Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR BAHASA
“MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF”


Disusun oleh :
Nama          : Sri Wahyuningsih Lastri
NIM            : 1388201076
Kelas          : A2
Dosen         : Haerudin M.Pd



Pendidikan Bahasa dan  Sastra Bahasa Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Model pembelajaran kooperatif sebagai suatu disiplin ilmu. karena proses pembelajaran berkembang baik secara kooperatif untuk memperoleh hasil nilai bagi siswa dalam bentuk kelompok,tugas dan penilaian yang dilakukan oleh seorang guru, bagi kepentingan nilai siswanya. Oleh karena itu pembelajaran koperatif, ini untuk memotifasi proses pembelajaran yang cendernung dengan hasil-hasil nilai yang disesuaikan dengan ketetapan penilaian. yang ada dalam penilaian sudah ditetapkan oleh guru.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana tujuan pembelajaran kooperatif
2.    Unsur penting dan prinsip utama pembelajaran kooperatif ?
3.    Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan ?
4.    Langkah-langkah pembelajaran  kooperatif ?

C.  TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana pembelajaran kooperatif , sebagai  unsur pembelajaran dan langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang ada di Indonesia saat ini.

D.  MANFAAT
Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagai patokan pengajar siswa, mahasiswa dan semua yang ada di ruang lingkup pendidikan untuk selalu siap mengembangkan pendidikan di Indonesia.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualis telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Dalam belajar kompetitif dan yang lain. Proses pembelajaran itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini. Menurut Johnson dan Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran koperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dari pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Menurut Roger dan David Johnson, mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran koperatif. Untuk mencapai hasil maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran koperatif harus diterapkan.
1.         Positive interdependence ( saling ketergantungan positif )
2.         Personal responsibility( tanggung jawab perseorangan )
3.         Face to face promotive ( interaksi promotif )
4.         Interpersonal skiil ( komunikasi antaranggota )
5.         Group processing ( pemroresan kelompok )

Interaksi kelompok memiliki berbagai ciri. Reardon mengemukakan komunikasi antar pribadi mempunyai enam cirri yaitu. (1). Dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor (2). Mengakibatkan dampak yang disengaja dan yang  antarpribadi antara paling sedikit dua orang (5). Berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi, dan berpengaruh. (6). Menggunakan berbagai lambang yang bermakna.
Evert Rogers menyebutkan beberapa ciri komunikasi antarpribadi yaitu . (1) arus pesan cenderung dua arah (2) konteks komunikasi adalah tatap muka (3) tingkat umpan balik yang tinggi (4) kemampuan untuk mengatasi tingkat selektivitas sangat tinggi (5) efek yang terjadi perubahan lain perubahan sikap.
De Vito mengemukakan bahwa komunikasi antar pribadi mengandung lima ciri yaitu (1) keterbukaan atau openness (2) empati (3) dukungan (4) perasaan positif (5) kesamaan .
Beberapa ciri perbedaan kelompok belajar koperatif dengan kelompok belajar konvensional sebagai berikut :
Kelompok belajar koperatif
Kelompok belajar konvensional
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motifasi sehingga ada interaksi promotif.
Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi , kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.
Adanya akuntanbilitas individual yang mengukur penguasaan materi pembelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
Akuntanbilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok lainnya hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong”
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan.                                                    
                 
Kelompok belajar biasanya hemogen.

Sintak model pembelajaran koperatif terdiri dari 6 (enam) fase.
Fase-fase
Perilaku guru
Fase 1 : present goals and set
menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik.
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar
Fase 2 :  present information
menyajikan informasi
Mempresentasikan informasi kepada peserta didik secara verbal
Fase 3: organize students into learning teams
mengordinasi pserta didik ke dalam tim-tim belajar
Memberikan penjelasan kepada peserta didik temtang tata cara pembentukan tim belajar dan membentu kelompok melakukan transisi yang efisien.
Fase 4: assist team work and study
membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim-tim belajar selama peserta didik melaksanakan tugas
Fase 5: test on the materials
mengevaluasi
Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6: provide recognition
memberikan pengakuan atau penghargaan.
Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.

B.       Unsur Penting dan Prinsip Utamaa Pembelajaran Kooperatif.
Menurut Johnson dan Johnson (1994) dan Sutton (1992), terdapat lima unsure penting dalam belajar kooperatif yaitu:
1.    Pertama, saling ketergantungan yang positif antara siswa. Dalam belajar koperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses. Kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.

2.    Kedua, interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Belajar koperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini, terjadi dalam hal siswa hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses menjadi anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan secara berlangsung satif secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok memengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar koperatif adalah dalam hal tukar- menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.

3.    Ketiga, tanggung jawab individual, tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam dal (A) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (B) siswa tidak hanya sekedara “membonceng “pada hasil kerja teman jawab siswa dan teman sekelompoknya.
4.    Keempat, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar koperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituturkan untuk belajar bagaimana mempelajari berinteraksi dengan siswa lain dengan kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap bagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.

5.    Kelima, proses kelompok belajar koperatif tidak akanb berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagai mana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.

C.       Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Pembelajaran koperatif, bertitik tolak dari panadangan John Dewey dan Herbert Thelan (dalam Ibrahim, 2000), yang menyatakan bahwa pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogianya mengajarkan proses demokratif secara langsung. Tingkah laku koperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi.
Agar pembelajaran koperatif dapat berjalan dengan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produksi secara kelompok. Maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan koperatif. Keterampilan koperatif tersebut berfungsi untuk melancaran peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
Lungren (dalam ratumanan ,2002), menyusun keterampilan- keterampilan koperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkat keterampilan. Tingkatan tersebut yaitu keterampilan koperatif tingkat awal, tingkat menengah dan tingkat mahir.
a.  Keterampilan koperatif tingkat awal
1)   berapa dalam tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
2)   mengambil giliran dan mengambil tugas, yaitu menggantikan teman dan tugas tertentu dan mengambil tanggung jawab tertentu dalam kelompok.
3)   mendorong adanya partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan konstribusi dan,
4)   menggunakan kesepakatan yaitu menyamakan persepsi/pendapat.

b.  Keterampilan koperatif tingkat menengah
1)   mendengarkan dengan aktif, yaitu menggunakan pesan fisik dan verbal agar pembicara mengetahui anda secara energik menyerap informasi.
2)   bertanya, yaitu meminta atau menanyakan informasi atau klarifikasi lebih lanjut.
3)   menafsirkan, yaitu menyapaikan informasi dengan kalimat berbeda.
4)   memeriksa ketepatan, yaitu membandingkan jawaban, memastikan bahwa jawaban tersebut benar.
5)   Keterampilan koperatif tingkat mahir
keterampilan koperatif ini tingkat mahir antara lain: mengkolaborasi, yaitu memperluas konsep, membuat kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topic tertentu.
Masih menurut Lungren (dalam Ratumanan, 2002) menyebutkan bahwa unsure-unsur dasar yang perlu untuk ditanamkan kepada siswa agar sipembelajar koperatif agar lebih efektif lagi adalah:
1.         para siswa harus memiliki persebsi sama bahwa mereka “tenggelam” atau” berenang” bersama:
2.         para siswa memiliki tanggung jawabterhadap siswa lain terhadap kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dalam pembelajaran yang telah dihadapi.
3.         para siswa harus perpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
4.         para siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggung jawab sama besarnya diantara tanggung jawab kelompok
5.         para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6.         para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja selama belajar dan,
7.         para siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok koperatif.
D.      Langkah-langkah Pembelajaran koperatif.
Terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran koperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel berikut ini.
FASE
TINGKAH LAKU GURU
Fase 1: menyampaikan tujuan dan  memotifasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotifasi siswa untuk belajara
Fase 2: menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3: mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok koperatif.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
           
Langkah pembelajaran koperatif:
a)    Orientasi
pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan. Memberikan penekanan tentang mamfaat penggunaan metode Jigsaw dalam proses belajar mengajar mengingatkan senantiasa percata diri, kritis, koperatif dalam model pembelajaran ini. Peserta didik diminta belajar konsep secara keseluruhan secara untuk memperoleh gambaran keseluruhan dalam konsep. (bila juga pemahaman konsep ini menjadi tugas  yang sebelumnya harus sudah dibaca dirumah).
b)   Pengelompokan
misalnya dalam kelas ada 20 siswa, yang kita tau kemampuan kelompok dalam suatu pembelajaran bisa di lihat dalam pembelajaran individualnya masa konsep pembelajaran itu bisa dinilai.
tiap grup akan berisi:
GRUP A (A1,A2,A3,A4)
GRUP B (B1,B2.B3,B4)
GRUP C (C1,C2,C3,C4)
GRUP D (D1,D2,D3,D4 )
GRUP E (E1,E2,E3,E4)

c)    Pembentukan dan pembinaan kelompok
Tiap kelompok diberi konsep matematika (tansformasi) sesuai dengan kemampuannya. Kelompok 1 yang terdiri dari siswa yang sangat baik kemampuannya diberi materi yang lebih kompleks 1(pencerminan pada garis y=x,y=-x garis x=h,y dan pencerminan pada sumbu kordinat) setiap kelompok diharapkan bisa belajar topik yang diberikan dengan sebaik-baiknya sebelum ia kembali ke dalam grup sebagai tim ahli tentunya peran pendidik cukup penting dalam fase ini.

d)   Diskusi
Dalam konsep tertentu ini, masing-masing kedalam grup semula. Pada fase  ini kelima grup (1-5) memiliki ahli dalam konsep-konsep tertentu (Worksheet 1-4) selanjutnya pendidik mempersilakan anggota grup untuk mempresentasikan keahliannya kepada grupnya masing-masing satu persatu. Proses ini diharapkan akan terjadi shearing pengetahuan antara meraka.

e)    Tes (penilaian)
Pada fase ini guru memberikan tes tulisan untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan. Pada konsep ini siswa tidak diperkenankan untuk bekerja sama. Jika mungkin tempat duduknya agar dijauhkan.

f)    Pengakuan kelompok
Penilaian pada pelajaran koperatif berdasarkan skor peningkatan individu, tidak didasarkan pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan konstribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam pada sistem kelompok. Siswa memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.


BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualis telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Dalam belajar kompetitif dan yang lain. Proses pembelajaran itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini. Menurut Johnson dan Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran koperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dari pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Menurut Roger dan David Johnson, mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran koperatif.
Pembelajaran koperatif, bertitik tolak dari panadangan John Dewey dan Herbert Thelan (dalam Ibrahim, 2000), yang menyatakan bahwa pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogianya mengajarkan proses demokratif secara langsung. Tingkah laku koperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi.

B.       SARAN
makalah ini dibuat untuk memenuhi syarat tugas individu bilamana masih mempunyai, bayak kekurangan, dan kesalahan karena itu untuk para pembaca untuk berkenan menyumbangkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi wawasan bagi kami di bidan ini.










DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono.2009.Teori dan Aplikasi paikem.Yogyakarta:Pustakaprlajaran

Tianto.2011.Mendesai model pembelajaran inovatif-progrestif.Jakarta:kencana prenada media grup

Soenjono Dardjowidjojo.2003.Tata bahasa baku bahasa Indonesia.Jakarta:pusat bahasa dan balai pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar