PERKEMBANGAN TEORI KOGNITIF
TERHADAP PSIKOLOGI TINGKAH LAKU HASIL BELAJAR SISWA
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori Pembelajaran
Bahasa
Disusun oleh:
Nama : Siti Widad
NPM :
1388201125
Semester/Kelas :
V/ A2
Dosen Pembimbing : Haerudin, M. Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat dan
rahmatnya sehingga saya bisa
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “PERKEMBANGAN
TEORI KOGNITIVISTIK TERHADAP PSIKOLOGI TINGKAH LAKU BELAJAR SISWA”. Dengan sebagaimana mestinya. Dalam menyelesaikan makalah ini tentu
saja masih banyak kesalahan maupun dalam segi penulisan dan segi penjelasan.
Oleh karena itu, saya
bisa mengharapkan saran dan kritik.
Ucapkan terimakasih kami sampaikan kepada
semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini, khususnya
Dosen Pembingbing Mata Kuliah. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Robbal Alamin…
Tangeranng,
23 Desember 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER.................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR............................................................................................ 2
DAFTAR ISI............................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang............................................................................................... 4
B. Rumusan
Masalah.......................................................................................... 4
C. Tujuan
........................................................................................................... 4
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kognitif....................................................................................... 5
B. Pendekatan
Kognitif...................................................................................... 5
C. Aliran
Kognitif.............................................................................................. 7
D.
Hubungan
Kognitif dengan Tingkah laku dan Hasil Belajar......................... 9
E. Tahap Perkemgangan Kogintif...................................................................... 9
F. Aspek
Psikologi Kognitif dari Kesulitan Belajar........................................... 11
G.
Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif........................ 13
BAB
III PENUTUP
A. Simpulan........................................................................................................ 14
B. Saran
............................................................................................................. 15
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kognitif
merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan peserta didik yang
berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, dan sangat menentukan
keberhasilan mereka di sekolah. Guru dan para mahasiswa calon guru khususnya
sebagai tenaga pendidik yang bertanggunng jawab melaksanakan interaksi
edukasional di dalam kelas, perlu memahami hal yang berkaitan dengan
perkembangan kognitif. Karena dengan bekal tersebut dapat membantu guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan kognitif peserta
didik terhadap tingkah laku hasil belajar siswa.
Untuk
itu, dalam pembahasan kali ini, kami akan mencoba menguraikan beberapa hal yang
berkaitan dengan perkembangan kognitif terhadap tingkah laku hasil belajar
siswa. Dan semoga dengan dibuatnya makalah ini, bisa membantu rekan-rekan
sekalian untuk lebih memahami perkembangan kognitif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian kognitif ?
2. Apa
pendekatan kognitif?
3. Ada
berapa aliran kognitif?
4. Bagaimana
hubungan antara kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar siswa
5. Faktor
apa saja dalam mempengaruhi perkembangan kognitif?
C. Tujuan
Adapun
tujuan dari makalah ini mengetahui pengertian kognitif, pendekatan kognitif,
beberapa aliran kognitif, bagaimana hubungan antara kognitif dengan tingkah
laku dan hasil belajar siswa, dan faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan
kognitif hasil belajar siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertin
Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition,
yang berarti knowing atau mengetahui, yang dalam arti luas
berarti perolehan, penataan, dan pengunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Secara
sederhana, dapat dipahami bahwa kemampuan kognitif adalah kemampuan yang
dimiliki anak untuk berfikir lebih kompleks, serta kemampuan penalaran dan
pemecahan masalah.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi
populer sebagai salah satu ranah psikologis manusia meliputi perilaku
mental yang berhubungan dengan pemahaman, pengolahan informasi, pemecahan
masalah dan keyakinan. Untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh, berikut kami
kutip beberapa pendapat ahli.
Menurut Chaplin dalam Dictionary of Psycologhy karyanya, kognisi
adalah konsep umum yang mencakup seluruh bentuk pengenalan, termasuk didalamnya
mengamati, menilai, memerhatikan, menyangka, membayangkan, menduga, dan
menilai. Sedangkan menurut Mayers (1996) menjelaskan bahwa kognisi merupakan
kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa dalam ingatan dan
bertindakberdasarkan penggambaran ini.
Dari pengertian diatas
dapat dipahami bahwa kognisi adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi
untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi,
pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang untuk
memperoleh pengetahuan.
B.
Pendekatan
Kognitif
sejalan dengan upaya menerapkan falsafah
teknologi pembelajaran tut wuri hadayani
pada semua jenjang pendidikan formal, pendekatan kognitif mulai menjajaki
keberadaan pendekatan perilaku sejak pertengahan decade 80-an. Padahal, di
belahan dunia berat telah dimulai pada decade sebelumnya., melalui pembeharuan
kurikulum lokal di masing-masing lembaga dan pusat pnelitian dan pangembangan
pendidikan yang merek amemliki.
pendekkatan kognitif itu sendiri
berangkat pada teori Gestalt yang memproposisikan bahwa keseluruhan bukanlah
penjumlahan dari bagian-bagiannya. Artinya, setiap kejadian hanya dapat
dipahami setelah diilhami lebih dahulu pola strukturnya, baru kemudian pada
susunan unsur-unsur daan komponen-komponennya serta interelansi antar komponen
dari unsur itu shingga terbenetuk gambaran mental sebagai suatu kesatuan
persepsi yang disebut dengan insight.
Sejauh ini telah banyak dikembangkan
teori belajar dan pembelajaran, setelah Kohler dengan gestalt-nya, piaget
dengan teoriperkembangan kognitifnya, Ausebel dengan belajar bermaknanya, serta
Bruner dengan belajar penemuannya diintrodusir dan diterapkan ke berbagai
bidang keahlian. Aplikasi teori kognitif tersebut di bidang teknologi
pembelajaran dapat dilihat dalam teori belajar structural Scndura (1983), teori
elaborasi Reigeluth (1983), teori component disply dari Merril (1983), events of
instruction dari Gagne (1985, 1988), dan lain-lain.
Menurut aliran kognitif, belajr
merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan
perilaku sesorang yng tampak sesungguhnya hanyalah refleksi dari perubahan
internalisasi persepsi dirinya terhdap sesuatu yang sedang diamati dan
dipikirannya. Sedangkan fungsi stimulus yang datang dari luar direspons sebagai
activator kerja memori otak untuk membentuk dan mengembangan struktur kognitif
melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus menerus dieperbaharui,
sehinggan akan selalu saja ada sesuatu yang baru dalam memori dari setiap akhir
kegiatan belajar.
Segaimnana ddipreskripsikan Brunner
(1975), pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat
belajar dari diri sendiri melalui pengalman dan eksperimen untuk menemukan
pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Sedngkan Ausebel (1978)
mempreskripsikan agar pembelajar dapat mengembangankan sistauasi belajar,
memilih dan mensrtukturkan isi, serta menginformasikannnya dalam bentuk sajian
pembelajar uyang terorganisasi dari umum menuju ke rinci dalam sat satu bahasan
yang bermakna.
Masalah yang sering muncul pada tahapan
aplikasi teori-teori kognitif dibidang pembelajaran adalah dalam kaitannya
dengan pengorganisasian isi pesan atau bahan belajar dan penstrukturan kegiatan
belajar mengajar. Hal ini bisa dimengerti mengingat bahwa penelitian dan
pengembangan paket-paket program pembelajaran pada berbagai jenis cabang
disiplin keilmuamenunjukan hasil yang konsisten. Salah satu faktor yang dominan
pengaruhnya terhdap variasi keektifan pembelajaran adlah struktur bangunan disiplin
ilmu yang dipelajari (Scandura, 1984).
C.
Aliran
Kognitif
teori belajar kognitif merupakan suatu
teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu
sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekasar melibatkan hubungan
antara stimulus dan respons. Namun lebih dari itu, belajar melibatkan poses
berpikir yang sangan kompleks. Teori ini sangat erat hubungannya dengan teori
sibernetik.
Pada masa-masa awal diperkenalkannnya
teori ini, para ahli mencoba menjelaskan bagaimana siswa mengolah stimulus, dan
bagaimana siswa tersebut bisa sampai ke respons (pengaruh aliran tingkah laku
masih terlihat di sini). Namun, lambat laun perhatian ini mulai bergeser. Saat
ini perhatian mereka terpusat pada proses bagaimna suatu ilmu yang baru
berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh siswa.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui
proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak
berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir,
bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat seorang yang memainkan music, orang ini
tidak “memahami” not-not balok yang terpampang
1.
Piaget
Menurut jean piaget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif
yang kuat bahwa, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni (1)
asimilasi, (2) akomodasi, dan (3) equilbrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi
adalah proses penyatuan (pengitegrasian) informasi baru ke struktur kognitif
yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur
kognitif kedalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian
berkeseinambungan antara asimilasi yang akomodasi.
Bagi seseorang
yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan ;prinsip
perkalian, maka proses pengitegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah
ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru), inilah
yang disebut dengan proses asimilasi. Jika seorang diberi soal perkalian, maka
situasi ini disebut akomodasi, yang dalam hal ini berarti pemakaian(aplikasi)
prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar seseorang
tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan
menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan antara “dunia”dan”dunia dalam”. Tanpa proses
ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak
teratur (disorganized)
Menurut piaget, proses belajar harus disesuaikan
dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.
2.
Ausubel
Menurut ausubel (1968), pengatur kemajuan belajar adalah konsep
atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua semua isi pelajaran yang
akan diajarkan kepada siswa.
Ausubel
percaya bahwa “ advance organiziers” dapat memberikan tiga macam
manfaat, yakni
1.
Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar
yang akan dipelajari oleh siswa.
2.
Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang
sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa
sedemikian rupa sehingga
3.
Mampu membantu siswa untuk memahami bahan ajar secara lebih mudah.
Oleh karena itu,
pengetahuan guru terhadap isi mata pelajaran haru baik.
3
Bruner
Bruner
(1960) mengusulkan teorinya yang disebut
free discovery learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan
kepada siswa untk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori,
definisi, dan sebagainya) melalui contoh- contoh yang menggambarkan (mewakili)
aturan yang menjadi sumbernya.
Disamping itu,
brunner mengumukakan perlunya ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan
asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif dikelas.
D.
Tujuan Teori
Belajar Kognitif
Tujuan teori psikologi untuk membentuk hubungan yang teruji, yang
teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka secara
spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya. Untuk dapat memahami atau
memprediksi suatu perilak, kita harus memperhatikan orang tersebut dengan
lingkungan psikologisnya sebagai pola dari fakta dan fungsi-fungsi yang saling
membutuhkan.
Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami
muridnya. Ternyata, hal ini juga dapat membantu guru memahami dirinya sendiri
dengan lebih baik. Menurut teori kognitif, belajar diartikan sebagai proses
interaksional seseorang memperoleh pemahaman baru atau struktur kognitif dan
mengubah hal-hal yang lama. Agar belajar menjadi efektif, guru hrus
memperhatikan dirinya sendiri dan orang orang lain. Jadi, psikologi kognitif
dikembangkan dngna maksud membantu guru-guru mampu memahami muridnya secara
lebih baik. Psikologi kognitif mengembangkan sistem psikologi yang bermanfaat
untuk berhubungan dengan anak-anak dan pemuda saat belajar.
Teori belajar kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi
prinsip-prinsip belajar secara ilmiah. Hasilnya berupa prosedur-prosedur yang
dapat diterapkan pada situasi kelas untuk mendapatkan hasil yag sangat
produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai
pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahw diri dan
lingkungan psikologinya merupakan faktor-faktor yang kai-mengait. Teori ni
dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatarbelakangi perilaku, cita-cita,
cara-cara, dan bagaimna seseorang memahami diri dan lingkungannya dalam usaha
untuk mencapai tujuan dirinya. Setiap pengertian yang diperoleh dari memahami
diri sendiri dan lingkungannya disebut insight
E. Hubungan
Kognitif dengan Tingkah laku dan Hasil Belajar
Sebelum
menguraikan hubungan kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar, kami akan
mengemukakan beberapa manfaat bagi guru dan calon guru yang memahami
perkembangan kognitif siswa, antara lain :
1. Guru dapat memberikan bantuan dan
bimbingan yang tepat kepada siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2. Guru dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya kesulitan
belajar siswa, lalu mengambil langkah untuk menanggulanginya.
3. Guru dapat mempertibangkan waktu
yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
Perkembangan
kognitif pada seorang individu berpusat pada otak, dalam perspektif psikologi
kognitif otak adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan seperti
ranah afektif (rasa), dan ranah psikomotor (karsa). Tanpa ranah kognitif, sulit
dibayangkan seorang siswa dapat berfikir. Selanjutnya, tanpa berfikir mustahil
siswa tersebut dapat memahami faedah materi-materi yang disajikan guru
kepadanya. Akan tetapi fungsi afektif dan psikomotor pun dibutuhkan oleh siswa,
sebagai pendukung dari fungsi kognitif.
Dapat
kita pahami dari uraian diatas bahwa hubungan kognitif dengan hasil belajar
sangat berparan penting, karena tanpa adanya fungsi kognitif pada siswa
ia tidak akan mampu untuk memahami apa yang disampaikan guru, sehingga hasil
belajarnya pun akan kurang maksimal. Bagaimana ia bisa memperoleh hasil yang
baik jika materi yang disampaikan guru pun tidak ia pahami.
Hubungan
perkembangan kognitif juga sangat berpengaruh pada pola tingkah laku anak. Pada
tahap sensorimotor, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan kemampuan bayi
untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui
gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik. Anak usia sekitar 2
tahun, pola sensori motorik nya semakin kompleks dan mulai mengadopsi suatu
sistem simbol yang primitif
Pada
tahap praoperasional (2-7 tahun ), konsep yang stabil dibentuk, penalaran
mental muncul, egoisentrisnya mulai kuat. Pada tahap ini pola pikir anak
terbagi 2 :Prakonseptual (2-4 th), danPemikiran Intuitif (4-7
th) Tahap selanjutnya Concrete Operarational, anak usia 7-11 th lebih
banyak meluangkan waktunya (lebih dari 40 %) untuk berinteraksi dengan teman
sebayanya.
Pada
tahap Formal Operational, anak sudah memasuki masa remaja, disini fungsi
kognitif telah mencapai aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan
merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan.
Dapat
kami simpulkan pula bahwa perkembangan kognitif anak berperan penting dalam
tingkah laku dan hasil belajar seorang anak. Pola pikir dan tingkah laku anak
seperti yang diuraikan diatas merupakan hasil dari fungsi kognitif anak.
F.
Tahap Perkemgangan Kogintif
Seorang
pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean
Pieget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap,
antara lain,:
1. Tahap Sensory Motor ( berkisar
antara usia sejak lahir sampai 2 tahun). Gambarannya, bayi bergerak dari
pergerkan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran
simbolis.
2. Tahap Pre-0perational (berkisar
antara 2-7 tahun). Gambarannya, anak mulai mempresentasikan dunia dengan
kata-kata dan gambar-gambar. (kata dan gambar menunjukan adanya peningkatan
pemikiran simbolis)
3. Tahap Concrete Operarational
(berkisar antara 7-11 tahun). Gambarannya, anak dapat berpikir secara logis
mengenai hal yag konkret dan mengklasifikasikan benda kedalam bentuk yang
berbeda.
4. Tahap Formal Operational (berkisar
antara 11-15 tahun). Gambarannya, remaja berfikir dengan cara yang lebih
abstrak, logis, dan idealistis.
Menurut
Piaget, perkembangan tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari perkembangan
tahap sebelumnya. Penting bagi calon guru dan guru professional untuk
menhindari pemahaman bahwa teori perkembangan diatas pasti berlaku sepenuhnya
kepada siswa. Tahapan perkembangan versi Piaget tersebut pada dasarnya hanya
merupakan outline (garis besar) yang berhubungan dengan kapasitas kognitif
tertentu yang berkembang dalam diri siswa diri siswa dari masa ke masa. Hal ini
menunjukan bahwa teori temuan sang jenius Piaget meskipun lugas dan ilmiah,
tapi tidak bebas kritik.
G.
Aspek
Psikologi Kognitif dari Kesulitan Belajar
Psikologi kognitif berkenaan dengan
proses belajar, berpikir, dan mengetahui. Kemampuan kognitif merupakan kelempok
keterampilan mental yang esensial pada fungsi-fungsi kemanusiaan. Melalui
kemampuan kognitif tersebut memungkinkan manusia mengetahui, menyadari,
mengerti, menggunakan abstraksi, menalar, membahas, dan menjadi kreatif. Suatu
analisis tntang sifat kognitif merupakan hal yang sangat penting untuk memahami
kesulitan belajar. Salah satu teori psikologi kognitif yang membahas kesulitan
belajar adalah yang dikenal dengan teori pemrosesan psikologis.
Teori pemrosesan psikologis merupakan
landasan awal dalam bidang kesulitan belajar dengan menghubungkan dalam
pemrosesan psikologi dengan abnormalitas. Dalam sistem saraf pusat. Dalam
mengaplikasikan teori tersebut ke dalam pembelajara, kekurangan atau gangguan
dalam persepsi auditoris dan visual memperoleh penekanan khusus. Teori ini
telah menyediakan suatu landasan dalam melaksanakan asesmen dan program
pembelajaran anak berkesulitan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran
pembelajaran, teori pemerosen psikologis menyarankan agar setelah guru
melakukan diagnosis kemampuan dan ketidakmampuan pemrosesan psikologis anak
melalui observasi atau tes, mereka perlu membuat preskripsi atau “resep” metode
pengajaran yang sesuai. Menurut Lerner (
1988: 178) ada tiga rancangan pembelajaran yang berbeda yang berasal dari teori
ini.
a. Melatih proses yang kurang. Kegunaan metode
ini adalah untuk membantu anak membangun dan mengembangkan berbagai fungsi
pemrosesan yang lemah melalui latihan. Rancangan pengajaran merupakan upaya
untuk memperbaiki proses yang kurang atau memperbaiki proses yang kurang atau
memperbaiki ketidakmampuan dan menyiapkan anak untuk belajar lebih lanjut.
b. Mengajar
melalui proses yang disukai. Pendekatan ini menggunakan modalitas kekuatan anak
sebagai dasar strategi pembelajaran. Anak yang lebih menyukai modalitas
pendegaran sebagai sarana untuk belajar diajar dengan menggunakan strategi
pembelajaran yang lebih menekankan pada penggunaan indra pendengaran.
c. Pendekatan
kombinasi. Pendekatan pengajaran ketiga merupakan kombinasi duapendekatan
sebelumnya. Alasannya adalah, bahwa guru idak hanya menekankan pada kekuatan
pemrosesan tetapi juga secara bersamaan psikologi memberikan landasan yang
berguna dalam bidang kesulitan belajar. Konsep tersebut memberikan penjelasan
yang logis untuk memahami kesulitan belajar, tanpa menyalahkan anak tidak mau
belajar. Konsep tersebut juga memungkinkan guru untuk berupaya mengajar anak
berkesulitan belajar meskipun untuk itu guru untuk berupaya mengajar anak
berkesulitan belajar meskipun untuk itu guru harus bekerja keras.
H. Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Perkembangan
kognitif pada seorang anak tidak serta merta tumbuh begitu saja. Hal ini
berarti bahwa setiap manusia (anak) memiliki karakteristik yang
berbeda-beda. Perkembangan kognitif pada anak memang tidak dapat dikatakan
sama dari anak yang satu dengan anak yang lain. Perbedaan perkembangan ini
tidak lepas dari beberapa faktor. Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi
perkembangan kognitif pada diri seorang anak.
1.
Perkembangan organik
dan kematangan sistem syaraf.
Hal
ini erat kaitannya dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan organ tubuh anak
itu sendiri. Seorang anak yang memiliki kelainan fisik belum tentu mengalami
perkembangan kognitif yang lambat. Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang
pertumbuhan fisiknya sempurna bukan merupakan jaminan pula perkembangan
kognitifnya cepat. Sistem syaraf dalam diri anak turut mempengaruhi proses
perkembangan kognitif anak itu sendiri. Bila syaraf dalam otaknya terdapat
gangguan tentu saja perkembangan kognitifnya tidak seperti anak-anak pada
umumnya (dalam hal ini anak dalam kondisi normal), bisa jadi perkembangannya
cepat tetapi bisa juga sebaliknya.
2.
Latihan
dan Pengalaman
Hal
ini berkaitan dengan pengembangan diri anak melalui serangkaian latihan-latihan
dan pengalaman yang diperolehnya. Perkembangan kognitif seorang anak sangat
dipengaruhi oleh latihan-latihan dan pengalaman.
3.
Interaksi
Sosial
Perkembangan
kognitif anak juga dipengaruhi oleh hubungan anak terhadap lingkungan
sekitarnya, terutama situasi sosialnya, baik itu interaksi antara teman sebaya
maupun orang - orang terdekatnya.
4.
Ekuilibrasi
Ekuilibrasi merupakan proses
terjadinya keseimbangan yang mengacu pada keempat tahap perkembangan kognitif
menurut Jean Piaget. Keseimbangan tahapan yang dilalui si anak
tentu menjadi faktor penentu bagi perkembangan kognitif anak itu sendiri.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Jadi istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu
ranah psikologis manusia meliputi perilaku mental yang berhubungan dengan
pemahaman, pengolahan informasi, pemecahan masalah dan keyakinan
teori belajar kognitif merupakan suatu
teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu
sendiri. Belajar melibatkan poses berpikir yang sangan kompleks. Teori ini
sangat erat hubungannya dengan teori sibernetik.
Hubungan
kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar, kami akan mengemukakan beberapa
manfaat bagi guru dan calon guru yang memahami perkembangan kognitif
siswa, antara lain :
4. Guru dapat memberikan bantuan dan
bimbingan yang tepat kepada siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.
5. Guru dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya kesulitan
belajar siswa, lalu mengambil langkah untuk menanggulanginya.
6. Guru dapat mempertibangkan waktu
yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
Perkembangan
kognitif pada seorang individu berpusat pada otak, dalam perspektif psikologi
kognitif otak adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan seperti
ranah afektif (rasa), dan ranah psikomotor (karsa). Tanpa ranah kognitif, sulit
dibayangkan seorang siswa dapat berfikir.
Dapat
kita pahami dari uraian diatas bahwa hubungan kognitif dengan hasil belajar
sangat berparan penting, karena tanpa adanya fungsi kognitif pada siswa
ia tidak akan mampu untuk memahami apa yang disampaikan guru, sehingga hasil
belajarnya pun akan kurang maksimal.
Hubungan
perkembangan kognitif juga sangat berpengaruh pada pola tingkah laku anak. Pada
tahap sensorimotor, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan kemampuan bayi
untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui
gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik.
B.
Saran
Penulisan masih merasa banyak kekurangan
dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya makalah ini dibaca diharapkan
agar dapat memberikan saran dan kritikan yang membangun untuk kesempurnaan
makalah ini dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Winataputra, Udin
S,dkk. Teori Belajar dan Pembelajaran
. Jakarta: universitas terbuka
Abdurrahman
Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Syah,
Muhibbin. 2011. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru.
Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.
Hamzah B.
Uno. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
http://hilmanshodri.blogspot.co.id/2012/06/perkembangan-kognitif.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar