MAKALAH
Pendekatan
Kognitif Terhadap Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)
Oleh
:
Nama : Susanti
Kelas
/ Semester : A2 / 5
Mata
Kuliah : Teori Belajar Berbahasa
Dosen
: Haerudin, M.Pd
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
Kata Pengantar
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah-Nya terutama
nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul “ Pendekatan Kognitif Terhadap Strategi Pembelajaran Berbasis
Masalah (SPBM) “. Penyusunan makalah ini di maksudkan untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam tugas Teori Belajar Berbahasa pada program studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Pada
kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan rasa
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Haerudin,M.Pd selaku dosen
materi dan pembimbing yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan sehingga
penulis ini dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Di
samping itu, penulis menyadari bahwa pembuatan tugas makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik untuk
perbaikan dalam tugas makalah ini, dan penulis berharap semoga tugas makalah ini
dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri dan masyarakat.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………… 2
Daftar
Isi………………………………………………………….. 3
BAB
1 PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang………………………………………………….. 4
B. Rumusan
Masalah………………………………………………. 4
C. Tujuan…………………………………………………………… 5
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pendekatan Kognitif………..……………………… 6
B. Pengertian
Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah…..………. 8
C. Konsep
Dasar dan Karakteristik SPBM……………………….. 9
D. Hakikat
Masalah dalam SPBM………………………………… 10
E. Tahapan-tahapan
SPBM……………………………………….. 11
F. Keunggulan
dan Kelemahan SPBM…………………………… 13
BAB 3 PENUTUP
A. Simpulan……………………………………………………….. 16
B. Saran…………………………………………………………… 16
DAFTAR PUSTAKA................................................................... 18
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendekatan
psikologi kognitif lebih menekankan arti penting terhadap proses internal,
dalam mental manusia. Menurut aliran kognitif, belajar merupakan proses
internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan perilaku seseorang
yang tampak sesungguhnya hanyalah refleksi dari perubahan internalisasi
persepsi dirinya terhadap sesuatu yang sedang diamati dan dipikirkannya. Maka
dari itu perilaku belajar yaitu, hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan
sekedar peristiwa S-R Bond ( ikatan antara stimulus dan respons ) melainkan
lebih banyak melibatkan proses kognitif.
Adapun
dalam penerapan strategi pembelajaran berbasis masalah ini guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah. Proses pembelajaran yang
dilakukan agar siswa mampu menyelasaikan masalah secara sistematis dan logis.
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM berdasarkan kepada psikologi kognitif
yang berangkat pada asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku
berkat dengannya adanya pengalaman.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan pendekatan kognitif ?
2. Apa
yang dimaksud dengan strategi pembelajaran berbasis masalah ?
3. Apa
hakikat masalah yang ada dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ?
4. Bagaimana
tahap-tahapan yang ada dalam strategi pembelajaran berbasis masalah ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui sejauh mana siswa tersebut bisa menyelesaikan masalah yang terjadi
dalam pembelajaran.
2. Siswa
harus mampu memahami apa strategi pembelajaran berbasis masalah tersebut.
3. Siswa
harus mampu menyesuaikan kondisi pada saat menyelesaikan suatu masalah yag
terdapat pada kehidupan nyata.
4. Siswa
juga harus mampu memahami tahapan-tahapan yang ada pada strategi pembelajaran
berbasis masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pendekatan Kognitif
Pendekatan
psikologi kognitif lebih menekankan arti penting terhadap proses internal,
mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia tampak
tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti;
motivasi, kesenjangan, keyakinan, dan sebagainya.
Meskipun
pendekatan kognitif ini sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristic,
tidak berarti psikologi kognitif anti terhadap aliran behavioristic. Hanya,
menurut para ahli psikolgi kognitif, aliran tidak memerhatikan proses kejiwaan
yang berdimensi ranah cipta seperti berfikir, mempertimbangkan pilihan dan
mengambil keputusan.
Dalam
perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental,
bukan peristiwa behavioral (bersifat jasmaniah), meskipun hal-hal yang bersifat
behavioral tampak lebih nyata dalam setiap peristiwa belajar siswa. Maka dari
itu perilaku belajar yaitu, hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan
sekedar peristiwa S-R Bond ( ikatan antara stimulus dan respons ) melainkan
lebih banyak melibatkan proses kognitif.
Sejalan
dengan upaya menerapkan falsafah teknologi pembelajaran tut wuri handayani pada semua jenjang pendidikan formal, pendekatan
kognitif mulai menjajaki keberadaan pendekatan perilaku sejak pertengahan
decade 80-an. Pendekatan kognitif itu sendiri berangkat pada teori Gestalt yang
mempromosikan bahwa keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagiannya.
Artinya, setiap kejadian hanya dapat dipahami setelah diilhami lebih dahulu
pola strukturnya, baru kemudian pada susuanan unsur-unsur dan komponennya serta
interelasi antarkomponen dari unsur tersebut terbentuk gambaran mental sebagai satu kesatuan
persepsi yang disebut insight.
Menurut
aliran kognitif, belajar merupakan proses internal yang tidak dapat diamati
secara langsung. Perubahan perilaku seseorang yang tampak sesungguhnya hanyalah
refleksi dari perubahan internalisasi persepsi dirinya terhadap sesuatu yang
sedang diamati dan dipikirkannya. Sedangkan fungsi stimulus dari luar direspons
sebagai activator kerja memori otak untuk membentuk dan mengembangkan struktur
kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus menerus
diperbaharui, sehingga akan selalu saja ada sesuatu yang baru dalam memori dari
setiap akhir kegiatan belajar.
Sehubungan
dengan adanya landasan psikologi tersebut, maka atmosfer pendidikan dan
pembelajaran dengan sendirinya akan berubah, dan salah satu perubahan yang amat
menonjol dibandingkan dengan cara pandangan psikologi perilaku terletak pada
tingginya penghargaan terhadap eksistensi kapasitas dari pembelajaran sebagai
label penentu jenis struktur bahan belajar dan tingkat kesulitan pada tugas-tugas
belajar yang dituntutkan kepada siswa. Untuk dapat memenuhi fungsi
pembelajarannya, pengelolaan aktivitas belajar yang demikian mengharuskan
pendidik menaruh perhatian yang lebih banyak pada aspek kesesuaian antara
rancangan dalam programnya dengan level kemampuan performansi yang dicapai oleh
siswa.
Sebagaimana
mendeskripsikan Burnner (1975), pembelajaran hendaknya dapat menciptakan
situasi agar siswa dpat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan
eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru bagi dirinya sendiri.
Sedangkan Ausubel (1978), mempreskripsikan agar pembelajar dapat mengembangkan
situasi belajar, memilih dan menstrukturkan isi, serta menginformasikannya
dalam bentuk sajian pembelajar yang terorganisasi dalam satu satuan bahasa yang
bermakna.
Dalam
pandangan psikologi kognitif, model pembelajaran pemecahan masalah yang
dikembangkan berdasarkan teorema Bruner (Suharsono,1991) menunjukan adanya
kesetaraan tingkat keefektifan dengan berbagai
macam variasi dalampola pembelajaran. Sehubungan dengan adanya kenyataan
empiris tersebut, maka teori dan teorema kognitif yang ada bisa saja digunakan
sebagai acuan umum bagi setiap jenis cabang disiplin keilmuan.
Oleh
karena itu, cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas outpur
pendidikan dari sudut pandang psikologi kognitif adalah pengembangan
program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental
intelektual pembelajaran pada setiap jenjang belajar.
B.
Pengertian
Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah
Penerapan
strategi pembelajaran yang bertumpu pada penyelwsaian masalah atau strategi
pembelajaran berbasis masalah (SPBM), dalam penerapan strategi ini guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menetapkan topik masalah. Proses
pembelajaran ini dilakukan agar siswa mampu menyelasaikan masalah secara
sistematis dan logis.
Dilihat
dari aspek psikologi belajar SPBM berdasarkan kepada psikologi kognitif yang
berangkat pada asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat
dengannya adanya pengalaman. Belajar bukan semata-mata mengahafal sejumlah
fakta, tetapi suatu proses interaksi secara sadar antara individu dengan
lingkungannya. Melalui proses sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara
sendirinya. Artinya, perkembangan siswa tidak hanya terjadi pada aspek
kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik melalui penghayatan secara
internal akan problema yang dihadapi.
Dilihat
dari aspek filosofis, strategi pembelajaran berbasis masalah (SPBM) merupakan
strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. masalah yang
membuat diri sendiri menjadi hancur. Maka SPBM inilah diharapkan dapat
menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
C.
Konsep
Dasar dan Karakteristik SPBM
SPBM
dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada
proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Terdapat tiga ciri
utama SPBM yakni, pertama SPBM merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran,
artinya dalam implementasi dalam kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. SPBM
ini tidak mengharapkan siswa yang hanya sekedar mendengarkan, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui SPBM ini harus aktif
dalam berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan lalu
menyimpulkan. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesiakan
masalah. SPBM menetapkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran.
Artinya, tanpa masalah maka tidak akan mungkin ada proses pembelajaran. Ketiga,
pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah.
Untuk
mengimplementasikan SPBM, pendidik harus perlu memilih bahan pelajaran yang
memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Strategi pembelajaran dengan
pemecahan masalah dapat diterapkan sebagai berikut;
·
Manakala guru menginginkan agar siswa
tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan
memahaminya secara penuh.
·
Apabila pendidik bermaksud untuk
mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu kemampuan
menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi
baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan
kemampuan dalam membuat judgment
secara objektif.
·
Manakala pendidik menginginkan kemampuan
siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
·
Jika pendidik ingin mendorong siswa
untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
·
Jika pendidik ingin agar siswa memahami
hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya.
D.
Hakikat
Masalah dalam SPBM
Antara
strategi pembelajaran inkuiri (SPI) dan strategi belajar berbasis masalah (SPBM)
memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan
yang ingin dicapai.
Tujuan
yang ingin dicapai oleh SPI adalah menumbuhkan keyakinan dalam diri siswa
tentang jawaban dari suatu masalah. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai oleh
SPBM adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan
logis untuk menemukan alternative pemecahan masalah melalui eksplorasi data
secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Oleh karena itu, materi
pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi pelajaran yang bersumber dari buku saja, akan tetapi juga dapat
bersumber dari peristiwa-peristiwa terentu sesuai dengan kurikulum yang
berlaku.
Dibawah
ini adalah kriteria pemilihan bahan pelajaran SPBM sebagai berikut;
1. Bahan
pelajaran harus mengandung konflik, yang bersumber dari berita, rekaman video,
dan yang lainnya.
2. Bahan
ynag dipilih adalah bahan yang bersifat familiar
dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
3. Bahan
yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak
(universal), sehingga terasa manfaatnya.
4. Bahan
yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensu yang harus
dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
5. Bahan
yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk
mempelajarinya.
E.
Tahapan-tahapan
SPBM
Sesuai
dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk
SPBM yang dikemukakan oleh para ahli. Maka secara umum SPBM bisa dilakukan
dengan langkah-langkah sebgaai berikut;
1. Menyadari
Masalah
Implementasi
SPBM harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang ahrus dipecahkan. Pada
tahapan ini pendidik membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjangan yang
dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai
oleh siswa pada tahapan ini adalah siswa dapat menentukan atau menangkap
kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada.
2. Merumuskan
Masalah
Rumusan
masalah ini sangat penting, sebab selanjutnya akan berhubungan dengan kejelasan
dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan data-data apa yang
harus dikumpulkan untuk menyelesaikannya. Kemampuan yang diharapkan dari siswa
dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah. Siswa dapat
memanfaatkan pengetahuannya untuk mengakaji, memerinci, dan menganalisis
masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan
dapat dipecahkan.
3. Merumuskan
Hipotesis
Sebagai
proses berfikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir deduktif, maka
merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan.
Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah siswa dapat
menentukan sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikakan. Dengan
demikian, upaaya yang dilakukan selanjutnya adalah mengumpulkan data yang
sesuai dengan hipotesis yang diajukan.
4. Mengumpulkan
Data
Sebagai
proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses berpikir ilmiah merupakan
hal yang sangat penting. Sebab, menentukan cara penyelesaian masalah sesuai
dengan hipotesis yang diajukan harus dengan data yang ada. Proses berpikir
ilmiah bukan proses berimajinasi akan tetapi proses yang didasarkan pada
pengalaman. Oleh karena itu, dalam tahapan ini siswa didorong untuk
mengumpulkan data yang relevan. Kemampuan yang diharapkan pada tahapan ini
adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan dan memilih data, kemudian memetakan
dan menyajikannya dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.
5. Menguji
Hipotesis
Berdasarkan
data yang dikumpulkan, akhirnya siswa menentukan hipotesis mana yang diterima
dan mana yang ditolak. Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini
adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat
hubungannya dengan masalah yang dikaji. Di samping itu, diharapkan siswa dapat
mengambil keputusan dan kesimpulan.
6. Menentukan
Pilihan Penyelesaian
Menentukan
pilihan penyelesaian merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan yang
diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian
yang memungkinkan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang
dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap
pilihan.
F.
Keunggulan
dan Kelemahan SPBM
1.
Kunggulan
Sebagai suatu strategi
pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan di antaranya ;
a. Pemecahan
masaalah (problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran.
b. Pemecahan
masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan
kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Pemeahan
masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Pemeahan masalah (problem solving) dapat
membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah
dalam kehidupan nyata.
e. Pemeahan
masalah (problem solving) dapat membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuan
barunya dan bertanggung jawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan. Oleh karena itu, pemecahan yang dilakukan
dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun
proses belajarnya.
f. Pemeahan
masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata
pelajaran (matematika, IPA, sejarah dan lain sebagainya), pada dasarnya
merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan
hanya sekedar belajar dari guru atau buku-buku saja.
g. Pemeahan
masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
h. Pemeahan
masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir
kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan
baru.
i.
Pemeahan masalah (problem solving) dapat
memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka
memiliki dalam dunia nyata.
j.
Pemeahan masalah (problem solving) dapat
mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar meskipun belajar
pada pendidikan formal terakhir berakhir.
2.
Kelemahan
Di samping keunggulan,
SPBM juga memiliki kelemahan di antaranya ;
a. Manakala
siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang
dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba.
b. Keberhasilan
strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan.
c. Tanpa
pemahaman mengapa mereka berusa untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
BAB III
SIMPULAN
A.
Simpulan
Pendekatan
psikologi kognitif lebih menekankan arti penting terhadap proses internal,
dalam mental manusia. Adapun dalam belajar merupakan proses internal yang tidak
dapat diamati secara langsung. Jadi pendekatan ini harus menggunakan strategi atau
cara untuk menyelesaikannya agar pembelajaran berjalan dengan lancar.
Strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang
menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. Ada
tiga ciri utama dalam strategi pembelajaran berbasis kelas yaitu, SPBM
merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam implementasi SPBM ada
sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, aktivitas pembelajaran siswa
diarahkan untuk menyelesaikan suatu masalah, pemecahan dilakukan dengan
menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
Secara
umum SPBM dapat dilakukan dengan langkah atau tahapan sebagai berikut ;
menyadari masalah, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, megumpulkan data,
menguji hipotesis, menentukan pilihan penyelesaian terhadap suatu masalah.
B.
Saran
Sebagai
calon tenaga pendidik (guru), seharusnya kita terlebih dahulu mengerti dan
memahami cara yang berkaitan dengan strategi pembelajaran berbasis masalah ini,
karena jika tidak mengetahui apa itu strategi atau cara dalam menyelesaikan
masalah kita sebagai guru tidak akan bisa enyelesaikan suatu masalah yang ada
dalam proses pembelajaran. Guna untuk menciptakan proses pembelajaran yang
aktif, inovatif, kreatif, dan efektif.
DAFTAR PUSTAKA
B.Uno,
Hamzah. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. PT Bumi Aksara.
Jakarta
Muhibbinsyah.
Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. 2010. Bandung. PT Remaja
Rosdakarya Offset
Sanjaya
Wina. Jakarta: kencana 2011. Prenada Media. Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan
;
Tidak ada komentar:
Posting Komentar