PENGGUNAAN PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL PADA KEMAMPUAN BERBICARA SISWA DALAM HAL BERPIDATO
Makalah
ini dibuat untuk melengkapi tugas
Teori
Belajar Bahasa
Dosen Pengampu:
Haerudin, M.Pd
Disusun :
Laisa
Bahriani (1388201010)
Semester/Kelas:
V(lima)/ A.2
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
TAHUN AKADEMIK 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pengertian Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning
(CTL), merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik
membuat hubungan anatar pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pembelajaran
kontekstual memusatkan pada bagaimana peserta didik mengerti makna dari apa
yang mereka pelajari, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, bagaimana
mencapainya dan bagaimana mereka mendomentrasikan apa yang telah mereka
pelajari.
Dalam setiap jejang pendidikan pembelajaran
bahasa diterapkan mulai dari Sekolah Dasar, Menengah sampai keperguruan tinggi.
Keterampilan berbahasa mencakup empat keterampilan antara lain menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis. Dalam makalah ini akan dijelasakan mengenai
materi yang menyangkut keterampilan berbicara dengan dipadukan menggunakan
metode kontekstual atau Contextual.
B.
Rumusan
Masalah
Rumusan masalah dalam
makalah ini sebagai berikut.
1.
Apa
pengertian pembelajaran Kontekstual ?
2.
Apa
pengertian dari strategi pembelajaran kontekstual ?
3.
Sebutkan
apa saja komponen-komponen pembelajaran kontekstual ?
4.
Apa
pengertian dari berbicara ?
5.
Apa
pengertian dari berpidato ?
6.
Bagaimana
penggunaan pembelajaran konteksual dalam pembelajaran berbicara pidato ?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui apa itu pembelajaran kontekstual
2.
Untuk
mengetahui strategi pembelajaran kontekstual
3.
Untuk
mengetahui apa saja komponen dalam pebelajaran kontekstual
4.
Untuk
mengetahui apa itu berbicara
5.
Untuk
mengetahui apa itu berpidato
6.
Untuk
mengetahui penggunaan pembelajaran konteksual dalam pembelajaran berbicara
pidato
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pembelajaran Kontekstual
Menurut Suprijono (2013:79). Pembelajaran kontekstual merupakan
prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik
memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan konteks kehidupan
mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat.
Pembelajaran konteksual juga dikenal dengan experiental learning,
real world, education, active dan learned centered instruction. Asumsi
pembelajaran tersebut adalah (a) belajar yang baik adalah jika peserta didik
terlibat secara pribadi dalam pengalaman belajarnya, (b) pengetahuan harus
ditemukan peserta didik sendiri agar mereka memiliki arti atau dapat membuat
distingsi berbagai perilaku yang mereka pelajari, (c) peserta didik harus
memiliki komitmen terhadap belajar dalam keadaan paling tinggi dan berusaha
secara aktif untuk mencapainya dalam kerangka kerja tertentu.
Pembelajaran kontekstual memusatkan pada bagaimana peserta didik
mengerti makna dari apa yang mereka pelajari, apa manfaatnya, dalam status apa
mereka, bagaimana mencapainya dan bagaimana mereka mendomentrasikan apa yang
telah mereka pelajari.
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran aktif. Pembelajaran
ini berpusat pada keaktifan peserta didik. Belajar merupakan aktivitas
penerapan pengetahuan, bukan menghafal. Peserta didik “acting”, guru
mengarahkan.
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang memusatkan
pada proses dan hasil, sehingga assesmen
dan evaluasi memegang peran penting untuk mengetahui pencapaian standar
akademik dan standar performance (kinerja).
B. Strategi
Pembelajaran Kontekstual
Menurut Suprijono (2013:83) stretegi pembelajaran merupakan
kegiatan yang dipilih yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Srategi pembelajaran mencakup
juga pengaturan materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (
CORD) penerapan strategi pembelajaran kontekstual digambarkan sebagai berikut:
1.
Relating,
belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
2.
Experiencing,
belajar adalah kegiatan “mengalami”, peserta didik berproses secara aktif
denganhal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap yang
dikaji.
3.
Applying,
belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki
dalam konteks dan pemanfaatannya.
4.
Cooperating,
belajar merupakan proses kolaborasi dan koopertaif melalui belajar kelompok,
komunikasi interpersonal, atau hubungan intersubjektif.
5.
Transferring,
belajar menekankan pada terwujudnya kemampuan memanfaatkan pengetahuan dalam
situasi atau konteks baru.
Menurut Muslich (2007:49) berdasarkan pemahaman, karekteristik, dan
komponen endekatan kontekstual, beberapa strategi pengajaran yang dapat
dikembangkanoleh guru melalui pembelajaran kontekstual antara lain sebagai
berikut:
1.
Pembelajaran
Berbasis Masalah
Sebelum
memulai proses belajar mengajar didalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta
untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat
permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu, guru harus merangsang siswa
untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada.
2.
Memanfaatkan
Lingkungan Siswa untuk Memperoleh Pengalaman Belajar
Guru
memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa
antara lain di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan yang diberikan guru
memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar diluar kelas.
3.
Memberikan
Aktivitas Kelompok
Aktivitas
belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan
interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain.
4.
Membuat Aktivitas
Belajar Mandiri
Peserta
didik mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit
atau tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, siswa harus lebih
memerhatikannya bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan
masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh.
5.
Membuat
Aktivitas Belajar Bekerja sama dengan Masyarakat
Sekolah
dapat melakukan kerja sama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus
untuk menjadi guru tamu. Selain itu, kerja sama juga dapat dilakukan dengan
institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja. Misalnya
meminta siswa untuk magang di tempat kerja.
6.
Menerapkan
Penilaian Autentik
Penilaian
autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah
mereeka pelajari selama proses mengajar.
C. Komponen
Pembelajaran Kontekstual
Menurut Suprijono (2013:85) Ada 7 (tujuh) komponen pembelajaran
kontekstual yaitu kontruktivisme, inkuiri, bertanya (questioning), masyarakat
belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi, dan penilaian
auntetik.
1.
Kontruktivisme
Belajar
berdasarkan kontruktivisme adalah “mengontruksi” pengetahuan. Pengetahuan
dibangun melalui proses asimilasi dan akomodasi (pengintegrasian pengetahuan baru
terhadap struktur kognitif yang sudah ada penyesuaian struktur kognitif dengan
informasi baru). Belajar berbasis kontruktivisme meekankan pemahaman pada pola
dari pengetahuan.
2.
Inkuiri
Kata
kunci pembelajaran kontekstual salah satunya adalah “penemuan”. Belajar
penemuan menunjuk pada proses dan hasil belajar. Belajar penemuan melibatkan
peserta didik dalam keseluruhan proses metode keilmuan sebagai langkah-langkah
sistematik menemukan pengetahuan baru atau memferivikasi pengetahuan lama.
Prosedur inkuiri terdiri dari tahapan yaitu melontarkan permasalahan,
mengumpulkan data dan verivikasi, mengumpulkan data dan eksperimentasi,
merumuskan penjelasan, dan menganalisis proses inkuiri.
3.
Bertanya
Pembelajaran
kontekstual dibangun melalui dialog interkatif melalui tanya jawab oleh
keseluruhan unsur yang terlibat dalam komunitas belajar. Melalui berbagai
pertanyaan peserta didik dapat melakukan probing, sehingga informasi yang
diperolehnya lebih mendalam. Bertanya adalah proses dinamis, aktif, dan
produktif. Bertanya adalah fondasi dari interaksi belajar mengajar.
4.
Masyarakat
Belajar
Pembelajaran
kontekstual menekankan arti penting pembelajaran sebagai proses sosial. Melalui
interaksi dalam komunitas belajar proses dan hasil belajar menjadi lebih
bermakna. Hasil belajar diperoleh dari berkolaborasi dan berkooperasi. Dalam praktiknya “masyarakat belajar”
terwujud dalam pembentukan kelompok besar, mendatangkan ahli ke kelas,
bekerjasama dengan kelas paralel, bekerja kelompok dengan kelas diatasnya,
bekerja sama dengan masyarakat.
5.
Pemodelan
Pembelajaran
kontekstual menekankan arti penting pendemonstrasian terhadap hal yang
dipelajari peserta didik. Pemodelan memusatkan pada arti penting pengetahuan
prosedur. Melalui pemodelan peserta didik dapat meniru terhadap hal yang
dimodelkan. Model bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh karya tulis,
melafalkan bahasa dan sebagainya.
6.
Refleksi
Refleksi
adalah bagian penting dalam pembelajaran kontekstual. Refleksi merupakan upaya
untuk melihat kembali, mengorganisir kembali, menganalisis kembali,
mengklarifikasi kembali, dan mengevaluasi hal-hal yang telah dipelajari.
7. Penilaian Autentik
Upaya pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar peserta didik.
D.
Pengertian Berbicara
Menurut Tarigan (2008:16), setiap orang akan mengucapkan
kata-kata atau bunyi-bunyi artikulasi untuk mengekspresikan dan menyampaikan
gagasan, pikiran, dan perasaan. Berbicara menjadi salah satu alat komunikasi untuk
menyampaikan sesuatu kepada.
Menurut
Mulgrave (dalam Tarigan 2008:16) berbicara merupakan instrumen yang
mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembaca
memahami atau tidak, baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah
dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak pada saat
mengomunikasikan gagasan-gagasannya, dan apakah dia waspada atau antusias atau
tidak. Berbicara adalah salah
satu kelebihan manusia dibanding
makhluk hidup yang lain.
Dapat disimpulkan
bahwa berbicara adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok
orang yang mengucapkan kata-kata untuk menyatakan dan mengekspresikan
pemikiran, gagasan dan perasaan kepada sekelompok orang atau individu sebagai
pendengar. Berbicara memiliki tujuan yang bermacam-macam. Keterampilan dalam
berbicara juga dibagi berdasarkan jumlah pendengar atau penyimak, serta
kegiatan yang dilakukan. Keterampilan dalam berbicara harus selalu
ditingkatkan, dengan begitu, kita dapat berkomunikasi dengan baik dan
menyampaikan pikiran kita dengan baik. Cara untuk meningkatkan keterampilan
dalam berbicara yaitu dengan meningkatkan rasa percaya diri dan sering berlatih
berbicara di depan umum. www.duniapelajar.com/2014/07/08/pengertian-berbicara-menurut-para-ahli/
E. Berbicara Sebagai Salah Satu Cara Berkomunikasi
Manusia adalah makhluk
sosial dan tindakan pertama dan paling penting adalah tindakan sosial, suatu
tindakan tepat saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan menerima
pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan, serta
menyetujui suatu pendirian atau keyakinan.
Komunikasi mempersatukan
para individu ke dalam kelompok-kelompok dengan jalan menggolongkan
konsep-konsep umum. Selain itu menciptakan serta mengawetkan ikatan-ikatan
kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakan dari kelompok-kelompok lain, dan
menetpkan suatu tindakan.
Ujaran sebagai salah satu cara
berkomunikasi sangat mempengaruhi kehidupan individual kita. Dalam sistem
inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, dan keinginan dengan
bantuan lambang-lambang yang disebut kata-kata. Dari pembicaraan diatas, dapat
kita ketahui betapa besarnya peranan bahasa dalam kehidupan manusia.
Professor
Anderson (dalam Tarigan 2008:9), mengemukakan adanya 8 prinsip (linguistik)
dasar, yaitu:
1. Bahasa
adalah suatu system,
2. Bahasa
adalah vocal (bunyi ujaran,
3. Bahasa
tersusun lambing-lambang mana suka,
4. Setiap
bahasa berspat uni (bersifat khas),
5. Bahasa
dibangun dari kebiasan-kebiasaan,
6. Bahasa
adalah alat komunikasi,
7. Bahasa
berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada,
8. Bahasa
itu berubah-ubah.
F.
Pengertian Pidato
Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk
disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan,
pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara
atau event, dan lain sebagainya. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif
bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau
berbicara yang baik di depan publik/umum dapat membantu untuk mencapai jenjang
karir yang baik.
G.
Tujuan Pidato
Pidato umumnya melakukan satu atau beberapa hal berikut ini :
1. Mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti kemauan dengan
suka rela.
2. Memberi suatu pemahaman atau informasi pada orang lain.
3. Membuat orang lain senang dengan pidato yang menghibur
sehingga orang lain senang dan puas dengan ucapan yang kita sampaikan.
H.
Metode Berpidato
Di dalam kegiatan berpidato dikenal empat macam metode
pidato. Metode pidato tersebut antara lain:
1. Metode Impromptu ialah metode yang dilakukan dengan cara
spontanitas. Serta merta adanya persiapan terlebih dahulu.
2. Metode Hafal ialah
metode yang dilakukan dengan cara menyampaikan isi naskah yang telah dihafal
terlebih dahulu.
3. Metode Naskah ialah metode berpidato dengan cara pembicara
membaca teks/naskah yang tealah dipersiapkan.
4. Metode Ekstemporan ialah metode berpidato dengan telebih
dahulu membuat catatan kecil atau menyiapkan garis-garis besar isi pidato yang
ingin disampaikan.
I.
Faktor Penunjang Keefektifan
Berpidato
Ada beberapa fakto yang dapat
menunjang seseorang dalam berpidato. Faktor-faktor tersebut sebagai berikut:
1.
Pembicara
dituntut seseorang yang bermoral,
2.
Pembicara
hendaknya sehat jasmani dan rohani,
3.
Sarana
yang diperlukan hendaknya cukup menunjang, dan
4.
Perhatikan
adat istiadat, kebiasaan, agama, waktu berpidato, dan menyesuaikan gayanya
dengan massa.
Faktor-faktor itu sangat penting
diperhatikan demi kelnacaran dan kemomunikatifan jalannya pidato.
J.
Penggunaan Pembelajaran Konteksual dalam Pembelajaran
Berbicara Pidato
Pembelajaran
kontekstual dapat menambah minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran
berpidato karena masalah-masalah yang disajikan, selain bersumber dari guru
dapat juga berasal dari pengalaman-pengalaman siswa sehingga ketika siswa
belajar berpidato akan merasakan bahwa belajar berpidato memang bermanfaat bagi
mereka.
Pembelajaran
berpidato merupakan keterampilan yang bersifat produktif yang
selain berkaitan dengan kompetensi psikis, pidato juga berkaitan
dengan kompetensi fisik. Hal yang berkaitan dengan berbicara perseta didik
dapat berpidato di depan teman-teman
dengan memperhatikan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang
jelas.
Keterampilan berbicara
dengan menggunakan bahasa Indonesia sesuai yang dengan kaidah-kaidah merupakan
salah satu hal yang perlu diperhatikan agar memperoleh hasil yang optimal dalam
proses belajar mengajar bahasa yang berkaitan dengan materi berpidato.
Pembelajaran berpidato
merupakan keterampilan yang bersifat produktif yang selain berkaitan dengan
kompetensi psikis, pidato juga berkaitan dengan kompetensi fisik. Hal yang
berkaitan dengan berbicara perseta didik dapat berpidato di depan teman-teman
dengan memperhatikan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang
jelas. Hal-hal yang di atas, pembelajaran tersebut mengaitkan dengan pendekatan
kontekstual. Yang memiliki tujuan komponen utama, konstruktivisme, inkuiri,
bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian
yang sebenarnya.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pembelajaran kontekstual memusatkan pada
bagaimana peserta didik mengerti makna dari apa yang mereka pelajari, apa
manfaatnya, dalam status apa mereka, bagaimana mencapainya dan bagaimana mereka
mendomentrasikan apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran
kontekstual merupakan pembelajaran aktif. Pembelajaran ini berpusat pada
keaktifan peserta didik. Belajar merupakan aktivitas penerapan pengetahuan, bukan
menghafal.
Dalam pembelajaran kontekstual terdapat komponen yaitu, kontruktivisme,
inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, reflekasi, dan penilaian
autentik.
Berbicara adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang atau
sekelompok orang yang mengucapkan kata-kata untuk menyatakan dan
mengekspresikan pemikiran, gagasan dan perasaan kepada sekelompok orang atau
individu sebagai pendengar. Pidato adalah sesuatu yang disampaikan didepan orang banyak dengan
menggunakan susunan kata yang baik.
Jadi dalam pembelajaran kontekstual
dalam penggunaan berbicara dalam hal berpidato yaitu untuk menambah minat dan
memotivasi siswa terhadap pembelajaran berpidato agar siswa dapat berlatih
dalam hal berbicara didepan orang banyak sehingga siswa lebih berani untuk
berbicara.
B. Saran
Penulisan
masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab
itu, makalah ini untuk dibaca dan diharapkan agar dapat memberikan saran dan
kritikan yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Muslich, Masnur. 2009. KTSP Pembelajaran
Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara
Tarigan, Hendry Guntur. 2008. Berbicara Sebagai
suatu keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning
Teori Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar