KONSEP, TEORI BELAJAR
Tugas dari Teori bahasa Indonesia
Di susun oleh:
Fifiyatul
alawiyah
Kelas/ Semester:
A2/ V
(lima)
Dosen : Pak haerudin, M.pd
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Tahun 2015/2016
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, yang
telah melimpahkan karunia terbesar-Nya atas selesainya penyusunan makalah Teori
bahasa Indonesia, sebagai salah satu perangkat kelengkapan makalah tugas individu.
Penyusunan makalah ini dalam rangkah menindak lanjuti bagaimana memahami
tentang Teori-teori belajar.
Semoga makalah ini dapat memberikan
tambahan pengetahuan, untuk kami yang membuatnya dan memberikan banyak manfaat
kepada peserta didik sebagai acuan pembelajaran serta sebagai acuan penambahan
pengalaman dalam mengajar Bahasa dan sastra Indonesia. Dan kami ucapkan terima
kasih kepada Dosen Teori Bahasa Indonesia yakni pak Haerudin, M.Pd atas arahan
dan bimbingannya sehingga terselesainya tugas ini.
Apabila ada kekurangan dalam
pembuatan makalah ini kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami
selalu penyusun berharap para pembaca dapat memberikan memberikan kritik dan
saran untuk meningkatkan makalah ini agar lebih baik.
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Profesi mengandung dua dimensi, yaitu
dimensi sifat kegiatan dan dimensi tingkat kemahiran dalam melaksanakan
kegiatan. Pada dimensi pertama dapat kita bedakan ‘’kegiatan-kegiatan untuk
mencari nafkah’’ dari ‘’kegiatan-kegiatan untuk kesenangan semata-mata,’’ yang
pertama disebut pekerjaan (occupation), sedangkan yang kedua disebut hobi atau
kegemaran. Pada dimensi kedua, yaitu dimensi tingkat kemahiran, dapat dibedakan
dalam tiga jenis kegiatan, yaitu :
1. Kegiatan yang dilaksanakan dengan
tingkat kemahiran yang sangat tinggi;
2. Kegiatan yang dilaksanakan dengan
tingkat kemahiran sedang; dan
3. Kegiatan yang dilakukan tanpa
kemahiran sama sekali.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas,
sehingga, munculah rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan profesional
?
2. Apa yang dimaksud dengan tingkat
kemahiran ?
3. Apakah peran dari tingkat kemahiran ?
C. TUJUAN
1. Supaya memahami pengertian dari guru
profesional.
2. Supaya memahami pengertian dari guru
profesional belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Guru Profesional
Profesi memiliki ciri sentral :
kecakapan dan pengetahuan formal yang kompleks dan pendekatan etis pada
pekerjaan mereka. Pengetahuan dan kecakapan atau pengalaman memungkinkan mereka
menemukan dan kemudian melakukan hal yang secara moral benar. Guru profesional
dianggap menjadi agen yang dapat dipercaya bagi klien mereka, karena mereka ini
ahli ; atau mereka merupakan pemberi pelayanan yang demi bayaran menaati
kehendak para klien. Ciri lain profesi, yaitu : pekerjaan yang pada awalnya
memerlukan pelatihan yang sifatnya harus intelektual, yang menyangkut
pengetahuan dan sampai tahap tertentu kesarjanaan, yang berbeda dari sekedar
keahlian, sebagaimana terbedakan dari kecakapan semata, pekerjaan itu dikerjakan
sebagian besar untuk orang lain dan bukan hanya demi diri sendiri saja, dan
imbalan uang tidak diterima sebagai ukuran keberhasilan. Pendekatan ini
menekankan hubungan yang erat antara profesional dan kesanggupan untuk melayani
orang lain.
Suatu profesi memiliki
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Menurut Usman (2002:15), setiap
pekerjaan yang tergolong dalam suatu profesi, diantaranya memiliki persyaratan
sebagai berikut :
Memiliki kode etik, sebagai acuan
dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
Memiliki klien/obyek layanan tetap,
seperti dokter dengan pasiennya, guru dengan muridnya.
Diakui oleh masyarakat karena memang
diperlukan jasanya di masyarakat.
Untuk memenuhi
persyaratan-persyaratan itu, menurut Andreas Harefa (2004:132-133), orang profesional
harus memiliki sejumlah ciri yang menggambarkan eksistensinya, yaitu: bangga
pada pekerjaan dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas, berusaha meraih
tanggung jawab, mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah mereka menunjukkan
inisiatif, mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas,
melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah
ditetapkan untuk mereka, selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi
lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani, benar-benar mendengarkan
kebutuhan orang-orang yang mereka layani, belajar memahami dan berpikir seperti
orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang
itu tidak ada di tempat, pemain tim, bisa dipercaya memegang rahasia, jujur,
bisa dipercaya, setia, dan terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun
mengenai cara meningkatkan diri.
Penilaian dilakukan melalui
serangkaian kegiatan proses pembanding kondisi sekolah dengan kriteria
(standar) yang telah di tetapkan. Standar-standar tersebut meliputi : a)
standar input; b) standar proses; maupun c) standar ouput. Mengingat
standar-standar tersebut terdiri dari berbagai aspek dan sub aspek yang saling
terkait satu sama lain untuk mencapai tujuan sekolah, maka standar tersebut
harus disusun secara kronologis berdasarkan standar yang ada yang isinya dari
waaktu ke waktu dapat berubah sesuai dengan perkembangan dan tuntutan
pendidikan masa depan. Standar input mencakup : Aspek tenaga kependidikan;
Aspek kesiswaan; Aspek sarana; dan pembiayaan. Pelaksanaannya mencakup :
1. Aspek kurikulum dan bahan ajar;
2. Aspek PBM;
3. Aspek penilaian; dan
4. Aspek manajemen dan kepimpinan.
Sedangkan aspek harapan
dan keputusan sekolah mencakup :
1. Aspek prestasi belajar siswa;
2. Aspek prestasi guru dan kepala
sekolah; dan
3. Aspek prestasi sekolah.
Selanjutnya aspek tenaga kependidikan
terdiri dari : guru, kepala sekolah, dan karyawan. Keberadaan guru, kepala
sekolah dan karyawan akan ‘’dipotret’’ secara komprehensif dan dibandingkan
dengan standar yang telah ditetapkan. Aspek kesiswaan terdiri dari : kondisi
siswa dan prestasi siswa yang merupakan bahan baku sekolah dan sangat
menentukan pembinaan prestasi siswa kedepan. Sedangkan aspek sarana yang
terdiri dari : keberadaan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang kepala
sekolah, ruang keterampilan/kesenian, ruang adminitrasi, kamar kecil,
lingkungan sekolah, dan fasilitas pendukung (media/alat peraga). Selanjutnya
aspek pembiayaan terdiri dari : sumber pendanaan, penggunaan dana, dan
akuntabilitas penggunaan dana. Indikator-indikator yang ada pada aspek sarana
maupun aspek pembiayaan cukup penting mengingat proses belajar mengajar tidak
akan dapat optimal tanpa dukungan sarana yang lengkap dan pembiayaan yang
cukup.
Strategi Penilaian Kinerja Guru
Penilaian kinerja guru, pada dasarnya
adalah untuk menilai kelayakan dalam aktivitas profesi yang menjadi tanggung
jawabnya, dengan harapan seluruh prosedur yang di tempuh menjadi hasil belajar
siswa. Oleh sebab itu, beberapa peneliti di berbagai Negara telah menentapkan
standar-standar yang menjadi rujukan.
Beberapa prosedur yang di tempuh dalam
penilaian kinerja guru. Pertama, ditinjau dari kewenangan dan sesuai dengan
kebutuhan dari tujuan penilaian itu sendiri. Orang yang mempunyai kewenangan
dapat ditinjau dari lingkungan sekolah baik dari dalam dan dari luar sekolah.
kedua, adanya kriteria yang jelas dari penilaian sesuai dengan tujuannya,
misalnya penilaian dilakukan untuk menilai tingkat efektivitas belajar mengajar
penilaian cukup kepala sekolah.
Objektivitas dalam pembinaan guru
berdasarkan prestasi kerjanya, maka ditetapkan sejumlah unsur bagi penilaian
prestasi kerja. Unsur-unsur tersebut memudahkan kepala sekolah mengetahui ruang
lingkup objek dari seorang guru. Adapun unsur-unsur yang perlu diukur dalam
proses penilaian prestasi kerja seorang guru (pegawai) menurut Siswanto adalah
sebagai berikut:
1. Kesetiaan
Kesetiaan yang dimaksud adalah tekad
dan kesanggupan mentaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati
dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tekad dan kesanggupan harus di
buktikan dengan sikap dan tingkah laku tenaga kerja yang bersangkutan dalam
sehari-hari serta dalam perbuatan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang
dibebankan kepadanya. Kesetiaan tenaga kerja terhadap perusahaan sangat
berhubungan dengan pengabdiannya.
2. Prestasi Kerja
Yang dimaksud dengan prestasi kerja
adalah hasil kerja yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan
tugas dan pekerjaannya yang diembankan kepadanya. Pada umumnya prestasi kerja
seorang tenaga kerja dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman dan
kesungguhan tenaga kerja yang bersangkutan.
3. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesanggupan
seorang tenaga kerja dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diserahkan
kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya serta berani memikul
resiko atas keputusan yang telah diambilnya atau tindakan yang dilakukannya.
4. Ketaatan
Yang dimaksud dengan ketaatan adalah
ketulusan hati seorang tenaga kerja untuk mentaati segala ketentuan, peraturan
kedinasan yang berlaku, mentaati kedinasan yang diberikan oleh atasan yang
berwenang, serta kesanggupan untuk tidak melanggar larangan yang telah
ditentukan oleh perusahaan maupun pemerintah, baik secara tertulis maupun tidak
tertulis.
5. Kejujuran
Yang dimaksud dengan kejujuran adalah
ketulusan hati seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan
serta kemampuan untuk tidak menyalah gunakan wewenang yang telah diberikan
kepadanya.
6. Kerja sama
Kerja sama adalah kemampuan seorang tenaga
kerja untuk berja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan suatu
tugas dan pekerjaan yang telah ditentukan, sehingga mencapai daya guna dan
hasil yang sebenarnya.
Faktor-faktor atau unsur-unsur yang
dinilai dalam penilaian kecakapan atau penilaian keterampilan kerja itu sangat
banyak, yang kadang tidak dapat dinilai secara kuantitatif tetapi secara
kualitatif.
Hakikat penilaian kecakapan harus
dilaksanakan oleh mereka yang mempunyai pengawasan langsung terhadap guru yang
langsung mengetahui bagaimana tiap-tiap guru melaksanakan tugas pekerjaannya.
Prestasi kerja adalah kemampuan seseorang dalam usaha mencapai hasil kerja yang
lebih baik dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang
diembankan kepadanya sedangkan prestasi kerja guru adalah hasil akhir dari
serangkaian proses yang dicapai oleh guru meliputi dimensi kemampuan, tanggung
jawab dan hasil kerja.
Di Indonesia, saat ini sedang
melaksanakan secara sistem penilaian untuk kepentingan sertifikasi telah
dilaksanakan secara bertahap, melalui penetapan berbagai kriteria, mulai dari
masa kerja, pendidikan, sampai dengan pelaksanaan tugas profesi melalui
potofolio. Uraian tersebut, menunjukkan bahwa dalam melaksanakan penilaian
kinerja perlu melakukan identifikasi, apa yang akan dinilai sesuai dengan
standard an indikator yang dikembangkan, sehingga strategi penilaian dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien.
B. Teori-teori Belajar
Belajar dianggap sebagai proses
perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard
mengungkapkan ‘’Learning is the process by wich an activity originates or changed
through training procedurs (wether in the laboratory or in the naural
environment) as distinguished from changes by factors not atributable to
training. ‘’Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan nelalui kegiatan
atau prosedur latihan baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam
lingkungan alamiah.
Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan
pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang,
sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi
karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari.
Proses belajar pada hakikatnya
merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya, proses perubahan
yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Kita
hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan perilaku
yang tampak. Misalnya, ketika seorang guru menjelaskan suatu materi pelajaran,
walaupun sepertinya siswa memerhatikan dengan saksama sambil
mengangguk-anggukan kepala, maka belum tentu yang bersangkutan belajar.
Banyak teori yang membahas tentang
terjadinya perubahan tingkah laku. Namun demikian, setiap teori itu berpangkal
dari pandangan tentang hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan
John Locke dan hakikat manusia menurut Leibnitz.
Menurut John Locke, manusia itu
merupakan organisme yang pasif. Dengan teori tabularasanya, Locke menganggap
bahwa manusia itu seperti kertas putih, hendak ditulis apa kertas itu sangat
tergantung pada orang yang menulisnya. Dari pandangan yang mendasar tentang
hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar behavioristik-elementeristik.
Menurut aliran behavioristik, belajar
pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca
indra dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan
respons (S-R). oleh karena itu, teori ini juga dinamakan teori
stimulus-respons. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan
respons sebanyak-banyaknya.
Teori-teori belajar yang termasuk ke
dalam kelompok behavioristik di antaranya :
a. Koneksionisme, dengan tokohnya
Thorndike.
b. Classical conditioning, dengan
tokohnya Pavlop.
c. Operant conditioning, yang
dikembangkan oleh Skinner.
d. Systematic behavior, yang
dikembangkan oleh Hull.
e. Contiguous conditioning, yang
dikembangkan oleh Guthrie.
Sedangkan, teori-teori yang termasuk
ke dalam kelompok kognitif holistic di antaranya :
a. Teori Gestalt, dengan tokohnya Kofka,
Kohler, dan Wertheimer.
b. Teori Medan, (Field Theory), dengan
tokohnya Lewin.
c. Teori Organismik yang dikembangkan
oleh Wheeler.
d. Teori Humanistik, dengan tokohnya Maslow
dan Rogers.
e. Teori Konstruktivistik, dengan
tokohnya Jean Piaget.
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa
teori yang dianggap sangat berpengaruh. Untuk lebih memahami teori-teori
belajar, di persilakan untuk membaca buku-buku yang khusus membahas teori
belajar seperti tercantum dalam daftar bacaan.
1.
Beberapa Teori Belajar Behavioristik
a. Teori Belajar Koneksionisme
Teori belajar koneksionisme
dikembangkan oleh Thorndike sekitar tahun 1913. Menurut teori belajar ini,
belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut
prinsip-prinsip yang sama. Dasarnya terjadinya belajar adalah pembentukan
asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecenderungan untuk
bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respons (S.R). oleh karena itulah
teori ini juga dinamakan teori Stimulus-Respons. Bagaimana terjadinya hubungan
antara stimulus dan respons ini perhatikan ilustrasi di bawah ini.
Begitulah terjadinya hubungan
stimulus dan respons terjadi. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan
stimulus dan respons sebanyak-banyaknya. Selanjutnya, dalam teori koneksionisme
ini Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
a. Hukum kesiapan (law of readiness)
Menurut hukum ini, hubungan antara
stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri
individu. Secara lengkap bunyi hukum ini adalah : pertama, jika pada seseorang
ada kesiapan untuk merespons atau bertindak, maka tindakan atau respons yang dilakukannya
akan memberi kepuasan, dan mengakibatkan orang tersebut untuk tidak melakukan
tindakan-tindakan lain.
b. Hukum latihan (law of exercise)
Hukum ini menjelaskan kemungkinan
kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Hubungan atau koneksi antara
kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat
karena latihan (law of use); dan koneksi-koneksi itu akan menjadi lemah karena
latihan tidak dilanjutkan atau dihentikan (law of disuse).
c. Hukum akibat (law of effect)
Hukum ini menunjuk kepada kuat atau
lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang
ditimbulkannya. Apabila respons yang diberikan seseorang mendatangkan
kesenangan, maka respons tersebut akan dipertahankan atau diulang; sebaliknya,
apabila respons yang diberikan mendatangkan atau diikuti oleh akibat yang tidak
mengenakkan, maka respons tersebut akan dihentikan dan tidak akan diulangi
lagi.
b.
Teori Belajar Classical Conditioning
Seperti halnya Thorndike, Pavlov dan
Watson yang menjadi tokoh teori ini juga percaya bahwa belajar pada hewan
memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan perilaku
perlu dibantu dengan kondisi tertentu.
Pavlov melakukan percobaan dengan
seekor anjing. Dalam percobaannya, Pavlov ingin membentuk tingkah laku tertentu
pada anjing. Bentuk percobaan yang dilakukan adalah kira-kira sebagai berikut :
dalam keadaan lapar, sebelum diberikan makanan dibunyikan lonceng,
diperlihatkan makanan, dan air liur anjing keluar. Keadaan ini terus-menerus
diulang : bunyikan lonceng, perlihatkan makanan, air liur anjing keluar.
Setelah beberapa kali dilakukan, ternyata pada akhirnya setiap lonceng berbunyi
air liur anjing keluar, walaupun tanpa diberi makanan. Dalam keadaan ini,
anjing belajar bahwa kalau lonceng berbunyi pasti ada makanan sehingga
menyebabkan air liurnya keluar.
c. Operant Conditioning
Teori operant conditioning yang
dikembangkan oleh Skinner merupakan pengembangan dari teori Stimulus Respons. Berbeda
dengan teori-teori yang telah tokoh-tokoh yang lain, Skiner membedakan dua
macam respons, yakni respondent response (reflexive response) dan operant
response, (instrumental respone). Respondent response adalah respons yang
ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, misalnya perangsang stimulus makanan
menimbulkan keluarnya air liur. Respons ini relatif tetap.
2.
Teori-teori Belajar Kognitif
a. Teori Gestalt
Seperti yang telah dikemukakan.,
teori Gestalt termasuk pada kelompok aliran kognitif holistik. Teori Gestalt
dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer. Teori ini berbeda dengan
teori-teori yang telah dijelaskan terdahulu. Menurut teori Gestalt, belajar
adalah proses mengembangkan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan
antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori
behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat
mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight.
Kohler menyimpan simpanse pada sebuah
jeruji. Di dalam jeruji itu disediakan sebuah tongkat, dan di luar jeruji
disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama, ternyata simpanse
berhasil meraih pisang yang ada di luar jeruji dengan tongkat yang disediakan
itu.
Dari percobaan tersebut, simpanse
mampu mengembangkan insight, artinya ia dapat menangkap hubungan antara jeruji,
tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah makanan, ia paham juga bahwa
tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang berada di luar jeruji. Inilah
hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan menangkap makna dan
keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya.
a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Bebeda dengan teori-teori belajar
behavioristik yang menganggap bagian-bagian lebih penting dari keseluruhan,
teori Gestalt menganggap bahwa justru keseluruhan itu lebih memilih makna dari
bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan.
Sebuah kata akan bermakna manakala ada dalam sebuah kalimat. Demikian juga
kalimat akan memiliki makna apabila ada dalam suatu rangkaian karangan.
Makna dari prinsip ini adalah bahwa
pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti
berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari
fakta.
b. Anak yang belajar merupakan
keseluruhan
Prinsip ini mengandung pengertian
bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja,
akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Apa artinya kemampuan
intelektual manakala tidak diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti oleh
pengembangan seluruh potensi yang ada dalam diri anak. Oleh karenanya mengajar
itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi
mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.
c. Belajar berkat insight
Telah di jelaskan bahwa insight
adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi
permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan
kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
Melalui persoalan yang dihadapi itu anak akan dihadapi itu anak akan mendapat
insight yang sangat berguna untuk menghadapi setiap manusia.
d. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah kejadian yang dapat
memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah
melakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang secara
terus-menerus disempurnakan. Apabila seorang anak kena api, maka kejadian itu
akan memberikan pengalaman setelah ia mengolah, menghubungkan, dan
menafsirkannya bahwa api merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit,
sehingga ia bisa menyimpulkan dan menentukan sikap bahwa api harus dihindari.
Akan tetapi, kemudian anak akan mereorganisasi pengalamannya bahwa api itu
ternyata besar juga manfaatnya dan tidak selalu berbahaya. Itulah hakikat
pengalaman. Dengan demikian, proses membelajarkan adalah proses memberikan
pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehidupan anak.
C.
Kajian Teori dan Kerangka Konsep
Setelah masalah dirumuskan maka perlu
dilakukan kajian teori yang berkenaan dengan masalah atau variabel yang dikaji
itu. Untuk masalah, misalnya, perlu dikemukakan teori tentang menyimak dan
tentang pemahaman wacana. Untuk masalah perlu dukemukakan teori tentang apa
yang dimaksud dengan hasil belajar, apa yang dimaksud dengan kalimat langsung
dan kalimat tidak langsung, bagaimana struktur kedua macam kalimat itu,
bagaimana kita harus mengubah struktur kalimat langsung menjadi kalimat tidak
langsung; dan bagaimana pula kalau sebaliknya. Selanjutnya mengenai apa yang
dimakasud dengan teknik latihan dan teknik latihan tertulis.
Teori hendaknya diambil dari sumber
(buku, jurnal, dan lain-lain) yang terbaru, dan sudah seharusnya dari pakar
yang ahli di bidangnya. Teori lama (buku lama) boleh saja digunakan kalau belum
ada teori baru yang ‘’membatalkan’’ teori lama itu. Keterangan dari kamus umum
jangan digunakan sebagai acuan teori karena kamus hanya menjelaskan makna kata;
kecuali, barang kali, kamus istilah dalam bidang yang dikaji.
Kajian teori dilanjutkan dengan
uraian mengenai kerangka konsep. Kerangka konsep ini merupakan kesimpulan dari
kerangka teori yang bisa digunakan untuk menganalisis.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Proses belajar pada hakikatnya
merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat Artinya, proses perubahan
yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat kita saksikan. Kita
hanya mungkin dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan perilaku
yang tampak.
Saran
Ketika seorang guru itu harus
menjelaskan suatu materi pelajaran, walaupun seorang siswa memerhatikan dengan
saksama sambil mengangguk-anggukan kepala, maka siswa harus lebih memerhatikan
materi pelajaran dan paham apa yang dikatakan guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar