
Oleh
:
Nama:Yulyani
NPM : 1388201033
Dosen
Pengampu: Haerudin, M.Pd
Semester
/ Kelas : 5/A2
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi
Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas
Muhammadiyah Tangerang
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar merupakan kegiatan seseorang
untuk melakukan aktifitas belajar. Menurut Piaget belajar adalah aktifitas anak
bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Menurut
pandangan psikologi behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon. Seseorang yang telah selesai melakukan proses belajar akan
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini yang penting dalam belajar
adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Pembelajaran adalah suatu sistem
yang membantu individubelajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan
lingkungan.
Jika ditinjau dari konsep atau
teori, teori behavioristik ini tentu berbeda dengan teori yang lain. Hal
ini dapat kita lihat dalam pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai
asumsi atau pandangan yang muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik
memandang bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa
menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah
mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang
diinginkan, dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan
perubahan bermakna sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu
memperlihatkan perubahan makna.
Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa menyusun
makalah teori belajar
menurut aliran behaviorisme yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu untuk mengetahui lebih lanjut lagi tentang teori
behaviorisme
dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang pendekatan
behaviorisme tersebut, sehingga pembaca memang benar-benar mengerti apa dan
bagimana pendekatan behaviorisme.
B.
Rumusan
Masalah
1. Jelaskan
pengertian belajar ?
2. Jelaskan
pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik ?
3. Jelaskan
pengertian belajar menurut pandangan teori behaviosristik ?
4. Sebutkan
kelebihan dan kekurangan teori behavioristik ?
5. Jelaskan
aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran ?
6. Jelaskan
penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran bahasa ?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengertian belajar
2. Untuk
mengetahui pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik
3. Untuk
mengetahui pengertian belajar menurut pandangan teori behaviosristik
4. Untuk
mengetahui kelebihan dan kekuarangan teori behavioristik
5. Untuk
mengetahui aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
6. Untuk
mengetahui penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses
dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis
dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian
tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa,
baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan di rumahatau keluarganya
sendiri (Syah, 2010 : 87).
Belajar merupakan kegiatan yang paling
banyak dilakukan orang. Belajar dilakukan hampir setiap waktu, kapan saja, di
mana saja dan sedang melakukan apa saja, misalnya di sekolah, dirumah, di
jalan, di pasar , di dalam bus, sedang bekerja, sedang bermain dan seterusnya. Dikalangan
masyarakatr umum dan awam, belajar diartikan monopoli anak di sekolah. Akan
tetapi ada pula memaknai bahwa belajar juga bisa dilakukan dirumah. Misalnya,
seorang anak (siswa) dikatakan sedang belajar oleh ibunya, “Yuli sedang
belajar,” katanya. Yang dimaksud sang ibu adalah apa yang sedang dikerjakan
sang anak di kamar belajarnya, misalnya ia mengerjakan PR atau barangkali
sedang menghafal pelajaran, mempersiapkan diri untuk pelajaran keesokan harinya.
Di kalangan kaum awam, ada yang mengartikan belajar itu sama dengan menghafal.
Pengertian belajar oleh kebanyakan yang lain adalah mengulang pelajaran
sekolah. Belajar juga merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk
mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau
pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik
perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Dengan perubahan hasil
belajartersebu, membantu orang untuk dapat memecahkan permasalahan dalam
hidupnya serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Perubahan-perubahan hasil belajar tersebut dapat berubah ke arah yang positif
(Baharuddin, 2010 : 157).
Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang bentuk memperoleh perubahan tingkah laku yang keseluruhan,
sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
(Slameto, 2003 : 2, dalam Hamdani, 2010 : 20).
Jadi, belajar adalah kegiatan yang
berproses yang dilakukan seesorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku
sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya.
B.
Pengertian
Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar
adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara
stimulus dan respons. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang
dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang
sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jik ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai
contoh, seorang guru mengajari siswanya membaca, dalam proses pembelajarannya
guru dan siswa benarbenar dalam situasi belajar yang diinginkan, walaupun pada
akhirnya hasil yang dicapai belum maksimal. Namun, jika terjadi perubahan
terhadap siswa yang awalnya tidak bisa membaca menjadi bisa membaca tetapi
masih terbata-bata, maka perubahan inilah yang dimaksud dengan belajar.
Menurut teori ini yang penting adalah input yang berupa stimulus dan keluaran
atau output yang berupa respon. Dalam
contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa
misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja atau cara-cara tertentu,
untuk membantu belajar siswa. Sedangkan, respons adalah reaksi atau tanggapan
siswa terhadap stimulus yang diberikan guru tersebut. Menurut teori
behavioristik, apa yang terjadi diantara stimulus dan respons dianggap tidak
penting diperlihatkan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang
dapat diamati hanyalah stimulus dan respons. Oleh sebab itu, apa saja yang
diberikan guru (stimulus) dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons),
semuanya harus daoat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran,
sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi
tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang juga dianggap penting
oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat
timbulnya respons bila penguat ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon semakin kuat. Begitu juga bila penguatnya
dikurangi (negative reinforcement)
responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika ada peserta didik diberi oleh
tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan selalu giat belajarnya.maka
penambahan tugas-tugas tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam belajar. Bila tugasnya dikurangi dan
pengurangan itu justru meningkatkan aktivitas belajarnya maka pengurangan tugas
merupakan penguatan negatif (negative
reinforcement) dalam belajar. jadi penguatan adalah suatu bentuk stimulus yang penting diberikan
(ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya
respons.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik
diantaranya adalah Thorndike, Watson Clark Hull, Edwin Guthrie dan Skiner. Pada
dasarnya para penganut aliran behavioristik setuju dengan pengertian diatas
namun ada beberapa perbedaan pendapat diantara mereka. Secara singkat,
berturut-turut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik sebagai
berikut :
1.
Teori
Belajar Menurut Thorndike
Menurut
Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons.
Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar
seperti pikiran, perasaan atau hal-hal yang dapat ditangkap melalui alat
indera. Sedangkan, respons yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika
belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakn/tindakan. Dari
dfeinisi belajar tersebut makan menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat
dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkrit yaitu dapat diamati, atau
tidak konkrit yaitu yang tidak diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat
mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara
mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah
banyak memberikan pemikirandan ispirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang
kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionisme (Connectionism).
Teori
ini memiliki ciri-ciri belajar sebagai berikut :
a. Adanya
motof yang mendorong aktivitas.
b. Adanya
berbagai responterhadap situasi.
c. Adanya
eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d. Adanya
kemajuan reaksi-reaksi dalam mencapai tujuan.
Menurut Thorndike, dasar proses belajar
pada hewan maupun pada manusia adalah sama. Baik belajar pada hewan maupun pada
manusia, mengacu ke dalam tiga hukum belajar pokok, yaitu :
1) Law of readiness
ialah reaksi terhadap stimulus yang didukung oleh kesiapan untuk bertindak dan
bereaksi itu, reaksi itumenjadi memuaskan.
2) Law of exercise
ialah hubungan stimulus respon apabila sering digunakan akan semakin kuat
melalui repetition (pengulangan).
a) Low of use
yaitu hubungan stimulus respon bertambah kuat jika ada latihan.
b) Law of disuse
yaitu hubungan stimulus respon bertambah lemah jika latihan dihentikan.
3) Law of effect
ialah menunjukkan kepada makin kuat atau lemahnya hubungan sebagai akibat dari
pada hasil respon yang dilakukan.
Hasil dari semua perbandingan dari
berbagai cara itu sama saja, yaitu teori koneksisme. Koneksi (hubungan) yang
membawa hadiah selalu bertambah kua, sedangkan koneksi yang membawahukuman
hanya sedikit saja bertambah lemah. Teori Thorndike memberi pengaruh yang
besarsekali dalam masalah belajar.
2.
Teori
Belajar Menurut Watson
Watson
adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike.
Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons, namun
stimulus dan reapon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat
diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui
adanya perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua
itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena
tidak dapat diamati.
Watson
adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan
dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur.
Asumsinya bahwa hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan
perubahan-perubahan apa yang akan terjadi setelah seseorang melakukan tindak
belajar. para tokoh aliran behavioritik cenderung untuk tidak memperhatikan
hal-hal yang tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati, seperti
perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian
mereka tetap mengakui hal penting itu.
3.
Teori
Belajar Menurut Clark Hull
Hull
berpendirian bahwa tingkah laku itu berfungsi menjaga agar organisme tetap
bertahan hidup. Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan
biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan
manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan
kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat
bermacam-mcam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak
digunakan dalam kehudpan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan
teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen
di laboratorium.
Teori
Hull ini memiliki beberapa prinsip, yaitu :
a. Dorongan
merupakan hal yang penting agarterjadi respon (siswa harus memiliki keinginan
untuik belajar).
b. Stimulus
dan respon harus dapat diketahui oleh organisme agar pembiasaan dapat terjadi
(siswa harus mempunyai perhatian).
c. Respon
harus dibuat agarterjadi pembiasaan (siswa harus aktif).
d. Pembiasaan
hanya terjadi jika reinforcement dapat
melalui kebutuhan (belajar harus dapat memenuhi keinginan siswa).
4.
Teori
Belajar Menurut Edwin Guthrie
Edwin
Guthrie adalah seorang penemu teori kontinguiti yaitu gabungan
stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali
cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan
variabel hubungan stimulus respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
belajar terjadi karena karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi
stimulus, sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan hanya
sekedar melindungi hasil belajaryang baru agar tidak hilang dengan jalan
mencegah perolehan respon yang baru.
Teori
Guthrie ini mengatkan bahwa hubungan stimulus dan respon bersifat sementara,
oleh karenanya dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin
diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan
menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment)
memegang peranan penting dalam proses belajar. hukuman yang diberikan padasaat
yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Guthrie
mengemukakan bagaimana cara/metode untuk mengubah kebiasaan-kebiasan yang
kurang baik berdasarkan teori conditioning.
Metode-metode Guthrie antara lain :
a. Metode
reaksi berlawanan (Incompatible response
method)
Manusia itu adalah
suatu organisme yang selalu mereaksi kepada perangsang-perangsang tertentu.
Jika suatu reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan,
maka cara untuk mengubahnya ialah dengan jalan menghubungkan perangsang
(stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang
hendak dihilangkannya.
b. Metode
membosankan (Exchaustion metdod)
Hubungan antara
asosiasi antara perangsang dan reaksi (S-R) pada tingkah laku yang buruk itu
dibiarkan saja sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga menjadi bosan.
Sebagai contoh, umpamanya seorang anak yang berumur 3 tahun bermain-main dengan
korek api. Pada waktu itu disuruh menghabiskankepala korek api satu pak
sehingga menjadi bosan.
c. Metode
mengubah lingkungan (Change of
Environment Method)
Suatu metode yang
dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang
buruk yang akan dihilangkannya. Yakni menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk
yang disebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangnya itu sendiri.
Sebagai contoh, umpanya kita akan mnegubah tingkah laku/kebiasaan-kebiasaan
buruk yang dilakuakn seorang anak di sekolahnya, dengan memindahkan anak itu ke
sekolah yang lain.
5.
Teori
Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep
yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep
lain yang dikemukakan oleh tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar
secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon
yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan
menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sderhana yang digambarkan oleh
para tokoh sebelumnya.
Skinner
merupakan seorang tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku individu
dikontrol melalui proses operant
conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme
melalui pemberian reinforcement yang
bijaksana dalam lingkungan yang relatif besar.
Management
kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara
lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang
diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant conditioning adalah suatu proses
perilaku operant (penguatan positif atau
negatif) yang dapat mengakibatkan perilakutersebut dapat berulang kembali atau
menghilang susuai dengan keinginan.
Teori
belajar behaviorisme ini telah lama dianut oleh para guru dan pendidik, namun
dari semua pendukung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya
terhadap perkembangan teori belajar behaviorisme. Program-program pembelajaran
sepeti teaching machine, pembelajaran
berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada
konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat
merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang
dikemukakan oleh Skinner.
Menurut
Skinner berdasarkan percobaan terhadap tikus dan burung merpati, unsur
terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah penguatan yang
terbentuk melalui ikatan stimulus respons akan semakin kuat bila diberi
penguatan (penguatan positif dan penguatan negatif).
Bentuk
penguatan positif berupa hadiah, perilaku dan penghargaan. Sedangkan, bentuk
penguatan negatif adalah menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan
tugas tambahan dan menunjukkan perilaku tidak senang.
Skinner
tidak sependapat pada asumsi yang dikemukakan oleh Guthrie bahwa hukuman
memegang peranan penting dalam proses pelajar. Hal tersebut dikarenakan menurut
Skinner :
a. Pengaruh
hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
b. Dampak
psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa
terhukum berlangsung lama).
c. Hukuman
mendorong si penghukum mencari-cari lain yang kadangkala lebih buruk dari pada
kesalahan pertama yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang
disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman .
ketidaksamaannya terletak bila pada hukuman harus diberikan (sebagai stimulus)
harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, siswa
perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika siswa tersebut masih saja
melakukan kesalahan, maka hukumannya harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu
yang tidak mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan kesahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini
mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut
penguat negatif. Lawan dari penguat negatif adalah penguat positif. Keduanya
bertujuan untuk memperkuat respon. Namun, bedanya adalah bahwa penguat positif
itu ditambah, sedangkan penguat negatif dikurangi untuk memperkuat respon.
Secara
ringkas teori behaviorisme yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa :
1. Belajar
adalah perubahan tingkah laku.
2. Tingkah
laku tersebut harus dapat diamati.
3. Mengikuti
pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output
yang berupa respon.
4. Fungsi
fikiran adalah untuk menciplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui
proses berfikir yang dapat dianalisis atau dipilah.
5. Pembiasaan
dan latihan menjadi esensial dalam belajar.
6. Apa
yang terjadi antara stimulus dan respon sianggap tidak penting diperhatikan
karena tidak dapat diamati.
7. Yang
dapat diamati hanyalah stimulusrespon.
8. Kegagalan
atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai
kegagalan yang perlu dihukum.
9. Aplikasi
teori ini menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah
dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, tes. Penyajian materi pelajaran
mengikutri urutan dari bagian-bagian keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi
menekan pada hasil dan evaluasi menuntut jawaban yang benar. Jawaban yang benar
menunjukkan bhwa siswa telah menyelesaikan belajarnya.
10. Proses
belajar sangat bergantung kepada faktor yang berada di luar dirinya, sehingga
ia memerlukan stimulus dari pengajarnya.
11. Hasil
belajar banyak dtentukan oleh proses peniruan, pengulangan dan penguatan (reinforcement).
12. Belajar
harus melalui tahap-tahap tertentu, sedikit demi sedikit, yang mudah mendahului
yang lebih sulit.
C.
Kelebihan
dan Kekurangan Teori Behavioristik
Kelebihan, kekurangan dan permasalahan
yang muncul dalam pembelajaran, sesuai dengan teori ini, guru dapat menyusun
bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap sehingga tujuan pembelajaran yang
dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberikan
ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan
sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari
yang sesderhana sampai yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam
bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan
tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya
perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk
ke dalam teori behaviorisme terdapat beberapa kelebihan diantaranya :
1. Membiasakan
guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
2. Metode
behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan
praktik dan pembiasaan yang mengandung unsu-unsur seperti : kecepatan,
spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan dan sebagainya.
3. Guru
tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika
menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan.
4. Teori
ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi
peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan
senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau
pujian.
Kelemahan-kelamahan yang terdapat pada
teori behaviorisme, antara lain:
1. Memandang
belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah kegiatan
yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalui
gejalanya.
2. Proses
belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin
atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif, sehingga dengan kemampuan ini
manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
3. Tidak
setiap pelajaran menggunakan metode ini.
4. Murid
berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang
di dengardan dipandang sebagai cara belajar efektif.
5. Murid
dipandang pasif , perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh
penguatan yang diberikan oleh guru.
D.
Aplikasi
Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran
Aliran psikolog belajar yang sangat
besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan
pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan
pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. teori
behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukan orang yang
belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku akan semakin kuat
bila diberikan reinforcement dan akan
menghilang bila dikenai hukuman.
Istilah-istilah seperti hubungan
stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang
tampak, pembentukkan perilaku (shaping)
dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement
dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam
teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktik
pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan
pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok Bermain, Taman
Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di Perguruan
Tinggi, pembentukkan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan
reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam
kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti ; tujuan pembelajaran,
sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran
yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori
behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti tetap, tidak
berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajaradalah memindahkan pengetahuan ke
orang yang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan dapat memiliki pemahaman
yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh
pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Karena teori behavioristik memandang
bahwa sebagai sesuatu yang ada di duni nyata telah terstruktur rapi dan
teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan
yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Tujuan pembelajaran menurut
teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar
sebagai aktivitas “mi-metic”, yang
menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari
dalam bentuk laporan, kuis dan tes. Penyajian isi atau materi pelajaran
menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti
urutan dari bagian ke keseluruhan.
Evaluasi menekankan pada respon pasif,
keterampilan secaraterpisah dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban
benar. Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan
guru, hal ini menunjukkan pada siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan
pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara
individual.
Secara umum, langkah-langkah
pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh
Siciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang
pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi :
1. Menetukan
tujuan-tujuan pembelajaran
2. Menganalisis
lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entri behaviora) siswa.
3. Menentukan
materi pelajaran.
4. Memecah
materi pelajaran menjadi bagian-bagian kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokokn
bahasan, topik dan sebagainya.
5. Menyajikan
materi pelajaran.
6. Memberikan
stimulus, dapat berupa ; pertanyaan lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan
atau tugas-tugas.
7. Mengamati
dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
8. Memberikan
penguatan (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif) ataupun
hukuman.
9. Memberikan
stimulus baru.
10. Menagamati
dan mengakji respons yang diberikan siswa.
11. Memberikan
penguatan.
12. Evaluasi
hasil belajar.
E.
Penerapan
Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Para pakar psikolog belajar bahasa
penganut faham behaviorisme berpendapat bahwa belajar Bahasa Indonesia
berlangsung dalam lima tahap, yaitu :
a. Trial
and error
b. Mengingat-ingat
c. Menirukan
d. Mengasosiasikan
e. Menganalogikan
Dari kelima langkah tersebut dapat disimpulkan
bahwa berbahasa pada dasarnya merupakan proses pembentukkan kebiasaan. Dalam
teori ini behaviorisme, segala tingkah laku manusia menjadi suatu perilaku
berbahasa yang menjadi manifestasi stimulus dan respon yang dilakukan
terus-menerus menjadi suatu kebiasaan. Berdasarkan teori ini, pembelajaran
bahasa dilakukan dengan mendahulukan pengenalan, keterampilan mendengarkan,
menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pemberian latihan-latihan dan
penggunaan bahasa secara aktif dan terus menerus, penciptaan lingkungan
berbahasa yang kondusif, penggunaan media pembelajaran yang memungkinkan siswa
mendengarkan dan berinteraksi dengan penutur
asli.
Ada beberapa kegiatan pembelajaran
bahasa Indonesia yang dapat dikembangkan berdasarkan teori ini, diantara yang
penting adalah :
a. Pengenalan
keterampilan mendengar dan berbicara sebagai awal dalam pembelajaran sebelum
keterampilan membaca dan menulis.
b. Latihan
dan penggunaan bahasa secaraaktif dan terus menerus agar pembelajar memiliki
keteramnpilan berbahasa dan berbentuk kebiasaan menggunakan bahasa.
c. Penciptaan
lingkungan berbahasa yang kondusif agar mendukung proses pembiasaan
berbahasa secara aktif.
d. Penggunaan
media pembelajaran yang emmungkinkan pembelajar mendengar dan berinteraksi
dengan penutur asli.
e. Memotivasi
guru bahasa untuk tampil berbahasa secara baik dan benar, sehingga dapat
menjadi teladan yang baik bagi para siswanya dalam berbahasa.
Salah satu faktor yang sangat
mempengaruhi dan menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran bahasa
Indonesia adalah lingkungan, tak terkecuali lingkungan berbahasa. Tujuan
penciptaan lingkungan berbahasa Indonesia, tak lain adalah :
a. Untuk
membiasakan dalam memanfaatkan bahasa Indonesia secara komunikatif, melalui
praktik percakapan, diskusi, seminar, ceramah, dan berekspresi melalui tulisan.
b. Memberikan
penguatan pemerolehan bahasa yang sudah dipelajari di kelas.
c. Menumbuhkan
kreativitad dan aktivitas berbahasa Indonesia yang terpadu antara teori dan
praktik dalam suasana informal yang santai dan menyenangkan.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Belajar adalah kegiatan yang berproses
yang dilakukan seesorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil
pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut teori behavioristik, belajar
adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara
stimulus dan respons.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus yaitu apa saja yang dapat
merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal
yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan, respons yaitu reaksi yang
dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran,
perasaan atau gerakn/tindakan.
Watson adalah seorang tokoh aliran
behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan reapon yang dimaksud
harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
Hull berpendirian bahwa tingkah laku itu
berfungsi menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Hull mengatakan bahwa
kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati
posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam
belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon
yang akan muncul mungkin dapat bermacam-mcam bentuknya.
Edwin Guthrie adalah seorang penemu
teori kontinguiti yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan,
pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama.
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh
Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan
oleh tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana,
namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif.
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk
ke dalam teori behaviorisme terdapat beberapa kelebihan diantaranya :
1. Membiasakan
guru untuk bersiap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
2. Metode
behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan
praktik dan pembiasaan yang mengandung unsu-unsur seperti : kecepatan,
spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan dan sebagainya.
3. Guru
tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri.
4. Teori
ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi
peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan
senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau
pujian.
Kelemahan-kelamahan yang terdapat pada
teori behaviorisme, antara lain:
1. Memandang
belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah kegiatan
yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalui
gejalanya.
6. Proses
belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin
atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif, sehingga dengan kemampuan ini
manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
7. Proses
belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan sangat sulit diterima, mengingat
ada perbedaan yang cukup mencolok antatra hewan dan manusia.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan
pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti ; tujuan pembelajaran, sifat
materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang
tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori
behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti tetap, tidak
berubah.
Ada beberapa kegiatan pembelajaran
bahasa Indonesia yang dapat dikembangkan berdasarkan teori ini, diantara yang
penting adalah :
1. Pengenalan
keterampilan mendengar dan berbicara sebagai awal dalam pembelajaran sebelum
keterampilan membaca dan menulis.
2. Latihan
dan penggunaan bahasa secaraaktif dan terus menerus agar pembelajar memiliki
keteramnpilan berbahasa dan berbentuk kebiasaan menggunakan bahasa.
3. Penciptaan
lingkungan berbahasa yang kondusif agar mendukung proses pembiasaan
berbahasa secara aktif.
4. Penggunaan
media pembelajaran yang emmungkinkan pembelajar mendengar dan berinteraksi
dengan penutur asli.
5. Memotivasi
guru bahasa untuk tampil berbahasa secara baik dan benar, sehingga dapat
menjadi teladan yang baik bagi para siswanya dalam berbahasa.
B.
Saran
Kita sebagai calon guru harusnya mampu
mendidik para peserta didik kita dengan baik, dengan metode serta teori yang
tepat sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Oleh karena
itu, pelajarilah teori-teori
pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar
yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin.2010.
Pendidikan & Psikologi Perkembangan.
Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
Purwanto,
Ngalim. 2013. Psikologi Pendidikan.
Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin.2010. Psikologi Pendidikan Dengan
Pendekatan Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
(Diakses
pukul 21.00 WIB, 16 Desembee 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar