TEORI BELAJAR BAHASA
“MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF”
Disusun oleh :
Nama : Sri Wahyuningsih Lastri
NIM : 1388201076
Kelas : A2
Dosen : Haerudin M.Pd
Nama : Sri Wahyuningsih Lastri
NIM : 1388201076
Kelas : A2
Dosen : Haerudin M.Pd
Pendidikan
Bahasa dan Sastra Bahasa Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Model pembelajaran kooperatif sebagai
suatu disiplin ilmu. karena proses pembelajaran berkembang baik secara kooperatif
untuk memperoleh hasil nilai bagi siswa dalam bentuk kelompok,tugas dan
penilaian yang dilakukan oleh seorang guru, bagi kepentingan nilai siswanya.
Oleh karena itu pembelajaran koperatif, ini untuk memotifasi proses
pembelajaran yang cendernung dengan hasil-hasil nilai yang disesuaikan dengan
ketetapan penilaian. yang ada dalam penilaian sudah ditetapkan oleh guru.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana tujuan pembelajaran kooperatif
2. Unsur penting dan prinsip utama
pembelajaran kooperatif ?
3. Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan
?
4. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif ?
C. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui bagaimana pembelajaran kooperatif , sebagai unsur pembelajaran dan langkah-langkah
pembelajaran kooperatif yang ada di Indonesia saat ini.
D. MANFAAT
Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini
adalah sebagai patokan pengajar siswa, mahasiswa dan semua yang ada di ruang
lingkup pendidikan untuk selalu siap mengembangkan pendidikan di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualis telah mendominasi
pendidikan di Amerika Serikat. Dalam belajar kompetitif dan yang lain. Proses
pembelajaran itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Menurut Johnson dan Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran
koperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi
akademik dari pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Menurut
Roger dan David Johnson, mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa
dianggap pembelajaran koperatif. Untuk mencapai hasil maksimal, lima unsur
dalam model pembelajaran koperatif harus diterapkan.
1.
Positive interdependence ( saling ketergantungan positif )
2.
Personal responsibility( tanggung
jawab perseorangan )
3.
Face to face promotive ( interaksi promotif )
4.
Interpersonal skiil ( komunikasi antaranggota )
5.
Group processing ( pemroresan kelompok )
Interaksi kelompok memiliki berbagai ciri.
Reardon mengemukakan komunikasi antar pribadi mempunyai enam cirri yaitu. (1).
Dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor (2). Mengakibatkan dampak yang
disengaja dan yang antarpribadi antara
paling sedikit dua orang (5). Berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi, dan
berpengaruh. (6). Menggunakan berbagai lambang yang bermakna.
Evert Rogers menyebutkan
beberapa ciri komunikasi antarpribadi yaitu . (1) arus pesan cenderung dua arah
(2) konteks komunikasi adalah tatap muka (3) tingkat umpan balik yang tinggi
(4) kemampuan untuk mengatasi tingkat selektivitas sangat tinggi (5) efek yang
terjadi perubahan lain perubahan sikap.
De Vito mengemukakan bahwa
komunikasi antar pribadi mengandung lima ciri yaitu (1) keterbukaan atau openness (2) empati (3) dukungan
(4) perasaan positif (5) kesamaan .
Beberapa ciri perbedaan kelompok belajar
koperatif dengan kelompok belajar konvensional sebagai berikut :
|
Kelompok
belajar koperatif
|
Kelompok
belajar konvensional
|
|
Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling
memberikan motifasi sehingga ada interaksi promotif.
|
Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi , kelompok atau
menggantungkan diri pada kelompok.
|
|
Adanya akuntanbilitas individual yang mengukur penguasaan materi
pembelajaran tiap anggota kelompok, dan kelompok diberi umpan balik tentang
hasil belajar para anggotanya sehingga saling mengetahui siapa yang
memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan.
|
Akuntanbilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering
diborong oleh salah anggota kelompok, sedangkan anggota kelompok lainnya
hanya “mendompleng” keberhasilan “pemborong”
|
|
Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras, etnik, dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa
yang memerlukan bantuan dan siapa yang memberikan bantuan.
|
Kelompok belajar biasanya hemogen.
|
Sintak model pembelajaran koperatif terdiri dari 6 (enam) fase.
|
Fase-fase
|
Perilaku guru
|
|
Fase 1 :
present goals and set
menyampaikan
tujuan dan mempersiapkan peserta didik.
|
Menjelaskan
tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar
|
|
Fase 2 : present information
menyajikan
informasi
|
Mempresentasikan
informasi kepada peserta didik secara verbal
|
|
Fase 3: organize
students into learning teams
mengordinasi
pserta didik ke dalam tim-tim belajar
|
Memberikan
penjelasan kepada peserta didik temtang tata cara pembentukan tim belajar dan
membentu kelompok melakukan transisi yang efisien.
|
|
Fase 4:
assist team work and study
membantu
kerja tim dan belajar
|
Membantu
tim-tim belajar selama peserta didik melaksanakan tugas
|
|
Fase 5: test
on the materials
mengevaluasi
|
Menguji
pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
|
Fase 6:
provide recognition
memberikan
pengakuan atau penghargaan.
|
Mempersiapkan
cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok.
|
B.
Unsur Penting
dan Prinsip Utamaa Pembelajaran Kooperatif.
Menurut
Johnson dan Johnson (1994) dan Sutton (1992), terdapat lima unsure penting
dalam belajar kooperatif yaitu:
1.
Pertama, saling
ketergantungan yang positif antara siswa. Dalam belajar koperatif siswa merasa
bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu
sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses. Kecuali semua anggota kelompoknya
juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompoknya
yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.
2.
Kedua,
interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Belajar koperatif akan
meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini, terjadi dalam hal siswa hal
seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses menjadi anggota kelompok.
Saling memberikan bantuan ini akan secara berlangsung satif secara alamiah
karena kegagalan seseorang dalam kelompok memengaruhi suksesnya kelompok. Untuk
mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari
teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar koperatif adalah
dalam hal tukar- menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama.
3.
Ketiga,
tanggung jawab individual, tanggung jawab individual dalam belajar kelompok
dapat berupa tanggung jawab siswa dalam dal (A) membantu siswa yang membutuhkan
bantuan dan (B) siswa tidak hanya sekedara “membonceng “pada hasil kerja teman
jawab siswa dan teman sekelompoknya.
4.
Keempat,
keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar koperatif, selain
dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituturkan untuk
belajar bagaimana mempelajari berinteraksi dengan siswa lain dengan
kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap bagai anggota kelompok dan menyampaikan
ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
5.
Kelima, proses kelompok
belajar koperatif tidak akanb berlangsung tanpa proses kelompok. Proses
kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagai mana mereka akan
mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
C.
Lingkungan
Belajar dan Sistem Pengelolaan
Pembelajaran koperatif, bertitik tolak dari panadangan John Dewey
dan Herbert Thelan (dalam Ibrahim, 2000), yang menyatakan bahwa pendidikan
dalam masyarakat yang demokratis seyogianya mengajarkan proses demokratif
secara langsung. Tingkah laku koperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai
dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan
tingkah laku demokrasi.
Agar pembelajaran koperatif dapat berjalan dengan sesuai dengan
harapan, dan siswa dapat bekerja secara produksi secara kelompok. Maka siswa
perlu diajarkan keterampilan-keterampilan koperatif. Keterampilan koperatif
tersebut berfungsi untuk melancaran peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan
hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota
kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar
anggota kelompok.
Lungren (dalam ratumanan ,2002), menyusun keterampilan-
keterampilan koperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkat keterampilan.
Tingkatan tersebut yaitu keterampilan koperatif tingkat awal, tingkat menengah
dan tingkat mahir.
a. Keterampilan koperatif tingkat awal
1)
berapa dalam
tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
2)
mengambil
giliran dan mengambil tugas, yaitu menggantikan teman dan tugas tertentu dan
mengambil tanggung jawab tertentu dalam kelompok.
3)
mendorong
adanya partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan
konstribusi dan,
4)
menggunakan
kesepakatan yaitu menyamakan persepsi/pendapat.
b. Keterampilan koperatif tingkat menengah
1)
mendengarkan
dengan aktif, yaitu menggunakan pesan fisik dan verbal agar pembicara
mengetahui anda secara energik menyerap informasi.
2)
bertanya, yaitu
meminta atau menanyakan informasi atau klarifikasi lebih lanjut.
3)
menafsirkan,
yaitu menyapaikan informasi dengan kalimat berbeda.
4)
memeriksa
ketepatan, yaitu membandingkan jawaban, memastikan bahwa jawaban tersebut
benar.
5)
Keterampilan
koperatif tingkat mahir
keterampilan
koperatif ini tingkat mahir antara lain: mengkolaborasi, yaitu memperluas
konsep, membuat kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topic
tertentu.
Masih menurut Lungren (dalam Ratumanan, 2002) menyebutkan bahwa
unsure-unsur dasar yang perlu untuk ditanamkan kepada siswa agar sipembelajar
koperatif agar lebih efektif lagi adalah:
1.
para siswa
harus memiliki persebsi sama bahwa mereka “tenggelam” atau” berenang” bersama:
2.
para siswa
memiliki tanggung jawabterhadap siswa lain terhadap kelompoknya, disamping
tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dalam pembelajaran yang telah
dihadapi.
3.
para siswa
harus perpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
4.
para siswa
harus membagi tugas dan berbagai tanggung jawab sama besarnya diantara tanggung
jawab kelompok
5.
para siswa akan
diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap evaluasi
seluruh anggota kelompok.
6.
para siswa
berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja selama
belajar dan,
7.
para siswa akan
diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam
kelompok koperatif.
D.
Langkah-langkah
Pembelajaran koperatif.
Terdapat
enam langkah utama atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan
pembelajaran koperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel berikut ini.
|
FASE
|
TINGKAH LAKU
GURU
|
|
Fase 1:
menyampaikan tujuan dan memotifasi
siswa
|
Guru
menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersebut dan memotifasi siswa untuk belajara
|
|
Fase 2:
menyajikan informasi
|
Guru
menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan
bacaan
|
|
Fase 3:
mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok koperatif.
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
|
Langkah pembelajaran koperatif:
a)
Orientasi
pendidik
menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan. Memberikan penekanan
tentang mamfaat penggunaan metode Jigsaw dalam proses belajar mengajar
mengingatkan senantiasa percata diri, kritis, koperatif dalam model
pembelajaran ini. Peserta didik diminta belajar konsep secara keseluruhan
secara untuk memperoleh gambaran keseluruhan dalam konsep. (bila juga pemahaman
konsep ini menjadi tugas yang sebelumnya
harus sudah dibaca dirumah).
b)
Pengelompokan
misalnya
dalam kelas ada 20 siswa, yang kita tau kemampuan kelompok dalam suatu
pembelajaran bisa di lihat dalam pembelajaran individualnya masa konsep
pembelajaran itu bisa dinilai.
tiap
grup akan berisi:
GRUP
A (A1,A2,A3,A4)
GRUP
B (B1,B2.B3,B4)
GRUP
C (C1,C2,C3,C4)
GRUP
D (D1,D2,D3,D4 )
GRUP
E (E1,E2,E3,E4)
c)
Pembentukan dan
pembinaan kelompok
Tiap
kelompok diberi konsep matematika (tansformasi) sesuai dengan kemampuannya.
Kelompok 1 yang terdiri dari siswa yang sangat baik kemampuannya diberi materi
yang lebih kompleks 1(pencerminan pada garis y=x,y=-x garis x=h,y dan pencerminan
pada sumbu kordinat) setiap kelompok diharapkan bisa belajar topik yang
diberikan dengan sebaik-baiknya sebelum ia kembali ke dalam grup sebagai tim
ahli tentunya peran pendidik cukup penting dalam fase ini.
d)
Diskusi
Dalam
konsep tertentu ini, masing-masing kedalam grup semula. Pada fase ini kelima grup (1-5) memiliki ahli dalam
konsep-konsep tertentu (Worksheet 1-4) selanjutnya pendidik mempersilakan
anggota grup untuk mempresentasikan keahliannya kepada grupnya masing-masing
satu persatu. Proses ini diharapkan akan terjadi shearing pengetahuan antara meraka.
e)
Tes (penilaian)
Pada
fase ini guru memberikan tes tulisan untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat
seluruh konsep yang didiskusikan. Pada konsep ini siswa tidak diperkenankan
untuk bekerja sama. Jika mungkin tempat duduknya agar dijauhkan.
f)
Pengakuan
kelompok
Penilaian
pada pelajaran koperatif berdasarkan skor peningkatan individu, tidak
didasarkan pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan seberapa
jauh skor itu melampaui rata-rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat
memberikan konstribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam pada sistem
kelompok. Siswa memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis
mereka melampaui skor dasar mereka.
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualis telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Dalam belajar kompetitif dan yang lain. Proses pembelajaran itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini. Menurut Johnson dan Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran koperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dari pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Menurut Roger dan David Johnson, mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran koperatif. Pembelajaran koperatif, bertitik tolak dari panadangan John Dewey dan Herbert Thelan (dalam Ibrahim, 2000), yang menyatakan bahwa pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogianya mengajarkan proses demokratif secara langsung. Tingkah laku koperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi.
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualis telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Dalam belajar kompetitif dan yang lain. Proses pembelajaran itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini. Menurut Johnson dan Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran koperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dari pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Menurut Roger dan David Johnson, mengatakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran koperatif. Pembelajaran koperatif, bertitik tolak dari panadangan John Dewey dan Herbert Thelan (dalam Ibrahim, 2000), yang menyatakan bahwa pendidikan dalam masyarakat yang demokratis seyogianya mengajarkan proses demokratif secara langsung. Tingkah laku koperatif dipandang oleh Dewey dan Thelan sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi.
B.
SARAN
makalah
ini dibuat untuk memenuhi syarat tugas individu bilamana masih mempunyai, bayak
kekurangan, dan kesalahan karena itu untuk para pembaca untuk berkenan
menyumbangkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi wawasan bagi kami
di bidan ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Agus Suprijono.2009.Teori
dan Aplikasi paikem.Yogyakarta:Pustakaprlajaran
Tianto.2011.Mendesai
model pembelajaran inovatif-progrestif.Jakarta:kencana prenada media grup
Soenjono
Dardjowidjojo.2003.Tata bahasa baku bahasa Indonesia.Jakarta:pusat bahasa dan
balai pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar