Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa


Oleh :
Nama:Yulyani
NPM : 1388201033
Dosen Pengampu: Haerudin, M.Pd
Semester / Kelas : 5/A2

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Tangerang
 2015
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan seseorang untuk melakukan aktifitas belajar. Menurut Piaget belajar adalah aktifitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Menurut pandangan psikologi behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang yang telah selesai melakukan proses belajar akan menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini yang penting dalam belajar adalah input yang berupa stimulus  dan output yang berupa respon.
Pembelajaran adalah suatu sistem yang membantu individubelajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan.
Jika ditinjau dari konsep atau teori, teori behavioristik ini tentu berbeda dengan teori yang lain. Hal ini  dapat kita lihat dalam pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai asumsi atau pandangan yang muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik memandang bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan, dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan makna.
Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa menyusun makalah teori belajar menurut aliran behaviorisme yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu untuk  mengetahui lebih lanjut lagi tentang teori behaviorisme dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang  pendekatan behaviorisme tersebut, sehingga pembaca memang benar-benar mengerti apa dan bagimana pendekatan behaviorisme.

B.     Rumusan Masalah
1.      Jelaskan pengertian belajar ?
2.      Jelaskan pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik ?
3.      Jelaskan pengertian belajar menurut pandangan teori behaviosristik ?
4.      Sebutkan kelebihan dan kekurangan teori behavioristik ?
5.      Jelaskan aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran ?
6.      Jelaskan penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran bahasa ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian belajar
2.      Untuk mengetahui pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik
3.      Untuk mengetahui pengertian belajar menurut pandangan teori behaviosristik
4.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekuarangan teori behavioristik
5.      Untuk mengetahui aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
6.      Untuk mengetahui penerapan teori behavioristik dalam pembelajaran bahasa















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan di rumahatau keluarganya sendiri (Syah, 2010 : 87).
Belajar merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan orang. Belajar dilakukan hampir setiap waktu, kapan saja, di mana saja dan sedang melakukan apa saja, misalnya di sekolah, dirumah, di jalan, di pasar , di dalam bus, sedang bekerja, sedang bermain dan seterusnya. Dikalangan masyarakatr umum dan awam, belajar diartikan monopoli anak di sekolah. Akan tetapi ada pula memaknai bahwa belajar juga bisa dilakukan dirumah. Misalnya, seorang anak (siswa) dikatakan sedang belajar oleh ibunya, “Yuli sedang belajar,” katanya. Yang dimaksud sang ibu adalah apa yang sedang dikerjakan sang anak di kamar belajarnya, misalnya ia mengerjakan PR atau barangkali sedang menghafal pelajaran, mempersiapkan diri untuk pelajaran keesokan harinya. Di kalangan kaum awam, ada yang mengartikan belajar itu sama dengan menghafal. Pengertian belajar oleh kebanyakan yang lain adalah mengulang pelajaran sekolah. Belajar juga merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Dengan perubahan hasil belajartersebu, membantu orang untuk dapat memecahkan permasalahan dalam hidupnya serta dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan hasil belajar tersebut dapat berubah ke arah yang positif (Baharuddin, 2010 : 157).
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang bentuk memperoleh perubahan tingkah laku yang keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003 : 2, dalam Hamdani, 2010 : 20).
Jadi, belajar adalah kegiatan yang berproses yang dilakukan seesorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya.

B.     Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jik ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, seorang guru mengajari siswanya membaca, dalam proses pembelajarannya guru dan siswa benarbenar dalam situasi belajar yang diinginkan, walaupun pada akhirnya hasil yang dicapai belum maksimal. Namun, jika terjadi perubahan terhadap siswa yang awalnya tidak bisa membaca menjadi bisa membaca tetapi masih terbata-bata, maka perubahan inilah yang dimaksud dengan belajar.
Menurut teori ini yang penting adalah input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja atau cara-cara tertentu, untuk membantu belajar siswa. Sedangkan, respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi diantara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperlihatkan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respons. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus daoat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons bila penguat ditambahkan (positive reinforcement) maka respon semakin kuat. Begitu juga bila penguatnya dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika ada peserta didik diberi oleh tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan selalu giat belajarnya.maka penambahan tugas-tugas tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam belajar. Bila tugasnya dikurangi dan pengurangan itu justru meningkatkan aktivitas belajarnya maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar. jadi penguatan adalah  suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respons.
Tokoh-tokoh aliran behavioristik diantaranya adalah Thorndike, Watson Clark Hull, Edwin Guthrie dan Skiner. Pada dasarnya para penganut aliran behavioristik setuju dengan pengertian diatas namun ada beberapa perbedaan pendapat diantara mereka. Secara singkat, berturut-turut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik sebagai berikut :
1.      Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan, respons yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakn/tindakan. Dari dfeinisi belajar tersebut makan menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berwujud konkrit yaitu dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikirandan ispirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionisme (Connectionism).
Teori ini memiliki ciri-ciri belajar sebagai berikut :
a.       Adanya motof yang mendorong aktivitas.
b.      Adanya berbagai responterhadap situasi.
c.       Adanya eliminasi respon-respon yang gagal atau salah.
d.      Adanya kemajuan reaksi-reaksi dalam mencapai tujuan.
Menurut Thorndike, dasar proses belajar pada hewan maupun pada manusia adalah sama. Baik belajar pada hewan maupun pada manusia, mengacu ke dalam tiga hukum belajar pokok, yaitu :
1)      Law of readiness ialah reaksi terhadap stimulus yang didukung oleh kesiapan untuk bertindak dan bereaksi itu, reaksi itumenjadi memuaskan.
2)      Law of exercise ialah hubungan stimulus respon apabila sering digunakan akan semakin kuat melalui repetition (pengulangan).
a)      Low of use yaitu hubungan stimulus respon bertambah kuat jika ada latihan.
b)      Law of disuse yaitu hubungan stimulus respon bertambah lemah jika latihan dihentikan.
3)      Law of effect ialah menunjukkan kepada makin kuat atau lemahnya hubungan sebagai akibat dari pada hasil respon yang dilakukan.
Hasil dari semua perbandingan dari berbagai cara itu sama saja, yaitu teori koneksisme. Koneksi (hubungan) yang membawa hadiah selalu bertambah kua, sedangkan koneksi yang membawahukuman hanya sedikit saja bertambah lemah. Teori Thorndike memberi pengaruh yang besarsekali dalam masalah belajar.
2.      Teori Belajar Menurut Watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan reapon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.
Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan dapat diukur. Asumsinya bahwa hanya dengan cara demikianlah maka akan dapat diramalkan perubahan-perubahan apa yang akan terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar. para tokoh aliran behavioritik cenderung untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat diukur dan tidak dapat diamati, seperti perubahan-perubahan mental yang terjadi ketika belajar, walaupun demikian mereka tetap mengakui hal penting itu.


3.      Teori Belajar Menurut Clark Hull
Hull berpendirian bahwa tingkah laku itu berfungsi menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-mcam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehudpan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
Teori Hull ini memiliki beberapa prinsip, yaitu :
a.       Dorongan merupakan hal yang penting agarterjadi respon (siswa harus memiliki keinginan untuik belajar).
b.      Stimulus dan respon harus dapat diketahui oleh organisme agar pembiasaan dapat terjadi (siswa harus mempunyai perhatian).
c.       Respon harus dibuat agarterjadi pembiasaan (siswa harus aktif).
d.      Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat melalui kebutuhan (belajar harus dapat memenuhi keinginan siswa).
4.      Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Edwin Guthrie adalah seorang penemu teori kontinguiti yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. belajar terjadi karena karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus, sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan hanya sekedar melindungi hasil belajaryang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru.
Teori Guthrie ini mengatkan bahwa hubungan stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karenanya dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. hukuman yang diberikan padasaat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Guthrie mengemukakan bagaimana cara/metode untuk mengubah kebiasaan-kebiasan yang kurang baik berdasarkan teori conditioning. Metode-metode Guthrie antara lain :
a.       Metode reaksi berlawanan (Incompatible response method)
Manusia itu adalah suatu organisme yang selalu mereaksi kepada perangsang-perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya ialah dengan jalan menghubungkan perangsang (stimulus) dengan reaksi (respon) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkannya.
b.      Metode membosankan (Exchaustion metdod)
Hubungan antara asosiasi antara perangsang dan reaksi (S-R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami keburukan itu, sehingga menjadi bosan. Sebagai contoh, umpamanya seorang anak yang berumur 3 tahun bermain-main dengan korek api. Pada waktu itu disuruh menghabiskankepala korek api satu pak sehingga menjadi bosan.
c.       Metode mengubah lingkungan (Change of Environment Method)
Suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memisahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkannya. Yakni menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang disebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangnya itu sendiri. Sebagai contoh, umpanya kita akan mnegubah tingkah laku/kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakuakn seorang anak di sekolahnya, dengan memindahkan anak itu ke sekolah yang lain.
5.      Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sderhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.
Skinner merupakan seorang tokoh behavioris yang meyakini bahwa perilaku individu dikontrol melalui proses operant conditioning dimana seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif besar.
Management kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif  atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilakutersebut dapat berulang kembali atau menghilang susuai dengan keinginan.
Teori belajar behaviorisme ini telah lama dianut oleh para guru dan pendidik, namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behaviorisme. Program-program pembelajaran sepeti teaching machine, pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat merupakan program-program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner.
Menurut Skinner berdasarkan percobaan terhadap tikus dan burung merpati, unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah penguatan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respons akan semakin kuat bila diberi penguatan (penguatan positif dan penguatan negatif).
Bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku dan penghargaan. Sedangkan, bentuk penguatan negatif adalah menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan dan menunjukkan perilaku tidak senang.
Skinner tidak sependapat pada asumsi yang dikemukakan oleh Guthrie bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses pelajar. Hal tersebut dikarenakan menurut Skinner :
a.       Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara.
b.      Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa terhukum berlangsung lama).
c.       Hukuman mendorong si penghukum mencari-cari lain yang kadangkala lebih buruk dari pada kesalahan pertama yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman . ketidaksamaannya terletak bila pada hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, siswa perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika siswa tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukumannya harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu yang tidak mengenakkan siswa (sehingga ia melakukan kesahan) dikurangi  (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong siswa untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguat negatif. Lawan dari penguat negatif adalah penguat positif. Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun, bedanya adalah bahwa penguat positif itu ditambah, sedangkan penguat negatif dikurangi untuk memperkuat respon.
Secara  ringkas teori behaviorisme yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Belajar adalah perubahan tingkah laku.
2.      Tingkah laku tersebut harus dapat diamati.
3.      Mengikuti pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon.
4.      Fungsi fikiran adalah untuk menciplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berfikir yang dapat dianalisis atau dipilah.
5.      Pembiasaan dan latihan menjadi esensial dalam belajar.
6.      Apa yang terjadi antara stimulus dan respon sianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati.
7.      Yang dapat diamati hanyalah stimulusrespon.
8.      Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kegagalan yang perlu dihukum.
9.      Aplikasi teori ini menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, tes. Penyajian materi pelajaran mengikutri urutan dari bagian-bagian keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekan pada hasil dan evaluasi menuntut jawaban yang benar. Jawaban yang benar menunjukkan bhwa siswa telah menyelesaikan belajarnya.
10.  Proses belajar sangat bergantung kepada faktor yang berada di luar dirinya, sehingga ia memerlukan stimulus dari pengajarnya.
11.  Hasil belajar banyak dtentukan oleh proses peniruan, pengulangan dan penguatan (reinforcement).
12.  Belajar harus melalui tahap-tahap tertentu, sedikit demi sedikit, yang mudah mendahului yang lebih sulit.

C.    Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik
Kelebihan, kekurangan dan permasalahan yang muncul dalam pembelajaran, sesuai dengan teori ini, guru dapat menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap sehingga tujuan pembelajaran yang dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sesderhana sampai yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke dalam teori behaviorisme terdapat beberapa kelebihan diantaranya :
1.      Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
2.      Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktik dan pembiasaan yang mengandung unsu-unsur seperti : kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan dan sebagainya.
3.      Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika menemukan kesulitan baru ditanyakan kepada guru yang bersangkutan.
4.      Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.

Kelemahan-kelamahan yang terdapat pada teori behaviorisme, antara lain:
1.      Memandang belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalui gejalanya.
2.      Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif, sehingga dengan kemampuan ini manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
3.      Tidak setiap pelajaran menggunakan metode ini.
4.      Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa yang di dengardan dipandang sebagai cara belajar efektif.
5.      Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan oleh guru.

D.    Aplikasi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajaran
Aliran psikolog belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons atau perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Istilah-istilah seperti hubungan stimulus-respon, individu atau siswa pasif, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukkan perilaku (shaping) dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktik pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti Kelompok Bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan sampai di Perguruan Tinggi, pembentukkan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti ; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajaradalah memindahkan pengetahuan ke orang yang yang belajar atau siswa. Siswa diharapkan dapat memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di duni nyata telah terstruktur rapi dan teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mi-metic”, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis dan tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secaraterpisah dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar. Maksudnya, bila siswa menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan pada siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual.
Secara umum, langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Siciati dan Prasetya Irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi :
1.      Menetukan tujuan-tujuan pembelajaran
2.      Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (entri behaviora) siswa.
3.      Menentukan materi pelajaran.
4.      Memecah materi pelajaran menjadi bagian-bagian kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokokn bahasan, topik dan sebagainya.
5.      Menyajikan materi pelajaran.
6.      Memberikan stimulus, dapat berupa ; pertanyaan lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan atau tugas-tugas.
7.      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
8.      Memberikan penguatan (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif) ataupun hukuman.
9.      Memberikan stimulus baru.
10.  Menagamati dan mengakji respons yang diberikan siswa.
11.  Memberikan penguatan.
12.  Evaluasi hasil belajar.

E.     Penerapan Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Para pakar psikolog belajar bahasa penganut faham behaviorisme berpendapat bahwa belajar Bahasa Indonesia berlangsung dalam lima tahap, yaitu :
a.       Trial and error
b.      Mengingat-ingat
c.       Menirukan
d.      Mengasosiasikan
e.       Menganalogikan
Dari kelima langkah tersebut dapat disimpulkan bahwa berbahasa pada dasarnya merupakan proses pembentukkan kebiasaan. Dalam teori ini behaviorisme, segala tingkah laku manusia menjadi suatu perilaku berbahasa yang menjadi manifestasi stimulus dan respon yang dilakukan terus-menerus menjadi suatu kebiasaan. Berdasarkan teori ini, pembelajaran bahasa dilakukan dengan mendahulukan pengenalan, keterampilan mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pemberian latihan-latihan dan penggunaan bahasa secara aktif dan terus menerus, penciptaan lingkungan berbahasa yang kondusif, penggunaan media pembelajaran yang memungkinkan siswa mendengarkan dan berinteraksi dengan penutur  asli.
Ada beberapa kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat dikembangkan berdasarkan teori ini, diantara yang penting adalah :
a.       Pengenalan keterampilan mendengar dan berbicara sebagai awal dalam pembelajaran sebelum keterampilan membaca dan menulis.
b.      Latihan dan penggunaan bahasa secaraaktif dan terus menerus agar pembelajar memiliki keteramnpilan berbahasa dan berbentuk kebiasaan menggunakan bahasa.
c.       Penciptaan lingkungan berbahasa yang kondusif agar mendukung proses pembiasaan berbahasa  secara aktif.
d.      Penggunaan media pembelajaran yang emmungkinkan pembelajar mendengar dan berinteraksi dengan penutur asli.
e.       Memotivasi guru bahasa untuk tampil berbahasa secara baik dan benar, sehingga dapat menjadi teladan yang baik bagi para siswanya dalam berbahasa.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi dan menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia adalah lingkungan, tak terkecuali lingkungan berbahasa. Tujuan penciptaan lingkungan berbahasa Indonesia, tak lain adalah :
a.       Untuk membiasakan dalam memanfaatkan bahasa Indonesia secara komunikatif, melalui praktik percakapan, diskusi, seminar, ceramah, dan berekspresi melalui tulisan.
b.      Memberikan penguatan pemerolehan bahasa yang sudah dipelajari di kelas.
c.       Menumbuhkan kreativitad dan aktivitas berbahasa Indonesia yang terpadu antara teori dan praktik dalam suasana informal yang santai dan menyenangkan.










BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Belajar adalah kegiatan yang berproses yang dilakukan seesorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respons.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan, respons yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakn/tindakan.
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan reapon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur.
Hull berpendirian bahwa tingkah laku itu berfungsi menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-mcam bentuknya.
Edwin Guthrie adalah seorang penemu teori kontinguiti yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama.
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif.
Dalam teknik pembelajaran yang merujuk ke dalam teori behaviorisme terdapat beberapa kelebihan diantaranya :
1.      Membiasakan guru untuk bersiap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
2.      Metode behavioristik ini sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktik dan pembiasaan yang mengandung unsu-unsur seperti : kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleksi, daya tahan dan sebagainya.
3.      Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri.
4.      Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa , suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.
Kelemahan-kelamahan yang terdapat pada teori behaviorisme, antara lain:
1.      Memandang belajar sebagai kegiatan yang dialami langsung, padahal belajar adalah kegiatan yang ada dalam sistem syaraf manusia yang tidak terlihat kecuali melalui gejalanya.
6.      Proses belajar dipandang bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti mesin atau robot, padahal manusia mempunyai kemampuan self control yang bersifat kognitif, sehingga dengan kemampuan ini manusia mampu menolak kebiasaan yang tidak sesuai dengan dirinya.
7.      Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan hewan sangat sulit diterima, mengingat ada perbedaan yang cukup mencolok antatra hewan dan manusia.

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti ; tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti tetap, tidak berubah.
Ada beberapa kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia yang dapat dikembangkan berdasarkan teori ini, diantara yang penting adalah :
1.      Pengenalan keterampilan mendengar dan berbicara sebagai awal dalam pembelajaran sebelum keterampilan membaca dan menulis.
2.      Latihan dan penggunaan bahasa secaraaktif dan terus menerus agar pembelajar memiliki keteramnpilan berbahasa dan berbentuk kebiasaan menggunakan bahasa.
3.      Penciptaan lingkungan berbahasa yang kondusif agar mendukung proses pembiasaan berbahasa  secara aktif.
4.      Penggunaan media pembelajaran yang emmungkinkan pembelajar mendengar dan berinteraksi dengan penutur asli.
5.      Memotivasi guru bahasa untuk tampil berbahasa secara baik dan benar, sehingga dapat menjadi teladan yang baik bagi para siswanya dalam berbahasa.

B.     Saran
Kita sebagai calon guru harusnya mampu mendidik para peserta didik kita dengan baik, dengan metode serta teori yang tepat sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pelajarilah  teori-teori pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar yang tepat.
















DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin.2010. Pendidikan & Psikologi Perkembangan. Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
Purwanto, Ngalim. 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin.2010. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
          (Diakses pukul 21.00 WIB, 16 Desembee 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar