TEORI
BELAJAR DAN PENGARUHNYA PADA PERKEMBANGAN TINGKAH LAKU MANUSIA
Makalah
ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Dosen
Pengampu : Haerudin M,Pd
Di
susun oleh :
LINDAWATI
(1388201090)
Kelas
: A.2
Semester
: V (Lima)
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tahun 2015
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Belajar
seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam
upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan
belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelengaraan proses belajar mengajar.
Melalui belajar seseorang dapat memahami suatu konsep yang baru, mengalami
perubahan tingkah laku, sikap, dan keterampilan.
Teori
Belajar dimunculkan oleh para psikolog pendidikan setelah mereka mengalami
kesulitan dalam menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Banyak teori
belajar yang menginspirasi dan mendasari lahirnya macam-macam strategi
pembelajaran yang memuat teori behavioristik, teori kongitivistik, teori
humanistik, teori kontruktivistik. Kegiatan atau tingkah laku belajar teridiri
dari kegiatan pshikis dan fisik yang saling bekerjasama secara terpadu dan
komprehensif. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai teori
humanistik.
- Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang
terdapat dalam makalah ini dianatarannya :
1. Apa
itu pengertian teori humanuistik ?
2. Bagaimana
pandangan para ahli konstruktivistik ?
3. Bagaimana
hubungan teori dengan manusia ?
- Tujuan penulisan
Tujuan penulisan makalah ini dapat
membantu pembaca yang mungkin akan menjadi seorang pendidik, tentunya dituntut
untuk memahami teori-teori belajar dalam proses belajar mengajar. Dengan
mempelajari teori belajar bahasa, para pendidik atau calon pendidik dapat
meningkatkan cara pemebelajran yang baik sehingga tercipta mutu pendidikian itu
sendiri.
BAB
II
PEMBAHASAN
- ALIRAN BEHAVIORISTIK
Pandangan
tentang belajar menurut aliran tingkah laku, tidak lain adalah perubahan dalam
tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau
dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon. Para ahli yang banyak berkarya dalam
aliran ini antara lain: Thorndike (1911) Watson (1963) Hull(1943)
Skinner(1968).
a.
Thorndike
Menurut
Thorndike (1911) salah seorang pendiri aliran tingkah laku, belajar adalah proses
interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan)
dan respon (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya
menurut Thorndike perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret
(dapat diamati) atau yang nonkonkret (tidak bisa diamati).
Meskipun
thorndike tidak menjelaskan bagaimana caranya mengukur bagaimana cara mengukur
bebagai tingkah laku yang nonkonkret (pengukuran adalah satu hal yang menjadi
obsesi semua penganut aliran tingkah laku) tetapi teori thorndike telah banyak
memberikan inspirasi kepada pakar lain yang datang sesudahnya. Teori thorndike
disebut sebagai “aliran koneksionis” (connectionism).
b.
Watson
Berbeda
dengan Thorndike menurut Watson pelopor yang datang sesudah
Thorndike
stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang “bisa di amati”(observable). Dengan kata lain Watson
mengabaikan berbagai perubahan mental yang
mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang
tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam
benak siswa tidak penting. Semua itu penting. Akan tetapi, faktor-faktor
tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.
Hanya
dengan asumsi demikianlah, menurut Watson dapat diramalkan perubahan apa yang
bakal terjadi pada siswa. hanya dengan demikian pulalah psikologi dan ilmu
tentang belajar dapat disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperti fisika atau
biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empiris.
c.
Clark Hull
Clark
Hull (1943) mengemukakan konsep teorinya yang sangat diopengaruhi oleh teori
evaluasinya Charles Darwin. Bagi Hull tingkah laku seseorang berfungsi untuk
menjaga kelangsungan hidup. Oleh karena itu dalam teori Hull, kebutuhan
biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral. Menurut Hull
(1943-1952) kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive) seperti
lapas,haus,tidur hilangnya rasa nyeri, dan sebagainya.
d.
Edwin Guthrie
Edwin
Guthrie mengemukakan teori kontinguiti yang memandang bahwa belajar merupakan
kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu. Selanjutnya
Edwin Guthrie berpendirian bahwa hubungan antara stimulus dengan respon
merupakan faktor kritis dalam belajar.
e.
Skinner
Skinner
(1968) yang datang kemudian merupakan penganut paham neobehavioris yang
mengalihkan dari laboratorium ke praktik kelas. Skinner mempunyai pendapat lain
lagi, yang ternyata mampu mengalahkan pamor teori-teori Hull dan Guthrie.hal
ini mungkin kmarena kemampuan Skinner dalam “menyederhanakan” kerumitan
teorinya serta menjelaskan konsep-konsep yang ada dalam teorinya tersebut.
- ALIRAN KOGNITIFISTIK
Teori
belajar merupakan sesuatu teori belajar yang lebih memnetingkan proses belajar
daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini belajar tidak
sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Namun lebih dari itu
belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Teori ini sangat erat
hubungannya dengan teori sibernetik.
Pada
masa-masa awal teori ini diperkenalkan para ahli mencoba menjelaskan bagaimana
siswa mengolah stimulus, dan abgaimana siswa tersebut bisa sampai ke respon
tertentu (pengaruh aliran tingkah laku masih terlihat disini)namun lambat laun
perhatian ini mulai bergeser. Saat ini perhatian mereka berpusat pada proses bagaimana
suatu ilmu yang berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah diketahui oleh
siswa.
Menurut
teori ini pengethauan dibangun dalam diri seseorang individu melalui proses
interkasi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan patah-patah,
terpisah-pisah tetapi melalui proses yang mengalir bersambung-sambung
menyeluruh.
a.
Plaget
Menurut
Jean Piget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat, bahwa prose
belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan yakni (1) asimilasi (2) akomodasi
(3)equilibrasi (penyeimbangan) adalah proses penyatuan (pengintegrasian)
informasi baru ke strukturkognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi
adalah penyesuaian struktur kogniitf ke
dalam situasi baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara
asimilasi dan akomodasi.
Proses
belajar yang dialami seorang anak pada tahap sensori motor tentu lain dengan
yang dialami seorang anak yang sudah mencapai tahap kedua (praoperasional) dan
lain lagi yang dialami oleh siswa lain yang telah smapi ke tahap yang lebih
tinggi (operasional konkret dan operasional formal). Secara umum, semakin
tinggi tingkat kognitif seseorang semakin teratur(dan juga semakin abstrak)cara
berpikirnya.
b.
Brunner
Brunner(1960)
mengusulkan teroinya yang disebut free
discovery learnig) menurut teori ini prose belajar akan belajar dengan baik
dan kreatif jika guru memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan sauatu aturan (termasuk konsep, teroi, definisi,
dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili)aturan yang
menjadi sumbernya. Dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk
memahami suatu kebenaran umum.
- ALIRAN TEORI HUMANISTIK
A. Pengertian
Teori Humanistik
Menurut
Gagne dalam Soemanto (1999:238) mengemukakan bahwa teori belajar humanistik
adalah pengembangan nilai-nilai dan
sikap pribadi yang dihendaki secara sosial dan pemerolehan pengetahuan yang
luas dalam strategi berpikir yang luas.
Teori
ini berpandangan bahwa perilaku manusis itu ditentukan oleh dirinya sendiri,
oleh faktor internal, dan bukan oleh faktor lingkungan. Keberhasilan siswa
dalam belajar tidak ditentukan oleh guru atau faktor eksternal lainnya, akan
tetapi oleh siswa itu sendiri. Aliran ini percaya bahwa dorongan untuk belajar
akan timbul dari dalam diri sendiri.
c. Teori
Belajar Humanistik Menurut Para Ahli
Bagi
penganut teori humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada
manusia. Dari teori-teori belajar seperti behavioristic, kognitif dan
konstruktivistik, teori inilah yang paling abstrak yang paling mendekati dunia
filsafat daripada dunia pendidikan. Pada kenyataannya teori ini lebih banyak
berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling
ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar dan
bentuknya yang palin ideal daripada belajar seperti apa yang biasa diamati
dalam dunia keseharian. Karena itu teori ini bersifat ekletik, artinya teori
apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia” (mencapai
aktualisasi diri) dapat tercapai. Sebagai contoh teori belajar bermakna ausubel
(meaning fuul learning) dan taksonomi
tujuan belajar Blooom dan Krtahwohl diusulkan sebagai pendekatan yang dapat
dipakai oleh aliran humanistic (padahal teori-teori tersebut juga dimasukkan
dalam aliran kognitif) emapat pakar lain yanhg termasuk ilmuan kubu humanistik
adalah Kolb, Honey, Mumford, Hubermas, Cari Rogers.
v Bloom
dan Krathwohl
Blom
dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa
tercakup dalam tiga kawasan yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik
(telah dibahas dalam bab I halaman 8-12). Taksonomi Bloom telah berhasil
memberi inspirasi kepada banyak pakar lain utnuk mengembangkan teori-teori
belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini
telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk merumuskan tujuan-tujuan
belajar dalam bahasa yang mudah diapahami operasional serta dapat diukur.
Selain itu, teori Bloom juga bnayk dijadikan pedoman untuk emmbuat butir-butir
soal ujian bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.
v Kolb
Sementara,
Kolb membagi tahapan belajar dalam empat tahap yaitu sebagai berikut :
a.
Pengalaman konkret : pada tahap dini,
seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian, ia belum
mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperi itu. Inilah
yang terjadi pada tahap awal proses belajar.
b.
Pengamatan aktif dan relektif : siswa
lambat laun mampu mengadakan pengamatan aktif terhadap kejadian itu, serta
mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
c.
Konseptualisasi : siswa mulai belajar
membuat abstraksi atau “teori” tentang hal yang pernah diamatinya. Pada tahapan
ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum
(generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda
tetapi mempunyai landasan yang sama.
d. Eksperimentasi
aktif : pada tahap ini siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke
situasi yang baru. Dalam dunia matematika, misalnya siswa tidak hanya memahami
asal-usul sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk
memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Menurut Kolb
siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di
luar kesadaran siswa. meskipun dalam teorinya dapat dibuat garis tegas antara
tahap satu dengan tahap lainnya, namun seringkali terjadi begitu sja, sulit
ditentukan kapan beralihnya.
v Honey
dan Mumford
Berdasarkan
teori Kolb, Honey dan Mumford menggolongkan siswa atas empat tipe yaitu sebagai
berikut :
a.
Siswa tipe aktivis : siswa yang suka
melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikiran terbuka
dan mudah diajak berdialog, namun biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu,
atau identic dengan sikap mudah percaya. Mereka menyukai metode yang mampu
mendorong menemukan hal-hal baru seperti brainstorming
dan problem selving.
b.
Siswa tipe reflector : cenderung sangat
berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan cenderung
konservatif, dalam arti suka menimbang-menimbang secara cermat baik buruknya
suatu keputusan.
c.
Siswa tipe teoris : biasanya sangat
kritis, senang meganalisis dan tidak meyukai pendapat atau penilaian yang
sifatnya subjektif. Bagi mereka berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat
penting. Mereka juga sangat skeptic dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat
spekulatif.
d.
Siswa tipe pragmatis : menaruh perhatian
besar pada aspek-aspek praktis dalam
segala hal, mereka tidak suka berlama-lama membahas aspek teoritis-filosofis
dari sesuatu. Bagi mereka sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika
bisa dipraktikan.
v Habermas
Pada
perspektif yang lain seperti dalam
pandangan Habermas, belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan
lingkungan maupun dengan sesama manusia. Habermas membagi tiga macam tipe
belajar yaitu sebagai berikut :
a. Technical learning : (belajar
tekins) siswa belajar berinteraksi debgab alam-alam sekelilingnya mereka
berusah menguasai dan mengelola alam dengan mempelajari keterampilan dan
pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
b. Practical learning (belajar
praktis) pada tahap ini siswa berinteraksi dengan orang-orang di kelilingnya.
Pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagi suatu pemahaman yang kering
dan terlepas kaitannya dengan manusia, pemahamannya justru relevan jika
berkaitan dengan kepentingan manusia.
c. Emancipatory learning (belajar
emansipatoris) siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik
mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkaran.
Pemahaman ini dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi karena dianggap
sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.
v Carl
Rogers
Carl
Rogers mengemukakan bahwa siswa yang belajar hendaknya tidak dipaksa, melainkan
dibiarkan belajar bebas, siswa diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri dan
berani bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya sendiri.
Dalam konteks tersebut Rogers mengemukakan lima hal penting dalam proses
belajar humanistik yaitu sebagai berikut :
a.
Hasrat untuk belajar : hasrat untuk
belajar disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang teruas menerus
terhadap dunia sekelilingnya. Dalam proses mencari jawabnay seseorang mengalami
aktivitas-aktivitas belajar.
b.
Belajar bermakna : seseorang yang
berativitas akan selalu menimbang-menimbang apakah aktivitas tersebut mempunyai
makna bagi dirinya. Jika tidak, tentu tuidak akan dilakukannya.
c.
Belajar tanpa hukuman : belajar yang
terbebas dari ancaman hukuman mengakibatkan anak bebas melakukan apa saja
megadakan eksperimentasi hingga menemukan sendiri sesuatu yang baru.
d.
Belajar dengan inisiatif sendiri :
menyiratkan tingginya motivasi internal yang dimiliki. Siswa yang berbanyak
berinisiatif mampu mengarahkan dirinya sendiri, menen tukan pilihannya sendiri
serata berusaha menimbang sendiri hal yang baik bagi dirinya sendiri.
e.
Belajar dan perubahan : dunia terus
berubah karena itu siswa harus belajar untuk dapat menghadapi kondisi dan
situasi yang terus berubah. Dengan demikian belajar yang hanya sekedar
mengingat fakta atau menghafal sesuatu dipandang tak cukup.
v Abraham
Maslow
Teori
Maslow yang sangat terkenal adalah teori kebutuhan. Kebutuhan pada diri manusia
selalu menuntut pemenuhan dimulai dari tahapan yang paling dasar secara
hierarkis menuju kepada kebutuhan yang paling tinggi tahapan-tahapan kebutuhan
tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Physiological
needs :kebutuhan fisiologis adalah kebutuihan akan makan
dan minum, pakaian dan tempat tinggal termasuk juga kebutuhan biologis. Disebut
sebagai kebutuhan paling dasar karena dibutuhkan semua makhluk hidup termasuk manusia.
b.
Safetylsecurity
needs : kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan psikis,
aman secara fisik, seperti terhindar dari gangguan kriminalitas, teroris,
binatang buas, orang lain, tempat yang tidak aman dan sebagainya.
c.
social
needs : kebutuhan sosial dibutuhkan manusia agar ia dianggap
sebagai warga komunitas sosialnya. Bagi siswa agar belajar dengan baik ia harus
merasa diterima dengan baik oleh teman-temannya.
d.
Esteem
needs : kebutuhan ego termasuk keinginan untuk berprestasi
dan memiliki prestise. Seseorang membutuhkan kepercayaan dan tanggung jawab
dari orang lain.
e.
Self
actualization needs : kebutuhan aktualisasi adalah kebutuhan
untuk membuktikan dan menunjukkan diri kepada orang lain. Pada tahap seseorang
mengembangkan secara maksimal mungkin potensi yang dimilikinya.
Terhadap teori
humanistik ini, terdapat sejumlah kritik dan diajukan. Kritik tersebut antara
lain karena sifatnya yang terlalu deskriftif dan sulit diterjemahkan dalam
langkah-langkah yang praktis dan konkret.namun karena sifatnya yang deskriftif
teori ini cenderung memberi arah dan proses belajar. Tujuan pendidikan
seharusnya bersifat ideal dan teori humanis inilah yang menjelaskan bagaimana
tujuan ideal itu seharusnya.
d. Prinsip-prinsip
Belajar Berdasarkan Teori Humanistik
Prinsip-prinsip dalam teori belajar humanistic
sebagai berikut :
1. Manusia
mempunyai dororangan untuk belajar, dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi
dan mengasimilasi pengalaman baru.
2. Belajar
akan bermakna, apabila yang dipelajari itu relevan dengan kebutuhan anak.
3. Belajar
diperkuat dengan jalan mengurangi ancaman eksternal seperti hukumanm, sikap
merendahkan murid, mencemoohkan, dan sebagainya.
4. Belajar dengan inisiatif sendiri akan melibatkan
keseluruhan pribadi, baik intelektual maupun perasaan.
5. Sikap
berdiri sendiri, kreativitas dan percaya diri diperkuat dengan penilaian
diri sendiri. Penilaian dari luar merupakan hal yang sekunder.
Peranan
guru dalam proses belajar berdasarkan teori psikologi humanistik adalah sebagai
berikut :
1. Membantu
menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap belajar.
2. Membantu
siswa mengklasifikasikan tujuan belajar, dan guru memberikan kesempatan secara
bebas kepada siswa untuk menyatakan apa yang hendak dan ingin mereka pelajari.
3. Membantu
siswa mengembangkan dorongan dan tujuannya sebagai kekuatan untuk belajar.
4. Menyediakan
sumber-sumber belajar, termasuk juga menyediakan dirinya sebagai sumber belajar
bagi siswa.
Guru
berdasarkan psikologi humanistik harus mampu menerima siswa sebagai seorang
yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan mampu mengembangkan
dirinya secara utuh dan bermakana. Dengan demikian, teori belajar ini lebih
menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam belajar.
d. Aplikasi
Psikologi Humanistik Pada Pendidikan
Guru-guru
cenderung berpendapat bahawa pendidikan adalah warisan kebudyaan, pertanggungjawaban
sosial, dan bahan pengajaran yang khusus. Mereka percaya bahwa maslah ini tidak
dapat diserahkan begitu saja kepada siswa. Pada tipe ini guru memberikan
tekanan akan perlunya seseuatu rencana pelajaran yang telah disiapkan dengan
baik, materi yang tersusun dengan logis, dan tujan instruksional yang tertentu,
dan mereka mempunyai kecendrungan untuk mencapai hasil yang telah ditentukan.
BAB
III
PENUTUP
- SIMPULAN
Teori-teori sangat berhubungan
dengan tingkah laku manusia merupakan sutatu teori dalam pembelajaran yang
mengedepankan bagaimana peserta didik mampu mngembangkan potensi dirinya. Salah
satu prinsip teori belajar humanistik bahwa manusia itu mempunyai kemampuan
belajar secara alami. Artinya seseorang secara ilmiah memliki rasa ingin tahu
dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi terhadap dunianya.
Sesungguhnya seorang guru harus dapat berpartisipasi di dalam semua kegiatan
yang dilakukan oleh siswa-siswanya sehingga mereka merasa diperhatikan oleh
gurunya.
- Saran
Untuk makalah selanjutnya, akan lebih baik jika
mengambil buku-buku referensi lebih banyak agar pengetahuan pembaca semakin
luas mengenai Teori-teori belajar
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu.2013.Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka
Cipta
Siregar,Eveline.2014.Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor :
Ghalih Indonesia
Tim
Pengembangan MKDP.2013 Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta:Pt.RajaGrafindoPersada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar