Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR DAN PENGARUHNYA PADA PERKEMBANGAN TINGKAH LAKU MANUSIA
Makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Dosen Pengampu : Haerudin  M,Pd
Di susun oleh :
LINDAWATI (1388201090)
Kelas : A.2
Semester : V (Lima)

Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tahun 2015



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Belajar seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelengaraan proses belajar mengajar. Melalui belajar seseorang dapat memahami suatu konsep yang baru, mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan keterampilan.
Teori Belajar dimunculkan oleh para psikolog pendidikan setelah mereka mengalami kesulitan dalam menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Banyak teori belajar yang menginspirasi dan mendasari lahirnya macam-macam strategi pembelajaran yang memuat teori behavioristik, teori kongitivistik, teori humanistik, teori kontruktivistik. Kegiatan atau tingkah laku belajar teridiri dari kegiatan pshikis dan fisik yang saling bekerjasama secara terpadu dan komprehensif. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai teori humanistik.
  1. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini dianatarannya :
1.      Apa itu pengertian teori humanuistik ?
2.      Bagaimana pandangan para ahli konstruktivistik ?
3.      Bagaimana hubungan teori dengan manusia ?
  1. Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini dapat membantu pembaca yang mungkin akan menjadi seorang pendidik, tentunya dituntut untuk memahami teori-teori belajar dalam proses belajar mengajar. Dengan mempelajari teori belajar bahasa, para pendidik atau calon pendidik dapat meningkatkan cara pemebelajran yang baik sehingga tercipta mutu pendidikian itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
  1. ALIRAN BEHAVIORISTIK
Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah laku, tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Para ahli yang banyak berkarya dalam aliran ini antara lain: Thorndike (1911) Watson (1963) Hull(1943) Skinner(1968).
a.       Thorndike
Menurut Thorndike (1911) salah seorang pendiri aliran tingkah laku, belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respon (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya menurut Thorndike perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati) atau yang nonkonkret (tidak bisa diamati).
Meskipun thorndike tidak menjelaskan bagaimana caranya mengukur bagaimana cara mengukur bebagai tingkah laku yang nonkonkret (pengukuran adalah satu hal yang menjadi obsesi semua penganut aliran tingkah laku) tetapi teori thorndike telah banyak memberikan inspirasi kepada pakar lain yang datang sesudahnya. Teori thorndike disebut sebagai “aliran koneksionis” (connectionism).
b.      Watson
Berbeda dengan Thorndike menurut Watson pelopor yang datang sesudah
Thorndike stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang “bisa di amati”(observable). Dengan kata lain Watson mengabaikan berbagai perubahan mental yang  mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak siswa tidak penting. Semua itu penting. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.
Hanya dengan asumsi demikianlah, menurut Watson dapat diramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada siswa. hanya dengan demikian pulalah psikologi dan ilmu tentang belajar dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empiris.
c.       Clark Hull
Clark Hull (1943) mengemukakan konsep teorinya yang sangat diopengaruhi oleh teori evaluasinya Charles Darwin. Bagi Hull tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup. Oleh karena itu dalam teori Hull, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral. Menurut Hull (1943-1952) kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive) seperti lapas,haus,tidur hilangnya rasa nyeri, dan sebagainya.
d.      Edwin Guthrie
Edwin Guthrie mengemukakan teori kontinguiti yang memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu. Selanjutnya Edwin Guthrie berpendirian bahwa hubungan antara stimulus dengan respon merupakan faktor kritis dalam belajar.
e.       Skinner
Skinner (1968) yang datang kemudian merupakan penganut paham neobehavioris yang mengalihkan dari laboratorium ke praktik kelas. Skinner mempunyai pendapat lain lagi, yang ternyata mampu mengalahkan pamor teori-teori Hull dan Guthrie.hal ini mungkin kmarena kemampuan Skinner dalam “menyederhanakan” kerumitan teorinya serta menjelaskan konsep-konsep yang ada dalam teorinya tersebut.


  1. ALIRAN KOGNITIFISTIK
Teori belajar merupakan sesuatu teori belajar yang lebih memnetingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Namun lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Teori ini sangat erat hubungannya dengan teori sibernetik.
Pada masa-masa awal teori ini diperkenalkan para ahli mencoba menjelaskan bagaimana siswa mengolah stimulus, dan abgaimana siswa tersebut bisa sampai ke respon tertentu (pengaruh aliran tingkah laku masih terlihat disini)namun lambat laun perhatian ini mulai bergeser. Saat ini perhatian mereka berpusat pada proses bagaimana suatu ilmu yang berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah diketahui oleh siswa.
Menurut teori ini pengethauan dibangun dalam diri seseorang individu melalui proses interkasi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan patah-patah, terpisah-pisah tetapi melalui proses yang mengalir bersambung-sambung menyeluruh.
a.       Plaget
Menurut Jean Piget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat, bahwa prose belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan yakni (1) asimilasi (2) akomodasi (3)equilibrasi (penyeimbangan) adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke strukturkognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur  kogniitf ke dalam situasi baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Proses belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori motor tentu lain dengan yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (praoperasional) dan lain lagi yang dialami oleh siswa lain yang telah smapi ke tahap yang lebih tinggi (operasional konkret dan operasional formal). Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang semakin teratur(dan juga semakin abstrak)cara berpikirnya.
b.      Brunner
Brunner(1960) mengusulkan teroinya yang disebut free discovery learnig) menurut teori ini prose belajar akan belajar dengan baik dan kreatif  jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan sauatu aturan (termasuk konsep, teroi, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili)aturan yang menjadi sumbernya. Dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum.


  1. ALIRAN TEORI HUMANISTIK
A.    Pengertian Teori Humanistik
Menurut Gagne dalam Soemanto (1999:238) mengemukakan bahwa teori belajar humanistik adalah  pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang dihendaki secara sosial dan pemerolehan pengetahuan yang luas dalam strategi berpikir yang luas.
Teori ini berpandangan bahwa perilaku manusis itu ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internal, dan bukan oleh faktor lingkungan. Keberhasilan siswa dalam belajar tidak ditentukan oleh guru atau faktor eksternal lainnya, akan tetapi oleh siswa itu sendiri. Aliran ini percaya bahwa dorongan untuk belajar akan timbul dari dalam diri sendiri.
c.       Teori Belajar Humanistik Menurut Para Ahli
Bagi penganut teori humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia. Dari teori-teori belajar seperti behavioristic, kognitif dan konstruktivistik, teori inilah yang paling abstrak yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Pada kenyataannya teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dan bentuknya yang palin ideal daripada belajar seperti apa yang biasa diamati dalam dunia keseharian. Karena itu teori ini bersifat ekletik, artinya teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri) dapat tercapai. Sebagai contoh teori belajar bermakna ausubel (meaning fuul learning) dan taksonomi tujuan belajar Blooom dan Krtahwohl diusulkan sebagai pendekatan yang dapat dipakai oleh aliran humanistic (padahal teori-teori tersebut juga dimasukkan dalam aliran kognitif) emapat pakar lain yanhg termasuk ilmuan kubu humanistik adalah Kolb, Honey, Mumford, Hubermas, Cari Rogers.
v  Bloom dan Krathwohl
Blom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa tercakup dalam tiga kawasan yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik (telah dibahas dalam bab I halaman 8-12). Taksonomi Bloom telah berhasil memberi inspirasi kepada banyak pakar lain utnuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk merumuskan tujuan-tujuan belajar dalam bahasa yang mudah diapahami operasional serta dapat diukur. Selain itu, teori Bloom juga bnayk dijadikan pedoman untuk emmbuat butir-butir soal ujian bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.
v  Kolb
Sementara, Kolb membagi tahapan belajar dalam empat tahap yaitu sebagai berikut :
a.       Pengalaman konkret : pada tahap dini, seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian, ia belum mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperi itu. Inilah yang terjadi pada tahap awal proses belajar.
b.      Pengamatan aktif dan relektif : siswa lambat laun mampu mengadakan pengamatan aktif terhadap kejadian itu, serta mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
c.       Konseptualisasi : siswa mulai belajar membuat abstraksi atau “teori” tentang hal yang pernah diamatinya. Pada tahapan ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum (generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda tetapi mempunyai landasan yang sama.
d.      Eksperimentasi aktif : pada tahap ini siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke situasi yang baru. Dalam dunia matematika, misalnya siswa tidak hanya memahami asal-usul sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Menurut Kolb siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa. meskipun dalam teorinya dapat dibuat garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun seringkali terjadi begitu sja, sulit ditentukan kapan beralihnya.
v  Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb, Honey dan Mumford menggolongkan siswa atas empat tipe yaitu sebagai berikut :
a.       Siswa tipe aktivis : siswa yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog, namun biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu, atau identic dengan sikap mudah percaya. Mereka menyukai metode yang mampu mendorong menemukan hal-hal baru seperti brainstorming dan problem selving.
b.      Siswa tipe reflector : cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan cenderung konservatif, dalam arti suka menimbang-menimbang secara cermat baik buruknya suatu keputusan.
c.       Siswa tipe teoris : biasanya sangat kritis, senang meganalisis dan tidak meyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Bagi mereka berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka juga sangat skeptic dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif.
d.      Siswa tipe pragmatis : menaruh perhatian besar pada aspek-aspek  praktis dalam segala hal, mereka tidak suka berlama-lama membahas aspek teoritis-filosofis dari sesuatu. Bagi mereka sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bisa dipraktikan.
v  Habermas
Pada perspektif  yang lain seperti dalam pandangan Habermas, belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Habermas membagi tiga macam tipe belajar yaitu sebagai berikut :
a.      Technical learning : (belajar tekins) siswa belajar berinteraksi debgab alam-alam sekelilingnya mereka berusah menguasai dan mengelola alam dengan mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
b.      Practical learning (belajar praktis) pada tahap ini siswa berinteraksi dengan orang-orang di kelilingnya. Pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagi suatu pemahaman yang kering dan terlepas kaitannya dengan manusia, pemahamannya justru relevan jika berkaitan dengan kepentingan manusia.
c.       Emancipatory learning (belajar emansipatoris) siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkaran. Pemahaman ini dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi karena dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.
v  Carl Rogers
Carl Rogers mengemukakan bahwa siswa yang belajar hendaknya tidak dipaksa, melainkan dibiarkan belajar bebas, siswa diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri dan berani bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya sendiri. Dalam konteks tersebut Rogers mengemukakan lima hal penting dalam proses belajar humanistik yaitu sebagai berikut :
a.       Hasrat untuk belajar : hasrat untuk belajar disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang teruas menerus terhadap dunia sekelilingnya. Dalam proses mencari jawabnay seseorang mengalami aktivitas-aktivitas belajar.
b.      Belajar bermakna : seseorang yang berativitas akan selalu menimbang-menimbang apakah aktivitas tersebut mempunyai makna bagi dirinya. Jika tidak, tentu tuidak akan dilakukannya.
c.       Belajar tanpa hukuman : belajar yang terbebas dari ancaman hukuman mengakibatkan anak bebas melakukan apa saja megadakan eksperimentasi hingga menemukan sendiri sesuatu yang baru.
d.      Belajar dengan inisiatif sendiri : menyiratkan tingginya motivasi internal yang dimiliki. Siswa yang berbanyak berinisiatif mampu mengarahkan dirinya sendiri, menen tukan pilihannya sendiri serata berusaha menimbang sendiri hal yang baik bagi dirinya sendiri.
e.       Belajar dan perubahan : dunia terus berubah karena itu siswa harus belajar untuk dapat menghadapi kondisi dan situasi yang terus berubah. Dengan demikian belajar yang hanya sekedar mengingat fakta atau menghafal sesuatu dipandang tak cukup.
v  Abraham Maslow
Teori Maslow yang sangat terkenal adalah teori kebutuhan. Kebutuhan pada diri manusia selalu menuntut pemenuhan dimulai dari tahapan yang paling dasar secara hierarkis menuju kepada kebutuhan yang paling tinggi tahapan-tahapan kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Physiological needs :kebutuhan fisiologis adalah kebutuihan akan makan dan minum, pakaian dan tempat tinggal termasuk juga kebutuhan biologis. Disebut sebagai kebutuhan paling dasar karena dibutuhkan semua makhluk hidup termasuk manusia.
b.      Safetylsecurity needs : kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan psikis, aman secara fisik, seperti terhindar dari gangguan kriminalitas, teroris, binatang buas, orang lain, tempat yang tidak aman dan sebagainya.
c.       social needs : kebutuhan sosial dibutuhkan manusia agar ia dianggap sebagai warga komunitas sosialnya. Bagi siswa agar belajar dengan baik ia harus merasa diterima dengan baik oleh teman-temannya.
d.      Esteem needs : kebutuhan ego termasuk keinginan untuk berprestasi dan memiliki prestise. Seseorang membutuhkan kepercayaan dan tanggung jawab dari orang lain.
e.       Self actualization needs : kebutuhan aktualisasi adalah kebutuhan untuk membuktikan dan menunjukkan diri kepada orang lain. Pada tahap seseorang mengembangkan secara maksimal mungkin potensi yang dimilikinya.
Terhadap teori humanistik ini, terdapat sejumlah kritik dan diajukan. Kritik tersebut antara lain karena sifatnya yang terlalu deskriftif dan sulit diterjemahkan dalam langkah-langkah yang praktis dan konkret.namun karena sifatnya yang deskriftif teori ini cenderung memberi arah dan proses belajar. Tujuan pendidikan seharusnya bersifat ideal dan teori humanis inilah yang menjelaskan bagaimana tujuan ideal itu seharusnya.
d.      Prinsip-prinsip Belajar Berdasarkan Teori Humanistik
Prinsip-prinsip dalam teori belajar humanistic sebagai berikut :
1.      Manusia mempunyai dororangan untuk belajar, dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi dan mengasimilasi pengalaman baru.
2.      Belajar akan bermakna, apabila yang dipelajari itu relevan dengan kebutuhan anak.
3.      Belajar diperkuat dengan jalan mengurangi ancaman eksternal seperti hukumanm, sikap merendahkan murid, mencemoohkan, dan sebagainya.
4.      Belajar  dengan inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi, baik intelektual maupun perasaan.
5.       Sikap  berdiri sendiri, kreativitas dan percaya diri diperkuat dengan penilaian diri sendiri. Penilaian dari luar merupakan hal yang sekunder.           
Peranan guru dalam proses belajar berdasarkan teori psikologi humanistik adalah sebagai berikut :
1.      Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap belajar.
2.      Membantu siswa mengklasifikasikan tujuan belajar, dan guru memberikan kesempatan secara bebas kepada siswa untuk menyatakan apa yang hendak dan ingin mereka pelajari.
3.      Membantu siswa mengembangkan dorongan dan tujuannya sebagai kekuatan untuk belajar.
4.      Menyediakan sumber-sumber belajar, termasuk juga menyediakan dirinya sebagai sumber belajar bagi siswa.
Guru berdasarkan psikologi humanistik harus mampu menerima siswa sebagai seorang yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan mampu mengembangkan dirinya secara utuh dan bermakana. Dengan demikian, teori belajar ini lebih menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam belajar.
d.      Aplikasi Psikologi Humanistik Pada Pendidikan
Guru-guru cenderung berpendapat bahawa pendidikan adalah warisan kebudyaan, pertanggungjawaban sosial, dan bahan pengajaran yang khusus. Mereka percaya bahwa maslah ini tidak dapat diserahkan begitu saja kepada siswa. Pada tipe ini guru memberikan tekanan akan perlunya seseuatu rencana pelajaran yang telah disiapkan dengan baik, materi yang tersusun dengan logis, dan tujan instruksional yang tertentu, dan mereka mempunyai kecendrungan untuk mencapai hasil yang telah ditentukan.



















BAB III
PENUTUP
  1. SIMPULAN
Teori-teori sangat berhubungan dengan tingkah laku manusia merupakan sutatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana peserta didik mampu mngembangkan potensi dirinya. Salah satu prinsip teori belajar humanistik bahwa manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. Artinya seseorang secara ilmiah memliki rasa ingin tahu dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi terhadap dunianya. Sesungguhnya seorang guru harus dapat berpartisipasi di dalam semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswanya sehingga mereka merasa diperhatikan oleh gurunya.
  1. Saran
Untuk makalah selanjutnya, akan lebih baik jika mengambil buku-buku referensi lebih banyak agar pengetahuan pembaca semakin luas mengenai Teori-teori belajar









DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu.2013.Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Siregar,Eveline.2014.Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor : Ghalih Indonesia
Tim Pengembangan MKDP.2013 Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Pt.RajaGrafindoPersada


Tidak ada komentar:

Posting Komentar