Selasa, 22 Desember 2015



Teori Belajar Kontruktivistik
(Menggunakan Pendekatan Dan Penerapan Yang Berpusat Pada Siswa)
Makalah Ini Dibuat Untuk Melengkapi Tugas Ujian Akhir Semester



Disusun Oleh             :  Nurhanjani
NIM                            :  1388201109
Kelas/Semester          :  A.2/5
Dosen                          : Haerudin, M.Pd


Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
2015


 

KATA PENGANTAR


Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
     Akhir kata, saya  memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.



Desember , 2015










DAFTAR ISI




BAB I

PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang

Konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran. Konstruktivisme menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan paradigma pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Seruan tersebut memberi dampak terhadap landasan teori belajar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Semula teori belajar dalam pendidikan Indonesia, lebih didominasi aliran psikologi behaviorisme. Akan tetapi saat ini, para pakar pendidikan di Indonesia banyak yang menyerukan agar landasan teori belajar mengaju pada aliran konstruktivisme.
Akibatnya, oreintasi pembelajaran di kelas mengalami pergeseran. Orentasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa.
Siswa tidak lagi diposisikan bagaikan bejana kosong yang siap diisi. Dengan sikap pasrah siswa disiapkan untuk dijejali informasi oleh gurunya. Atau siswa dikondisikan sedemikian rupa untuk menerima pengatahuan dari gurunya. Siswa kini diposisikan sebagai mitra belajar guru. Guru bukan satu-satunya pusat informasi dan yang paling tahu. Guru hanya salah satu sumber belajar atau sumber informasi. Sedangkan sumber belajar yang lain bisa teman sebaya, perpustakaan, alam, laboratorium, televisi, koran dan internet.
Sebagai fasilitator guru bertanggung jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan pemahaman siswa.

B.   Rumusan Masalah

1.      Seperti apa model pembelajaran kontruktivisme ?
2.      Tujuan apa saja yang ada didalam teori kontruktivistik ?
3.      Langkah-langkah seperti apa yang harus diterapkan dalam pembelajaran kontruktivistik ?
4.      Bagaimana cirri-ciri pembelajaran kontruktivistik ?
5.      Prinsip-prinsip apa saja yang diterapkan dalam pembelajaran kontruktivistik ?
6.      Bagaimana ruang lingkup dalam pembelajaran kontruktivistik ?
7.      Bagaimana pandangan teori kontruktivistik dalam pembelajaran ?
8.      Apa saja pengguanaan dari teori kontruktivistik ini ?
9.      Seperti apa proses belajar yang diterapkan oleh teori kontruktivistik ?
10.  Apakah teori kontruktivistik mempunyai keunggulan dan kelemahan dalam pembelajaran ?

C.   Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk meningkatkan dunia pendidika n kita karena lemahnya proses pembelajaran. pembaca ini diharapkan dapat memberikan inspirasi maupun bahan pijakan dalam mengembangkan pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran.


 

 

 

 


BAB II

PEMBAHASAN


A.   Pengertian Kontruktivistik


Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.  Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain.
Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

B.   Tujuan Teori Kontruktivistik


Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:
1.      Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
2.      Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
3.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
4.      Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).

C.   Langkah-Langkah Pembelajaran Kontrutivisme


1.      Identifikasi tujuan.
Tujuan dalam pembelajaran akan memberi arah dalam merancang program, implementasi program dan   evaluasi.
2.       Menetapkan Isi Produk Belajar.
Pada tahap ini, ditetapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika yang mana yang harus dikuasai siswa.
3.      Identifikasi dan Klarifikasi Pengetahuan Awal Siswa.
Identifikasi pengetahuan awal siswa dilakukan melalui tes awal, interview klinis dan peta konsep.
4.      Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa.
Pengetahuan awal siswa yang telah diidentifikasi dan diklarifikasi perlu dianalisa lebih lanjut untuk menetapkan mana diantaranya yang telah sesuai dengan konsepsi ilmiah, mana yang salah dan mana yang miskonsepsi.
5.      Perencanaan Program Pembelajaran dan Strategi Pengubahan Konsep.
 Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran. Sedangkan strategi pengubahan konsepsi siswa diwujudkan dalam bentuk modul.
6.      Implementasi Program Pembelajaran dan Strategi Pengubahan Konsepsi.
 Tahapan ini merupakan kegiatan aktual dalam ruang kelas. Tahapan ini terdiri dari tiga langkah yaitu : (a) orientasi dan penyajian pengalaman belajar, (b)menggali ide-ide siswa, (c) restrukturisasi ide-ide.
7.      Evaluasi.
Setelah berakhirnya kegiatan implementasi program pembelajaran, maka dilakukan evaluasi terhadap efektivitas model belajar yang telah diterapkan.
8.      Klarifikasi Dan Analisis Miskonsepsi Siswa Yang Resisten.
Berdasarkan hasil evaluasi perubahan miskonsepsi maka dilakukaan klarifikasi dan analisis terhadap miskonsepsi siswa, baik yang dapat diubah secara tuntas maupun yang resisten.
9.       Revisi Strategi Pengubahan Miskonsepsi.
Hasil analisis miskonsepsi yang resisten digunakan sebagai pertimbangan dalam merevisi strategi pengubahan konsepsi siswa dalam bentuk modul.

D.   Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme


1.      Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar
2.       Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
3.      Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid
4.       Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
5.      Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
6.      Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
7.      Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
8.      Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.

E.    Prinsip-Prinsip Konstruktivisme


Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1.      Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.      Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5.      Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6.       Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.      Mmencari dan menilai pendapat siswa
8.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

 

F.    Ruang Lingkup Perspektif Kontruktivistik


Perespektif atau pendekatan pendidikan berkembang dan berubah dari waktu kewaktu. Perspekif pendidikan saat ini, perkembangannya tidak terlepas dari perspektif pendidikan sebelumnya. Bahkan sering kali persfektif yang baru merupakan kombinasi, akumulasi ataupun sinergi berbagai pandangan sebelumnya. Persfektif yang lahir kemudian juga seringkali merupakan reaksi atau koreksi terhadap persfektif yang mendahulinya. Pembahasan mengenai pengertian persfektif kontruktivisme akan menjadi lebih bermakna apabila dikaitkan dengan perspektif terdahulu seperti behaviorisme, kognitivisme, dan sebagainya.
Pengertian perspfektif kontruktivisme berakar dari filsafat tertentu tentang manusia dan pengetahuan. Makna pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seorang menjadi “tahu” dan berpengetahuan, menjadi perhatian penting bagi aliran kontruktivisme. Pada dasarnya persfektif ini mempunyai asumsi bahwa pengetahuan lebih bersifat kontekstual daripada absolute, yang memungkinkan adanya penafsiran jamak (multiple perspectives) bukan haanya satu penafsiran saja.
Bruning, Schraw, dan Ronning, (1999 dalam Udin S. Winaputra 2011 hal 6.5) Mengungkapkan bahwa pengetahuan dibentuk menjadi pemahaman individual melalui interaksi dengan lingkungan dan orang lain, dengan demikian peranan kontribusi siswa terhadap makna, pemahaman, dan proses belajar melalui kegiatan individual dan sosial menjadi sangat penting.
Persfektif konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang menekankan proses daripada hasil. Hasil belajaar sebagaai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan.
Persfektif kontruktivis ini seringkali diperbandingkan dengan perspektif tradisional objectivis, yang beranggapan bahwa pengetahuan merupakan suatu objek diluar manusia, yang mempunyai sifat objektif dengan struktur tertentu yang jelas. Sebagai konsekuensi dari pandangan ini pembelajaran dilakukan lebih bersifat transfer, dari guru kepada siswa. Dengan demikian pembelajaran perlu disusun berorientasi lebih kepada kebutuhan dan kondisi siswa, dengan memicu rasa ingin tahu dan keterampialn memecahkan masalah.

G.   Pandangan Kontruktivistis Terhadap Pembelajaran


Salah satu prinsip terpenting pendidikan ialah bahwa guru tidak boleh hanya memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Guru dapat memfasilitasi proses ini dengan mengajar dengan cara yang menjadikan informasi bermakna dan relevan bagi siswa, dengan memberi kesempatan kepada siswa menemukan atau menerapkan sendiri gagasan, dan dengan mengajari siswa menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.
Anderson (2000, dalam Robert, hal 4, 2011) mengungkapkan bahwa teori pembelajaran kontruktivistis merupakan suatu gagasan bahwa masing-masing pebelajar harus menemukan dan mengubah informasi yang rumit jika mereka ingin menjadikannya milik sendiri.   Teori kontruktivistis melihat pebelajar sebagai orang yang terus-menerus memeriksa informasi baru terhadap aturan lama dan kemudian merevisi aturan apabila hal itu tidak lagi berguna. Pandangan ini mempunyai implikasi yang sangat besar bagi pengajaran, karena hal itu menyarankan peran yang jauh lebih aktif bagi siswa dalam pembelajaran mereka sendiri daripada biasanya tang ditemukan di banyak ruang kelas. Karena penekanan pada siswa, sebagai pebelajar aktif, strategi kontruktivistis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa.
Revolusi konstuktivis mempunyai akar yang jauh dalam sejarah pendidikan revolusi isi sangat banyak mengandalkan karya paget dan vygotsky dintaranya :

a.       Pembelajaran Sosial
Pada penekanan hakikat sosial pembelajaran, siswa diharapkan dapat belajar melalui interaksi dan proses pemikiran dengan orang dewasa atau teman sebayanya.
b.      Zona Perkembangan Proksimal
Siswa paling baik jika mempelajari konsep yang berada dalam zona perkembangan proksimal, siswa bekerja ketika mereka terlibat kedalam tugas yang tidak dapat mereka kerjakan sendirian, tetapi dapat mengerjakannya dengan bantuan teman sebaya atau orang dewasa.
c.       Pemagangan Kognitif
Istilah ini merujuk ke proses ketika pebelajar secara bertahap memeroleh keahlian melalui interaksi dengan siswa lain.
d.      Pembelajaran Kooperatif
Pendekatan kontruktivis terhadap pengajaran biasanya memanfatkan secara besar-besaran pembelajaran kooperatif, berdasarkan teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka dapat berbicara satu sama lain tentang soal.
e.       Pembelajaran Penemuan
Pembelajaran penemuan adalah komponen penting pendekatan kontruktivis modern dimana siswa didorong untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendorong siswa memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen.
f.       Pembelajaran Pengaturan Diri
Dimana siswa yang mempunyai pengetahuan tentang strategi pembelajaran yang efektif dan bagaimana menggunakannya.

H.   Penggunaan Teori Belajar Dalam Pembelajaran


Seseorang dapat mempunyai pemikiran bahwa pendekatan kontruktivisme saat ini yang terbaik dan pendekatan-pendekatan yang lain khususnya behaviorisme tidak boleh digunakan lagi, karena prinsip-prinsipnya bertentangan dengan teori kontruktivisme, dan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme maka berbagai masalah pembelajaran siswa akan dapat dipecahkan untuk menghasilkan siswa yang berpengalaman dan tahan banting.
Pemikiran seperti ini layak untuk dipertanyakan, sebab akan membatasi pola pikir seseorang pada satu tatanan saja. Pada kenyataannya dalam pembelajaran, guru dihadapkan dengan berbagai materi pelajaran yang mempunyai cirri tersendiri serta siswa yang beragam dalam hal kemampuan intelektual maupun motivasi belajarnya.
Strategi kontruktivistik tepat digunakan untuk megkaji permasalahan yang memerlukan refleksi. Selain itu, diperlukan pula untuk kemampuan memproses informasi yang tinggi, seperti pemecahan masalah secara heuristic, memonitor strategi kognitif, dan sebagainya (Ertner dan Newby, 1993 dalam Udin S. Winaputra 2011 hal 6.13).
Apabila pembelajaran kontruktivis tepat untuk digunakaan dan siswa belum terbiasa dengan pola belajar kontruktivis maka guru perlu memperkenalkan, melatihkaan, dan membiasakan siswa agar melakukannya, supaya mampu mengkonstrusi pengetahuan secara mandiri dan bersama.

I.       Proses Belajar Menurut Teori Kontruktivistik


Pada bagian ini nakan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktivistik dan dari aspek-aspek tertentu, diantaraanya :
1.         Proses belajar konrtuktivistik
Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai prolehan informasi yang berlangsung ssatu arah dari luaar kedalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomondasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
2.         Peranan siswa (Si-belajar)
Menurut pandangan kontruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dialakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah biat belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada siswa.
3.         Peranan guru
Dalam belajar kontruktivis guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
Peranan guru dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian, yang meliputi :
a.       Menumbuhkan kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
b.      Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan, pengetahuan dan keterampilan siswa.
c.       Menyediakan system dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.
4.      Sarana belajar
Pendekatan kontruktivis menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifis siswa dalam mengkontruksikan pengetahuannya sedniri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya.
5.      Evalusi belajar
Pandangan kontruktivis mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interfretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan, serta aktivis-aktivis lain yang didasarkan pada pengalaman.

J.      Keunggulan dan Kelemahan Model Konstrutivistik


1.               Keunggulan Model kontruktivisme

a.       Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b.       pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
c.       Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
d.      pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
e.       Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
f.        Pembelajaran Konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.

2.            Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.










BAB III

PENUTUP


A.   Simpulan

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir.  Pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Tujuan dari teori kontruktivistik adalah sebagai berikut:
1.      Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
2.      Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
3.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
Ruang lingkup perspektif kontruktivistik yaitu perespektif atau pendekatan pendidikan berkembang dan berubah dari waktu kewaktu. Perspekif pendidikan saat ini, perkembangannya tidak terlepas dari perspektif pendidikan sebelumnya. Bahkan sering kali persfektif yang baru merupakan kombinasi, akumulasi ataupun sinergi berbagai pandangan sebelumnya. Persfektif yang lahir kemudian juga seringkali merupakan reaksi atau koreksi terhadap persfektif yang mendahulinya. Pembahasan mengenai pengertian persfektif kontruktivisme akan menjadi lebih bermakna apabila dikaitkan dengan perspektif terdahulu seperti behaviorisme, kognitivisme, dan sebagainya.
Keunggulan dan Kelemahan Model Konstrutivisme
1.      Keunggulan Model kontruktivisme
a.       Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
b.       pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
2.      Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.

B.  Saran


 Dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan situasi yang kondusif dalam pembelajaran guru hendaknya mengambil posisi sebagai pasilitator dan mediator pembelajaran. Peran sebagai pasilitator dan mediator pembelajaran akan memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan gagasan dan argumentasinya sehingga proses negosiasi makna dapat dilaksanakan. Melalui nogosiasi makna, siswa akan terhindar dari cara belajar menghafal.






DAFTAR PUSTAKA



Winaputra S. Udin. 2011. “ Teori Belajar dan Pembelajaran “. Jakarta : Universitas Terbuka.
Slavin E. Robert. 2011. “ Psikologi Pendidikan, Teori dan Praktik “. Jakarta : PT Indeks
Mudjiono. 2013  Belajar dan Pembelajaran “. Jakarta : Rineka Cipta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar