TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME DAN APLIKASINYA DALAM
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Tugas
ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa
Oleh
:
Nama:Nur Eka Rahayu
NPM : 1388201096
Dosen
Pengampu: Haerudin, M.Pd
Semester
/ Kelas : 5/A2
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Prodi
Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas
Muhammadiyah Tangerang
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Latar
Belakang
Seiring
berjalannya waktu dan semakin pesatnya tingkat intelektualitas serta kualitas kehidupan,
maka pendidikan pun menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, tentu saja hal ini
membutuhkan sebuah desain pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kondisinya.
Sehingga berbagai teori, metode dan desain pembelajaran serta pengajaran pun
dibuat dan diciptakan untuk mengapresiasikan semakin beragamnya tingkat
kebutuhan dan kerumitan permasalahan pendidikan. Jadi memang itulah yang
menjadi esensi pendidikan itu sendiri, yakni bagaimana menciptakan sebuah
kehidupan lebih baik yang tercipta dari proses pendidikan yang kontekstual dan
mampu menyerap aspirasi zaman dengan tepat dan sesuai.
Guru di
dalam melaksanakan pembelajaran, juga harus bisa memilih maupun menetapkan
suatu pendekatan pembelajaran yang tepat di kelas sehingga hasil pembelajaran
lebih optimal, selayaknya seseorang dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari
yang harus mampu menetapkan sasaran yang hendak dicapai. Guru pun demikian,
harus bisa menetapkan pendekatan pembelajaran yang tepat.
Masing – masing individu akan memilih cara dan gayanya sendiri untuk
belajar dan mengajar, namun setidak-tidaknya ada karakteristik tertentu dalam
pendekatan pembelajaran tertentu yang khas dibandingkan dengan pendekatan lain. Salah satu contoh pendekatan
pembelajaran adalah pendekatan konstruktivisme. Martin. Et. Al (dalam Gerson
Ratumanan, 2002) mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan pentingnya
setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan saling
mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru. Hubungan tersebut dikonstruksikan
oleh siswa untuk kepentingan mereka sendiri. Elemen kuncinya adalah bahwa orang
belajar secara aktif mengkonstruksikan pengetahuan mereka sendiri,
membandingkan informasi baru dengan pemahaman sebelumnya dan menggunakannya
untuk menghasilkan pemahaman baru. Untuk itu, setiap pelajaran di sekolah perlu
diarahkan untuk selalu mendidik siswa agar mengkonstruksikan pengetahuannya.
Oleh karenanya,
dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa menyusun makalah teori belajar
menurut aliran konstruktivisme yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu
untuk mengetahui lebih lanjut lagi tentang teori
konstruktivisme
dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang pendekatan konstruktivisme tersebut, sehingga pembaca memang
benar-benar mengerti apa dan bagimana pendekatan konstruktivisme.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
hakikat belajar mengajar ?
2.
Apa
pengertian belajar ?
3.
Apa
pengertian konstruktivisme ?
4.
Bagaimana
pengertian pembelajaran menurut teori konstruktivisme ?
5.
Bagaimana prinsip-prinsip konstruktivisme ?
6.
Bagaimana ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme ?
7.
Bagaimana
pandangan konstruktivisme terhadap proses belajar dan aplikasinya dalam
kegiatan pembelajaran ?
8.
Bagaimana
aplikasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia ?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui hakikat belajar mengajar.
2.
Untuk
mengetahui pengertian belajar.
3.
Untuk
mengetahui pengertian konstruktivisme.
4.
Untuk
mengetahui pengertian pembelajaran menurut teori konstruktivisme.
5.
Untuk prinsip-prinsip konstruktivisme.
6.
Untuk mengetahui ciri-ciri pembelajaran konstruktivisme.
7.
Untuk
mengetahui pandangan konstruktivisme terhadap proses belajar dan aplikasinya
dalam kegiatan pembelajaran.
8.
Untuk
mengetahui aplikasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran. bahasa Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hakikat
Belajar Mengajar
Skiner
berpandangan bahwa pada saat seorang belajar, responnya menjadi kuat, apabila
seseorang tidak belajar, responnya menjadi menurun. Dalam belajar ditemukan:
1.
Kesempatan
terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar;
2.
Respons
pembelajaran;
3.
Konsekuensi
yang bersifat menguatkan respons tersebut.
Sama
halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya merupakan suatu proses,
yaitu proses mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada di sekitar
siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.
Pada tahap berikutnya, mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan
kepada siswa dalam melakukan proses belajar.
Apabila
hakikat belajar adalah perubahan, hakikat belajar mengajar adalah proses
pengaturan yang dilakukan oleh guru.
B. Pengertian
Belajar
Belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Perubahan itu bersifat
relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses belajar dan perubahan
merupakan bukti hasil yang diproses. Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran,
tetapi juga penyususnan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat,
penyesuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain, dan cita-cita (Hamalik,
2002: 45). Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi
perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi
dengan lingkungan.
Menurut
pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu
perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya (Slameto, 2003: 2). Misalnya, belajar akutansi merupakan
suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam kegiatan interaksi
aktif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap. Belajar akutansi berbeda dengan
belajar pengetahuan sosial lainnya.
Sardiman
A.M. (2005: 20) menurut pendapat Cronbach, Harold Spears, dan Geoch
mengungkapkan definisi beajar sebagai berikut:
1.
Cronbach
memberikan definisi, ”Learning is shown
by a change in behavior as a result of experience”. (belajar adalah memperlihatkan perunahan dalam perilaku
sebagai hasil dari pengalaman).
2.
Harold Spears
memberikan batasan, ”Learning is to
observe, to read, to initiate, to try, something thenselves, to listen, to
follow direction”. (belajar
adalah mengamati, membeaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan,
mengikuti petunjuk).
3.
Geoch
mengatakan, ”Learning is a change in
performance as a result of practitice.” (belajar adalah perubahan dalam
penampilan sebagai hasil praktik).
Dari
berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan
tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan. Misalnya dengan
membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan sebagainya.
Agar
proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan, dibutuhkan metode
atau strategi mengajar yang tepat, sesuai dengan kapasitas siswa.
Belajar
menurut pandangan konstruktivis merupakan hasil konstruksi kognitif melalui
kegiatan seseorang. Pandangan ini memberi penekanan pengetahuan kita adalah
bentukan kita sendiri. (Suparno, 1997: 18).
Para
ahli konstruktivis beranggapan bahwa satu-satunya alat yang tersedia bagi
seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya. Seseorang berinteraksi
dengan objek dan lingkungannya dengan melihat, mendengar, mencium, menjamah,
dan merasakannya. Hal ini menampakkan bahwa pengetahuan lebiih menunjuk pada
pengalaman seseorang akan dunia daripada dunia itu sendiri.
C.
Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Indonesia
berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi
kita sendiri. Pandangan konstruktivis dalam pembelajaran mengatakan bahwa
anak-anak diberi kesempatan agar menggunakan strateginya sendiri dalam belajar
secara sadar, sedangkan guru yang membimbing siswa ke tingkat pengetahuan
yang lebih tinggi. Tran Vui juga mengatakan bahwa teori konstruktivisme adalah sebuah teori yang
memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari
kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut
dengan bantuan fasilitas orang lain. Sedangkan menurut Martin. Et. Al mengemukakan bahwa konstruktivisme menekankan
pentingnya setiap siswa aktif mengkonstruksikan pengetahuan melalui hubungan
saling mempengaruhi dari belajar sebelumnya dengan belajar baru.
Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagai landasan paradigma
pembelajaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam
proses pembelajaran, perlunya pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya
siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Dalam hal tahap-tahap pembelajaran, pendekatan
konstruktivisme lebih menekankan pada pembelajaran top-down processing, yaitu siswa belajar dimulai dari masalah yang kompleks untuk
dipecahkan (dengan bantuan guru), kemudian menghasilkan atau menemukan
keterampilan-keterampilan dasar yang dibutuhkan. Misalnya, ketika siswa diminta
untuk menulis kalimat-kalimat, kemudian dia akan belajar untuk membaca, belajar
tentang tata bahasa kalimat-kalimat tersebut, dan kemudian bagaimana menulis
titik dan komanya.
Bagi aliran konstruktivisme, guru tidak lagi menduduki
tempat sebagai pemberi ilmu. Tidak lagi sebagai satu-satunya sumber belajar.
Namun guru lebih diposisikan sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa untuk
dapat belajar dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Aliran ini lebih
menekankan bagaimana siswa belajar bukan bagaimana guru mengajar.
Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap
kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran
adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan
siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa. Oleh
karena itu, guru harus menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin
kepada siswa untuk belajar secara aktif. Sedemikian rupa sehingga para siswa
dapat menciptakan, membangun, mendiskusikan, membandingkan, bekerja sama, dan
melakukan eksperimentasi dalam kegiatan belajarnya. Berdasarkan
konstruktivisme, akibatnya orientasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada
guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa (student centered instruction).
D. Pengertian
Pembelajaran Menurut Teori Konstruktivisme
Teori
pembelajaran konstruktivisme merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru
dalam psikologi pendidikan yang menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri
dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi.
Bagi siswa agar benar-benar memeahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka
harus bekerja memecahkan masalah, menemukan sesuatu untuk dirinya, berusaha
dengan susah payah dengan ide-ide (Slavian, 1994).
Menurut
teori ini, satu prinsip paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa
guru tidak dapat hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
membangun sendiri pengetahuan di benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan
proses ini, dengan memberikan siswa kesempatan untuk menemukan dan menerapkan
ide-ide mereka sendiri, dan membelajarkan siswa dengan secara sadar menggunakan
strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga
yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri
yang harus memanjatnya (Slavian, 1994: 225).
Esensi
dari teori konstruktivis adalah ide bahwa harus siswa sendiri yang menemukan
dan mentransformasikan sendiri suatu informasi kompleks apabila mereka
menginginkan informasi itu menjadi miliknya. Konstruktivime adalah suatu
pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan kognitif merupakan suatu proses
dimana anak secara aktif membangun sistem arti dan pemahaman terhadap realita
melalui pengalaman dan interaksi mereka. Menurut pandangan konstruktivisme anak
secara aktif mrmbangun pengetahuan dengan cara terus menerus mengasimlasi dan
mengakomodasi informasi baru, dengan kata lain konstruktivisme adalah teori
perkembangan kognitif yang menekankan peran aktif siswa dalam membangun
pemahaman mereka tentang realita (Slavian 1994: 225).
Pendekatan
konstruktivis dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara
intensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami
konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan
masalah-masalah itu dengan temannya. (Slavian, 1994).
Konstruktivisme
merupakan landasan filosofis dari pendekatan kontekstual. Melalui pendekatan
ini diharapkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Berdasarkan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, siswa dapat mempraktikkan suatu
pengalaman belajar dalam konteks kehidupan nyata.
Komponen
ini menekankan pentingnya siswa mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Siswa
dapat membangun sendiri pengetahuannya berdasarkan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya. Siswa dapat mempraktikkan suatu pengalaman belajar dalam konteks
kehidupan nyata. Tugas guru dalam hal ini adalah :
1.
Menjadikan
pengalaman sehari-hari menjadi bermakna dan relevan bagi materi pembelajaran
bahasa;
2.
Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memanfaatkan keluasan pengalamannya di dalam
kegiatan belajar mengajar;
3.
Menyadarkan
siswa akan keeratan hubungan antara materi pelajaran bahasa dengan aktivitas
dan keperluan hidupnya sehari-hari.
Contoh
aplikasi pendekatan konstruktivis dalam pembelajaran adalah siswa belajar
bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain. Kelas
disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa, campuran siswa
berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Siswa tetap berada dalam kelompoknya
selama beberapa minggu. Mereka diajarkan keterampilan kerja dalam kelompok,
tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang ditugaskan guru
dan saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar. Pada
saat siswa sedang bekerja dalam kelompok guru berkeliling memberikan pujian
kepada kelompok yang sedang bekerja dengan baik, dan memberikan bimbingan
kepada kelompok yang mengalami kesulitan.
Berpijak
pada uraian di atas, maka pada dasarnya aliran konstruktivisme menghendaki
bahwa pengetahuan dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci
utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya dengan
mendengarkan cramah atau membaca buku tentang pengalaman orang lain.
E.
Prinsip-Prinsip
Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan dalam
proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:
1.
Pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri.
2.
Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan
murid sendiri untuk menalar.
3.
Murid
aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan
konsep ilmiah.
4.
Guru
sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan
lancar.
5.
Struktur
pembelajaran seputar konsep diutamakan pada pentingnya sebuah pertanyaan.
6.
Mencari dan menilai pendapat siswa.
7.
Menyesuaikan
bahan pengajaran untuk menanggapi anggapan siswa.
Prinsip-prinsip
yang sering diambil dari konstruktivisme menurut suparno (1997: 73), antara
lain:
1.
Pengetahuan
dibangun oleh siswa secara aktif,
2.
Tekana
dalam proses belajar terletak pada siswa,
3.
Mengajar
adalah membantu siswa belajar,
4.
Tekanan
dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir,
5.
Kurikulum
menekankan partisipasi siswa, dan
6.
Guru
sbagai fasilitator.
Secara
umum, prinsip-prinsip tersebut berperan sebagai referensi dan alat refleksi
kritis terhadap praktik, pembaruan, dan perencanaan pendidikan.
Dalam
penerapannya, prinsip konstruktivisme kami anggap sesuai dengan semua
kompetensi dasar dalam KTSP bahasa indonesia SMP. Hal ini terutama dalam
menyampaikan materi-materi berikut:
1.
Menyimpulkan
dan menuliskan kembali berita
2.
Menceritakan
pengalaman
3.
Menulis
buku harian
4.
Menceritakan
tokoh idola
5.
Menulis
cerita dan iklan
6.
Mendengarkan
pidato
![]() |
perhatikan contoh dalam bagan di bawah ini !
berdasarkan bagan di atas tampak bahwa pengetahuan awal
siswa yang dibangun adalah pengalamannya pergi ke toko buku. Pengalaman
tersebut direlevansikan dengan materi pelajaran yang ada dalam KD yakni menulis
cerita. Pengalaman tersebut digunakan sebagai bahan penulisan cerita oleh siswa
dalam proses belajarnya di kelas. Dengan demikian, bahan penulisan cerita siswa
bukan sesuatu yang mengawang-ngawang ataupun di luar pemahaman siswa sendiri.
Akan tetapi, bahan tersebut diambil dari proses pembelajaran akan lebih
bermakna: mudah dan menyenangkan. Siswapun merasa terhargai dan terlibatkan di
dalam proses pembelajaran karena pengalaman yang telah dimilikinya itu menjadi
sesuatu yang berharga dan berguna di dalam belajar.
F.
Ciri-ciri
Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno (1997:49) secara
garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah (1) pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial; (2)
pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan
siswa sendiri untuk bernalar; (3) siswa aktif mengkonstruksi secara terus
menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci,
lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah; (4) guru berperan membantu
menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Berikut ini akan dikemukakan
ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu
sebagai berikut.
1.
Pengetahuan
dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
2.
Belajar
adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
3.
Belajar
merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
4.
Pengetahuan
tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi
atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan
orang lain.
G. Pandangan
Konstruktivisme Terhadap Proses Belajar dan Aplikasinya Dalam Kegiatan
Pembelajaran
1. Karakteristik
Manusia Masa Depan yang Diharapkan
Upaya membangun sumber daya manusia
ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang
dikehendaki. Karakter manusia yang dikehendaki tersebut adalah manusia-manusia
yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam
mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar
yang terus menerus untuk menemukan dari sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu
suatu proses... (to) learn to be.
Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi
kelestarian dan kejayaan bangsanya (Raka Joni,1990).
Kepekaan, berarti ketajaman baik dalam
arti kemampuan berfikirnya, maupun kemudah tersentuhan hati nurani di dalam
melihat dan merasakan segala sasuatu, mulai dari kepentingan orang lain sampai
dengan kelestarian lingkungan yang merupakan gubahan Sang Pencipta.
Kemandirian, berarti kemampuan menilai proses dah hasil berfikir sendiri
disamping proses dan hasil berfikir orang lain, serta keberanian bertindak
sesuai dengan apa yang di anggapnya benar dan perlu tanggung jawab, berarti
kesediaan untuk menerima segala konsekuensi keputusan serta tindakan sendiri.
Kolaborasi, berti di samping mampu berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri,
individu dengan ciri-ciri di atas juga mampu bekerja sama dengan individu
lainnya dalam meningkatkan mutu kehidupan bersama.
Langkah strategis bagi perwujudan tujuan
di atas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya guna
tinggi. Student active learning atau pendekatan cara belajar siswa aktif di
dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang mengakui sentralitas peranan
siswa di dalam proses belajar, adalah landasan yang kokoh bagi terbentuknya
manusia-manusia masa depan yang diharapkan.pilihan tersebut bertolak dari
kajian-kajian kritikal dan empirik di samping pilihan masyarakat. (Raka Joni,
1990).
Penerapan ajaran Tut Wuri Handayani merupakan wujud nyata yang bermakna bagi manusia
masa masa kini dalam rangka menjemput masa depan. Untuk melaksankannya
diperlukan penanganan yang memberikan perhatian terhadap aspek strategis
pendekatan yang tpat ketika individu belajar. Dengan kata lain, pendidikan
ditantang untuk memusatkan perhatian pada terbentuknya manusia masa depan yang
memiliki karakteristik di atas. Kajian terhadap teori belajar konstruktivistik
dalam kegiatan belajar dan pembelajaran memungkinkan menuju kepada tujuan
tersebut.
2. Konstrksi
Pengetahuan
Manusia akan mencari dan menggunakan
hal-hal atau peralatan yang dapat membantu memahami pengalamannya. Demikian
juga, manusia akan mengkonstruksi dan membentuk pengetahuan mereka sendiri.
Pengetahuan seseorang merupakan konstruksi dari drinya. Teori konstruktivisme
berkaitan dengan pemahaman tentang pengetahuan, proses mengkonstruksi
pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan, realitas, dan kebenaran.
Pengetahuan menurut pendekatan
konstruktivistik, pengetahuan bukanlah kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang
sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap
objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang
sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya.
Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang
yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.
Pengetahuan bukanlah suatu barang yang
dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan
kepada pikiran orang lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut. Bila guru
bermaksud untuk mentransfer konsep, ide, dan pengetahuannya tetntang sesuatu
kepada siswa, pentransferan itu akan diinterprestasikan dan dikonstruksikan
oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
Proses mengkonstruksi pengetahuan. Manusia
dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan indranya. Melalui interaksi dengan
objek dan lingkungan, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, mambau,
atau merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu
yang sudah ditentukan, melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak
seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan
pemahamannya akan objek dan lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
Von
Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan
yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu;
a.
Kemampuan
mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman;
b.
Kemampuan
membandingkan dan mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan;
c.
Kemampuan
untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada lainnya.
Faktor yang juga mempengaruhi proses
mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan seseorang yang telah
ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses
dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang yang akan
menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan
fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan
pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan
membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki
orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.
3. Proses
Belajar Menurut Teori Konstruktivistik
Secara
konseptual, proses belajar jika dipandang dari pndekatan kognitif, bukan
sebagai prolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri
siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya
melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur
kognitifmya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada
segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa ”.... constructing and restructuring of knowledge and skills (schemata)
within the individual in a complex network of increasing conceptual
consistency….”. pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu
tersebut tidak dilakukan secara sebdiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui
interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya
kelas maupun di luar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaraan harus
diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata
pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau
prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti
nilai, ijasah, dan sebagainya.
Peranan Siswa (Si-belajar). Menurut pandangan
konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan,
pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan
kegiatan, aktif berpikir, menyusun
konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang
dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang
optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menetukan
terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah
lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada
siswa.
Paradigma
konstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan
awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar
dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan
awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru,
sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.
Peranan
guru dalam belajar konstruktivistik adalah membantu agar proses
pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak
mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa
untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntuk untuk lebih memahami
jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim
bahwa satunya-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan
kemauannya.
Peranan
kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi;
a.
Menumbuhkan
kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan
bertindak.
b.
Menumbuhkan
kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan siswa.
c.
Menyediakan
sistem dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang
optimal untuk berlatih.
Sarana
belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam
kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya
sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan
fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi
kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang suatu yang
dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk
berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis,
kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara rasional.
Pandangan
konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung
munculnya berbagai pandangan dan interprestasi terhadap raelitas, konstruksi
pengetahuan, serta aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman.
Hal ini memunculkan pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar
konstruktivistik.
Pandangan konstruktivistik
mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi
dan menginterprestasikannya berdasarkan pengalamannya. Konstruktivistik
mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan
dari pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk
menginterprestasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik
mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterprestasikan
kejadian, objek, dan pandangan terhadap dunia nyata, di mana interprestasi
tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.
Teori
belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterprestasikan
informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan
mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang, dan minatnya. Guru dapat membantu
siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal.
H. Aplikasi
Teori Belajar Konstruktivisme Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Penerapan
teori konstruktivisme dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilihat
dari seberapa besarkah pengetahuan awal atau pengalaman siswa tersebut dalam
memahami materi yang akan dipelajarinya nanti. Oleh karena itu, untuk
kelancaran teori konstruktivisme ini dalam dalam penerapan/pengaplikasiannya,
maka pada proses pembelajarannya juga perlu menggunakan strategi, metode,
model, media, serta pendekatan yang tepat. Hal ini, diharapkan agar tujuan
akhir dari prosespembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik dan tepat
sasaran.
Strategi
pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa
mencapai tujuan. Strategi pengajaran lebih luas daripada metode atau teknik
pengajaran. Dengan kata lain, metode atau teknik pengajaran merupakan bagian
dari strategi.
Peranan
strategi pengajaran lebih penting apabila guru mengajar siswa yang berbeda dari
segi kemampuan, pencapaian kecenderungan, serta minat. Hal tersebut karena guru
harus memikirkan strategi pengajaran yang mampu memenuhi kaperluan semua siswa.
Di sini, guru tidak saja harus menguasai berbagai kaidah mengajar, tetapi yang
lebih penting adalah mengintegrasikan serta menyusun kaidah-kaidah itu untuk
membentuk strategi pengajaran yang paling berkesan dalam pengajarannya.
Kaidah-kaidah
mengajar harus diatur untuk membentuk strategi pengajaran yang paling baik
bergantung kepada situasi dan kondisi tempat proses pengajaran itu berlaku.
Jelasnya, suatu kaidah pengajaran tidak mencapai tjuan pengajaran, tetapi yang
lebih penting adalah interaksi kaidah itu dengan kaidah-kaidah lain.
Dalam
era industri, bangsa Indonesia bertekad untuk mengembangkan budaya belajar
menjadi persyaratan berkembangnya budaya ilmu pngetahuan dan teknologi (iptek)
akan tetapi, dalam mengembangkan budaya tersebut, perlu diupayakan dan
diwujudkan cara dan bentuk belajar yang dapat diterapkan. Hal ini karena secara
tersirat, persoalan-persoalan itu seharusnya
menjadi rujukan dalam membahas masalah-masalah belajar.
Sebagaian
besar metode dan suasana pengajaran di sekolah-sekolah yang digunakan para
guru, tampaknya lebih banyak menghambat dalam memotivasi potensi otak.
Misalnya, seorang peserta didik hanya disiapkan sebagai seorang anak yang mampu
mendengarkan, mau menerima seluruh informasi, dan mentaati segala perlakuan
gurunya. Budaya dan mental yang seperti ini, pada gilirannya membuat siswa
tidak mampu mengaktivasi kemampuan otaknya sehingga mereka tidak memiliki
keberanian menyampaikan pendapat, lemah penalaran, dan bergantung kepada orang
lain.
Tugas
guru dalam rangka optimalisasi proses belajar mengajar adalah sebagai
fasilitator yang mampu mengembangkan kemauan belajar siswa, menegmbangkan
kondisi belajar yang relevan agar tercipta suasana belajar secara wajar dengan
penuh kegembiraan, dan mengadakan pembatasan positif terhadap dirinya sebagai
seorang guru. Jadi, metode pembelajaran merupakan salah satu faktor atau
komponen pendidikan yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu pmbelajaran.
Seorang
guru harus bisa membimbing, mengarahkan, dan menciptakan kondisi belajar siswa.
Untuk mencapai hal tersebut, ia harus mengurangi metode ceramah dan mulai
mengembangkan metode lain yang dapat mengembangkan siswa secara aktif.
Metode
debat merupakan salah satu pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan
kemampuan akademik siswa. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Melakukan
perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan tiap-tiap kelompok yang
diberikan kepada guru. Selanjutnya guru
mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi dan mengevaluasi seberapa
efektif siswa terlibat dalam prosedur.
Agar
semua model berhasil seperti yang diharapkan, model pembelajaran harus
melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membatu dan mendukung
ketika mereka belajar.
Pada
hakikatnya, pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa.
Komunikan pada proses pembelajaran adalah siswa, sedangkan komunikatornya
adalah guru dan siswa. Jika siswa menjadi komunikator terhadap siswa lainnya
dan guru sebagai fasilitator akan terjadi proses interaksi dengan kadar
pembelajaran yang tinggi. Seorang guru harus menyadari bahwa proses komunikasi
tidak dapat berjalan dengan lancar, bahkan proses komunikasi dapat menimbulkan
kebingungan, salah pengertian, bahkan salah konsep.
Untuk
menghindari atau mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya salah
komunikasi, diperlukan alat bantu seperti sarana atau media yang dapat membantu
proses komunikasi.
Media
adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Gerlach dan Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar
adalah manusia adalah materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat
siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengalaman.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Belajar mengajar pada hakikatnya merupakan
suatu proses, yaitu proses mengatur dan mengorganisasikan lingkungan yang ada
di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan
proses belajar.
Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya (Slameto, 2003: 2). Perubahan itu bersifat relatif konstan dan
berbekas.
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia
berarti paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat
pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi
kita sendiri. Sebagai landasan paradigma pembelajaran, konstruktivisme
menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya
pengembangan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampuan untuk
mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Teori pembelajaran konstruktivisme
merupakan teori pembelajaran kognitif yang baru dalam psikologi pendidikan yang
menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi
kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya
apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi.
Prinsip-prinsip konstruktivisme yang
diterapkan dalam proses belajar mengajar yaitu, (1) pengetahuan dibangun oleh
siswa sendiri, (2) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid,
kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar, (3) murid aktif
megkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
ilmiah, (4) guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses
kontruksi berjalan lancar, (5) struktur pembelajaran seputar konsep diutamakan
pada pentingnya sebuah pertanyaan, (6) mencari dan menilai pendapat siswa, (7)
menyesuaikan bahan pengajaran untuk menanggapi anggapan siswa.
Ciri-ciri pembelajaran yang
konstruktivis yaitu, (1) pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan yang telah ada sebelumnya, (2) belajar adalah merupakan penafsiran
personal tentang dunia, (3) belajar merupakan proses yang aktif dimana makna
dikembangkan berdasarkan pengalaman, (4) pengetahuan tumbuh karena adanya
perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu
pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Upaya
membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan
masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakter manusia yang dikehendaki
tersebut adalah manusia-manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung
jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek
potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan dari sendiri
dan menjadi diri sendiri. Manusia akan mencari dan menggunakan hal-hal atau
peralatan yang dapat membantu memahami pengalamannya. Teori konstruktivisme
berkaitan dengan pemahaman tentang pengetahuan, proses mengkonstruksi
pengetahuan, serta hubungan antara pengetahuan, realitas, dan kebenaran. Secara
konseptual, proses belajar jika dipandang dari pndekatan kognitif, bukan
sebagai prolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri
siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya
melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur
kognitifmya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada
segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas.
Penerapan
teori konstruktivisme dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilihat
dari seberapa besarkah pengetahuan awal atau pengalaman siswa tersebut dalam
memahami materi yang akan dipelajarinya nanti. Oleh karena itu, untuk
kelancaran teori konstruktivisme ini dalam dalam penerapan/pengaplikasiannya,
maka pada proses pembelajarannya juga perlu menggunakan strategi, metode,
model, media, serta pendekatan yang tepat. Hal ini, diharapkan agar tujuan
akhir dari prosespembelajaran tersebut dapat tercapai dengan baik dan tepat
sasaran.
B. Saran
Sebagai seorang tenaga
pendidik sebaiknya mengetahui metode dan teori-teori belajar apa saja yang
cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran. Untuk itu bagi kita yang
sebagai calon tenaga pendidik banyak-banyaklah mencari tahu dan mempelajari
mengenai metode an teori-teori belajar dalam proses pembelajaran, agar nantinya
ketika kita sudah menjadi seorang tenaga pendidik kita dapat mengajar
siswa-siswi kita dengan sangat baik melalui metode dan teori-teori belajar yang
tepat.
Daftar Pustaka
Hamdani.
2010. Strategi Belajar Mengajar.
Bandung: CV Pustaka Setia
Trianto.
2011. Model Pembelajaran Terpadu.
Jakarta: PT Bumi Aksara
Kosasih,
E. 2010. Pendekatan Berbasis Kecakapan
Hidup dan Pembelajaran
Konstektual. Bandung: Kepala Balai Bahasa
(Diakses
pukul 10.00 WIB, 18 Desember 2015)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar