PENGGUNAAN TEORI
BELAJAR KOGNITIVISTIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI DALAM MENGAJAR
Makalah
ini dibuat untuk melengkapi tugas
Teori
Belajar Bahasa
Dosen:
Haerudin, M.Pd
Irma Afriyani
Semester/Kelas:
V(lima)/ A.2
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN
AKADEMIK 2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahnya
sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah
ini saya selesaikan sebagai salah satu syarat tugas mata kuliah “Teori Belajar
Bahasa” dan sebagai panduan dalam
mempelajari materi-materi yang terdapat di dalamnya.
Makalah
ini saya buat bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang
bermanfaat bagi para pembaca, khususnya mahasiswa dan mahasiswi Universitas
Muhammadiyah Tangerang.
Dalam
kesempatan kali ini, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberikan motivasi untuk menyelesaikan makalah ini :
1. Kepada
Bapak Haerudin, M.Pd selaku Dosen Matakuliah Teori Belajar Bahasa
2. Keluarga
dan teman-teman yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.
Apabila
terdapat kesalahan dalam pembuatan
makalah ini, saya mohon maaf. Saran dan kritik yang membangun saya
harapkan dari para pembaca agar dalam pembuatan makalah yang selanjutnya akan
lebih baik.
Tangerang, Desember 2015
Penyusun
i
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
…...………...…..………………………………… ……..i
DAFTAR ISI
………………………… ………...…..……..…….…………….....ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ………………………… …….…….…………………....1
B. Rumusan
Masalah …………..… …..…………………………………….1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Teori Kognitivistik …………………..……………………….3
B. Tokoh-tokoh
Teori Kognitivistik …………..….…….…………….……..3
C. Teori-teori
Belajar Kognitif …………….… …...………………………..6
D. Teori
Pendekatan Kognitif ………….…………………………………....8
E. Tujuan
Pembelajaran kognitif ………………………………………...…10
F. Kelebihan
dan Kelemahan ………………………………….…………...11
G. Metode
Mengajar Menggunakan Metode Diskusi ……………………...11
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan
………………………….………...………………………...13
B. Saran
……………………………..……...……………..… …….............13
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar
seharusnya tidak akan pernah terpisah bagi mausia, karena belajar sangat
penting dan belajar itu kebutuhan manusia dalam mempertahanka hidup dan
mengembagkan diri manusia. Dalam belajar seseorang akan mengalami perubahan
tingkah laku, sikap, dan mental yang baik. Seiring berjalannya waktu belajar
akan mengikuti perkembangan zaman, namun adakalanya teori mempuyai kelemahan.
Banyak
macam-macam teori yang harus kita perhatikan atau kita pelajari, yatu, teori,
behavioristik, kognitivistik, dan lain-lain. Dimakalah ini kita membahas
tentang teori kognitivistik lebih menekankan bahwa belajar banyak ditentukan
karena adanya usaha dari setiap individu dalam upaya menggali ilmu pengetahuan
melalui dunia pendidikan. Dengan kata lain pendidik harus lebih meilih dalam
menggunakan metode-metode pembelajaran. Pada teori ini siswa lebih aktif dalam
proses belajar. Untuk itu metode yang sesuai dengan teori belajar kognitivistik menggunakan
metode diskusi sehingga hasil dari pebelajaran tercapai dengan baik.
Banyaknya
tokoh-tokoh yang terlibat dalam teori kognitivistik, Gagne, Piaget, Ausubel,
dan Bruner. Dalam tokoh tersebut mereka mempunyai pengertian masing-masing.
Tidak hanya itu, di makalah ini teori kognitivistik ada dua yang pertama ada
teori Gestalt, Menurut teori Gestalt, belajar adalah
proses mengembagkan insight. Dan yang
kedua teori Medan, teori medan menganggap bahwa belajar adalah proses pemecahan
masalah.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah dalam
makalah ini sebagai berikut.
1.
Apa pengertian dari teori belajar
kognitivistik ?
2.
Siapa tokoh-tokoh yang ada dalam teori
kognitivistik ?
3.
Apa pengertian dari teori Gestalt dan
teori Medan ?
4.
Bagaimana pendekatan kognitivistik ?
5.
Apa tujuan dari kognitivistik ?
6.
Bagaimana metode mengajar ketika
menggunakan metode diskusi?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui teori belajar
kognitivistik.
2.
Untuk mengetahui siapa saja tkoh-tokoh
yang ada dalam teori kognitistik.
3.
Untuk mengetahui pengertian dari teori
Gestalt dan teori Medan.
4.
Untuk mengetahui pendekatan
kognitivistik.
5.
Untuk mengetahui tujuan dari
kognitivistik.
6.
Untuk mengetahui metode mengajar ketika
menggunakan metode diskusi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teori Belajar Kognitivistik
Menurut Siregar (2010:30) Teori Kognitivistik adalah ilmu
pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang
berkesinambung dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah,
tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat
seseorag yang memainkan musik, tidak hanya memahami not-not balok pada partitur
sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tapi sebagai satu
kesatuan yang secara utuh masuk ke dalam pikiran dan perasaan. Teori ini lebih
menekankan proses belajar daripada hasil belajar. Bagi penganut aliran
kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan antara stimulus dan respon.
Lebih dari itu belajar melibatkan proses berfikir secara kompleks.
Menurut psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai suatu usaha
untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan
itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah,
mencermati lingkungan, mempraktikan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
B.
Tokoh-tokoh Teori Kognitivistik
Menurut Robert M. Gagne dalam Siregar (2010:31), teori ini belajar
dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan
otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Receptor
(alat-alat indera) menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi
rangsangan neural, memberikan simbol-simbol informasi yang diterimanya.
2.
Sensory register
(penampungan kesan-kesan sensoris) yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya
menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi, sehingga terbentuk suatu
kebulatan perseptual (persepsi selektif).
3.
Short-term memory
( memori jangka pendek) menampung hasil pengolahan perseptual dan menyimpannya.
Informasi tertentu disimpan lebih lama dan diolah untuk menentukan makna.
4.
Long-term memory
(memori jangka panjang) menampung hasil dalam jangka pendek. Informasi disimpan
dalam jangka panjang dan bertahan lama, siap untuk dipaka bila diperlukan.
5.
Respon generator
(pencipta respon) menampung informasi yang tersimpa dalam memori jangka panjang
dan mengubahnya dalam reaksi jawaban.
Menurut psikologi kognitif, reinforcement
sangat penting juga dalam belajar, meskipun alasan yang dikemukakan berbeda
dengan psikolog behavioristik. Menurut psikologi behavioristik, reinforcement berfungsi sebagai penguat
respons atau tingkah laku, sementara menurut psikologi kognitif disebut sebagai
(feedback), mengurangi keragu-raguan
hingga mengarah kepada pemahaman.
Menurut Jean Piaget dalam Siregar (2010:32), proses belajar
sebenarnya terdiri dari tiga tahapan yakni, asimilasi, akomodasi, dan
equilibrasi (penyeimbangan). Asimilasi adalah proses pengintegrasian informasi
baru ke struktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi adalah proses penyesuaian
dalam situasi yang baru. Sedangkan Equilibrasi adalah penyesuain kesinambung
antara asimilasi dan akomodasi. Sebagai contoh, seseorang siswa yang sudah
mengetahui prinsip perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara
prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian ( sebagai informasi
yang baru), inilah yang dinamakan proses asimilasi. Jika siswa diberi soal
perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, dalam hal ini berarti penerapan
prinsip berkembang dan menambah ilmunya, tapi sekaligus menambah mental dalam
dirinya. Proses yang disebut equilibrasi, penyeimbangan antara dunia luar dan
dalam. Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorag akan tersendat –sendat
dan berjalan tidak teratur.
Menurut Ausubel (dalam Siregar 2010:33), adalah siswa akan belajar
dengan baik jika isi pelajaran (instruction
content) sebelumnya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik
dan tepat kepada siswa (advance organizers).
Dengan demikian, akan mempengaruhi belajar siswa. Advance organizers adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi
semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Advance organizers dapat memberikan tiga macam manfaat: 1).
Menyediakan sesuatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajarinya.
2). Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang
dipelajarinya dan yang akan dipelajarinya. 3). Dapat membantu siswa untuk
memahami bahan belajar secara lebih mudah. Untuk itu, pengetahua guru terhadap
isi pembelajaran harus sangat baik, dengan demikian ia akan mampu menemukan
informasi yang sangat abstrak, umum dan inklusif yang mewadahi apa yang akan
diajarkan.
Menurut Buner (dalam Siregar 2010:33) mengusulkan teori yang disebut
free discovery learning. Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar mengajar
akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan
sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarka (mewakili) aturan yang
menjadi sumbernya. Siswa dibimbing secara induktif untuk mengetahui kebenaran
umum. Misalnya, untuk pertama kali memahami konsep “kedisiplinan”, siswa tidak
menghafal definisi kata tersebut, tetapi mempelajari contoh-contoh konkret
tentang prilaku yang menunjukkan kedisiplinan da tidak, dari contoh-contoh
itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata kedisiplinan.
Teori-teori kognitif ini juga sarat akan kritik, terutama teori
kognitif Piaget, karena sulit dipraktikkan khususnya ditingkat-tingkat lanjut.
C.
Teori-teori Belajar Kognitif
1.
Teori Gestalt
Teori Gestalt termasuk pada kelompok aliran kognitif
Wholistik. Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kholer, dan Wertheimer.
Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembagkan insight. Insight adalah
pemahaman terhadap hubungan antar bagian didalam situasi permasalahan. Berbeda
dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu
bersifat mekanistik sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight.
Menurut Kohler dalam Sajaya (2013:242) menyimpan
simpase pada sebuah jeruji. Didalam jeruji itu disediakan sebuah tongkat dan
diluar jeruji disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama, ternyata
simpanse berhasil meraih pisang, yang ada diluar jeruji dengan tongkat yang
disediakan itu. Dari percobaan tersebut simpanse mampu mengembangkan insight, artinya, ia dapat menangkap
hubungan antara jeruji, tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah
makanan, ia paham bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang
berbeda diluar jeruji. Inilah hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan
menangkap makna dari keterhubungan antara komponen yang ada dilingkungan.
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori
Gestalt, memiliki ciri sebagai berikut:
a)
Kemampuan insight seseorang tergatung kepada
kemampuan dasar orang tersebut, sedangkan kemampua dasar itu tergantung kepada
usia dan posisi yang bersagkutan dalam kelompok (spesiesny)
b)
Insight
dipengaruhi akan tergatung kepad pengalaman masa lalunya yang relevan.
c)
Insight
tergantung kepada pengatur dan penyediaan lingkungan.
d)
Pengertian
merupakan inti dari insight. Melalui
pengertian dari individu akan dapat memecahkan persoalan.
e)
Apabila insight telah diperoleh, maka dapat
digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih
jelas tentang teori belajar ini, ada beberapa prinsip penerapanya
(Nasution,1982):
a)
Belajar itu
berdasarkan keseluruhan
Berbeda dengan teori-teori belajar behavioristik
yang menganggap bagian-bagian lebih penting dari keseluruhan, teori Gestalt
menganggap bahwa justru keseluruhan itu lebih memiliki makna dari
bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah
kata akan bermakna manakala ada dalam sebuah kalimat.
b)
Anak yang
belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarka
anak itu bukalah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangka
pribadi anak seutuhnya. Apa artinya kemampuan intelektual manakala tidak
diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti oleh pengembangan seluruh potensi
yang ada dalam diri anak.
c)
Belajar berkat ”insight”
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagia di dalam
suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, maka belajar itu akan terjadi
manakala akan dihadapkan kepada suatu permasalahan yang harus dipecahkan.
d)
Belajar
berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan
arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah melakukan
reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus menerus
disempurnakan. Apabila seorang kena api, maka kejadian itu akan memberikan
pengalaman setelah ia mengolah, menghubungkan, dan menafsirkan, bahwa api
merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit, sehingga ia dapat
menyimpulkan dan menentukan sikap bahwa api harus dihindari.
2.
Teori Medan
Teori medan dikembangkan oleh Kurt Lewin (dalam
Sanjaya 2013:244). Sama seperti teori Gestalt, teori medan menganggap bahwa
belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan proses
pemecahan menurut Lewin dalam belajar adalah:
a)
Belajar adalah
perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat memecahkan masalah manakal
ia dapat mengubah struktur kognitif.
b)
Pentingnya
motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat mendorong setiap individu untuk
berperilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik seseorang (motivator).
Akan tetapi, untuk mendapatkan nilai yang baik itu misalnya dengan belajar
giat, melaksanakan setiap tugas, merupakan hal yang tidak menarik. Oleh sebab
itu, sring untuk mengejar daya tarik itu seseorang melakukan hal-hal yang tidak
seharusnya dilakukan misalnya mencontek, menjiplak tugas, dan lain sebagainya.
Untuk menghindari hal tesebut perlu dilakukan pengawasan yang memadai.
Disamping itu, motivasi itu juga bias muncul karena pengalaman yang
menyenangkan, misalnya pengalaman kesuksesan.
D.
Teori Pendekatan Kognitif
Menurut Muhibbin Syah (2010:108), Pendekatan psikologi kognitif
lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam pandangan
para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan
diterangka tanpa melibatkan proses mental, seperti: motivasi, kesengajaan,
keyakinan, dan sebagainya. Meskipun pendekatan kognitif sering dipertentangkan
dengan pendekatan behavioristik. Hanya menurut para ahli psikologi kognitif,
aliran behaviorisme itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab
tidak memperhatikan proses kejiawaan yang berdimensi ranah cipta seperti,
berpikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah
pristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun
hal-hal yang bersifat behavioral sangat nyata dalam hampir setiap peristiwa
belajar. Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis,
misalnya, tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan
tangan) untuk mengucapkan dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku
mengucapkan kata-kata dan menggoreskan pena yang dilakukan tersebut bukan
semata-mata respons dan stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena
dorongan mental yang diatur oleh otaknya.
Sementara itu teori filsafat pragmatisme yang dipelopori oleh
William James (1842-1910) dan teori-teori belajar yang bersumber dari
eksperimen Pavio, Thorndike, dan Skinner, telah diambil sebagai landasan
psikologi aliran behaviorisme dibawah kepemimpina Jon Broadus Watson
(1878-1958). Aliran behaviorisme yang terkenal radikal dan menantang itu kini
sedag mengalami fase keruntuhan. Karena kini semakin banyak pakar psikkologi
kelas dunia yang merasa tidak puas terhadap teori-teori behavioristik, apalagi
setelah dibandingkan dengan hasil-hasil riset para pakar psikologi
(Reber,1988). Diantara keyakinan principal yang terdapat teori behavioristik
ialah setiap anak manusia lahir tapa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan
perasaan, dan warisa abstrak lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan, da bahka
perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam sekitar
terutama alam pendidikan.
Dalam pespektif psikologi kognitif, peristiwa belajar yang
digambarkan seperti tadi adalah naïf ( terlalu sederhana dan tak masuk akal)
dan sulit dipertaggungjawabkan secara psikologis. Sebagai bukti dan bahan
perbandingan, berikut ini penyusun kemukakan dua contoh kritik terhadap
kepercayaan behavioristik tadi.
Pertama, memang tak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan pada umumnya
berpengaruh terhadap kegiatan belajar siswa. Seorang siswa lazimnya menyalin
pelajaran, juga dengan kebiasaan. Gerakan tangan dan goresan pena yang dilakuka
siswa tersebut demikian kelancaran karena sudah terbiasa menulis pertama masuk
sekolah. Perlu diingat bahwa sebelum siswa tadi menyalin pelajaran dengan cara
yang terbiasa ia lakukan , tentu terlebih dahulu ia membuat keputusan mengenai
ia akan menyalin pelajaran sekarang, nanti, atau sama sekali tidak. Sedangkan
“keputusan” berfungsi untuk menetapkan dimulainya aktivitas menyalin pelajaran
oleh siswa tadi dengan kebiasaan yang ia kuasai.
Kedua, kebiasaan belajar siswa dapat ditiadakan oleh kemauan siswa
itu sendiri. Contoh: menurut kebiasaan, seorang siswa belajar seharian
diperpustakaan dengan mengunyah permen. Tetapi, ketika tiba saat berpuasa pada
bulan Ramadhan ia hanya setengah hari diperpustakaan tanpa mengunyah permen.
Dari uraian contoh-contoh diatas, semakin jelas bahwa perilaku
belajar itu, dalam hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan sekedar
peristiwa S-R Bond (ikatan antara stimulus dan respon) melainkan lebih banyak
proses kognitif.
E.
Tujuan Pembelajaran Teori Kognitivistik
Tujuan
pembelajaran di dalam Teori Kognitivistik menurut Dabbagh (2012) adalah sebagai
berikut.
1.
Mengkomunikasikan atau mentransfer pengetahuan
dengan cara yang paling efisien dan efektif (kemandirian berpikir atau mind
independent yang dapat dipetakan kepada pembelajar).
2.
Fokus dari pembelajaran adalah untuk
menciptakan pembelajaran atau mengubah dengan cara mendorong siswa untuk
menggunakan strategi belajar.
3.
Belajar terjadi apabila infornasi disimpan di
dalam memori dengan cara yang terorganisasi dan bermakna.
4.
Guru dan pengembang pembelajaran bertanggung
jawab untuk membantu pembelajar dalam mengorganisasikan atau mengatur informasi
dengan cara yang optimal sehingga informasi tersebut dapat diasimilasikan.
5.
Membantu siswa untuk memproses informasi dengan
cara yang bermakna dan mengorganisasi pengetahuan sebelumnya untuk mempelajari
pengetahuan baru agar dapat diingat dan dipahami sehingga dapat menyatakan
kembali.
F.
Kelebihan dan Kekurangan Teori Kognitivistik
1.
Kelebihannya yaitu : menjadikan siswa
lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih
mudah.
2.
Kekurangannya yaitu : teori tidak
menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan; sulit di praktikkan khususnya di
tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan
pemahamannya masih belum tuntas.
G.
Metode Mengajar Menggunakan Metode
Diskusi
Metode diskusi ialah percakapan
ilmiah yang responsive berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan
pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide
ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok
itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari
kebenaran. Dalam diskusi selalu ada pokok yang dibicarakan. Dalam diskusi semua
anggota turut berpikir dan diperlukan disiplin yang ketat.
Manfaat diskusi antara lain sebagai
berikut :
1.
Peserta
didik memperoleh kesempatan untuk berpikir.
2.
Peserta
didik mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap, dan aspirasinya secara
bebas.
3.
Peserta
didik belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya.
4.
Diskusi
dapat menubuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik.
5.
Diskusi
dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendpat orang lain.
6.
Dengan
diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Usaha yang dilakukan guru agar
diskusi bias berhasil dengan baik antara lain :
1.
Masalahnya
harus kontroversial, artinya mengandung pertanyaan dari perserta didik. Masalah
itu menarik perhatian ereka karena bertalian erat dengan pengalaman mereka.
2.
Guru
harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia harus membagi-bagi
pertanyaan dan memberi petunjuk dengan jalannya diskusi. Guru juga berperan
sebagai penangkis terhadap pertanyaan yang diajukan perserta didik.
3.
Guru
hendaknya memperhatikan pebicaraan agar fungsi guru sebagai pemimpin diskusi
dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Teori
belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu
sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon,
lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar
adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak
selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Lebih
dari itu belajar adalah melibatkan proses pemikiran yang sangat kompleks.
Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang
melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.
Dengan
menggunakan metode diskusi dalam mengajar sangat mendukung keberhasilan dalam
menggunakan teori belajar kognitivistik. Sehingga aktivitas mandiri siswa dapat
maksimal dengan menggunakan metode diskusi dan proses belajar mengajar menjadi
efektif serta mencapai tujuan yang ditentukan.
B.
Saran
Penulisan
masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab
itu, makalah ini untuk dibaca dan diharapkan agar dapat memberikan saran dan
kritikan yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, Wina. 2013.
Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:
Kencana
Sagala, Syaiful.
2013. Konsep dan Makna Pembelajaran.
Bandung: CV Alfabeta
Siregar,
Evelin. Dkk. 2010. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia
Syah, Muhibbin.
2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar