Teori Belajar Kontruktivistik
(Menggunakan Pendekatan Dan Penerapan
Yang Berpusat Pada Siswa)
Makalah
Ini Dibuat Untuk Melengkapi Tugas Ujian Akhir Semester
Disusun Oleh :
Nurhanjani
NIM : 1388201109
Kelas/Semester : A.2/5
Dosen :
Haerudin, M.Pd
Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Tangerang
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah
SWT atas rahmat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik.
saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata, saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.
saya sadar bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Hal itu di karenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan saya. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita.
Akhir kata, saya memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.
Desember
, 2015
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konstruktivisme sebagai aliran
filsafat, banyak mempengaruhi konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan
pembelajaran. Konstruktivisme menawarkan paradigma baru dalam dunia
pembelajaran. Sebagai landasan paradigma pembelajaaran, konstruktivisme
menyerukan perlunya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya
pengembagan siswa belajar mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk
mengembangkan pengetahuannya sendiri.
Seruan tersebut memberi dampak
terhadap landasan teori belajar dalam dunia pendidikan di Indonesia. Semula
teori belajar dalam pendidikan Indonesia, lebih didominasi aliran psikologi
behaviorisme. Akan tetapi saat ini, para pakar pendidikan di Indonesia banyak
yang menyerukan agar landasan teori belajar mengaju pada aliran
konstruktivisme.
Akibatnya, oreintasi pembelajaran di
kelas mengalami pergeseran. Orentasi pembelajaran bergeser dari berpusat pada
guru mengajar ke pembelajaran berpusat pada siswa.
Siswa tidak lagi diposisikan
bagaikan bejana kosong yang siap diisi. Dengan sikap pasrah siswa disiapkan
untuk dijejali informasi oleh gurunya. Atau siswa dikondisikan sedemikian rupa
untuk menerima pengatahuan dari gurunya. Siswa kini diposisikan sebagai mitra
belajar guru. Guru bukan satu-satunya pusat informasi dan yang paling tahu.
Guru hanya salah satu sumber belajar atau sumber informasi. Sedangkan sumber
belajar yang lain bisa teman sebaya, perpustakaan, alam, laboratorium,
televisi, koran dan internet.
Sebagai fasilitator guru bertanggung
jawab terhadap kegiatan pembelajaran di kelas. Diantara tanggung jawab guru
dalam pembelajaran adalah menstimulasi dan memotivasi siswa. Mendiagnosis dan
mengatasi kesulitan siswa serta menyediakan pengalaman untuk menumbuhkan
pemahaman siswa.
B. Rumusan Masalah
1.
Seperti apa model pembelajaran kontruktivisme ?
2. Tujuan
apa saja yang ada didalam teori kontruktivistik ?
3. Langkah-langkah
seperti apa yang harus diterapkan dalam pembelajaran kontruktivistik ?
4. Bagaimana
cirri-ciri pembelajaran kontruktivistik ?
5. Prinsip-prinsip
apa saja yang diterapkan dalam pembelajaran kontruktivistik ?
6. Bagaimana
ruang lingkup dalam pembelajaran kontruktivistik ?
7. Bagaimana
pandangan teori kontruktivistik dalam pembelajaran ?
8. Apa
saja pengguanaan dari teori kontruktivistik ini ?
9. Seperti
apa proses belajar yang diterapkan oleh teori kontruktivistik ?
10. Apakah
teori kontruktivistik mempunyai keunggulan dan kelemahan dalam pembelajaran ?
C. Tujuan
Makalah ini bertujuan
untuk meningkatkan dunia pendidika n kita karena
lemahnya proses pembelajaran. pembaca ini diharapkan dapat memberikan inspirasi
maupun bahan pijakan dalam mengembangkan pendidikan khususnya dalam proses
pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kontruktivistik
Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan)
dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer
dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri
tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses
kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu
keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.
Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau pengetahuan secara
aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan,
Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya
modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran
konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah
yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan
itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Tran Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar
yang dibangun atas anggapan bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman
sendiri.sedangkan teori Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan
kebebasan terhadap manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan
kemampuan untuk menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi
orang lain.
Dari keterangan diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini
memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri
kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna
mengembangkan dirinya sendiri.
B. Tujuan Teori Kontruktivistik
Adapun tujuan
dari teori ini adalah sebagai berikut:
1.
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah
tanggung jawab siswa itu sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk
mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
2.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan
pemahaman konsep secara lengkap.
3.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir
yang mandiri.
4.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar
itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori
belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini
biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan
kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar,
yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa.
Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri
tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori
motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar,
1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak
melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru
dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran
karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat
(Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses
mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru
atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu
(Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam
mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.
Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993;
Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
C. Langkah-Langkah Pembelajaran Kontrutivisme
1.
Identifikasi tujuan.
Tujuan dalam pembelajaran akan memberi arah dalam merancang program,
implementasi program dan evaluasi.
2.
Menetapkan Isi
Produk Belajar.
Pada tahap ini, ditetapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika yang
mana yang harus dikuasai siswa.
3.
Identifikasi dan Klarifikasi Pengetahuan Awal Siswa.
Identifikasi pengetahuan awal siswa dilakukan melalui tes awal, interview
klinis dan peta konsep.
4.
Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa.
Pengetahuan awal siswa yang telah diidentifikasi dan diklarifikasi perlu
dianalisa lebih lanjut untuk menetapkan mana diantaranya yang telah sesuai
dengan konsepsi ilmiah, mana yang salah dan mana yang miskonsepsi.
5.
Perencanaan Program Pembelajaran dan Strategi
Pengubahan Konsep.
Program pembelajaran dijabarkan
dalam bentuk satuan pelajaran. Sedangkan strategi pengubahan konsepsi siswa
diwujudkan dalam bentuk modul.
6.
Implementasi Program Pembelajaran dan Strategi
Pengubahan Konsepsi.
Tahapan ini merupakan kegiatan
aktual dalam ruang kelas. Tahapan ini terdiri dari tiga langkah yaitu : (a)
orientasi dan penyajian pengalaman belajar, (b)menggali ide-ide siswa, (c)
restrukturisasi ide-ide.
7.
Evaluasi.
Setelah berakhirnya kegiatan implementasi program pembelajaran, maka
dilakukan evaluasi terhadap efektivitas model belajar yang telah diterapkan.
8.
Klarifikasi Dan Analisis Miskonsepsi Siswa Yang
Resisten.
Berdasarkan hasil evaluasi perubahan miskonsepsi maka dilakukaan
klarifikasi dan analisis terhadap miskonsepsi siswa, baik yang dapat diubah
secara tuntas maupun yang resisten.
9.
Revisi Strategi
Pengubahan Miskonsepsi.
Hasil analisis miskonsepsi yang resisten digunakan sebagai pertimbangan
dalam merevisi strategi pengubahan konsepsi siswa dalam bentuk modul.
D. Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme
1.
Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru
melalui penglibatan dalam dunia sebenar
2.
Menggalakkan
soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan
merancang pengajaran.
3.
Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira
sikap dan pembawaan murid
4.
Mengambilkira
dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
5.
Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi
murid
6.
Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid
& guru
7.
Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama
penting dengan hasil pembelajaran.
8.
Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan
eksperimen.
E. Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam
belajar mengajar adalah:
1.
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid,
kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.
Murid aktif megkontruksi secara terus menerus,
sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.
Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi
agar proses kontruksi berjalan lancar.
5.
Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6.
Struktur
pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.
Mmencari dan menilai pendapat siswa
8.
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan
siswa.
F. Ruang Lingkup Perspektif Kontruktivistik
Perespektif atau pendekatan pendidikan berkembang dan
berubah dari waktu kewaktu. Perspekif pendidikan saat ini, perkembangannya
tidak terlepas dari perspektif pendidikan sebelumnya. Bahkan sering kali
persfektif yang baru merupakan kombinasi, akumulasi ataupun sinergi berbagai
pandangan sebelumnya. Persfektif yang lahir kemudian juga seringkali merupakan
reaksi atau koreksi terhadap persfektif yang mendahulinya. Pembahasan mengenai
pengertian persfektif kontruktivisme akan menjadi lebih bermakna apabila
dikaitkan dengan perspektif terdahulu seperti behaviorisme, kognitivisme, dan
sebagainya.
Pengertian perspfektif kontruktivisme berakar dari filsafat
tertentu tentang manusia dan pengetahuan. Makna pengetahuan, sifat-sifat
pengetahuan dan bagaimana seorang menjadi “tahu” dan berpengetahuan, menjadi
perhatian penting bagi aliran kontruktivisme. Pada dasarnya persfektif ini
mempunyai asumsi bahwa pengetahuan lebih bersifat kontekstual daripada
absolute, yang memungkinkan adanya penafsiran jamak (multiple perspectives)
bukan haanya satu penafsiran saja.
Bruning,
Schraw, dan Ronning, (1999 dalam Udin S. Winaputra 2011 hal 6.5) Mengungkapkan
bahwa pengetahuan dibentuk menjadi pemahaman individual melalui interaksi
dengan lingkungan dan orang lain, dengan demikian peranan kontribusi siswa
terhadap makna, pemahaman, dan proses belajar melalui kegiatan individual dan
sosial menjadi sangat penting.
Persfektif konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang
belajar yang menekankan proses daripada hasil. Hasil belajaar sebagaai tujuan
dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar
juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan
strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir
seseorang sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan.
Persfektif kontruktivis ini seringkali diperbandingkan
dengan perspektif tradisional objectivis, yang beranggapan bahwa pengetahuan
merupakan suatu objek diluar manusia, yang mempunyai sifat objektif dengan
struktur tertentu yang jelas. Sebagai konsekuensi dari pandangan ini
pembelajaran dilakukan lebih bersifat transfer, dari guru kepada siswa. Dengan
demikian pembelajaran perlu disusun berorientasi lebih kepada kebutuhan dan
kondisi siswa, dengan memicu rasa ingin tahu dan keterampialn memecahkan
masalah.
G. Pandangan Kontruktivistis Terhadap Pembelajaran
Salah satu prinsip terpenting pendidikan ialah bahwa guru
tidak boleh hanya memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun
pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri. Guru dapat memfasilitasi proses ini
dengan mengajar dengan cara yang menjadikan informasi bermakna dan relevan bagi
siswa, dengan memberi kesempatan kepada siswa menemukan atau menerapkan sendiri
gagasan, dan dengan mengajari siswa menyadari dan dengan sadar menggunakan
strategi mereka sendiri untuk belajar.
Anderson
(2000, dalam Robert, hal 4, 2011) mengungkapkan bahwa teori pembelajaran
kontruktivistis merupakan suatu gagasan bahwa masing-masing pebelajar harus
menemukan dan mengubah informasi yang rumit jika mereka ingin menjadikannya
milik sendiri. Teori kontruktivistis
melihat pebelajar sebagai orang yang terus-menerus memeriksa informasi baru
terhadap aturan lama dan kemudian merevisi aturan apabila hal itu tidak lagi
berguna. Pandangan ini mempunyai implikasi yang sangat besar bagi pengajaran,
karena hal itu menyarankan peran yang jauh lebih aktif bagi siswa dalam pembelajaran
mereka sendiri daripada biasanya tang ditemukan di banyak ruang kelas. Karena
penekanan pada siswa, sebagai pebelajar aktif, strategi kontruktivistis sering
disebut pengajaran yang berpusat pada siswa.
Revolusi konstuktivis mempunyai akar yang jauh dalam sejarah
pendidikan revolusi isi sangat banyak mengandalkan karya paget dan vygotsky
dintaranya :
a. Pembelajaran
Sosial
Pada penekanan
hakikat sosial pembelajaran, siswa diharapkan dapat belajar melalui interaksi
dan proses pemikiran dengan orang dewasa atau teman sebayanya.
b. Zona
Perkembangan Proksimal
Siswa paling baik
jika mempelajari konsep yang berada dalam zona perkembangan proksimal, siswa
bekerja ketika mereka terlibat kedalam tugas yang tidak dapat mereka kerjakan
sendirian, tetapi dapat mengerjakannya dengan bantuan teman sebaya atau orang
dewasa.
c. Pemagangan
Kognitif
Istilah ini merujuk
ke proses ketika pebelajar secara bertahap memeroleh keahlian melalui interaksi
dengan siswa lain.
d. Pembelajaran
Kooperatif
Pendekatan
kontruktivis terhadap pengajaran biasanya memanfatkan secara besar-besaran
pembelajaran kooperatif, berdasarkan teori bahwa siswa akan lebih mudah
menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka dapat berbicara satu sama
lain tentang soal.
e. Pembelajaran
Penemuan
Pembelajaran penemuan
adalah komponen penting pendekatan kontruktivis modern dimana siswa didorong
untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang mendorong siswa memperoleh pengalaman dan melakukan
eksperimen.
f. Pembelajaran
Pengaturan Diri
Dimana siswa yang
mempunyai pengetahuan tentang strategi pembelajaran yang efektif dan bagaimana
menggunakannya.
H. Penggunaan Teori Belajar Dalam Pembelajaran
Seseorang
dapat mempunyai pemikiran bahwa pendekatan kontruktivisme saat ini yang terbaik
dan pendekatan-pendekatan yang lain khususnya behaviorisme tidak boleh
digunakan lagi, karena prinsip-prinsipnya bertentangan dengan teori
kontruktivisme, dan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontruktivisme maka
berbagai masalah pembelajaran siswa akan dapat dipecahkan untuk menghasilkan
siswa yang berpengalaman dan tahan banting.
Pemikiran seperti ini layak untuk dipertanyakan, sebab akan
membatasi pola pikir seseorang pada satu tatanan saja. Pada kenyataannya dalam
pembelajaran, guru dihadapkan dengan berbagai materi pelajaran yang mempunyai
cirri tersendiri serta siswa yang beragam dalam hal kemampuan intelektual
maupun motivasi belajarnya.
Strategi
kontruktivistik tepat digunakan untuk megkaji permasalahan yang memerlukan
refleksi. Selain itu, diperlukan pula untuk kemampuan memproses informasi yang
tinggi, seperti pemecahan masalah secara heuristic, memonitor strategi
kognitif, dan sebagainya (Ertner dan Newby, 1993 dalam Udin S. Winaputra 2011
hal 6.13).
Apabila pembelajaran kontruktivis tepat untuk digunakaan dan
siswa belum terbiasa dengan pola belajar kontruktivis maka guru perlu
memperkenalkan, melatihkaan, dan membiasakan siswa agar melakukannya, supaya
mampu mengkonstrusi pengetahuan secara mandiri dan bersama.
I. Proses Belajar Menurut Teori Kontruktivistik
Pada bagian ini nakan dibahas proses belajar dari pandangan
kontruktivistik dan dari aspek-aspek tertentu, diantaraanya :
1.
Proses belajar konrtuktivistik
Secara konseptual,
proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai prolehan
informasi yang berlangsung ssatu arah dari luaar kedalam diri siswa, melainkan
sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi
dan akomondasi yang bermuara pada pemutakhiran struktur kognitifnya.
2.
Peranan siswa (Si-belajar)
Menurut pandangan
kontruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan.
Pembentukan ini harus dialakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan
kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal
yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa untuk
menata lingkungan yang memberi peluang optimal bagi terjadinya belajar. Namun
yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah biat belajar
siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali
belajar sepenuhnya ada pada siswa.
3.
Peranan guru
Dalam belajar
kontruktivis guru atau pendidik berperan membantu agar proses pengkonstruksian
pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan
yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya
sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang
siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-satunya cara yang
tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemauannya.
Peranan guru dalam interaksi pendidikan
adalah pengendalian, yang meliputi :
a. Menumbuhkan
kemandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan
bertindak.
b. Menumbuhkan
kemampuan mengambil keputusan dan bertindak, dengan meningkatkan, pengetahuan
dan keterampilan siswa.
c. Menyediakan
system dukungan yang memberikan kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang
optimal untuk berlatih.
4. Sarana
belajar
Pendekatan
kontruktivis menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah
aktifis siswa dalam mengkontruksikan pengetahuannya sedniri. Segala sesuatu
seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan
untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan
pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya.
5. Evalusi
belajar
Pandangan
kontruktivis mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya
berbagai pandangan dan interfretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan,
serta aktivis-aktivis lain yang didasarkan pada pengalaman.
J. Keunggulan dan Kelemahan Model Konstrutivistik
1.
Keunggulan Model kontruktivisme
a.
Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri,
berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan
tentang gagasannya.
b.
pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan
yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan
awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan
memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk
membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
c.
Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan
untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir
kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan
gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
d.
pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk
memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang
telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan
berbagai strategi belajar.
e.
Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk
memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta
memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
f.
Pembelajaran
Konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung
siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada
satu jawaban yang benar.
2.
Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam
proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang
begitu mendukung.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kontruksi
berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme
adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir.
Pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan
tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep,
atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Tujuan dari
teori kontruktivistik adalah sebagai berikut:
1.
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah
tanggung jawab siswa itu sendiri. Mengembangkan kemampuan siswa untuk
mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
2.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan
pemahaman konsep secara lengkap.
3.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir
yang mandiri.
Ruang lingkup perspektif
kontruktivistik yaitu perespektif
atau pendekatan pendidikan berkembang dan berubah dari waktu kewaktu. Perspekif
pendidikan saat ini, perkembangannya tidak terlepas dari perspektif pendidikan
sebelumnya. Bahkan sering kali persfektif yang baru merupakan kombinasi,
akumulasi ataupun sinergi berbagai pandangan sebelumnya. Persfektif yang lahir
kemudian juga seringkali merupakan reaksi atau koreksi terhadap persfektif yang
mendahulinya. Pembahasan mengenai pengertian persfektif kontruktivisme akan
menjadi lebih bermakna apabila dikaitkan dengan perspektif terdahulu seperti
behaviorisme, kognitivisme, dan sebagainya.
Keunggulan dan Kelemahan
Model Konstrutivisme
1.
Keunggulan Model kontruktivisme
a.
Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri,
berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan
tentang gagasannya.
b.
pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan
yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan
awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan
memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk
membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
2. Kelemahan Model
Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam
proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang
begitu mendukung.
B. Saran
Dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan situasi yang kondusif dalam
pembelajaran guru hendaknya mengambil posisi sebagai pasilitator dan mediator
pembelajaran. Peran sebagai pasilitator dan mediator pembelajaran akan
memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk mengemukakan gagasan dan
argumentasinya sehingga proses negosiasi makna dapat dilaksanakan. Melalui
nogosiasi makna, siswa akan terhindar dari cara belajar menghafal.
DAFTAR PUSTAKA
Winaputra
S. Udin. 2011. “ Teori Belajar dan
Pembelajaran “. Jakarta : Universitas Terbuka.
Slavin
E. Robert. 2011. “ Psikologi Pendidikan, Teori dan Praktik “. Jakarta : PT
Indeks
https://dirinyachapunk.wordpress.com/2011/12/22/model-pembelajaran-konstruktivisme/
(Diakses Pukul 08.00 WIB, 20 Desember 2015)
Mudjiono. 2013 “Belajar
dan Pembelajaran “. Jakarta : Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar