PENDEKATAN
KONTRUKTIVISME MELALUI METODE DISKUSI YANG DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa
Dosen
Pengampu : Haerudin, M.Pd.
Disusun
oleh :
Lailatus
Sa’adah
Kelas
/Semester : A2/ V (lima)
PROGRAM PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Dalam setiap proses
pembelajaran memerlukan pendekatan agar menghasilkan siswa yang bermutu dalam
dunia pendidikan . Pendekatan dalam belajar mengajar pada hakikatnya merupakan
suatu upaya dalam mengembangkan keaktifan belajar yang dilakukan oleh peserta
didik dan guru. Dengan pembelajaran yang digunakan melalui pendekatan
kontuktivisme pada metode diskusi pembelajaran agar meningkatkan motivasi
belajar siswa di kelas.
Berdasarkan definisi pendekatan
kontruktivisme diatas yang dikaitkan dengan proses pembelajaran ,timbullah
suatu masalah yang dapat diteliti terhadap dampak positif dan negative terhadap
siswa dalam metode diskusi. Hal inilah yang mendorong penulis untuk meneliti
bagaimana menciptakan motivasi siswa dalam situasi pembelajaran di kelas agar
berjalan dengan aktif dan dapat mengimplementasikannya pada lingkungan sosial
siswa.
- Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini diantarannya :
1.
Apakah
pengertian proses pendekatan pembelajaran?
2.
Apakah
pengertian pendekatan kontruktivisme?
3.
Apa saja
kelebihan dan kekurangan dalam metode diskusi?
4.
Bagaimana
meningkatkan motivasi belajar terhadap siswa?
- Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pendekatan proses pembelajaran.
2.
Untuk
mengetahui pendekatan kontruktivisme
3.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan metode diskusi dalam belajar.
4.
Untuk
mengetahui motivasi belajar
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Membahas
masalah pendekatan pembelajaran terutama dalam proses belajar mengajar tidak
terlepas dari pengertian pendekatan. “Pendekatan dalam belajar
mengajar pada hakikatnya merupakan suatu upaya dalam
mengembangkan keaktifan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan guru”.
Sedangkan menurut Rini Budiharti (1998:2) dalam bukunya “Strategi Belajar Mengajar
Bidang Studi” dikatakan bahwa : Pendekatan adalah cara umum dalam memandang
permasalahan atau obyek kajian, sehingga berdampak ibarat seseorang mengenakan
kacamata dengan warna tertentu di dalam memandang alam sekitar, kacamata yang
berwarna hijau akan menyebabkan dunia kelihatan kehijau-hijauan, kacamata
berwarna coklat membuat dunia kelihatan kecoklat-coklatan dan seterusnya.
“Pembelajaran
adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya
perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan
didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu relatif lama dan karena
adanya usaha”.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran adalah suatu
cara yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam memandang permasalahan atau obyek
kajian untuk mencapai tujuan.
- Pendekatan Konstruktivisme
1)
Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivisme
Pada bagan ini akan
dibahas proses belajar dari pandangan kontruktivistik, dan dari spek-aspek
si-belajar, peranan guru, sarana belajar, dan valuasi belajar.
Proses
belajar kontruktivistik, secara konseptual proses belajar
jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai pemeroleh informasiyang
berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai
pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan
akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya. Kegiatan
belajar lebih dipandang dari segi prosesnya daripada segi pemerolehan
pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas.
Peranan
siswa (si-belajar), menurut pandangan kontruktivistik,
belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus
dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir,
menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru
memang harus dan dapat mengambil prakarsa untuk manta lingkungan yang memberi
peluang optimal bagi terjadinya beelajar. Namun yang akhirnya paling menentukan
terwujudnya gejala belajar adalah niat siswa sendiri. Dengan istilah lain,
dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada sisiwa.
Peranan
Guru,
dalam belajar kontruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses
pengkontruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak
mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa
untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami
jalan pikiran atau sudut pandang siswa dalam belajar,
Peranan
kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi:
1. Menumbuhkan
kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan
bertindak.
2. Menumbuhkan
kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan siswa.
3. Menyediakan
system dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang
optimal untuk berlatih.
Sarana
belajar, pendekatan kontruktivistik menekankan bahwa peranan
utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi
pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan,
lingkungan dan fasilitas lainnya yang disediakan untuk membantu pembentukan
tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya
yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan terlatih untuk
berpikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri, kritis, kreatif
dan mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya secara rasional.
Evaluasi
belajar, pandangan kontruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat
mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas. Ada
perbedaan penerapan evaluasi belajar antara pandangan behavioristic yang
obyektifis dan kontruktivistik. Bentuk-bentuk evaluasi kontruktivistik dapat
diarahkan pada tugas-tugas autentik, mengkonstruksi pengetahuan yang
menggambarkan proses berpikir yang lebih tinggi seperi tingkat “penemuan” pada
taksonomi Merril, atau “strategi kognitif” dari Gagne serta “sintesis” pada
taksonomi Bloom. Juga mengkonstruksi pengalaman siswa, dan mengarahkan evaluasi
pada konteks yang luas dengan berbagai perspektif.
2)
Strategi Mengajar Konstruktivisme
Menurut
Bettencourt (1989) menyatakan pendapatnya tentang mengajar bagi kaum
konstruktivis Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke
murid,melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.
Mengajar berarti berpartisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan,
membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi.
Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Beberapa
ciri-ciri mengajar konstruktivis sebagai berikut:
- Orientasi.
Murid
diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu suatu
topik. Murid diberi kesempatan untuk mengadakan observasi terhadap topik yang
hendak di pelajari.
- Elicitasi.
Murid
dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis,
membuat poster, dan lain-lain. Murid diberi kesempatan untuk mendiskusikan apa
yang diobservasikan, dalam wujud tulisan, gambar, ataupun poster.
- Restrukturisasi ide.
Dalam
hal ini ada tiga hal.
(1)
Klasifikasi ide yang dikontraskan dengan ide-ide orang lain atau teman lewat
diskusi ataupun lewat pengumpulan ide. Berhadapan dengan ide-ide lain, seorang
dapat terangsang untuk merekonstruksi gagasannya kalau tidak cocok atau
sebaliknya, menjadi lebih yakin bila gagasannya cocok.
(2)
Membangun ide yang baru. Ini terjadi bila dalam diskusi itu idenya bertentangan
dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawb pertanyaanpertanyaan yang
diajukan teman-temannya.
(3.)
Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Kalau dimungkinkan, ada baiknya
bila gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan suatu percobaan atau persoalan
yang baru.
- Penggunaan ide dalam banyak situasi.
Ide
atau pengetahuan yang telah dibentuk oleh siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam
situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan murid lebih lengkap dan
bahkan lebih rinci dengan segala macam pengecualinya.
- Review,
Bagaimana
ide itu berubah. Seseorang perlu merevisi gagasannya entah dengan menambahkan
suatu keterangan ataupun mungkin dengan mengubahnya menjadi lebih lengkap.
Penggunaan
pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran menimbulkanperubahan konsep pada
diri siswa. Tentu saja, mengetahui perbedaan antara perubahan konsep yang
terjadi pada siswa dengan guru memberikan kesempatan yang baik untuk
suatu proses pengajaran. Sungguh pun, konstruktivisme menekankan pada
pengetahuan siswa yang telah ada sebelumnya atau bermacam-macam konsep,
para guru mungkin mendapatkan kesulitan bagaimana cara menggabungkannya.
- Metode pembelajaran
Seorang guru dituntut memiliki strategi dalam
melaksanakan tugas mengajarnya. Strategi tersebut dimaksudkan agar peserta
didik terlibat aktif belajar. Ketepatan penggunaan metode pembelajaran menjadi
salah satu faktor penentu keberhasilan proses belajar mengajar. “Keberhasilan
implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan
metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan
melalui penggunaan metode pembelajaran”. Sedangkan Gagne dan Briggs “Metode
adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya
mencapai tujuan kurikulum”.
- Metode Diskusi
Menurut Rini Budiharti (1998:35), “Metode Diskusi
adalah salah satu metode belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di
sekolah”. Pada dasarnya dalam diskusi terjadi proses interaksi antara dua atau
lebih individu yang semua berperan aktif untuk saling tukar menukar pengalaman,
informasi dalam memecahkan masalah. Menurut Roestiyah N.K (2008:5), “Di dalam
diskusi ini proses interaksi antara dua orang atau lebih individu yang
terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat
terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja”.
Tujuan
penggunaan diskusi sebagai berikut :
Pertama
: Dengan diskusi siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk
memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. Mungkin
ada perbedaan segi pandangan, sehingga memberi jawaban yang berbeda. Hal itu
tidak menjadi soal asal pendapat itu logis dan mendekati kebenaran. Jadi siswa
dilatih berpikir dan memecahkan masalah itu sendiri.
Kedua
: Siswa mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, karena hal itu perlu untuk
melatih kehidupan yang demokratis. Dengan demikian siswa melatih diri untuk
menyatakan pendapatnya sendiri secara lisan tentang suatu masalah bersama.
Ketiga
: Diskusi memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam
pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama.
Menurut Margono (1998:31-32), penggunaan metode
diskusi mempunyaibeberapa kelebihan dan kelemahan.
Kelebihan penggunaan metode diskusi :
1)
Siswa dapat langsung aktif terlibat dalam proses belajar.
2)
Dapat mempertahankan perhatian siswa dan menghindari terjadinya suasana yang
monoton.
3)
Memungkinkan timbulnya gagasan baru dan pengertian baru sebagai akibat tukar
menukar informasi maupun tukar pengalaman.
4)
Melatih ketrampilan intelektual seperti mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan
yang tepat, menyampaikan argumentasi yang logis, berfikir secara reflektif dan
sebagainya.
5)
Dapat mengembangkan latihan berkomunikasi antar pribadi dan keterampilan dalam
bekerjasama.
6)
Dapat memberikan umpan balik tentang kemajuan belajar siswa.
Kelemahan
metode diskusi :
1)
Diskusi hanya berlangsung dengan baik
bila para siswa memiliki latar belakang kemampuan yang sama.
2)
Memerlukan waktu banyak.
3)
Sangat tergantung pada kemampuan siswa untuk berpartisipasi.
4)
Memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari guru untuk mengontrol ataupun
mengarahkan keberhasilan pelaksanaan diskusi.
Dari uraian di atas, diketahui bahwa
dengan metode diskusi para siswa memiliki kesempatan untuk lebih berpartisipasi
dan berinteraksi dalam kelompoknya untuk mengungkapkan gagasan, tukar menukar
pengalaman dan informasi dalam memecahkan masalah sehingga suasana lebih
dinamis.
- Motivasi Belajar
a.
Pengertian Motivasi Belajar
Setiap individu memiliki kondisi internal yang turut
berperan dalam aktivitas dirinya termasuk dalam belajar. Salah satu dari
kondisi internal tersebut adalah motivasi.
Menurut
Hamzah B. Uno (2007:3), “Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat
diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan
individu tersebut bertindak atau berbuat”. Motif ini tidak dapat diamati tetapi
dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku yang berupa rangsangan, dorongan,
atau pembangkit tenaga munculnya tingkah laku tertentu. Pengertian motivasi
juga dikemukakan oleh Mc. Donald yang dikutip oleh Oemar Hamalik (2008:106),
“motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang
ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan”. Motivasi
belajar mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar.
Menurut Hamzah B.Uno (2007:23), “Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal
dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan
tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung”.
Selain itu Sardiman A.M. (1990:84) menyatakan, “Hasil belajar akan menjadi
optimal, kalau ada motivasi”.
Dari
beberapa pendapat di atas dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi belajar
adalah kekuatan yang terdapat dalam diri siswa baik yang berasal dari dalam maupun
luar siswa yang dapat menimbulkan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
b.
Sifat Motivasi
Sifat motivasi yang dirangkum dari Oemar Hamalik
(2008:112-113) dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1)
Motivasi intrinsik
Motivasi
intrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber
dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri.
2)
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi
ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi
belajar, seperti : angka, kredit, ijazah, tingkatan, hadiah, medali,
pertentangan dan persaingan; yang bersifat negative ialah sarkasme, ejekan
(ridicule), dan hukuman.
c.
Ciri motivasi belajar
Menurut Sardiman A. M. (1990:82-83), motivasi yang
ada pada diri setiap orang
memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
1)
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak
pernah berhenti sebelum selesai);
2)
Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan
dari
luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang
telah dicapainya);
3)
Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah untuk orang dewasa (misalnya
masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, keadilan, pemberantasan korupsi,
penentangan terhadap setiap tindak criminal, amoral,
dan
sebagainya);
4)
Lebih senang bekerja mandiri;
5)
Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang
begitu saja, sehingga kurang kreatif);
6)
Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu);
7)
Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu;
8)
Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
d.
Cara menumbuhkan motivasi belajar
Cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan
belajar di sekolah yang dirangkum dari Sardiman A.M. (1990:91-94) adalah
sebagai berikut :
1)
Memberi angka
Angka
sebagai simbol dari nilai kegiatan belajar siswa. Untuk itu banyak siswa belajar
untuk mencapai angka / nilai yang baik.
2)
Hadiah
Hadiah
dapat dikatakan sebagai suatu motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian. Karena
hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak
senang dan tidak berbakat untuk pekerjaan tersebut.
3)
Saingan/ kompetisi
Persaingan
baik individu maupun kelompok dapat digunakan sebagai alat motivasi sehingga
meningkatkan prestasi belajar siswa.
4)
Ego-involvement
Menumbuhkan
kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai
tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah
sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.
5)
Memberi ulangan
Para
siswa akan menjadi giat belajar jika mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena
itu ulangan juga merupakan sarana motivasi. Mengetahui hasil dengan mengetahui
hasil pekerjaan, apalagi jika terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk
lebih giat belajar.
7)
Pujian
Pujian
adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi
yang baik.
8)
Hukuman
Hukuman
adalah bentuk reinforcement yang negative tetapi bila diberikan secara
tepat dan bijak bias menjadi alat motivasi.
9)
Hasrat untuk belajar
Hasrat
untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar,
sehingga sudah barang tentu hasilnya baik.
10)
Minat
Motivasi
muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga minat sehingga minat merupakan alat
motivasi yang pokok. Proses belajar akan lancar jika disertai dengan minat.
11)
Tujuan yang diakui
Rumusan
tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa adalah alat motivasi yang
sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat
berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk belajar.
e.
Peran Motivasi dalam Belajar dan Pembelajaran
Peranan penting motivasi dalam belajar dan
pembelajaran seperti yang diungkapkan Hamzah B. Uno (2007: 27-28) adalah
sebagai berikut:
1)
Memberi penguatan belajar
Motivasi
dapat berperan dalam penguatan belajar apabil seorang anak yang belajar
dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan
berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya.
2)
Memperjelas tujuan belajar
Seorang
anak akan tertarik belajar sesuatu jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah
dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak. Hal ini membuat anak mengetahui
makna dari belajar.
3) Menentukan
ketekunan belajar
Seorang
anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan berusaha mempelajarinya
dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh nilai yang baik.
BAB III
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk
membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa
yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang
berlaku dalam waktu relatif lama dan karena adanya usaha.
Proses belajar kontruktivistik, secara konseptual
proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai pemeroleh
informasiyang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan
sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses
asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya.
Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya daripada segi pemerolehan
pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas.
Metode adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan
materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Di dalam diskusi ini
proses interaksi antara dua orang atau lebih individu yang terlibat, saling
tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga
semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.
Motivasi belajar adalah kekuatan yang terdapat dalam
diri siswa baik yang berasal dari dalam maupun luar siswa yang dapat
menimbulkan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar.
- Saran
Guru harus bisa memahami pendekatan dalam pengajaran
yang akan dilakukan agar terciptanya siswa yang bermutu dikemudian hari,
melalui pendekatan, strategi dan model-model yang diajarkan serta diberikan
berharap siswa bisa lebih termotivasi dalam belajar.
DAFTAR
PUSTAKA
Sanjaya
Wina, 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
Jakarta : Kencana Prenada Media
Suparman, 2002. Gaya
Mengajar Yang Menyenangkan Siswa, Jakarta : Pinus
M. Ngalim Purwanto,
2013. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosyda Karya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar