Selasa, 22 Desember 2015




PENGGUNAAN TEORI BELAJAR KOGNITIVISTIK DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI DALAM MENGAJAR
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas
Teori Belajar Bahasa


 








Dosen: Haerudin, M.Pd
Irma Afriyani
Semester/Kelas: V(lima)/ A.2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN AKADEMIK 2015



KATA PENGANTAR
Puji syukur saya haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini saya selesaikan sebagai salah satu syarat tugas mata kuliah “Teori Belajar Bahasa” dan  sebagai panduan dalam mempelajari materi-materi yang terdapat di dalamnya.
Makalah ini saya buat bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pembaca, khususnya mahasiswa dan mahasiswi Universitas Muhammadiyah Tangerang.
Dalam kesempatan kali ini, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan motivasi untuk menyelesaikan makalah ini :
1.      Kepada Bapak Haerudin, M.Pd selaku Dosen Matakuliah Teori Belajar Bahasa
2.      Keluarga dan teman-teman yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.
Apabila terdapat kesalahan dalam  pembuatan makalah  ini, saya mohon  maaf. Saran dan kritik yang membangun saya harapkan dari para pembaca agar dalam pembuatan makalah yang selanjutnya akan lebih baik.
Tangerang,  Desember  2015

   Penyusun

i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …...………...…..………………………………… ……..i
DAFTAR ISI ………………………… ………...…..……..…….…………….....ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ………………………… …….…….…………………....1
B.     Rumusan Masalah …………..… …..…………………………………….1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Teori Kognitivistik …………………..……………………….3
B.     Tokoh-tokoh Teori Kognitivistik …………..….…….…………….……..3
C.     Teori-teori Belajar Kognitif …………….… …...………………………..6
D.    Teori Pendekatan Kognitif ………….…………………………………....8
E.     Tujuan Pembelajaran kognitif ………………………………………...…10
F.      Kelebihan dan Kelemahan ………………………………….…………...11
G.    Metode Mengajar Menggunakan Metode Diskusi ……………………...11
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………….………...………………………...13
B.     Saran ……………………………..……...……………..… …….............13
DAFTAR PUSTAKA




ii

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Belajar seharusnya tidak akan pernah terpisah bagi mausia, karena belajar sangat penting dan belajar itu kebutuhan manusia dalam mempertahanka hidup dan mengembagkan diri manusia. Dalam belajar seseorang akan mengalami perubahan tingkah laku, sikap, dan mental yang baik. Seiring berjalannya waktu belajar akan mengikuti perkembangan zaman, namun adakalanya teori mempuyai kelemahan.
Banyak macam-macam teori yang harus kita perhatikan atau kita pelajari, yatu, teori, behavioristik, kognitivistik, dan lain-lain. Dimakalah ini kita membahas tentang teori kognitivistik lebih menekankan bahwa belajar banyak ditentukan karena adanya usaha dari setiap individu dalam upaya menggali ilmu pengetahuan melalui dunia pendidikan. Dengan kata lain pendidik harus lebih meilih dalam menggunakan metode-metode pembelajaran. Pada teori ini siswa lebih aktif dalam proses belajar. Untuk itu metode yang sesuai dengan  teori belajar kognitivistik menggunakan metode diskusi sehingga hasil dari pebelajaran tercapai dengan baik.
Banyaknya tokoh-tokoh yang terlibat dalam teori kognitivistik, Gagne, Piaget, Ausubel, dan Bruner. Dalam tokoh tersebut mereka mempunyai pengertian masing-masing. Tidak hanya itu, di makalah ini teori kognitivistik ada dua yang pertama ada teori Gestalt, Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembagkan insight. Dan yang kedua teori Medan, teori medan menganggap bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah.


B.       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.
1.         Apa pengertian dari teori belajar kognitivistik ?
2.         Siapa tokoh-tokoh yang ada dalam teori kognitivistik ?
3.         Apa pengertian dari teori Gestalt dan teori Medan ?
4.         Bagaimana pendekatan kognitivistik ?
5.         Apa tujuan dari kognitivistik ?
6.         Bagaimana metode mengajar ketika menggunakan metode diskusi?

C.      Tujuan
1.         Untuk mengetahui teori belajar kognitivistik.
2.         Untuk mengetahui siapa saja tkoh-tokoh yang ada dalam teori kognitistik.
3.         Untuk mengetahui pengertian dari teori Gestalt dan teori Medan.
4.         Untuk mengetahui pendekatan kognitivistik.
5.         Untuk mengetahui tujuan dari kognitivistik.
6.         Untuk mengetahui metode mengajar ketika menggunakan metode diskusi.



BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Teori Belajar Kognitivistik
Menurut Siregar (2010:30) Teori Kognitivistik adalah ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambung dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat seseorag yang memainkan musik, tidak hanya memahami not-not balok pada partitur sebagai informasi yang saling lepas dan berdiri sendiri, tapi sebagai satu kesatuan yang secara utuh masuk ke dalam pikiran dan perasaan. Teori ini lebih menekankan proses belajar daripada hasil belajar. Bagi penganut aliran kognitivistik belajar tidak sekedar melibatkan antara stimulus dan respon. Lebih dari itu belajar melibatkan proses berfikir secara kompleks.
Menurut psikologi kognitif, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktikan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

B.       Tokoh-tokoh Teori Kognitivistik
Menurut Robert M. Gagne dalam Siregar (2010:31), teori ini belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi dalam otak manusia. Sedangkan otak manusia sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.        Receptor (alat-alat indera) menerima rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rangsangan neural, memberikan simbol-simbol informasi yang diterimanya.
2.        Sensory register (penampungan kesan-kesan sensoris) yang terdapat pada syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi, sehingga terbentuk suatu kebulatan perseptual (persepsi selektif).
3.        Short-term memory ( memori jangka pendek) menampung hasil pengolahan perseptual dan menyimpannya. Informasi tertentu disimpan lebih lama dan diolah untuk menentukan makna.
4.        Long-term memory (memori jangka panjang) menampung hasil dalam jangka pendek. Informasi disimpan dalam jangka panjang dan bertahan lama, siap untuk dipaka bila diperlukan.
5.        Respon generator (pencipta respon) menampung informasi yang tersimpa dalam memori jangka panjang dan mengubahnya dalam reaksi jawaban.
Menurut psikologi kognitif, reinforcement sangat penting juga dalam belajar, meskipun alasan yang dikemukakan berbeda dengan psikolog behavioristik. Menurut psikologi behavioristik, reinforcement berfungsi sebagai penguat respons atau tingkah laku, sementara menurut psikologi kognitif disebut sebagai (feedback), mengurangi keragu-raguan hingga mengarah kepada pemahaman.
Menurut Jean Piaget dalam Siregar (2010:32), proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan yakni, asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). Asimilasi adalah proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi adalah proses penyesuaian dalam situasi yang baru. Sedangkan Equilibrasi adalah penyesuain kesinambung antara asimilasi dan akomodasi. Sebagai contoh, seseorang siswa yang sudah mengetahui prinsip perkalian, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa)  dengan prinsip perkalian ( sebagai informasi yang baru), inilah yang dinamakan proses asimilasi. Jika siswa diberi soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, dalam hal ini berarti penerapan prinsip berkembang dan menambah ilmunya, tapi sekaligus menambah mental dalam dirinya. Proses yang disebut equilibrasi, penyeimbangan antara dunia luar dan dalam. Tanpa proses ini perkembangan kognitif seseorag akan tersendat –sendat dan berjalan tidak teratur.
Menurut Ausubel (dalam Siregar 2010:33), adalah siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajaran (instruction content) sebelumnya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advance organizers). Dengan demikian, akan mempengaruhi belajar siswa. Advance organizers adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Advance organizers dapat memberikan tiga macam manfaat: 1). Menyediakan sesuatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajarinya. 2). Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajarinya dan yang akan dipelajarinya. 3). Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah. Untuk itu, pengetahua guru terhadap isi pembelajaran harus sangat baik, dengan demikian ia akan mampu menemukan informasi yang sangat abstrak, umum dan inklusif yang mewadahi apa yang akan diajarkan.
Menurut Buner (dalam Siregar 2010:33) mengusulkan teori yang disebut free discovery learning. Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarka (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya. Siswa dibimbing secara induktif untuk mengetahui kebenaran umum. Misalnya, untuk pertama kali memahami konsep “kedisiplinan”, siswa tidak menghafal definisi kata tersebut, tetapi mempelajari contoh-contoh konkret tentang prilaku yang menunjukkan kedisiplinan da tidak, dari contoh-contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefinisikan kata kedisiplinan.
Teori-teori kognitif ini juga sarat akan kritik, terutama teori kognitif Piaget, karena sulit dipraktikkan khususnya ditingkat-tingkat lanjut.
C.      Teori-teori Belajar Kognitif
1.         Teori Gestalt
Teori Gestalt termasuk pada kelompok aliran kognitif Wholistik. Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kholer, dan Wertheimer. Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembagkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian didalam situasi permasalahan. Berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistik sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight.
Menurut Kohler dalam Sajaya (2013:242) menyimpan simpase pada sebuah jeruji. Didalam jeruji itu disediakan sebuah tongkat dan diluar jeruji disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama, ternyata simpanse berhasil meraih pisang, yang ada diluar jeruji dengan tongkat yang disediakan itu. Dari percobaan tersebut simpanse mampu mengembangkan insight, artinya, ia dapat menangkap hubungan antara jeruji, tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah makanan, ia paham bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang berbeda diluar jeruji. Inilah hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan menangkap makna dari keterhubungan antara komponen yang ada dilingkungan.
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori Gestalt, memiliki ciri sebagai berikut:
a)        Kemampuan insight seseorang tergatung kepada kemampuan dasar orang tersebut, sedangkan kemampua dasar itu tergantung kepada usia dan posisi yang bersagkutan dalam kelompok (spesiesny)
b)        Insight dipengaruhi akan tergatung kepad pengalaman masa lalunya yang relevan.
c)        Insight tergantung kepada pengatur dan penyediaan lingkungan.
d)       Pengertian merupakan inti dari insight. Melalui pengertian dari individu akan dapat memecahkan persoalan.
e)        Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang teori belajar ini, ada beberapa prinsip penerapanya (Nasution,1982):
a)        Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Berbeda dengan teori-teori belajar behavioristik yang menganggap bagian-bagian lebih penting dari keseluruhan, teori Gestalt menganggap bahwa justru keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah kata akan bermakna manakala ada dalam sebuah kalimat.
b)        Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarka anak itu bukalah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangka pribadi anak seutuhnya. Apa artinya kemampuan intelektual manakala tidak diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti oleh pengembangan seluruh potensi yang ada dalam diri anak.
c)        Belajar berkat ”insight
Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagia di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, maka belajar itu akan terjadi manakala akan dihadapkan kepada suatu permasalahan yang harus dipecahkan.
d)       Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah melakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus menerus disempurnakan. Apabila seorang kena api, maka kejadian itu akan memberikan pengalaman setelah ia mengolah, menghubungkan, dan menafsirkan, bahwa api merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit, sehingga ia dapat menyimpulkan dan menentukan sikap bahwa api harus dihindari.
2.         Teori Medan
Teori medan dikembangkan oleh Kurt Lewin (dalam Sanjaya 2013:244). Sama seperti teori Gestalt, teori medan menganggap bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan proses pemecahan menurut Lewin dalam belajar adalah:
a)        Belajar adalah perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat memecahkan masalah manakal ia dapat mengubah struktur kognitif.
b)        Pentingnya motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat mendorong setiap individu untuk berperilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik seseorang (motivator). Akan tetapi, untuk mendapatkan nilai yang baik itu misalnya dengan belajar giat, melaksanakan setiap tugas, merupakan hal yang tidak menarik. Oleh sebab itu, sring untuk mengejar daya tarik itu seseorang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan misalnya mencontek, menjiplak tugas, dan lain sebagainya. Untuk menghindari hal tesebut perlu dilakukan pengawasan yang memadai. Disamping itu, motivasi itu juga bias muncul karena pengalaman yang menyenangkan, misalnya pengalaman kesuksesan.
D.      Teori Pendekatan Kognitif
Menurut Muhibbin Syah (2010:108), Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Dalam pandangan para ahli kognitif, tingkah laku manusia yang tampak tak dapat diukur dan diterangka tanpa melibatkan proses mental, seperti: motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya. Meskipun pendekatan kognitif sering dipertentangkan dengan pendekatan behavioristik. Hanya menurut para ahli psikologi kognitif, aliran behaviorisme itu tidak lengkap sebagai sebuah teori psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiawaan yang berdimensi ranah cipta seperti, berpikir, mempertimbangkan pilihan dan mengambil keputusan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah pristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral sangat nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar. Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya, tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan tangan) untuk mengucapkan dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku mengucapkan kata-kata dan menggoreskan pena yang dilakukan tersebut bukan semata-mata respons dan stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya.
Sementara itu teori filsafat pragmatisme yang dipelopori oleh William James (1842-1910) dan teori-teori belajar yang bersumber dari eksperimen Pavio, Thorndike, dan Skinner, telah diambil sebagai landasan psikologi aliran behaviorisme dibawah kepemimpina Jon Broadus Watson (1878-1958). Aliran behaviorisme yang terkenal radikal dan menantang itu kini sedag mengalami fase keruntuhan. Karena kini semakin banyak pakar psikkologi kelas dunia yang merasa tidak puas terhadap teori-teori behavioristik, apalagi setelah dibandingkan dengan hasil-hasil riset para pakar psikologi (Reber,1988). Diantara keyakinan principal yang terdapat teori behavioristik ialah setiap anak manusia lahir tapa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan, dan warisa abstrak lainnya. Semua kecakapan, kecerdasan, da bahka perasaan baru timbul setelah manusia melakukan kontak dengan alam sekitar terutama alam pendidikan.
Dalam pespektif psikologi kognitif, peristiwa belajar yang digambarkan seperti tadi adalah naïf ( terlalu sederhana dan tak masuk akal) dan sulit dipertaggungjawabkan secara psikologis. Sebagai bukti dan bahan perbandingan, berikut ini penyusun kemukakan dua contoh kritik terhadap kepercayaan behavioristik tadi.
Pertama, memang tak dapat dipungkiri bahwa kebiasaan pada umumnya berpengaruh terhadap kegiatan belajar siswa. Seorang siswa lazimnya menyalin pelajaran, juga dengan kebiasaan. Gerakan tangan dan goresan pena yang dilakuka siswa tersebut demikian kelancaran karena sudah terbiasa menulis pertama masuk sekolah. Perlu diingat bahwa sebelum siswa tadi menyalin pelajaran dengan cara yang terbiasa ia lakukan , tentu terlebih dahulu ia membuat keputusan mengenai ia akan menyalin pelajaran sekarang, nanti, atau sama sekali tidak. Sedangkan “keputusan” berfungsi untuk menetapkan dimulainya aktivitas menyalin pelajaran oleh siswa tadi dengan kebiasaan yang ia kuasai.
Kedua, kebiasaan belajar siswa dapat ditiadakan oleh kemauan siswa itu sendiri. Contoh: menurut kebiasaan, seorang siswa belajar seharian diperpustakaan dengan mengunyah permen. Tetapi, ketika tiba saat berpuasa pada bulan Ramadhan ia hanya setengah hari diperpustakaan tanpa mengunyah permen.
Dari uraian contoh-contoh diatas, semakin jelas bahwa perilaku belajar itu, dalam hampir semua bentuk dan manifestasinya, bukan sekedar peristiwa S-R Bond (ikatan antara stimulus dan respon) melainkan lebih banyak proses kognitif.
E.       Tujuan Pembelajaran Teori Kognitivistik
Tujuan pembelajaran di dalam Teori Kognitivistik menurut Dabbagh (2012) adalah sebagai berikut.
1.        Mengkomunikasikan atau mentransfer pengetahuan dengan cara yang paling efisien dan efektif (kemandirian berpikir atau mind independent yang dapat dipetakan kepada pembelajar).
2.        Fokus dari pembelajaran adalah untuk menciptakan pembelajaran atau mengubah dengan cara mendorong siswa untuk menggunakan strategi belajar.
3.        Belajar terjadi apabila infornasi disimpan di dalam memori dengan cara yang terorganisasi dan bermakna.
4.        Guru dan pengembang pembelajaran bertanggung jawab untuk membantu pembelajar dalam mengorganisasikan atau mengatur informasi dengan cara yang optimal sehingga informasi tersebut dapat diasimilasikan.
5.        Membantu siswa untuk memproses informasi dengan cara yang bermakna dan mengorganisasi pengetahuan sebelumnya untuk mempelajari pengetahuan baru agar dapat diingat dan dipahami sehingga dapat menyatakan kembali.

F.       Kelebihan dan Kekurangan Teori Kognitivistik
1.        Kelebihannya yaitu : menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
2.        Kekurangannya yaitu : teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan; sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.

G.      Metode Mengajar Menggunakan Metode Diskusi
Metode diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsive berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran. Dalam diskusi selalu ada pokok yang dibicarakan. Dalam diskusi semua anggota turut berpikir dan diperlukan disiplin yang ketat.
Manfaat diskusi antara lain sebagai berikut :
1.        Peserta didik memperoleh kesempatan untuk berpikir.
2.        Peserta didik mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap, dan aspirasinya secara bebas.
3.        Peserta didik belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya.
4.        Diskusi dapat menubuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik.
5.        Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendpat orang lain.
6.        Dengan diskusi, pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Usaha yang dilakukan guru agar diskusi bias berhasil dengan baik antara lain :
1.        Masalahnya harus kontroversial, artinya mengandung pertanyaan dari perserta didik. Masalah itu menarik perhatian ereka karena bertalian erat dengan pengalaman mereka.
2.        Guru harus menempatkan dirinya sebagai pemimpin diskusi. Ia harus membagi-bagi pertanyaan dan memberi petunjuk dengan jalannya diskusi. Guru juga berperan sebagai penangkis terhadap pertanyaan yang diajukan perserta didik.
3.        Guru hendaknya memperhatikan pebicaraan agar fungsi guru sebagai pemimpin diskusi dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.












BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses pemikiran yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.
Dengan menggunakan metode diskusi dalam mengajar sangat mendukung keberhasilan dalam menggunakan teori belajar kognitivistik. Sehingga aktivitas mandiri siswa dapat maksimal dengan menggunakan metode diskusi dan proses belajar mengajar menjadi efektif serta mencapai tujuan yang ditentukan.

B.     Saran
Penulisan masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu, makalah ini untuk dibaca dan diharapkan agar dapat memberikan saran dan kritikan yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.



DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Wina. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Sagala, Syaiful. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta

Siregar, Evelin. Dkk. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar