PENGGUNAAN
TEORI KONSTRUKTIVISTIK DALAM MODEL PEMBELAJARAN PAIKEM
Disusun
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Teori
Belajar Bahasa
Oleh:
Siti Nur Azqiyah
Npm : 1388201057
Kelas/semester : A.2 / V
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH TANGERANG
2015
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya haturkan kehadirat Allah S.W.T atas rahmat dan hidayahnya sehingga
saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah
ini saya selesaikan sebagai salah satu syarat tugas mata kuliah “Teori Balajar
Bahasa” dan sebagai panduan dalam
mempelajari materi-materi yang terdapat di dalamnya.
Makalah
ini saya buat bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang
bermanfaat bagi para pembaca, khususnya mahasiswa dan mahasiswi Universitas
Muhammadiyah Tangerang.
Dalam
kesempatan kali ini, tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberikan motivasi untuk menyelesaikan makalah ini :.
1. Kepada Bapak
Haerudin, M.Pd selaku Dosen Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa.
2. Keluarga dan
teman-teman yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini.
Apabila
terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah
ini, saya mohon maaf. Saran dan
kritik yang membangun saya harapkan dari para pembaca agar dalam pembuatan
makalah yang selanjutnya akan lebih baik.
Tangerang,
19 Desember 2015
Penyusun
i
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring
berjalannya waktu, semakin tinggi juga
tingkat intelektual kehidupan manusia. Maka pendidikan akan menjadi lebih
komplek serta memenuhi standar yang berkualitas untuk mencerdaskan manusia yang
ada di dalamnya. Dalam melaksanakan pembelajaran tentunya seorang guru harus
memilih setiap teori yang akan digunakan saat proses belajar mengajar
berlangsung.
Sehingga
dengan menggunakan berbagai teori belajar jika dikaitkan dengan penggunaan model
yang sesuai kondisinya, pembelajaran akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Dalam makalah ini akan membahas teori konstruktivistik yang menekankan
pentingnya keaktifan siswa mengkonstruksikan pengetahuan belajar sebelumnya
dengan belajar yang baru. Dengan demikian dalam mendidik siswa akan terarah.
B.
Rumasan Masalah
Adapun rumusan
masalah yang terdapat dalam makalah ini diantarannya :
1.
Apa itu teori
belajar konstruktivistik?
2.
Bagaimana
aspek-aspek pembelajaran konstruktivistik?
3.
Bagaimana pembentukan
pengetahuan menurut model kontruktivistik
4.
Apa itu pengertian
model PAIKEM?
5.
Bagaimana karakteristik
PAIKEM?
6.
Bagaimana arti
penting PAIKEM?
C.
Tujuan
Tujuan dari
makalah ini antara lain sebagai berikut :
1.
Dapat
mengetahui pengertian teori belajar konstruktivistik.
2.
Dapat
mengetahui aspek-aspek pembelajaran konstruktivistik.
3.
Dapat
mengetahui pembentukan pengetahuan menurut model kontruktivistik
4.
Dapat mengetahui
pengertian model PAIKEM.
5.
Dapat mengetahui
karakteristik PAIKEM.
6.
Dapat
mengetahui arti penting PAIKEM.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................................. 1
C. Tujuan.................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
...................................................................................... 2
A. Teori Belajar
Konstruktivistik................................................................ 3
B. Aspek-aspek
Pembelajaran Konstruktiviistik........................................ 6
C. Pembentukan
Pengetahuan Menurut Model Konstruktivistik............... 7
D. Pengertian
Model PAIKEM.................................................................. 8
E. Karakteristik
PAIKEM.......................................................................... 9
F. Arti Penting
PAIKEM......................................................................... 10
BAB III PENUTUP............................................................................................. 11
A.
Simpulan ............................................................................................. 11
B.
Saran.................................................................................................... 11
Daftar Pustaka
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Belajar
konstruktivistik
Teori
konstruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi)
pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri
seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu
saja dari otak seorang guru kepada orang lain (siswa). Beberapa pemikiran teori
belajar konstruktivistik dapat dipahami pada penjelasan di bawah ini.
Glaserfeld,
Bettencourt (1989) dan Matthews (1994), mengemukakan bahwa peengetahuan yang
dimiliki seseorang merupakan hasil konstruksi (bentukan) orang itu sendiri.
Sementara Piaget (1971), mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan ciptaan
manusia yang dikonstruksikan dari pengalamannya, proses pembentukan berjalan
terus menerus dan setiap kali terjadi rekonstruksi karena adanya pemahaman yang
baru. Sedikit berbeda dengan para pendahulunya, Lorsbach dan Tobin (1992),
mengemukakan bahwa pengetahuan ada dalam diri seseorang yang mengetahui,
pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang kepada yang
lain. Siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan
konstruksi yang telah dibangun sebelumnya.
Untuk
memahami lebih dalam tentang aliran konstruktivistik ini, ada baiknya
dikemukakan tentang ciri-ciri belajar berbasis konstruktivistik. Ciri-ciri
tersebut pernah dikemukakan oleh Driver dan Oldham (1994), ciri-ciri yang
dimaksud adalah seperti berikut ini :
1.
Orientasi,
yaitu siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari
suatu topik dengan memberi kesempatan melakukan observasi.
2.
Elisitasi,
yaitu siswa mengungkapkan idenya dengan jalan berdiskusi menulis, membuat
poster dan lain-lain.
3.
Restrukturisasi
ide, yaitu klarifikasi ide dengan ide orang lain, membangun ide baru,
mengevaluasi ide baru.
4.
Penggunaan ide
baru dalam berbagai situasi, yaitu ide atau pengetahuan yang telah terbentuk
perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi.
5.
Review, yaitu dalam mengaplikasikan pengetahuan, gagasan yang ada perlu
direvisi dengan menambahkan atau mengubah.
Dalam
aliran konstruktivistik pengetahuan dipahami sebagai suatu pembentukan yang
terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena
adanya pemahaman-pemahaman baru. Pengetahuan bukanlah kemampuan fakta dari
suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif
seseorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan
bukanlah suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah
mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang lain yang belum memiliki
pengetahuan. Lalu bagaimana proses mengkonstruksi pengetahuan itu terjadi?
Manusia dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya melalui
interaksinya dengan objek dan lingkungan, misalnya, melihat, mendengar,
menjamah, mambau atau merasakan. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah
ditentukan, melainkan suatu proses pembentukan.
Von
Glaserfeld (dalam paul, 1996), mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan yang
diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu: (a) kemampuan
mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman, (b) kemampuan membandingkan dan
mengambil keputusan mengenai persamaan dan perbedaan tentang sesuatu hal, dan
(c) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman yang satu dari pada yang
lain.
Sementara,
faktor-faktor yang membatasi proses konstruksi pengetahuan adalah sebagai
berikut:
1.
Hasil
konstruksi yang telah dimiliki seseorang (constructed knowledge):
pengalaman yang sudah diabstraksikan, yang telah menjadi konsep dan telah
dikonstruksikan menjadi pengetahuan, dalam banyak hal membatasi pengertian
seseorang tentang hal-hal yang berkaitan dengan konsep tersebut.
2.
Domain
pengalaman seseorang (domain of experience): pengalaman akan fenomena
baru merupakan unsur penting dalam pengembangan pengetahuan, kekurangan dalam
hal ini akan membatasi pengetahuan.
3.
Jaringan
struktur kognitif seseorang (existing cognitive structure): setiap
pengetahuan yang baru harus cocok dengan ekologi konseptual (konsep, gambaran,
gagasan, teori yang membentuk struktur kognitif yang berhubungan satu sama lin)
karena manusia cenderung untuk menjaga stabilitas ekologi sistem tersebut.
Kecenderungan ini dapat menghambat perkembangan pengetahuan.
Adapun
proses belajar konstruktivistik bukan sebagai perolehan informasi yang
berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai
pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan
akomodasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya. Lalu bagaimana
peranan siswa?
Menurut
pendangan konstruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan
pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa. Ia harus aktif
melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang
hal-hal yang sedang dipelajari, tetapi yang paling menentukan terwujudnya
gejala balajar adalah niat belajar siswa itu sendiri, sementara peranan guru
dalam belajar konstruktivistik berperan membantu agar proses pengkonstruksian
pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan
yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya
sendiri dan dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa
dalam belajar.
Peranan
guru pada pendekatan konstruktivistik ini lebih sebagai mediator ada
fasilitator bagi siswa, yang meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini:
1.
Menyediakan
pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab,
mengajar atau berceramah bukanlah tugas utama seorang guru.
2.
Menyediakan
atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan
membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya. Guru perlu menyemangati siswa
dan menyediakan pengalaman konflik.
3.
Memonitor,
mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa berjalan atau tidaak. Guru
menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa dapat diberlakukan
untuk menghadapi persoalan baru yang berkaitan.
Dalam
hal sarana belajar, pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama
dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri, melalui bahan, media, peralatan, lingkungan, dan
fasilitas lainnya yang disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.
Lingkungan belajar sangat mendukung menculnya berbagai pendangan dan
interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta
aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalan, sehingga memunculkan
pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.
Pandangan
konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang,
mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalaman.
Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang
mengkonstruksikan pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental dan keyakinan
yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa, di mana
interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.
Dalam
hal evaluasi akan lebih objektif jika evaluator tidak diberi informasi tentang
tujuan selanjutnya. Sebelum proses belajar dimulai, proses belajar dan
evaluasinya akan berat sebelah. Kriteria pada evaluasi mengakibatkan pengaturan
pada pembelajaran. Tujuan belajar mengalahkan pembelajaran yang juga akan
mengontrol aktivitas belajar siswa.
B.
Aspek-Aspek Pembelajaran Konstruktivistik
Fornot mengemukakan aspek-aspek
kontruktivistik sebagai adaptasi, konsep pada lingkungan, dan pembentukan
makna. Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi
terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana
seseorang mengintegrasikan persepsi. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses
kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru
dalam skema yang telah ada.
Akomodasi yakni rangsangan atau pengalaman baru seseorang yang
tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan schemata yang telah
dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan
skema yang telah ada.
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh
Vygotskian disebutnya sebagai Scaffolding. Scaffolding berarti memberikan
kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selaama tahap-tahap awal
pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan
kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera
setelah mampu mengerjakan sendiri. Vygotskian mengemukakan tiga kategori
pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu:
1.
Siswa mencapai keberhasilan
dengan baik.
2.
Siswa mencapai
keberhasilan dengan bantuan.
3.
Siswa gagal
meraih keberhasilan.
Kontruktivistik Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikontruksi
secara kolaburatif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh
setiap individu.
C.
Pembentukan Pengetahuan
Menurut Model
Kontruktivistik
Pembentukan pengetahuan menurut model kontruktivistik memandang
subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan
lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini,subyek menyusun pengertian
realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun
melaui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri.
Dalam teori kontruktiviktif yakni dalam proses pembelajaran
siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif
mengembangkan pengetahuan mereka bukannya guru atau orang lain. Mereka yang
haqrus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara
aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktipan siswa akan membantu
mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
D.
Pengertian
Model PAIKEM
PAIKEM merupakan model pembelajaran dan menjadi pedoman dalam
bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan
pembelajaran PAIKEM, diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif,
efektif, dan menyenangkan.
1.
Aktif
Ciri aktif dalam PAKEM berarti dalam
pembelajaran memungkinkan siswa berinteraksi secara aktif dengan lingkungan,
memanipulasi objek-objek yang ada di dalamnya serta mengamati pengaruh dari
manipulasi yang sudah dilakukan. Guru
terlibat secara aktif dalam merancang, melaksanakan maupun mengevaluasi proses
pembelajarannya. Guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung
(kondusif) sehingga siswa aktif bertanya
2.
Kreatif
Kreatif merupakan ciri ke-2 dari PAKEM yang
artinya pembelajaran yang membangun kreativitas siswa dalam berinteraksi dengan
lingkungan, bahan ajar serta sesama siswa lainnya terutama dalam menyelesaikan
tugas-tugas pembelajarannya. Gurupun dituntut untuk kreatif dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran. Guru diharapkan mampu menciptakan Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.
3.
Efektif
Ciri ketiga pembelajaran PAKEM adalah efektif. Maksudnya
pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan dapat meningkatkan
efektivitas pembelajaran, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar
siswa
4.
Inovasi
a)
Baru
b)
Unik
c)
Menarik
d)
Membawa manfaat
untuk mencapai tujuan
e)
Peraturanyang
berlaku.
5.
Menyenangkan
a)
Menyenangkan
harus dimaknai secara luas, antara lain belajar “ Tanpa Tekanan “Dapat “dinikmati”
oleh pembelajarnya.
b)
Menyenangkan,
mengasikkan, menguatkan dan mencerdaskan
c)
Siswa dilatih
olah pikir, olah hati, olah rasa, olah raga
d)
Memberikan
tantangan kepada siswa untuk berfikir, mencoba dan belajar lebih lanjut penuh
dengan percaya diri dan mandiri untuk mengembangkan potensi positifnya secara
optimal.
e)
Menjadi manusia
yang berkarakter penuh percaya diri, menjadi dirinya sendiri dan mempunyai
semangat kompetitif dalam nuansa kebersamaan.
E.
Karakteristik
PAIKEM
1.
Berpusat pada
siswa (student-centered)
Berpusat pada siswa :
a)
Guru sebagai
fasilitator, bukan penceramah.
b)
Fokus
pembelajaran pada siswa bukan pada guru.
c)
Siswa belajar
secara aktif.
d)
Siswa
mengontrol proses belajar dan menghasilkan karyanya sendiri, tidak hanya
mengutip dari guru.
2.
Belajar yang
menyenangkan (joyfull learning)
3.
Belajar yang
berorientasi pada tercapainya kemampuan tertentu (competency based learning)
4.
Belajar secara
tuntas (mastery learning)
5.
Belajar secara
berkesinambungan (continuous learning)
6.
Belajar sesuai
dengan ke-kini-an dan ke-disinii-an (contextual learning)
F.
Arti penting
PAIKEM
Mengapa pendekatan PAIKEM perlu diterapkan? Sekurang-kurangnya ada
dua alasan perlunya pendekatan PAIKEM diterapkan disekolah kita, yakni :
1.
PAIKEM lebih
memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam
pembelajaran. Selama ini kita lebih banyak mengenal pendekatan pembelajaran
konvensional. Hanya guru yang aktif (monologis), sementara para siswanya
pasif, sehingga pembelajaran menjemukan, tidak menarik, tidak menyenangkan,
bahkan kadang-kadang menakutkan siswa.
2.
PAIKEM lebih
memungkinkan guru dan siswa berbuat kreatif bersama. Guru mengupayakan segala
cara secara aktif untuk melibatkan semua siswa dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, peserta didik juga didorong agar kreatif dalam berinteraksi
dengan sesama teman, guru, materi pembelajaran dan segala alat bantu belajar,
sehingga hasil pembelajaran dapat meningkat.
PAIKEM dilandasi oleh falsafah konstruktivisme
yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan
gagasan atau pengetahuan awal yang telah dimilikinya, sehingga mereka mampu
membangun makna bagi fenomena yang berbeda. Falsafah pragmatisme yang
berorientasi pada tercapainya tujuan secara mudah dan langsung juga menjadi
landasan PAIKEM, sehingga dalam pembelajaran peserta didik selalu menjadi
subjek aktif sedangkan guru menjadi fasilitator dan pembimbing belajar mereka.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Teori
konstruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan (konstruksi)
pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada di dalam diri
seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu
saja dari otak seorang guru kepada orang lain (siswa). PAIKEM merupakan model
pembelajaran dan menjadi pedoman dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAIKEM, diharapkan
berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan
PAIKEM dilandasi oleh falsafah konstruktivisme
yang menekankan agar peserta didik mampu mengintegrasikan gagasan baru dengan
gagasan atau pengetahuan awal yang telah dimilikinya, sehingga mereka mampu
membangun makna bagi fenomena yang berbeda
B. Saran
Penulisan
masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya
makalah ini dibaca diharapkan agar dapat memberikan saran dan kritikan yang membangun
untuk kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Johar, Muhammad. 2011. Implementasi Paikem Dari Behavioristik -
Konstruktivistik. Jakarta: Restasi Pustaka Raya
Rusman. 2012. Model-model
Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada
Siregar, Evelin. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Galia
Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar