Selasa, 22 Desember 2015



KONSEP, TEORI BELAJAR     
Tugas dari Teori bahasa Indonesia   



Di susun oleh:
Fifiyatul alawiyah
Kelas/ Semester:
A2/ V (lima)
Dosen : Pak haerudin, M.pd


Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
 Tahun 2015/2016
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah melimpahkan karunia terbesar-Nya atas selesainya penyusunan makalah Teori bahasa Indonesia, sebagai salah satu perangkat kelengkapan makalah tugas individu. Penyusunan makalah ini dalam rangkah menindak lanjuti bagaimana memahami tentang Teori-teori belajar.
Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan pengetahuan, untuk kami yang membuatnya dan memberikan banyak manfaat kepada peserta didik sebagai acuan pembelajaran serta sebagai acuan penambahan pengalaman dalam mengajar Bahasa dan sastra Indonesia. Dan kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Teori Bahasa Indonesia yakni pak Haerudin, M.Pd atas arahan dan bimbingannya sehingga terselesainya tugas ini.
Apabila ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami selalu penyusun berharap para pembaca dapat memberikan memberikan kritik dan saran untuk meningkatkan makalah ini agar lebih baik.









BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Profesi mengandung dua dimensi, yaitu dimensi sifat kegiatan dan dimensi tingkat kemahiran dalam melaksanakan kegiatan. Pada dimensi pertama dapat kita bedakan ‘’kegiatan-kegiatan untuk mencari nafkah’’ dari ‘’kegiatan-kegiatan untuk kesenangan semata-mata,’’ yang pertama disebut pekerjaan (occupation), sedangkan yang kedua disebut hobi atau kegemaran. Pada dimensi kedua, yaitu dimensi tingkat kemahiran, dapat dibedakan dalam tiga jenis kegiatan, yaitu :
1.      Kegiatan yang dilaksanakan dengan tingkat kemahiran yang sangat tinggi;
2.      Kegiatan yang dilaksanakan dengan tingkat kemahiran sedang; dan
3.      Kegiatan yang dilakukan tanpa kemahiran sama sekali.

B.      RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, sehingga, munculah rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan profesional ?
2.      Apa yang dimaksud dengan tingkat kemahiran ?
3.      Apakah peran dari tingkat kemahiran ?

C.      TUJUAN

1.      Supaya memahami pengertian dari guru profesional.
2.      Supaya memahami pengertian dari guru profesional belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Teori Guru Profesional
Profesi memiliki ciri sentral : kecakapan dan pengetahuan formal yang kompleks dan pendekatan etis pada pekerjaan mereka. Pengetahuan dan kecakapan atau pengalaman memungkinkan mereka menemukan dan kemudian melakukan hal yang secara moral benar. Guru profesional dianggap menjadi agen yang dapat dipercaya bagi klien mereka, karena mereka ini ahli ; atau mereka merupakan pemberi pelayanan yang demi bayaran menaati kehendak para klien. Ciri lain profesi, yaitu : pekerjaan yang pada awalnya memerlukan pelatihan yang sifatnya harus intelektual, yang menyangkut pengetahuan dan sampai tahap tertentu kesarjanaan, yang berbeda dari sekedar keahlian, sebagaimana terbedakan dari kecakapan semata, pekerjaan itu dikerjakan sebagian besar untuk orang lain dan bukan hanya demi diri sendiri saja, dan imbalan uang tidak diterima sebagai ukuran keberhasilan. Pendekatan ini menekankan hubungan yang erat antara profesional dan kesanggupan untuk melayani orang lain.
Suatu profesi memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Menurut Usman (2002:15), setiap pekerjaan yang tergolong dalam suatu profesi, diantaranya memiliki persyaratan sebagai berikut :
Memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Memiliki klien/obyek layanan tetap, seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan muridnya.
Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
Untuk memenuhi persyaratan-persyaratan itu, menurut Andreas Harefa (2004:132-133), orang profesional harus memiliki sejumlah ciri yang menggambarkan eksistensinya, yaitu: bangga pada pekerjaan dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas, berusaha meraih tanggung jawab, mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah mereka menunjukkan inisiatif, mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas, melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka, selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani, benar-benar mendengarkan kebutuhan orang-orang yang mereka layani, belajar memahami dan berpikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu tidak ada di tempat, pemain tim, bisa dipercaya memegang rahasia, jujur, bisa dipercaya, setia, dan terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
Penilaian dilakukan melalui serangkaian kegiatan proses pembanding kondisi sekolah dengan kriteria (standar) yang telah di tetapkan. Standar-standar tersebut meliputi : a) standar input; b) standar proses; maupun c) standar ouput. Mengingat standar-standar tersebut terdiri dari berbagai aspek dan sub aspek yang saling terkait satu sama lain untuk mencapai tujuan sekolah, maka standar tersebut harus disusun secara kronologis berdasarkan standar yang ada yang isinya dari waaktu ke waktu dapat berubah sesuai dengan perkembangan dan tuntutan pendidikan masa depan. Standar input mencakup : Aspek tenaga kependidikan; Aspek kesiswaan; Aspek sarana; dan pembiayaan. Pelaksanaannya mencakup :
1.      Aspek kurikulum dan bahan ajar;
2.      Aspek PBM;
3.      Aspek penilaian; dan
4.      Aspek manajemen dan kepimpinan.
Sedangkan aspek harapan dan keputusan sekolah mencakup :
1.      Aspek prestasi belajar siswa;
2.      Aspek prestasi guru dan kepala sekolah; dan
3.      Aspek prestasi sekolah.
Selanjutnya aspek tenaga kependidikan terdiri dari : guru, kepala sekolah, dan karyawan. Keberadaan guru, kepala sekolah dan karyawan akan ‘’dipotret’’ secara komprehensif dan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Aspek kesiswaan terdiri dari : kondisi siswa dan prestasi siswa yang merupakan bahan baku sekolah dan sangat menentukan pembinaan prestasi siswa kedepan. Sedangkan aspek sarana yang terdiri dari : keberadaan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang keterampilan/kesenian, ruang adminitrasi, kamar kecil, lingkungan sekolah, dan fasilitas pendukung (media/alat peraga). Selanjutnya aspek pembiayaan terdiri dari : sumber pendanaan, penggunaan dana, dan akuntabilitas penggunaan dana. Indikator-indikator yang ada pada aspek sarana maupun aspek pembiayaan cukup penting mengingat proses belajar mengajar tidak akan dapat optimal tanpa dukungan sarana yang lengkap dan pembiayaan yang cukup.
Strategi Penilaian Kinerja Guru
Penilaian kinerja guru, pada dasarnya adalah untuk menilai kelayakan dalam aktivitas profesi yang menjadi tanggung jawabnya, dengan harapan seluruh prosedur yang di tempuh menjadi hasil belajar siswa. Oleh sebab itu, beberapa peneliti di berbagai Negara telah menentapkan standar-standar yang menjadi rujukan.
Beberapa prosedur yang di tempuh dalam penilaian kinerja guru. Pertama, ditinjau dari kewenangan dan sesuai dengan kebutuhan dari tujuan penilaian itu sendiri. Orang yang mempunyai kewenangan dapat ditinjau dari lingkungan sekolah baik dari dalam dan dari luar sekolah. kedua, adanya kriteria yang jelas dari penilaian sesuai dengan tujuannya, misalnya penilaian dilakukan untuk menilai tingkat efektivitas belajar mengajar penilaian cukup kepala sekolah.
Objektivitas dalam pembinaan guru berdasarkan prestasi kerjanya, maka ditetapkan sejumlah unsur bagi penilaian prestasi kerja. Unsur-unsur tersebut memudahkan kepala sekolah mengetahui ruang lingkup objek dari seorang guru. Adapun unsur-unsur yang perlu diukur dalam proses penilaian prestasi kerja seorang guru (pegawai) menurut Siswanto adalah sebagai berikut:

1.      Kesetiaan
Kesetiaan yang dimaksud adalah tekad dan kesanggupan mentaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tekad dan kesanggupan harus di buktikan dengan sikap dan tingkah laku tenaga kerja yang bersangkutan dalam sehari-hari serta dalam perbuatan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Kesetiaan tenaga kerja terhadap perusahaan sangat berhubungan dengan pengabdiannya.
2.      Prestasi Kerja
Yang dimaksud dengan prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya yang diembankan kepadanya. Pada umumnya prestasi kerja seorang tenaga kerja dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman dan kesungguhan tenaga kerja yang bersangkutan.
3.      Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesanggupan seorang tenaga kerja dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya serta berani memikul resiko atas keputusan yang telah diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
4.      Ketaatan
Yang dimaksud dengan ketaatan adalah ketulusan hati seorang tenaga kerja untuk mentaati segala ketentuan, peraturan kedinasan yang berlaku, mentaati kedinasan yang diberikan oleh atasan yang berwenang, serta kesanggupan untuk tidak melanggar larangan yang telah ditentukan oleh perusahaan maupun pemerintah, baik secara tertulis maupun tidak tertulis.


5.      Kejujuran
Yang dimaksud dengan kejujuran adalah ketulusan hati seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta kemampuan untuk tidak menyalah gunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya.
6.      Kerja sama
Kerja sama adalah kemampuan seorang tenaga kerja untuk berja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang telah ditentukan, sehingga mencapai daya guna dan hasil yang sebenarnya.  
Faktor-faktor atau unsur-unsur yang dinilai dalam penilaian kecakapan atau penilaian keterampilan kerja itu sangat banyak, yang kadang tidak dapat dinilai secara kuantitatif tetapi secara kualitatif.
Hakikat penilaian kecakapan harus dilaksanakan oleh mereka yang mempunyai pengawasan langsung terhadap guru yang langsung mengetahui bagaimana tiap-tiap guru melaksanakan tugas pekerjaannya. Prestasi kerja adalah kemampuan seseorang dalam usaha mencapai hasil kerja yang lebih baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diembankan kepadanya sedangkan prestasi kerja guru adalah hasil akhir dari serangkaian proses yang dicapai oleh guru meliputi dimensi kemampuan, tanggung jawab dan hasil kerja.
Di Indonesia, saat ini sedang melaksanakan secara sistem penilaian untuk kepentingan sertifikasi telah dilaksanakan secara bertahap, melalui penetapan berbagai kriteria, mulai dari masa kerja, pendidikan, sampai dengan pelaksanaan tugas profesi melalui potofolio. Uraian tersebut, menunjukkan bahwa dalam melaksanakan penilaian kinerja perlu melakukan identifikasi, apa yang akan dinilai sesuai dengan standard an indikator yang dikembangkan, sehingga strategi penilaian dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

B.      Teori-teori Belajar
Belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan ‘’Learning is the process by wich an activity originates or changed through training procedurs (wether in the laboratory or in the naural environment) as distinguished from changes by factors not atributable to training. ‘’Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan nelalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.
Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Kita hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak. Misalnya, ketika seorang guru menjelaskan suatu materi pelajaran, walaupun sepertinya siswa memerhatikan dengan saksama sambil mengangguk-anggukan kepala, maka belum tentu yang bersangkutan belajar.
Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan tingkah laku. Namun demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan John Locke dan hakikat manusia menurut Leibnitz.
Menurut John Locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, Locke menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulis apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan yang mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar behavioristik-elementeristik.
Menurut aliran behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons (S-R). oleh karena itu, teori ini juga dinamakan teori stimulus-respons. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya.
Teori-teori belajar yang termasuk ke dalam kelompok behavioristik di antaranya :
a.      Koneksionisme, dengan tokohnya Thorndike.
b.      Classical conditioning, dengan tokohnya Pavlop.
c.       Operant conditioning, yang dikembangkan oleh Skinner.
d.      Systematic behavior, yang dikembangkan oleh Hull.
e.      Contiguous conditioning, yang dikembangkan oleh Guthrie.

Sedangkan, teori-teori yang termasuk ke dalam kelompok kognitif holistic di antaranya :
a.      Teori Gestalt, dengan tokohnya Kofka, Kohler, dan Wertheimer.
b.      Teori Medan, (Field Theory), dengan tokohnya Lewin.
c.       Teori Organismik yang dikembangkan oleh Wheeler.
d.      Teori Humanistik, dengan tokohnya Maslow dan Rogers.
e.      Teori Konstruktivistik, dengan tokohnya Jean Piaget.
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa teori yang dianggap sangat berpengaruh. Untuk lebih memahami teori-teori belajar, di persilakan untuk membaca buku-buku yang khusus membahas teori belajar seperti tercantum dalam daftar bacaan.

1.      Beberapa Teori Belajar Behavioristik

a.      Teori Belajar Koneksionisme
Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Thorndike sekitar tahun 1913. Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama. Dasarnya terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respons (S.R). oleh karena itulah teori ini juga dinamakan teori Stimulus-Respons. Bagaimana terjadinya hubungan antara stimulus dan respons ini perhatikan ilustrasi di bawah ini.
Begitulah terjadinya hubungan stimulus dan respons terjadi. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, dalam teori koneksionisme ini Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
a.      Hukum kesiapan (law of readiness)
Menurut hukum ini, hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Secara lengkap bunyi hukum ini adalah : pertama, jika pada seseorang ada kesiapan untuk merespons atau bertindak, maka tindakan atau respons yang dilakukannya akan memberi kepuasan, dan mengakibatkan orang tersebut untuk tidak melakukan tindakan-tindakan lain.
b.      Hukum latihan (law of exercise)
Hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Hubungan atau koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan (law of use); dan koneksi-koneksi itu akan menjadi lemah karena latihan tidak dilanjutkan atau dihentikan (law of disuse).
c.       Hukum akibat (law of effect)
Hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya. Apabila respons yang diberikan seseorang mendatangkan kesenangan, maka respons tersebut akan dipertahankan atau diulang; sebaliknya, apabila respons yang diberikan mendatangkan atau diikuti oleh akibat yang tidak mengenakkan, maka respons tersebut akan dihentikan dan tidak akan diulangi lagi.
b.      Teori Belajar Classical Conditioning
Seperti halnya Thorndike, Pavlov dan Watson yang menjadi tokoh teori ini juga percaya bahwa belajar pada hewan memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu.
Pavlov melakukan percobaan dengan seekor anjing. Dalam percobaannya, Pavlov ingin membentuk tingkah laku tertentu pada anjing. Bentuk percobaan yang dilakukan adalah kira-kira sebagai berikut : dalam keadaan lapar, sebelum diberikan makanan dibunyikan lonceng, diperlihatkan makanan, dan air liur anjing keluar. Keadaan ini terus-menerus diulang : bunyikan lonceng, perlihatkan makanan, air liur anjing keluar. Setelah beberapa kali dilakukan, ternyata pada akhirnya setiap lonceng berbunyi air liur anjing keluar, walaupun tanpa diberi makanan. Dalam keadaan ini, anjing belajar bahwa kalau lonceng berbunyi pasti ada makanan sehingga menyebabkan air liurnya keluar.
c.       Operant Conditioning
Teori operant conditioning yang dikembangkan oleh Skinner merupakan pengembangan dari teori Stimulus Respons. Berbeda dengan teori-teori yang telah tokoh-tokoh yang lain, Skiner membedakan dua macam respons, yakni respondent response (reflexive response) dan operant response, (instrumental respone). Respondent response adalah respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, misalnya perangsang stimulus makanan menimbulkan keluarnya air liur. Respons ini relatif tetap.
2.      Teori-teori Belajar Kognitif

a.      Teori Gestalt
Seperti yang telah dikemukakan., teori Gestalt termasuk pada kelompok aliran kognitif holistik. Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer. Teori ini berbeda dengan teori-teori yang telah dijelaskan terdahulu. Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight.
Kohler menyimpan simpanse pada sebuah jeruji. Di dalam jeruji itu disediakan sebuah tongkat, dan di luar jeruji disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama, ternyata simpanse berhasil meraih pisang yang ada di luar jeruji dengan tongkat yang disediakan itu.
Dari percobaan tersebut, simpanse mampu mengembangkan insight, artinya ia dapat menangkap hubungan antara jeruji, tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah makanan, ia paham juga bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang berada di luar jeruji. Inilah hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan menangkap makna dan keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya.
a.      Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Bebeda dengan teori-teori belajar behavioristik yang menganggap bagian-bagian lebih penting dari keseluruhan, teori Gestalt menganggap bahwa justru keseluruhan itu lebih memilih makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah kata akan bermakna manakala ada dalam sebuah kalimat. Demikian juga kalimat akan memiliki makna apabila ada dalam suatu rangkaian karangan.
Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.
b.      Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Apa artinya kemampuan intelektual manakala tidak diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti oleh pengembangan seluruh potensi yang ada dalam diri anak. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.
c.       Belajar berkat insight
Telah di jelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta. Melalui persoalan yang dihadapi itu anak akan dihadapi itu anak akan mendapat insight yang sangat berguna untuk menghadapi setiap manusia.
d.      Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah melakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara terus-menerus disempurnakan. Apabila seorang anak kena api, maka kejadian itu akan memberikan pengalaman setelah ia mengolah, menghubungkan, dan menafsirkannya bahwa api merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit, sehingga ia bisa menyimpulkan dan menentukan sikap bahwa api harus dihindari. Akan tetapi, kemudian anak akan mereorganisasi pengalamannya bahwa api itu ternyata besar juga manfaatnya dan tidak selalu berbahaya. Itulah hakikat pengalaman. Dengan demikian, proses membelajarkan adalah proses memberikan pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehidupan anak.
C.      Kajian Teori dan Kerangka Konsep
Setelah masalah dirumuskan maka perlu dilakukan kajian teori yang berkenaan dengan masalah atau variabel yang dikaji itu. Untuk masalah, misalnya, perlu dikemukakan teori tentang menyimak dan tentang pemahaman wacana. Untuk masalah perlu dukemukakan teori tentang apa yang dimaksud dengan hasil belajar, apa yang dimaksud dengan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung, bagaimana struktur kedua macam kalimat itu, bagaimana kita harus mengubah struktur kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung; dan bagaimana pula kalau sebaliknya. Selanjutnya mengenai apa yang dimakasud dengan teknik latihan dan teknik latihan tertulis.
Teori hendaknya diambil dari sumber (buku, jurnal, dan lain-lain) yang terbaru, dan sudah seharusnya dari pakar yang ahli di bidangnya. Teori lama (buku lama) boleh saja digunakan kalau belum ada teori baru yang ‘’membatalkan’’ teori lama itu. Keterangan dari kamus umum jangan digunakan sebagai acuan teori karena kamus hanya menjelaskan makna kata; kecuali, barang kali, kamus istilah dalam bidang yang dikaji.
Kajian teori dilanjutkan dengan uraian mengenai kerangka konsep. Kerangka konsep ini merupakan kesimpulan dari kerangka teori yang bisa digunakan untuk menganalisis.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Kita hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak.
Saran
Ketika seorang guru itu harus menjelaskan suatu materi pelajaran, walaupun seorang siswa memerhatikan dengan saksama sambil mengangguk-anggukan kepala, maka siswa harus lebih memerhatikan materi pelajaran dan paham apa yang dikatakan guru.
      

  

       








Tidak ada komentar:

Posting Komentar