Selasa, 22 Desember 2015



MAKALAH
Pendekatan Kognitif Terhadap Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)

Oleh :
Nama                           : Susanti
Kelas / Semester          : A2 / 5
Mata Kuliah                :  Teori Belajar Berbahasa
Dosen                          : Haerudin, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “ Pendekatan Kognitif Terhadap Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) “. Penyusunan makalah ini di maksudkan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam tugas Teori Belajar Berbahasa pada program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Haerudin,M.Pd selaku dosen materi dan pembimbing yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan sehingga penulis ini dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Di samping itu, penulis menyadari bahwa pembuatan tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik untuk perbaikan dalam tugas makalah ini, dan penulis berharap semoga tugas makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri dan masyarakat.






DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………             2
Daftar Isi…………………………………………………………..              3
BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang…………………………………………………..            4
B.     Rumusan Masalah……………………………………………….            4
C.     Tujuan……………………………………………………………           5
BAB 2 PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendekatan Kognitif………..………………………             6
B.     Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah…..……….              8
C.     Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM………………………..             9
D.    Hakikat Masalah dalam SPBM…………………………………             10
E.     Tahapan-tahapan SPBM………………………………………..             11
F.      Keunggulan dan Kelemahan SPBM……………………………             13
BAB 3 PENUTUP
A.    Simpulan………………………………………………………..               16
B.     Saran……………………………………………………………               16
DAFTAR PUSTAKA...................................................................               18




BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting terhadap proses internal, dalam mental manusia. Menurut aliran kognitif, belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan perilaku seseorang yang tampak sesungguhnya hanyalah refleksi dari perubahan internalisasi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang sedang diamati dan dipikirkannya. Maka dari itu perilaku belajar yaitu, hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan sekedar peristiwa S-R Bond ( ikatan antara stimulus dan respons ) melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif. 
Adapun dalam penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah. Proses pembelajaran yang dilakukan agar siswa mampu menyelasaikan masalah secara sistematis dan logis. Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM berdasarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat pada asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat dengannya adanya pengalaman.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pendekatan kognitif ?
2.      Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran berbasis masalah ?
3.      Apa hakikat masalah yang ada dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ?
4.      Bagaimana tahap-tahapan yang ada dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui sejauh mana siswa tersebut bisa menyelesaikan masalah yang terjadi dalam pembelajaran.
2.      Siswa harus mampu memahami apa strategi pembelajaran berbasis masalah tersebut.
3.      Siswa harus mampu menyesuaikan kondisi pada saat menyelesaikan suatu masalah yag terdapat pada kehidupan nyata.
4.      Siswa juga harus mampu memahami tahapan-tahapan yang ada pada strategi pembelajaran berbasis masalah.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendekatan Kognitif
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting terhadap proses internal, mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti; motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya.
Meskipun pendekatan kognitif ini sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristic, tidak berarti psikologi kognitif anti terhadap aliran behavioristic. Hanya, menurut para ahli psikolgi kognitif, aliran tidak memerhatikan proses kejiwaan yang berdimensi ranah cipta seperti berfikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (bersifat jasmaniah), meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam setiap peristiwa belajar siswa. Maka dari itu perilaku belajar yaitu, hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan sekedar peristiwa S-R Bond ( ikatan antara stimulus dan respons ) melainkan lebih banyak melibatkan proses kognitif.  
Sejalan dengan upaya menerapkan falsafah teknologi pembelajaran tut wuri handayani pada semua jenjang pendidikan formal, pendekatan kognitif mulai menjajaki keberadaan pendekatan perilaku sejak pertengahan decade 80-an. Pendekatan kognitif itu sendiri berangkat pada teori Gestalt yang mempromosikan bahwa keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagiannya. Artinya, setiap kejadian hanya dapat dipahami setelah diilhami lebih dahulu pola strukturnya, baru kemudian pada susuanan unsur-unsur dan komponennya serta interelasi antarkomponen dari unsur tersebut terbentuk  gambaran mental sebagai satu kesatuan persepsi yang disebut insight.
Menurut aliran kognitif, belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan perilaku seseorang yang tampak sesungguhnya hanyalah refleksi dari perubahan internalisasi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang sedang diamati dan dipikirkannya. Sedangkan fungsi stimulus dari luar direspons sebagai activator kerja memori otak untuk membentuk dan mengembangkan struktur kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus menerus diperbaharui, sehingga akan selalu saja ada sesuatu yang baru dalam memori dari setiap akhir kegiatan belajar.
Sehubungan dengan adanya landasan psikologi tersebut, maka atmosfer pendidikan dan pembelajaran dengan sendirinya akan berubah, dan salah satu perubahan yang amat menonjol dibandingkan dengan cara pandangan psikologi perilaku terletak pada tingginya penghargaan terhadap eksistensi kapasitas dari pembelajaran sebagai label penentu jenis struktur bahan belajar dan tingkat kesulitan pada tugas-tugas belajar yang dituntutkan kepada siswa. Untuk dapat memenuhi fungsi pembelajarannya, pengelolaan aktivitas belajar yang demikian mengharuskan pendidik menaruh perhatian yang lebih banyak pada aspek kesesuaian antara rancangan dalam programnya dengan level kemampuan performansi yang dicapai oleh siswa.
Sebagaimana mendeskripsikan Burnner (1975), pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar siswa dpat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru bagi dirinya sendiri. Sedangkan Ausubel (1978), mempreskripsikan agar pembelajar dapat mengembangkan situasi belajar, memilih dan menstrukturkan isi, serta menginformasikannya dalam bentuk sajian pembelajar yang terorganisasi dalam satu satuan bahasa yang bermakna.
Dalam pandangan psikologi kognitif, model pembelajaran pemecahan masalah yang dikembangkan berdasarkan teorema Bruner (Suharsono,1991) menunjukan adanya kesetaraan tingkat keefektifan dengan berbagai  macam variasi dalampola pembelajaran. Sehubungan dengan adanya kenyataan empiris tersebut, maka teori dan teorema kognitif yang ada bisa saja digunakan sebagai acuan umum bagi setiap jenis cabang disiplin keilmuan.
Oleh karena itu, cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas outpur pendidikan dari sudut pandang psikologi kognitif adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajaran pada setiap jenjang belajar.

B.     Pengertian Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Penerapan strategi pembelajaran yang bertumpu pada penyelwsaian masalah atau strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM), dalam penerapan strategi ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah. Proses pembelajaran ini dilakukan agar siswa mampu menyelasaikan masalah secara sistematis dan logis.
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM berdasarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat pada asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat dengannya adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata mengahafal sejumlah fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara sendirinya. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik melalui penghayatan secara internal akan problema yang dihadapi.
Dilihat dari aspek filosofis, strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. masalah yang membuat diri sendiri menjadi hancur. Maka SPBM inilah diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
                                                                                                                          
C.     Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM
SPBM dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat tiga ciri utama SPBM yakni, pertama SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi dalam kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. SPBM ini tidak mengharapkan siswa yang hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM ini harus aktif dalam berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan lalu menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesiakan masalah. SPBM menetapkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak akan mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Untuk mengimplementasikan SPBM, pendidik harus perlu memilih bahan pelajaran yang memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan sebagai berikut;
·         Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
·         Apabila pendidik bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
·         Manakala pendidik menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
·         Jika pendidik ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
·         Jika pendidik ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya.

D.    Hakikat Masalah dalam SPBM
Antara strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dan strategi belajar berbasis masalah (SPBM) memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan yang ingin dicapai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa tentang jawaban dari suatu masalah. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai oleh SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternative pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Oleh karena itu, materi pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber  dari buku saja, akan tetapi juga dapat bersumber dari peristiwa-peristiwa terentu sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Dibawah ini adalah kriteria pemilihan bahan pelajaran SPBM sebagai berikut;
1.      Bahan pelajaran harus mengandung konflik, yang bersumber dari berita, rekaman video, dan yang lainnya.
2.      Bahan ynag dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3.      Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak (universal), sehingga terasa manfaatnya.
4.      Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensu yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5.      Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.

E.     Tahapan-tahapan SPBM
Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan oleh para ahli. Maka secara umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah sebgaai berikut;
1.      Menyadari Masalah
Implementasi SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang ahrus dipecahkan. Pada tahapan ini pendidik membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.


2.      Merumuskan Masalah
Rumusan masalah ini sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan dengan kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data apa yang harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat memanfaatkan pengetahuannya untuk mengakaji, memerinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.
3.      Merumuskan Hipotesis
Sebagai proses berfikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir deduktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikakan. Dengan demikian, upaaya yang dilakukan selanjutnya adalah mengumpulkan data yang sesuai dengan hipotesis yang diajukan.
4.      Mengumpulkan Data
Sebagai proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses berpikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting. Sebab, menentukan cara penyelesaian masalah sesuai dengan hipotesis yang diajukan harus dengan data yang ada. Proses berpikir ilmiah bukan proses berimajinasi akan tetapi proses yang didasarkan pada pengalaman. Oleh karena itu, dalam tahapan ini siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan pada tahapan ini adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan dan memilih data, kemudian memetakan dan menyajikannya dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.


5.      Menguji Hipotesis
Berdasarkan data yang dikumpulkan, akhirnya siswa menentukan hipotesis mana yang diterima dan mana yang ditolak. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji. Di samping itu, diharapkan siswa dapat mengambil keputusan dan kesimpulan.
6.      Menentukan Pilihan Penyelesaian
Menentukan pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan yang diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan.

F.     Keunggulan dan Kelemahan SPBM
1.      Kunggulan
Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan di antaranya ;
a.       Pemecahan masaalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b.      Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.       Pemeahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d.       Pemeahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.       Pemeahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan barunya  dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Oleh karena itu, pemecahan yang dilakukan dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
f.       Pemeahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau buku-buku saja.
g.      Pemeahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h.      Pemeahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
i.        Pemeahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka memiliki dalam dunia nyata.
j.        Pemeahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar meskipun belajar pada pendidikan formal terakhir berakhir.

2.      Kelemahan
Di samping keunggulan, SPBM juga memiliki kelemahan di antaranya ;
a.       Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
b.      Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
c.       Tanpa pemahaman mengapa mereka berusa untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
















BAB III
SIMPULAN

A.    Simpulan
Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting terhadap proses internal, dalam mental manusia. Adapun dalam belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Jadi pendekatan ini harus menggunakan strategi atau cara untuk menyelesaikannya agar pembelajaran berjalan dengan lancar.
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Ada tiga ciri utama dalam strategi pembelajaran berbasis kelas yaitu, SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, aktivitas pembelajaran siswa diarahkan untuk menyelesaikan suatu masalah, pemecahan dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Secara umum SPBM dapat dilakukan dengan langkah atau tahapan sebagai berikut ; menyadari masalah, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, megumpulkan data, menguji hipotesis, menentukan pilihan penyelesaian terhadap suatu masalah.

B.     Saran
Sebagai calon tenaga pendidik (guru), seharusnya kita terlebih dahulu mengerti dan memahami cara yang berkaitan dengan strategi pembelajaran berbasis masalah ini, karena jika tidak mengetahui apa itu strategi atau cara dalam menyelesaikan masalah kita sebagai guru tidak akan bisa enyelesaikan suatu masalah yang ada dalam proses pembelajaran. Guna untuk menciptakan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan efektif.

















DAFTAR PUSTAKA

B.Uno, Hamzah. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. PT Bumi Aksara. Jakarta
Muhibbinsyah. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. 2010. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset
Sanjaya Wina. Jakarta: kencana 2011. Prenada Media. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan
;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar