Selasa, 22 Desember 2015



PERKEMBANGAN TEORI KOGNITIF TERHADAP PSIKOLOGI TINGKAH LAKU HASIL BELAJAR SISWA
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori Pembelajaran Bahasa

Disusun oleh:
Nama                            :  Siti Widad  
NPM                             : 1388201125             
Semester/Kelas             : V/ A2
Dosen Pembimbing      : Haerudin, M. Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat dan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini yang berjudul PERKEMBANGAN TEORI KOGNITIVISTIK TERHADAP PSIKOLOGI TINGKAH LAKU BELAJAR SISWA”. Dengan sebagaimana mestinya. Dalam menyelesaikan makalah ini tentu saja masih banyak kesalahan maupun dalam segi penulisan dan segi penjelasan. Oleh karena itu, saya bisa mengharapkan saran dan kritik.
Ucapkan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini, khususnya Dosen Pembingbing Mata Kuliah. Harapan penyusun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin Ya Robbal Alamin…

Tangeranng, 23 Desember 2015

Penyusun










DAFTAR ISI
COVER....................................................................................................................             1
KATA PENGANTAR............................................................................................             2
DAFTAR ISI............................................................................................................             3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang...............................................................................................             4
B.     Rumusan Masalah..........................................................................................             4
C.     Tujuan ...........................................................................................................             4
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kognitif.......................................................................................             5         
B.     Pendekatan Kognitif......................................................................................             5
C.     Aliran Kognitif..............................................................................................             7
D.     Hubungan Kognitif dengan Tingkah laku dan Hasil Belajar.........................             9
E.     Tahap Perkemgangan Kogintif......................................................................             9
F.      Aspek Psikologi Kognitif dari Kesulitan Belajar...........................................             11
G.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif........................             13
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan........................................................................................................             14
B.     Saran .............................................................................................................             15
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kognitif merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan peserta didik yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, dan sangat menentukan keberhasilan mereka di sekolah. Guru dan para mahasiswa calon guru khususnya sebagai tenaga pendidik yang bertanggunng jawab melaksanakan interaksi edukasional di dalam kelas, perlu memahami hal yang berkaitan dengan perkembangan kognitif. Karena dengan bekal tersebut dapat membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan kognitif peserta didik terhadap tingkah laku hasil belajar siswa.
Untuk itu, dalam pembahasan kali ini, kami akan mencoba menguraikan beberapa hal yang berkaitan dengan perkembangan kognitif terhadap tingkah laku hasil belajar siswa.  Dan semoga dengan dibuatnya makalah ini, bisa membantu rekan-rekan sekalian untuk lebih memahami perkembangan kognitif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kognitif ?
2.      Apa pendekatan kognitif?
3.      Ada berapa aliran kognitif?
4.      Bagaimana hubungan antara kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar siswa
5.      Faktor apa saja dalam mempengaruhi perkembangan kognitif?
C.    Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini mengetahui pengertian kognitif, pendekatan kognitif, beberapa aliran kognitif, bagaimana hubungan antara kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar siswa, dan faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan kognitif hasil belajar siswa.


BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertin Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition, yang berarti knowing atau mengetahui, yang dalam arti luas berarti perolehan, penataan, dan pengunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Secara sederhana, dapat dipahami bahwa kemampuan kognitif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk berfikir lebih kompleks, serta kemampuan penalaran dan pemecahan masalah.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer  sebagai salah satu ranah psikologis manusia meliputi perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pengolahan informasi, pemecahan masalah dan keyakinan. Untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh, berikut kami kutip beberapa pendapat ahli.
Menurut Chaplin dalam Dictionary of Psycologhy karyanya, kognisi adalah konsep umum yang mencakup seluruh bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati, menilai, memerhatikan, menyangka, membayangkan, menduga, dan menilai. Sedangkan menurut Mayers (1996) menjelaskan bahwa kognisi merupakan kemampuan membayangkan dan menggambarkan benda atau peristiwa dalam ingatan dan bertindakberdasarkan penggambaran ini.
 Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa kognisi adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengetahuan.

B.        Pendekatan Kognitif
sejalan dengan upaya menerapkan falsafah teknologi pembelajaran tut wuri hadayani pada semua jenjang pendidikan formal, pendekatan kognitif mulai menjajaki keberadaan pendekatan perilaku sejak pertengahan decade 80-an. Padahal, di belahan dunia berat telah dimulai pada decade sebelumnya., melalui pembeharuan kurikulum lokal di masing-masing lembaga dan pusat pnelitian dan pangembangan pendidikan yang merek amemliki.
pendekkatan kognitif itu sendiri berangkat pada teori Gestalt yang memproposisikan bahwa keseluruhan bukanlah penjumlahan dari bagian-bagiannya. Artinya, setiap kejadian hanya dapat dipahami setelah diilhami lebih dahulu pola strukturnya, baru kemudian pada susunan unsur-unsur daan komponen-komponennya serta interelansi antar komponen dari unsur itu shingga terbenetuk gambaran mental sebagai suatu kesatuan persepsi yang disebut dengan insight.
Sejauh ini telah banyak dikembangkan teori belajar dan pembelajaran, setelah Kohler dengan gestalt-nya, piaget dengan teoriperkembangan kognitifnya, Ausebel dengan belajar bermaknanya, serta Bruner dengan belajar penemuannya diintrodusir dan diterapkan ke berbagai bidang keahlian. Aplikasi teori kognitif tersebut di bidang teknologi pembelajaran dapat dilihat dalam teori belajar structural Scndura (1983), teori elaborasi Reigeluth (1983), teori component disply dari Merril (1983), events of instruction dari Gagne (1985, 1988), dan lain-lain.
Menurut aliran kognitif, belajr merupakan proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan perilaku sesorang yng tampak sesungguhnya hanyalah refleksi dari perubahan internalisasi persepsi dirinya terhdap sesuatu yang sedang diamati dan dipikirannya. Sedangkan fungsi stimulus yang datang dari luar direspons sebagai activator kerja memori otak untuk membentuk dan mengembangan struktur kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi yang terus menerus dieperbaharui, sehinggan akan selalu saja ada sesuatu yang baru dalam memori dari setiap akhir kegiatan belajar.
Segaimnana ddipreskripsikan Brunner (1975), pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Sedngkan Ausebel (1978) mempreskripsikan agar pembelajar dapat mengembangankan sistauasi belajar, memilih dan mensrtukturkan isi, serta menginformasikannnya dalam bentuk sajian pembelajar uyang terorganisasi dari umum menuju ke rinci dalam sat satu bahasan yang bermakna.
Masalah yang sering muncul pada tahapan aplikasi teori-teori kognitif dibidang pembelajaran adalah dalam kaitannya dengan pengorganisasian isi pesan atau bahan belajar dan penstrukturan kegiatan belajar mengajar. Hal ini bisa dimengerti mengingat bahwa penelitian dan pengembangan paket-paket program pembelajaran pada berbagai jenis cabang disiplin keilmuamenunjukan hasil yang konsisten. Salah satu faktor yang dominan pengaruhnya terhdap variasi keektifan pembelajaran adlah struktur bangunan disiplin ilmu yang dipelajari (Scandura, 1984).
C.       Aliran Kognitif
teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekasar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Namun lebih dari itu, belajar melibatkan poses berpikir yang sangan kompleks. Teori ini sangat erat hubungannya dengan teori sibernetik.
Pada masa-masa awal diperkenalkannnya teori ini, para ahli mencoba menjelaskan bagaimana siswa mengolah stimulus, dan bagaimana siswa tersebut bisa sampai ke respons (pengaruh aliran tingkah laku masih terlihat di sini). Namun, lambat laun perhatian ini mulai bergeser. Saat ini perhatian mereka terpusat pada proses bagaimna suatu ilmu yang baru berasimilasi dengan ilmu yang sebelumnya telah dikuasai oleh siswa.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan  dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpatah-patah, terpisah-pisah, tetapi melalui proses yang mengalir, bersambung-sambung, menyeluruh. Ibarat seorang yang memainkan music, orang ini tidak “memahami” not-not balok yang terpampang

1.      Piaget
Menurut jean piaget (1975) salah seorang penganut aliran kognitif yang kuat bahwa, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni (1) asimilasi, (2) akomodasi, dan (3) equilbrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan (pengitegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkeseinambungan antara asimilasi yang akomodasi.
Bagi seseorang yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan ;prinsip perkalian, maka proses pengitegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dibenak siswa) dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru), inilah yang disebut dengan proses asimilasi. Jika seorang diberi soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi, yang dalam hal ini berarti pemakaian(aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik. Agar seseorang tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan  antara “dunia”dan”dunia dalam”. Tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak teratur (disorganized)
Menurut  piaget, proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa.

2.      Ausubel
Menurut ausubel (1968), pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa.
            Ausubel percaya bahwa “ advance organiziers” dapat memberikan tiga macam manfaat, yakni
1.      Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari oleh siswa.
2.      Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa “saat ini” dengan apa yang “akan” dipelajari siswa sedemikian rupa sehingga
3.      Mampu membantu siswa untuk memahami bahan ajar secara lebih mudah.
Oleh karena itu, pengetahuan guru terhadap isi mata pelajaran haru baik.

3           Bruner
Bruner (1960)  mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan   kepada siswa untk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh- contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya.
Disamping itu, brunner mengumukakan perlunya ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif dikelas.
D.     Tujuan Teori Belajar Kognitif
Tujuan teori psikologi untuk membentuk hubungan yang teruji, yang teramalkan dari tingkah laku orang-orang pada ruang kehidupan mereka secara spesifik sesuai dengan situasi psikologisnya. Untuk dapat memahami atau memprediksi suatu perilak, kita harus memperhatikan orang tersebut dengan lingkungan psikologisnya sebagai pola dari fakta dan fungsi-fungsi yang saling membutuhkan.
Teori kognitif dikembangkan terutama untuk membantu guru memahami muridnya. Ternyata, hal ini juga dapat membantu guru memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Menurut teori kognitif, belajar diartikan sebagai proses interaksional seseorang memperoleh pemahaman baru atau struktur kognitif dan mengubah hal-hal yang lama. Agar belajar menjadi efektif, guru hrus memperhatikan dirinya sendiri dan orang orang lain. Jadi, psikologi kognitif dikembangkan dngna maksud membantu guru-guru mampu memahami muridnya secara lebih baik. Psikologi kognitif mengembangkan sistem psikologi yang bermanfaat untuk berhubungan dengan anak-anak dan pemuda saat belajar.
Teori belajar kognitif dibentuk dengan tujuan mengkonstruksi prinsip-prinsip belajar secara ilmiah. Hasilnya berupa prosedur-prosedur yang dapat diterapkan pada situasi kelas untuk mendapatkan hasil yag sangat produktif. Teori belajar kognitif menjelaskan bagaimana seseorang mencapai pemahaman atas dirinya dan lingkungannya lalu menafsirkan bahw diri dan lingkungan psikologinya merupakan faktor-faktor yang kai-mengait. Teori ni dikembangkan berdasarkan tujuan yang melatarbelakangi perilaku, cita-cita, cara-cara, dan bagaimna seseorang memahami diri dan lingkungannya dalam usaha untuk mencapai tujuan dirinya. Setiap pengertian yang diperoleh dari memahami diri sendiri dan lingkungannya disebut insight
E.     Hubungan Kognitif dengan Tingkah laku dan Hasil Belajar
Sebelum menguraikan hubungan kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar, kami akan mengemukakan beberapa manfaat  bagi guru dan calon guru yang memahami perkembangan kognitif siswa, antara lain :
1.      Guru dapat memberikan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.
2.       Guru dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa, lalu mengambil langkah untuk menanggulanginya.
3.      Guru dapat mempertibangkan waktu yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
Perkembangan kognitif pada seorang individu berpusat pada otak, dalam perspektif psikologi kognitif otak adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan seperti ranah afektif (rasa), dan ranah psikomotor (karsa). Tanpa ranah kognitif, sulit dibayangkan seorang siswa dapat berfikir. Selanjutnya, tanpa berfikir mustahil siswa tersebut dapat memahami faedah materi-materi yang disajikan guru kepadanya. Akan tetapi fungsi afektif dan psikomotor pun dibutuhkan oleh siswa, sebagai pendukung dari fungsi kognitif.
Dapat kita pahami dari uraian diatas bahwa hubungan kognitif dengan hasil belajar sangat  berparan penting, karena tanpa adanya fungsi kognitif pada siswa ia tidak akan mampu untuk memahami apa yang disampaikan guru, sehingga hasil belajarnya pun akan kurang maksimal. Bagaimana ia bisa memperoleh hasil yang baik jika materi yang disampaikan guru pun tidak ia pahami.
Hubungan perkembangan kognitif juga sangat berpengaruh pada pola tingkah laku anak. Pada tahap sensorimotor, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan-gerakan  dan tindakan-tindakan fisik.  Anak usia sekitar 2 tahun, pola sensori motorik nya semakin kompleks dan mulai mengadopsi suatu sistem simbol yang primitif
Pada tahap praoperasional (2-7 tahun ), konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egoisentrisnya mulai kuat. Pada tahap ini pola pikir anak terbagi 2 :Prakonseptual (2-4 th), danPemikiran Intuitif (4-7 th) Tahap selanjutnya Concrete Operarational, anak usia 7-11 th lebih banyak meluangkan waktunya (lebih dari 40 %) untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. 
Pada tahap Formal Operational, anak sudah memasuki  masa remaja, disini fungsi kognitif telah mencapai aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan.
Dapat kami simpulkan pula bahwa perkembangan kognitif anak berperan penting dalam tingkah laku dan hasil belajar seorang anak. Pola pikir dan tingkah laku anak seperti yang diuraikan diatas merupakan hasil dari fungsi kognitif anak.


F.        Tahap Perkemgangan Kogintif
Seorang pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak, Jean Pieget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi 4 tahap, antara lain,:
1.   Tahap Sensory Motor ( berkisar antara usia sejak lahir sampai 2 tahun). Gambarannya, bayi bergerak dari pergerkan refleks instinktif pada saat lahir sampai permulaan pemikiran simbolis.
2.   Tahap Pre-0perational (berkisar antara 2-7 tahun). Gambarannya, anak mulai mempresentasikan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar. (kata dan gambar menunjukan adanya peningkatan pemikiran simbolis)
3.   Tahap Concrete Operarational (berkisar antara 7-11 tahun). Gambarannya, anak dapat berpikir secara logis mengenai hal yag konkret dan mengklasifikasikan benda kedalam bentuk yang berbeda.
4.   Tahap Formal Operational (berkisar antara 11-15 tahun). Gambarannya, remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan idealistis.
Menurut Piaget, perkembangan tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari perkembangan tahap sebelumnya. Penting bagi calon guru dan guru professional untuk menhindari pemahaman bahwa teori perkembangan diatas pasti berlaku sepenuhnya kepada siswa. Tahapan perkembangan versi Piaget tersebut pada dasarnya hanya merupakan outline (garis besar) yang berhubungan dengan kapasitas kognitif tertentu yang berkembang dalam diri siswa diri siswa dari masa ke masa. Hal ini menunjukan bahwa teori temuan sang jenius Piaget meskipun lugas dan ilmiah, tapi tidak bebas kritik.
G.    Aspek Psikologi Kognitif dari Kesulitan Belajar
Psikologi kognitif berkenaan dengan proses belajar, berpikir, dan mengetahui. Kemampuan kognitif merupakan kelempok keterampilan mental yang esensial pada fungsi-fungsi kemanusiaan. Melalui kemampuan kognitif tersebut memungkinkan manusia mengetahui, menyadari, mengerti, menggunakan abstraksi, menalar, membahas, dan menjadi kreatif. Suatu analisis tntang sifat kognitif merupakan hal yang sangat penting untuk memahami kesulitan belajar. Salah satu teori psikologi kognitif yang membahas kesulitan belajar adalah yang dikenal dengan teori pemrosesan psikologis.
Teori pemrosesan psikologis merupakan landasan awal dalam bidang kesulitan belajar dengan menghubungkan dalam pemrosesan psikologi dengan abnormalitas. Dalam sistem saraf pusat. Dalam mengaplikasikan teori tersebut ke dalam pembelajara, kekurangan atau gangguan dalam persepsi auditoris dan visual memperoleh penekanan khusus. Teori ini telah menyediakan suatu landasan dalam melaksanakan asesmen dan program pembelajaran anak berkesulitan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran pembelajaran, teori pemerosen psikologis menyarankan agar setelah guru melakukan diagnosis kemampuan dan ketidakmampuan pemrosesan psikologis anak melalui observasi atau tes, mereka perlu membuat preskripsi atau “resep” metode pengajaran yang sesuai. Menurut  Lerner ( 1988: 178) ada tiga rancangan pembelajaran yang berbeda yang berasal dari teori ini.
a.        Melatih proses yang kurang. Kegunaan metode ini adalah untuk membantu anak membangun dan mengembangkan berbagai fungsi pemrosesan yang lemah melalui latihan. Rancangan pengajaran merupakan upaya untuk memperbaiki proses yang kurang atau memperbaiki proses yang kurang atau memperbaiki ketidakmampuan dan menyiapkan anak untuk belajar lebih lanjut.
b.      Mengajar melalui proses yang disukai. Pendekatan ini menggunakan modalitas kekuatan anak sebagai dasar strategi pembelajaran. Anak yang lebih menyukai modalitas pendegaran sebagai sarana untuk belajar diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran yang lebih menekankan pada penggunaan indra pendengaran.
c.       Pendekatan kombinasi. Pendekatan pengajaran ketiga merupakan kombinasi duapendekatan sebelumnya. Alasannya adalah, bahwa guru idak hanya menekankan pada kekuatan pemrosesan tetapi juga secara bersamaan psikologi memberikan landasan yang berguna dalam bidang kesulitan belajar. Konsep tersebut memberikan penjelasan yang logis untuk memahami kesulitan belajar, tanpa menyalahkan anak tidak mau belajar. Konsep tersebut juga memungkinkan guru untuk berupaya mengajar anak berkesulitan belajar meskipun untuk itu guru untuk berupaya mengajar anak berkesulitan belajar meskipun untuk itu guru harus bekerja keras.


H.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif pada seorang anak tidak serta merta tumbuh begitu saja. Hal ini berarti bahwa setiap manusia (anak) memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perkembangan kognitif pada anak memang tidak dapat dikatakan sama dari anak yang satu dengan anak yang lain. Perbedaan perkembangan ini tidak lepas dari beberapa faktor. Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif pada diri seorang anak.
1.      Perkembangan organik dan kematangan sistem syaraf.
Hal ini erat kaitannya dengan pertumbuhan fisik dan perkembangan organ tubuh anak itu sendiri. Seorang anak yang memiliki kelainan fisik belum tentu mengalami perkembangan kognitif yang lambat. Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang pertumbuhan fisiknya sempurna bukan merupakan jaminan pula perkembangan kognitifnya cepat. Sistem syaraf dalam diri anak turut mempengaruhi proses perkembangan kognitif anak itu sendiri. Bila syaraf dalam otaknya terdapat gangguan tentu saja perkembangan kognitifnya tidak seperti anak-anak pada umumnya (dalam hal ini anak dalam kondisi normal), bisa jadi perkembangannya cepat tetapi bisa juga sebaliknya.
2.      Latihan dan Pengalaman
Hal ini berkaitan dengan pengembangan diri anak melalui serangkaian latihan-latihan dan pengalaman yang diperolehnya. Perkembangan kognitif seorang anak sangat dipengaruhi oleh latihan-latihan dan pengalaman.
3.      Interaksi Sosial
Perkembangan kognitif anak juga dipengaruhi oleh hubungan anak terhadap lingkungan sekitarnya, terutama situasi sosialnya, baik itu interaksi antara teman sebaya maupun orang - orang terdekatnya.
4.    Ekuilibrasi
Ekuilibrasi merupakan proses terjadinya keseimbangan yang mengacu pada keempat tahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget. Keseimbangan tahapan yang dilalui si anak tentu menjadi faktor penentu bagi perkembangan kognitif anak itu sendiri.


BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Jadi istilah kognitif menjadi populer  sebagai salah satu ranah psikologis manusia meliputi perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pengolahan informasi, pemecahan masalah dan keyakinan
teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar melibatkan poses berpikir yang sangan kompleks. Teori ini sangat erat hubungannya dengan teori sibernetik.
Hubungan kognitif dengan tingkah laku dan hasil belajar, kami akan mengemukakan beberapa manfaat  bagi guru dan calon guru yang memahami perkembangan kognitif siswa, antara lain :
4.      Guru dapat memberikan bantuan dan bimbingan yang tepat kepada siswa sesuai dengan tingkat perkembangannya.
5.       Guru dapat mengantisipasi kemungkinan timbulnya kesulitan belajar siswa, lalu mengambil langkah untuk menanggulanginya.
6.      Guru dapat mempertibangkan waktu yang tepat untuk memulai proses belajar mengajar bidang studi tertentu.
Perkembangan kognitif pada seorang individu berpusat pada otak, dalam perspektif psikologi kognitif otak adalah sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan seperti ranah afektif (rasa), dan ranah psikomotor (karsa). Tanpa ranah kognitif, sulit dibayangkan seorang siswa dapat berfikir.
Dapat kita pahami dari uraian diatas bahwa hubungan kognitif dengan hasil belajar sangat  berparan penting, karena tanpa adanya fungsi kognitif pada siswa ia tidak akan mampu untuk memahami apa yang disampaikan guru, sehingga hasil belajarnya pun akan kurang maksimal.
Hubungan perkembangan kognitif juga sangat berpengaruh pada pola tingkah laku anak. Pada tahap sensorimotor, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan-gerakan  dan tindakan-tindakan fisik.  

B.     Saran
Penulisan masih merasa banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya makalah ini dibaca diharapkan agar dapat memberikan saran dan kritikan yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang.
















DAFTAR PUSTAKA
Winataputra, Udin S,dkk. Teori Belajar dan Pembelajaran . Jakarta: universitas terbuka
Abdurrahman Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Syah, Muhibbin. 2011. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT.Remaja Rosda Karya.
Hamzah B. Uno. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
http://hilmanshodri.blogspot.co.id/2012/06/perkembangan-kognitif.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar