PERANAN KOMUNIKASI DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa

Dosen : Haerudin, M.Pd.
Di susun oleh:
Febri sukma apriyanti
Kelas/semester : A2/5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan karunia terbesar-Nya, atas
selesainya penyusunan makalah telaah kurikulum yang membahas “Peranan komunikasi dalam proses
pembelajaran” sebagai salah satu perangkat kelengkapan tugas.
Kami
ucapkan terima kasih kepada Dosen Pengajar atas arahan dan bimbingannya
sehingga terselesainya tugas makalah ini. Dalam makalah ini menjabarkan
beberapa pembahasan yang di ambil dari referensi.
Apabila
ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini kami ucapkan mohon maaf yang
sebesar-sebesarnya. Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan.
Oleh karena itu besar harapan penyusun atas berbagai saran dan kritikan yang
menunjang agar makalah ini lebih baik lagi.
Tangerang, 22 Desember 2015
Penyusun
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
………………………………………………………………
DAFTAR ISI
………………………………………………………………………..
BAB I
……………………………………………………………………………...5
A.
Latar Belakang
…………………………………………………………….5
B.
Rumusan Masalah
…………………………………………………………5
C.
Manfaat penulisan makalah
………………………………………………..5
BAB II
……………………………………………………………………………..6
A.
Pendekatan
Komuniktif ……………………………………………………6
B.
Ciri-Ciri
Pendekatan Komunikatif
………………………………………...8
C.
Peranan
Komunikasi dalam pembelajaran ………………………………...9
D.
Pendekatan Komunikasi Persuasif sebagai Teknik
Dalam Pembelajaran ..10
E.
Siswa sebagai Sasaran Komunikasi Pembelajaran ……………………….12
BAB III PENUTUP
………………………………………………………………14
A.
Simpulan
………………………………………………………………….14
DAFTAR PUSTAKA
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendekatan
komunikatif adalah pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang menekankan pada
kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam situasi keseharian. Pembelajaran
bahasa yang bertujuan agar siswa mampu berkomunikasi menggunakan bahasa target
memiliki faktor-faktor penentu komunikasi yang perlu diperhatikan.
Faktor-faktor tersebut meliputi siapa berbicara dengan siapa, tujuan, tempat,
waktu, konteks kebudayaan dan suasana, jalur dan media, peristiwa berbahasa
(Dadan djuanda,2008).
Dalam
proses belajar mengajar seorang mahasiswa dituntut harus mampu mengemukakan
pendapatnya secara lisan. Latar belakang munculnya pendekatan komunikatif
adalah ketidakpuasan akan beberapa teori bahasa, yakni tradisional, structural,
dan mentalistik yang menekankan pembelajaran bahasa pada teori bahasa.
Munculnya
pendekatan komunikatif membawa angina segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia
di kelas.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah yaitu sebagai
berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan
pendekatan komunikatif?
2.
Apa saja ciri-ciri pendekatan
komunikatif?
3.
Bagaimana peranan komunikasi
dalam pembelajaran?
C. Manfaat penulisan makalah
Adapun
manfaat dari penulisan makalah ini yaitu agar mahasiswa dapat memahami apa yang
dimaksud dengan pendekatan komunikatif, serta mengetahui cici-ciri pendekatan
komunikatif dan mengetahui peranan komunikasi dalam pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pendekatan Komuniktif
Pada pelajaran yang lalu telah disinggung bahwa
Pendekatan Komunikatif yang menekankan pengajaran bahasa pada latihan
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, telah menentang cara pengajaran bahasa
selama ini yang menekankan pada segi struktur. Apalagi struktur yang hanya
berupa latihan-latihan pengucapan bentuk-bentuk bahasa yang terlepas dari
konteks komunikatif.
Kalau diperhatikan metode pengajaran bahasa yang
selama ini kita terapkan, sebelum lahirnya Pendekatan Komunikatif, hampir semuanya
bercorak struktural dan berkiblat pada struktur bahasa. Metode-metode
pengajaran ini seperti juga telah diterangkan, yaitu Metode Terjemahan, Metode
Langsung, Metode Audiolingual, dan Teori Belajar Kognitif.
Dengan surutnya perhatian orang pada pendekatan atau pandangan struktural, di
Inggris pada akhir tahun 1960-an muncul pendekatan yang disebut “Pengajaran
Bahasa secara Komunikatif”. Pendekatan ini menekankan kebermaknaan dan penyampaian
makna (fungsi) menggunakan bahasa secara wajar. Penjelasan tentang makna
dan fungsi ini, misalnya, orang menggunakan bahasa sebagai alat untuk
menyampaikan makna. Dalam mempelajari bahasa semua bentuk bahasa (kata, frase,
dan kalimat) dan struktur bahasa (urutan kata, imbuhan dan kategori-kategori
struktur yang lain) harus selalu dikatikan dengan makna. Ini wajar karena
bahasa adalah alat pengungkap ide, konsep, atau nosi. Sedangkan yang berkaitan
dengan fungsi bahasa adalah apa yang kita inginkan dengan berbahasa itu.
Misalnya fungsi bahasa untuk menyapa, meminta maaf, menyatakan setuju atau
tidak setuju, mengundang, meminta pendapat, berdiskusi dengan sebagainya.
Setelah lahirnya Pendekatan Komunikatif ini,
bermunculan pula berbagai pendektan maupun metode pengajaran bahasa yang
berpijak pada prinsip kemampuan komunikatif. Pendekatan-pendekatan itu
ialah Pendekatan Komunikatif sendiri, Pendekatan Pemahaman, Pendekatan Alamiah, dan Pendekatan
Interaksional yang menekankan keterlibatan konteks dan situasi dalam kegiatan
berbahasa. Konteks dan situasi ini terdiri atas faktor-faktor sosioliguistik
seperti : pembicara-pendengar, topik, tempat, waktu, peristiwa berbahasa, jalur
(tatap muka, melalui telepon), modus (lisan, tulisan) dan sebagainya.
Pendekatan yang timbul dari pandangan ini disebut Pendekatan Pragmatik. Pendekatan
ini dianggap sebagai perkembangan lanjut Pendekatan Komunikatif. (Subyako,
1988:33).
Lahirnya pendekatan komunikatif sendiri di Inggris
selain menentang pendekatan struktural yang telah tertanam kuat, juga para ahli
bahasa di Inggris mulai kebutuhan yang mendesak untuk memusatkan perhatian pada
kemampuan komunikasi para siswa.
Istilah kemampuan komunikatif ini berasal
dari Dell Hymes yang menulis tentang On Communicative Competence. Antara
lain ia mengatakan yang dimana dengan kemampuan komunikatif ialah penguasaan
secara naluri aturan-aturan sosial budaya dan makna-makna yang terdapat dalam
setiap ujaran/kalimat berkomunikasi dengan orang lain (Stern dalam Subyakto,
1988:56) Pengertian tentang kemampuan tidak hanya kemampuan yang dikemukakan
Chomsky, hanya kemampuan gramatikal
(tata bahasa), tetapi yang lebih penting
pertimbangan cocok tidaknya (appropriateness) penggunaan atau tuturan konteks sosial budayanya.. oleh
karena itu pengertian kemampuan meliputi kecocokan kontekstual.
Konsep yang dirujuk oleh Pendekatan Komunikatif
seperti telah disinggung di atas ialah adanya nosi, fungsi bahasa dan
kategori-kategori semantik tata bahasa Nosi adalah konsep yang merujuk pada
arti (makna) dan konsep-konsep yang diperlukan oleh seorang penutur untuk berkomunikasi.
Fungsi bahasa ialah tujuan berbahasa. Fungsi di sini meliputi deskriptif,
ekspretif, dan sosial. Ketiga-tiganya berfungsi untuk menyampaikan informasi. Sedangkan kategori
semantik ialah makna yang ditimbulkan dalam struktur bahasa itu sendiri,
yakni makna dari setiap jenis kalimat
yang kita gunakan. Karena adanya tiga komponen ini, agar seseorang dapat
berkomunikasi, terlebih dahulu harus mempunyai konsep (nosi), yang harus
dituangkan ke dalam suatu kalimat (semantik-tata bahasa), dan dikomunikasikan
(fungsi bahasa)
Perlu diketahui bahwa Pendekatan Komunikatif dalam
pengajaran bahasa ini tidak memberikan resep bagaimana seharusnya seorang guru
mengajar bahasa (metode mengajar), tetapi lebih berhubungan dengan penyusunan
program belajar-mengajar dalam silabus atau GBPP dan bahan pengajarannya.
Hadirnya Pendekatan Komunikatif ini adalah untuk memenuhi kebutuhan siswa agar
mampu berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi ini berarti terampil berbahasa.
B. Ciri-Ciri Pendekatan Komunikatif
1.
Kegiatan
komunikasi yang disajikan betul-betul yang diperlukan oleh siswa. Contohnya
kalau siswa tidak tahu tentang cara menanam padi, maka suruhlah ia mewawancarai
petani sehingga ia akan memperoleh informasi yang betul-betul dibutuhkan. Kalau
siswa bertanya tentang sesuatu tetapi sudah tahu jawabannya maka ini bukan
komunikasi, sebab tidak ada kesenjangan
informasi (information gap). (Hubbard dalam Subyakto, 1988:63). Jadi,
salah satu ciri Pendekatan Komunikatif ialah adanya kekosongan informasi.
2.
Untuk
mendorong siswa mau belajar hendaknya guru memberikan kegiatan belajar yang
bermakna. Contoh : Tugas yang diberikan guru agar siswa menggnati satu bentuk
kalimat kebentuk kalimat lain yang tidak begitu bermakna bagi siswa, misalnya :
Ibu memanggil adik > adik dipanggil ibu
Tugas yang bermakna misalnya : siswa menulis
pengalamannya atau menulis laporan hasil kunjungan.
3.
Materi
dari silabus atau kurikulum komunikatif
dipersiapkan setelah diadakan suatu analisis mengenai kebutuhan berbahasa.
4.
Penekanan
pendekatan komunikatif ialah pada pelayanan individu siswa. Di sinilah
berbaliknya arah pendidikan dari yang berpusat pada guru ke yang
berpusat pada siswa (studen’t oriented) oleh karena itu, penyajian materi dan kegiatan belajar harus berorientasi pada siswa.
5.
Peran
guru ialah sebagai pelayan, ia menjadi fasilitator, motivator bagi
perkembangan individu siswa. Guru tidak lagi dibenarkan selalu menguasai materi
dan kelas, karena yang dipentingkan ialah bagaimana siswa dapat dibimbing untuk
berkomunikasi dengan wajar (memiliki keterampilan berbahasa baik lisan maupun
tulisan).
6.
Materi
instruksional berperan menunjang
komunikasi siswa secara katif. Ini terdiri atas tiga macam : materi berdasarkan
teks (buku-buku, pelajaran materi berdasarkan tugas (berupa tugas seperti
membuat peta perjalanan dari rumah ke sekolah atau melakukan bermain peran),
dan materi berdasarkan bahan otentik/realia (materi yang diambil dari surat
kabar, majalah, percakapan yang sesungguhnya, dan sebagainya).
C. Peranan Komunikasi dalam pembelajaran
Masalah pendidikan adalah masalah yang cukup
rumit. Banyak faktor yang memengaruhinya, salah satunya adalah komunikasi.
Dalam upaya pencapaian pendidikan baik pendidikan informal maupun nonformal,
terutama pendidikan formal yang dilakukan melalui proses belajar mengajar, maka
peranan komunikasi sangatlah penting. Sebab dengan komunikasi yang efektif
seorang guru (pendidik) akan dengan mudah mentransfer pesan-pesan pendidikan
dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada anak didik, baik melalui
komunikasi yang bersifat informatif, persuasif, maupun instruktif.
Menurut (Litlejohn, 1966:5), komunikasi adalah
suatu kebutuhan yang paling mendasar. Manusia dapat melakukan interkasi
sosialnya dengan baik hanya dengan perantara komunikasi. Melalui interaksi
sosial, manusia mendapatkan informasi tentang segala hal yang dibutuhkan
untuk memenuhi kelangsungan hidupnya.
Jika dikaitkan dengan proses pembelajaran, belajar
mengajar itu adalah komunikasi. Artinya, proses belajar mengajar itu
adalah komunikasi. Artinya, proses
belajar mengajar tersebut melibatkan dua komponen manusia yang terdiri atas
pendidik sebagai komunikator dan peserta sebagai komunikan. Selain kedua
komponen tersebut, dalam proses
pendidikan dilibatkan pula dua komponen lainnya, yaitu pesan atau materi
pelajaran dan saluran (media) atau alat yang digunakan dalam proses tersebut.
Dapat dikatakan bahwa komunikasi sebagai sarana
penyampaian pesan merupakan hal yang sangat esensial dalam transformasi
pengetahuan yang dilakukan melalui proses belajar mengajar.
Berlangsungnya komunikasi sudah pasti memerlukan
berbagai komponen (elemen) seperti di
atas Pengertian komponen disini adalah bagian-bagian yang terpenting dan mutlak
harus ada pada suatu keseluruhan atau kesatuan.
Wilbur Schraman (Komala, dalam Karlinah, 1999)
mengatakan bahwa untuk berlangsungnya suatu kegiatan komunikasi, minimal
diperlukan tiga komponen yaitu source, message, destination atau
komunikatori, pesan, dan komunikan. Apabila salah satu dari ketiga
komponen tersebut tidak ada, komunikasi tidak dapat berlangsung. Namun
demikian, selain ketiga komponen tersebut masih terdapat komponen lainnya yang
berfungsi sebagai pelengkap. Artinya jika komponen tersebut tidak ada maka
tidak akan berpengaruh terhadap komponen lainnya. Oleh karena itu, komponen-komponen
utama (komunikator-pesan-komunikan) mutlak harus ada pada proses komunikasi,
baik itu komunikasi antarpersonal (interpersonal), kelompok, maupun komunikasi
lainnya dalam kehidupan berorganisasi, khususnya dalam aktivitas berlajar
mengajar.
D. Pendekatan Komunikasi Persuasif sebagai Teknik Dalam Pembelajaran
Komunikasi yang sifatnya informatif adalah dasar
permulaan bagi proses penyampaian kebijakan seorang guru kepada anak didiknya.
Berbagai program, arahan, rencana belajar sehari-hari pertama-tama disampaikan
melalui pernyatan informatif. Bagaimanapun pernyataan informatif bentuk
pernyataan dalam penyampaian informasi kepada murid, hendaknya diuraikan dengan
jelas dalam bahasa atau ungkapan yang
tidak menimbulkan salah pengertian.
Kejelasan informasi menjadi pegangan bagi siswa
dalam menjalankan tugasnya. Dengan kejelasan informasi, siswa didik dapat
belajar dengan rasa aman. Selain itu, kejelasan informasi dapat memberikan
kesempatan kepada anak didik untuk menyusun aktivitasnya serta mengembangkan
daya kreatifitasnya.
Selain kejelasan informasi, aspek lain yang tidak
lepas peranannya dalam usaha meninngkatkan serta usaha memotivasi gairah
belajar anak didik adalah pendekatan
komunikasi persuasif. Melalui mekanisme manipulasi psikologis tertentu, seorang
guru berusaha untuk membangkitkan gairah belajar anak didiknya.
Proses komunikasi persuasif dapat dijelaskan oleh
Kenneth E. Andersen sebagai berikut :
A process of interpersonal communication in which
the communicator seeks through the use of symbol to affect the cognitions of a
receiver and this effect a voluntary change in attitude or action desired by
the communicator.
Suatu proses komunikasi antarpersonal di mana
komunikator berupaya dengan menggunakan lambang-lambang untuk memengaruhi
kognisi penerima. Jadi secara disengaja mengubah sikap atau kegiatan seperti
yang diinginkan komunikator (Effendy, 1991:103).
Menurut Andersen, dalam persuasif dampak terhadap
kognisi diupayakan untuk menghasilkan perubahan sikap kepercayaan, nilai, dan
tindakan. Penekanan pada kesengajaan menyebabkan perubahan tanpa menggunakan
paksaan, sesuai dengan keinginan komunikator.
Persuasi yang diarahkan untuk meningkatkan gairah
belajar, akan ditentukan oleh berbagai komponen di antaranya kredibilitas guru
sebagai komunikator, pengorganisasian pesan melalui kemampuan memanipulasi
pesan pada aspek psikologis siswa, serta kesungguhan menyampaikan pesan.
Ada suatu cara yang bisa digunakan dalam
membangkitkan minat atau memotivasi belajar atas dasar persuasi. Hal ini
dijelaskan oleh Schram melalui suatu teknik yang disebutkan A-Adalah procedure
(Form Attention-to Action Procedure) atau AIDDA (Abdurrachman,
1993:71).
Dengan teknik ini, siswa dipusatkan terlebih
dahulu perhatiannya kepada suatu isu atau topik yang dimaksud. Jika perhatian
sudah dibangkitkan, kemudian disusul dengan upaya membangkitkan minat (interest),
serta mendorong munculnya hasrat (Desire) untuk membuat keputusan (Decision),
akhirnya dapat diarahkan untuk melakukan kegiatan (action). Cara untuk
menyampaikan pesan dengan A-A prosedur ini dapat menggunakan langkah-langkah
yang juga dikemukakan oleh Schramm yaitu disebut The Condition Of Succes iin
Communication yang sudah dipaparkan sebelumnya.
Melalui komunikasi persuasif, seorang guru berusaha
untuk memengaruhi atau mengondisikan suasana belajar anak didik tetap bergairah
melalui mekanisme manipulasi dari psikologis.
Pada akhirnya, komunikasi informatif dari
komunikasi persuasif yang dilakukan memungkinkan untuk menumbuhkan gairah
belajar siswa. Dengan adanya kejelasan pesan dan adanya kesempatan untuk
mengemukakan pendapat isi hati, serta terciptanya suasana belajar yang
menggairahkan, pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran bagi siswa didik untuk
memotivasi dirinya sendiri lebih maju. Pendekatan komunikasi persuasif guru
merupakan cara untuk memengaruhi seseorang dengan mekanisme psikologis yang
dapat membangkitkan kesadaran indibidu sebagai sasaran komunikasi.
E. Siswa sebagai Sasaran Komunikasi Pembelajaran
Sebelum seorang guru melancarkan
pendekatan komunikasi, perlu terlebih dahulu dipelajari siapa-siapa yang akan
menjadi sasaran komunikasi itu. Sudah tentu hal ini tergantung pada tujuan
komunikasi, apakah agar komunikan (siswa) sekedar mengetahui informatif atau
agar komunikan memerlukan tindakan tertentu (persuasif dan instruktif). Namun
apa tujuannya, metodenya dan berapa
banyak sasaran pada diri si komunikan menurut Onong Uchjana Effendy (1995)
perlu memperhatikan faktor-faktor berikut :
1.
Faktor
Kerangka referensi
Pesan yang akan disampaikan komunikator kepada
komunikan harus disesuaikan dengan kerangka referensi (frame of reference).
Sebab kerangka regferensi seseorang akan berbeda dengan orang lain, baik
perbedaan secara gradual maupun secara ekstrem. Namun, dalam hal ini komunikasi
pada proses belajar dan mengajar antara guru dan siswanya mungkin perbedaan
referensi bagi mereka berada dalam taraf gradual.
2.
Faktor
situasi dan kondisi
Yang dimaksud dengan situasi di sini adalah
situasi komunikasi pada saat komunikan akan menerima pesan yang disampaikan.
Apakah komunikasi dapat berjalan dengan lancar atau ada hambatan yang dapat
mengganggu jalannya komunikasi.
Sedangkan yang dimaksud dengan kondisi adalah State of Personality komunikan,
yakni keadaan fisik dan psikis komunikan pada saat ia menerima pesan
komunikasi. Komunikasi yang dilakukan tidak akan efektif apabila komunikan
mengalami gangguan fisik maupun psikis.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Dari
materi yang telah dibahas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Pendekatan komunikatif adalah
pendekatan yang dilandasi oleh pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa
dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran
bahasa.
2.
Dalam upaya pencapaian
pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal, terutama pendidikan
formal yang dilakukan melalui proses belajar-mengajar, maka peranan komunikasi
sangatlah penting. Sebab dengan komunikasi yang efektif seorang pendidik akan
dapat dengan mudah mentransfer pesan-pesan pendidikan dan nilai-nilai yang
terkandung didalamnya kepada anak didik, baik melalui komunikasi yang bersifat
informatif, persuasif, maupun instruktif.
DAFTAR PUSTAKA
Djuanda, Dadan.
2008. Studi tentang penerapan pendekatan komunikatif dan pendekatan terpadu
dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Terdapat pada http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN
DASAR/Nomor_10_Oktober_2008. Diakses
pada 21 November 2015
Muchlisoh. 1992.
Pendekatan Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Universitas Terbuka.
Suyono dan
Heriyanto. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Wardhana, Yana.
2010. Teori belajar dan mengajar. Bandung ; PT. Pribumi Mekar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar