Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa

Oleh :
Nama:Nur Eka Rahayu
NPM : 1388201096
Dosen Pengampu: Haerudin, M.Pd
Semester / Kelas : 5/A2

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Tangerang
 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
          Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat intelektualitas serta kualitas kehidupan, maka pendidikan pun menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, tentu saja hal ini membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kondisinya. Sehingga berbagai teori, metode dan desain pembelajaran serta pengajaran pun dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya tingkat kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan. Jadi memang itulah yang menjadi esensi pendidikan itu sendiri, yakni bagaimana menciptakan sebuah kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang kontekstual dan mampu menyerap aspirasi zaman dengan tepat dan sesuai.
Guru di dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran lebih optimal, selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian, harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing – masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk belajar dan mengajar, namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan pembelajaran adalah pendekatan konstruktivisme. Martin. Et. Al (dalam Gerson Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru. Hubungan tersebut dikonstruksikan oleh siswa untuk kepentingan mereka sendiri. Elemen kuncinya adalah bahwa orang belajar secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya untuk menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu, setiap pelajaran di sekolah perlu diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar mengkonstruksikan pengetahuannya.
Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa menyusun makalah teori belajar menurut aliran konstruktivisme yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu untuk  mengetahui lebih lanjut lagi tentang teori konstruktivisme dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang  pendekatan konstruktivisme tersebut, sehingga pembaca memang benar-benar mengerti apa dan bagimana pendekatan konstruktivisme.

B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimana hakikat belajar mengajar ?
2.      Apa pengertian belajar ?
3.      Apa pengertian konstruktivisme ?
4.      Bagaimana pengertian pembelajaran menurut teori konstruktivisme ?
5.      Bagaimana prinsip-prinsip konstruktivisme ?
6.      Bagaimana ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme ?
7.      Bagaimana pandangan konstruktivisme terhadap proses belajar dan aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran ?
8.      Bagaimana aplikasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia ?

C.   Tujuan
1.      Untuk mengetahui hakikat belajar mengajar.
2.      Untuk mengetahui pengertian belajar.
3.      Untuk mengetahui pengertian konstruktivisme.
4.      Untuk mengetahui pengertian pembelajaran menurut teori konstruktivisme.
5.      Untuk prinsip-prinsip konstruktivisme.
6.      Untuk mengetahui ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme.
7.      Untuk mengetahui pandangan konstruktivisme terhadap proses belajar dan aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran.
8.      Untuk mengetahui aplikasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran. bahasa Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Hakikat Belajar Mengajar
            Skiner berpandangan bahwa pada saat seorang belajar, responnya menjadi kuat, apabila seseorang tidak belajar, responnya menjadi menurun. Dalam belajar ditemukan:
1.      Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar;
2.      Respons pembelajaran;
3.      Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut.

            Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya merupakan suatu proses, yaitu proses mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya, mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
            Apabila hakikat belajar adalah perubahan, hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru.

B.   Pengertian Belajar
            Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses. Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyususnan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain, dan cita-cita (Hamalik, 2002: 45). Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.
            Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto, 2003: 2). Misalnya, belajar akutansi merupakan suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam kegiatan interaksi aktif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap. Belajar akutansi berbeda dengan belajar pengetahuan sosial lainnya.
            Sardiman A.M. (2005: 20) menurut pendapat Cronbach, Harold Spears, dan Geoch mengungkapkan definisi beajar sebagai berikut:
1.      Cronbach memberikan definisi, ”Learning is shown by a change in behavior as a result of experience”. (belajar adalah memperlihatkan perunahan dalam perilaku sebagai hasil dari pengalaman).
2.      Harold Spears memberikan batasan, ”Learning is to observe, to read, to initiate, to try, something thenselves, to listen, to follow direction”. (belajar adalah mengamati, membeaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, mengikuti petunjuk).
3.      Geoch mengatakan, ”Learning is a change in performance as a result of practitice.” (belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktik).
            Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan. Misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan sebagainya.
            Agar proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan, dibutuhkan metode atau strategi mengajar yang tepat, sesuai dengan kapasitas siswa.
            Belajar menurut pandangan konstruktivis merupakan hasil konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Pandangan ini memberi penekanan pengetahuan kita adalah bentukan kita sendiri. (Suparno, 1997: 18).
            Para ahli konstruktivis beranggapan bahwa satu-satunya alat yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya dengan melihat, mendengar, mencium, menjamah, dan merasakannya. Hal ini menampakkan bahwa pengetahuan lebiih menunjuk pada pengalaman seseorang akan dunia daripada dunia itu sendiri.

C.   Pengertian Konstruktivisme
            Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Indonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar, sedangkan  guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitas orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.
            Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
            Dalam hal tahap-tahap pembelajaran, pendekatan konstruktivisme lebih menekankan pada pembelajaran top-down processing, yaitu siswa belajar dimulai dari masalah yang kompleks untuk dipecahkan (dengan bantuan guru), kemudian menghasilkan atau menemukan keterampilan-keterampilan dasar yang dibutuhkan. Misalnya, ketika siswa diminta untuk menulis kalimat-kalimat, kemudian dia akan belajar untuk membaca, belajar tentang tata bahasa kalimat-kalimat tersebut, dan kemudian bagaimana menulis titik dan komanya.
            Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Aliran ini lebih menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
            Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa. Oleh karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya. Berdasarkan konstruktivisme, akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa (student centered instruction).

D.   Pengertian Pembelajaran Menurut Teori Konstruktivisme
            Teori pembelajaran konstruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Bagi siswa agar benar-benar memeahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide (Slavian, 1994).
            Menurut teori ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak dapat hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan proses ini, dengan memberikan siswa kesempatan untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa dengan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjatnya (Slavian, 1994: 225).
            Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa harus siswa sendiri yang menemukan dan mentransformasikan sendiri suatu informasi kompleks apabila mereka menginginkan informasi itu menjadi miliknya. Konstruktivime adalah suatu pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana anak secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita melalui pengalaman dan interaksi mereka. Menurut pandangan konstruktivisme anak secara aktif mrmbangun pengetahuan dengan cara terus menerus mengasimlasi dan mengakomodasi informasi baru, dengan kata lain konstruktivisme adalah teori perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun pemahaman mereka tentang realita (Slavian 1994: 225).
            Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara intensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan masalah-masalah itu dengan temannya. (Slavian, 1994).
            Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari pendekatan kontekstual. Melalui pendekatan ini diharapkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, siswa dapat mempraktikkan suatu pengalaman belajar dalam konteks kehidupan nyata.
            Komponen ini menekankan pentingnya siswa mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa dapat mempraktikkan suatu pengalaman belajar dalam konteks kehidupan nyata. Tugas guru dalam hal ini adalah :
1.      Menjadikan pengalaman sehari-hari menjadi bermakna dan relevan bagi materi pembelajaran bahasa;
2.      Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memanfaatkan keluasan pengalamannya di dalam kegiatan belajar mengajar;
3.      Menyadarkan siswa akan keeratan hubungan antara materi pelajaran bahasa dengan aktivitas dan keperluan hidupnya sehari-hari.
            Contoh aplikasi pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran adalah siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa, campuran siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Siswa tetap berada dalam kelompoknya selama beberapa minggu. Mereka diajarkan keterampilan kerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang ditugaskan guru dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Pada saat siswa sedang bekerja dalam kelompok guru berkeliling memberikan pujian kepada kelompok yang sedang bekerja dengan baik, dan memberikan bimbingan kepada kelompok yang mengalami kesulitan.
            Berpijak pada uraian di atas, maka pada dasarnya aliran konstruktivisme menghendaki bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan cramah atau membaca buku tentang pengalaman orang lain.

E.   Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3.      Murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
4.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5.      Struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan.
6.       Mencari dan menilai pendapat siswa.
7.      Menyesuaikan bahan pengajaran untuk menanggapi anggapan siswa.

            Prinsip-prinsip yang sering diambil dari konstruktivisme menurut suparno (1997: 73), antara lain:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif,
2.      Tekana dalam proses belajar terletak pada siswa,
3.      Mengajar adalah membantu siswa belajar,
4.      Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir,
5.      Kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan
6.      Guru sbagai fasilitator.
            Secara umum, prinsip-prinsip tersebut berperan sebagai referensi dan alat refleksi kritis terhadap praktik, pembaruan, dan perencanaan pendidikan.
            Dalam penerapannya, prinsip konstruktivisme kami anggap sesuai dengan semua kompetensi dasar dalam KTSP bahasa indonesia SMP. Hal ini terutama dalam menyampaikan materi-materi berikut:
1.      Menyimpulkan dan menuliskan kembali berita
2.      Menceritakan pengalaman
3.      Menulis buku harian
4.      Menceritakan tokoh idola
5.      Menulis cerita dan iklan
6.      Mendengarkan pidato


Rounded Rectangle: Pengetahuan baru
Pengalaman saya pergi ke toko buku dan pengalaman -pengalaman lainnya merupakan bahan yang baik untuk menulis cerita
 
Text Box: Pengetahuan awal
Pengalaman saya pergi  ke toko buku
perhatikan contoh dalam bagan di bawah ini !
 



berdasarkan bagan di atas tampak bahwa pengetahuan awal siswa yang dibangun adalah pengalamannya pergi ke toko buku. Pengalaman tersebut direlevansikan dengan materi pelajaran yang ada dalam KD yakni menulis cerita. Pengalaman tersebut digunakan sebagai bahan penulisan cerita oleh siswa dalam proses belajarnya di kelas. Dengan demikian, bahan penulisan cerita siswa bukan sesuatu yang mengawang-ngawang ataupun di luar pemahaman siswa sendiri. Akan tetapi, bahan tersebut diambil dari proses pembelajaran akan lebih bermakna: mudah dan menyenangkan. Siswapun merasa terhargai dan terlibatkan di dalam proses pembelajaran karena pengalaman yang telah dimilikinya itu menjadi sesuatu yang berharga dan berguna di dalam belajar.

F.    Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
            Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial; (2) pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
            Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut.
1.      Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
2.      Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
3.      Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
4.      Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.

G.  Pandangan Konstruktivisme Terhadap Proses Belajar dan Aplikasinya Dalam Kegiatan Pembelajaran
1.      Karakteristik Manusia Masa Depan yang Diharapkan
      Upaya membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakter manusia yang dikehendaki tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan dari sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses... (to) learn to be. Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan bangsanya (Raka Joni,1990).
      Kepekaan, berarti ketajaman baik dalam arti kemampuan berfikirnya, maupun kemudah tersentuhan hati nurani di dalam melihat dan merasakan segala sasuatu, mulai dari kepentingan orang lain sampai dengan kelestarian lingkungan yang merupakan gubahan Sang Pencipta. Kemandirian, berarti kemampuan menilai proses dah hasil berfikir sendiri disamping proses dan hasil berfikir orang lain, serta keberanian bertindak sesuai dengan apa yang di anggapnya benar dan perlu tanggung jawab, berarti kesediaan untuk menerima segala konsekuensi keputusan serta tindakan sendiri. Kolaborasi, berti di samping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri, individu dengan ciri-ciri di atas juga mampu bekerja sama dengan individu lainnya dalam meningkatkan mutu kehidupan bersama.
      Langkah strategis bagi perwujudan tujuan di atas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya guna tinggi. Student active learning atau pendekatan cara belajar siswa aktif di dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang mengakui sentralitas peranan siswa di dalam proses belajar, adalah landasan yang kokoh bagi terbentuknya manusia-manusia masa depan yang diharapkan.pilihan tersebut bertolak dari kajian-kajian kritikal dan empirik di samping pilihan masyarakat. (Raka Joni, 1990).
      Penerapan ajaran Tut Wuri Handayani merupakan wujud nyata yang bermakna bagi manusia masa masa kini dalam rangka menjemput masa depan. Untuk melaksankannya diperlukan penanganan yang memberikan perhatian terhadap aspek strategis pendekatan yang tpat ketika individu belajar. Dengan kata lain, pendidikan ditantang untuk memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia masa depan yang memiliki karakteristik di atas. Kajian terhadap teori belajar konstruktivistik dalam kegiatan belajar dan pembelajaran memungkinkan menuju kepada tujuan tersebut.

2.      Konstrksi Pengetahuan
      Manusia akan mencari dan menggunakan hal-hal atau peralatan yang dapat membantu memahami pengalamannya. Demikian juga, manusia akan mengkonstruksi dan membentuk pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan seseorang merupakan konstruksi dari drinya. Teori konstruktivisme berkaitan dengan pemahaman tentang pengetahuan, proses mengkonstruksi pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan, realitas, dan kebenaran.
      Pengetahuan menurut pendekatan konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.
      Pengetahuan bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut. Bila guru bermaksud untuk mentransfer konsep, ide, dan pengetahuannya tetntang sesuatu kepada siswa, pentransferan itu akan diinterprestasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
      Proses mengkonstruksi pengetahuan. Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan indranya. Melalui interaksi dengan objek dan lingkungan, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, mambau, atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan, melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan pemahamannya akan objek dan lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
                  Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu;
a.       Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman;
b.      Kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan;
c.       Kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
                  Faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang yang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.

3.      Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik
                  Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pndekatan kognitif, bukan sebagai prolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifmya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa ”.... constructing and restructuring of knowledge and skills (schemata) within the individual in a complex network of increasing conceptual consistency….”. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sebdiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaraan harus diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijasah, dan sebagainya.
                  Peranan Siswa (Si-belajar). Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan, pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif  berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menetukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.
                  Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.
                  Peranan guru dalam belajar konstruktivistik adalah membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntuk untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satunya-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
                  Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi;
a.       Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
b.      Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa.
c.       Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.
                  Sarana belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang suatu yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.
                  Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interprestasi terhadap raelitas, konstruksi pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.
                  Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi dan menginterprestasikannya berdasarkan pengalamannya. Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterprestasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterprestasikan kejadian, objek, dan pandangan terhadap dunia nyata, di mana interprestasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.
                  Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterprestasikan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang, dan minatnya. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal.

H.  Aplikasi Teori Belajar Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
            Penerapan teori konstruktivisme dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilihat dari seberapa besarkah pengetahuan awal atau pengalaman siswa tersebut dalam memahami materi yang akan dipelajarinya nanti. Oleh karena itu, untuk kelancaran teori konstruktivisme ini dalam dalam penerapan/pengaplikasiannya, maka pada proses pembelajarannya juga perlu menggunakan strategi, metode, model, media, serta pendekatan yang tepat. Hal ini, diharapkan agar tujuan akhir dari prosespembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik dan tepat sasaran.
            Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi pengajaran lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Dengan kata lain, metode atau teknik pengajaran merupakan bagian dari strategi.
            Peranan strategi pengajaran lebih penting apabila guru mengajar siswa yang berbeda dari segi kemampuan, pencapaian kecenderungan, serta minat. Hal tersebut karena guru harus memikirkan strategi pengajaran yang mampu memenuhi kaperluan semua siswa. Di sini, guru tidak saja harus menguasai berbagai kaidah mengajar, tetapi yang lebih penting adalah mengintegrasikan serta menyusun kaidah-kaidah itu untuk membentuk strategi pengajaran yang paling berkesan dalam pengajarannya.
            Kaidah-kaidah mengajar harus diatur untuk membentuk strategi pengajaran yang paling baik bergantung kepada situasi dan kondisi tempat proses pengajaran itu berlaku. Jelasnya, suatu kaidah pengajaran tidak mencapai tjuan pengajaran, tetapi yang lebih penting adalah interaksi kaidah itu dengan kaidah-kaidah lain.
            Dalam era industri, bangsa Indonesia bertekad untuk mengembangkan budaya belajar menjadi persyaratan berkembangnya budaya ilmu pngetahuan dan teknologi (iptek) akan tetapi, dalam mengembangkan budaya tersebut, perlu diupayakan dan diwujudkan cara dan bentuk belajar yang dapat diterapkan. Hal ini karena secara tersirat, persoalan-persoalan itu seharusnya  menjadi rujukan dalam membahas masalah-masalah belajar.
            Sebagaian besar metode dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para guru, tampaknya lebih banyak menghambat dalam memotivasi potensi otak. Misalnya, seorang peserta didik hanya disiapkan sebagai seorang anak yang mampu mendengarkan, mau menerima seluruh informasi, dan mentaati segala perlakuan gurunya. Budaya dan mental yang seperti ini, pada gilirannya membuat siswa tidak mampu mengaktivasi kemampuan otaknya sehingga mereka tidak memiliki keberanian menyampaikan pendapat, lemah penalaran, dan bergantung kepada orang lain.
            Tugas guru dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar adalah sebagai fasilitator yang mampu mengembangkan kemauan belajar siswa, menegmbangkan kondisi belajar yang relevan agar tercipta suasana belajar secara wajar dengan penuh kegembiraan, dan mengadakan pembatasan positif terhadap dirinya sebagai seorang guru. Jadi, metode pembelajaran merupakan salah satu faktor atau komponen pendidikan yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu pmbelajaran.
            Seorang guru harus bisa membimbing, mengarahkan, dan menciptakan kondisi belajar siswa. Untuk mencapai hal tersebut, ia harus mengurangi metode ceramah dan mulai mengembangkan metode lain yang dapat mengembangkan siswa secara aktif.
            Metode debat merupakan salah satu pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan tiap-tiap kelompok yang diberikan kepada guru.  Selanjutnya guru mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur.
            Agar semua model berhasil seperti yang diharapkan, model pembelajaran harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membatu dan mendukung ketika mereka belajar.
            Pada hakikatnya, pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Komunikan pada proses pembelajaran adalah siswa, sedangkan komunikatornya adalah guru dan siswa. Jika siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya dan guru sebagai fasilitator akan terjadi proses interaksi dengan kadar pembelajaran yang tinggi. Seorang guru harus menyadari bahwa proses komunikasi tidak dapat berjalan dengan lancar, bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan kebingungan, salah pengertian, bahkan salah konsep.
            Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya salah komunikasi, diperlukan alat bantu seperti sarana atau media yang dapat membantu proses komunikasi.
            Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach dan Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia adalah materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengalaman.
BAB III
PENUTUP

A.   Simpulan
      Belajar mengajar pada hakikatnya merupakan suatu proses, yaitu proses mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.
      Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas.
      Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
      Teori pembelajaran konstruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi.
      Prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam proses belajar mengajar yaitu, (1) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, (3) murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah, (4) guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar, (5) struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan, (6) mencari dan menilai pendapat siswa, (7) menyesuaikan bahan pengajaran untuk menanggapi anggapan siswa.
      Ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis yaitu, (1) pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya, (2) belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia, (3) belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman, (4) pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
      Upaya membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakter manusia yang dikehendaki tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan dari sendiri dan menjadi diri sendiri. Manusia akan mencari dan menggunakan hal-hal atau peralatan yang dapat membantu memahami pengalamannya. Teori konstruktivisme berkaitan dengan pemahaman tentang pengetahuan, proses mengkonstruksi pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan, realitas, dan kebenaran. Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pndekatan kognitif, bukan sebagai prolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifmya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas.
      Penerapan teori konstruktivisme dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilihat dari seberapa besarkah pengetahuan awal atau pengalaman siswa tersebut dalam memahami materi yang akan dipelajarinya nanti. Oleh karena itu, untuk kelancaran teori konstruktivisme ini dalam dalam penerapan/pengaplikasiannya, maka pada proses pembelajarannya juga perlu menggunakan strategi, metode, model, media, serta pendekatan yang tepat. Hal ini, diharapkan agar tujuan akhir dari prosespembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik dan tepat sasaran.

B.   Saran
                  Sebagai seorang tenaga pendidik sebaiknya mengetahui metode dan teori-teori belajar apa saja yang cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Untuk itu bagi kita yang sebagai calon tenaga pendidik banyak-banyaklah mencari tahu dan mempelajari mengenai metode an teori-teori belajar dalam proses pembelajaran, agar nantinya ketika kita sudah menjadi seorang tenaga pendidik kita dapat mengajar siswa-siswi kita dengan sangat baik melalui metode dan teori-teori belajar yang tepat.





















Daftar Pustaka

Hamdani. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia
Trianto. 2011. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: PT Bumi Aksara
Kosasih, E. 2010. Pendekatan Berbasis Kecakapan Hidup dan Pembelajaran
Konstektual. Bandung: Kepala Balai Bahasa
      (Diakses pukul 10.00 WIB, 18 Desember 2015)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar