PENGGUNAAN
TEORI HUMANISTIK TERHADAP POLA PIKIR SISWA DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa
Dosen
Pengampuh : Haerudin, M. pd.
Disusun
oleh :
Nama : Hanipah Nazua
NPM : 1388201174
Kelas
/Semester : A.2/ V (lima)
PRODI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Belajar
seharusnya menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang paling penting dalam
upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan diri. Dalam dunia pendidikan
belajar merupakan aktivitas pokok dalam penyelengaraan proses belajar mengajar.
Melalui belajar seseorang dapat memahami suatu konsep yang baru, mengalami
perubahan tingkah laku, sikap, dan keterampilan.
Teori
Belajar dimunculkan oleh para psikolog pendidikan setelah mereka mengalami
kesulitan dalam menjelaskan proses belajar secara menyeluruh. Banyak teori
belajar yang menginspirasi dan mendasari lahirnya macam-macam strategi
pembelajaran yang memuat teori behavioristik, teori kongitivistik, teori
humanistik, teori kontruktivistik. Kegiatan atau tingkah laku belajar teridiri
dari kegiatan pshikis dan fisik yang saling bekerjasama secara terpadu dan
komprehensif. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai teori
humanistik.
B. Rumasan
Masalah
Adapun
rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini dianatarannya :
1. Apa
yang dimakud dengan teori humanistik?
2. Bagaimana
pandangan para ahli tentang teori humanistik?
3. Bagaimana
prinsip-prinsip teori belajar humanistik?
4. Bagaimana
pengertian belajar dan cara meningkatkan motivasi siswa?
C. Tujuan
Penulisan
Tujuan penulisan
makalah ini dapat membantu pembaca untuk memahami teori-teori belajar dalam
proses belajar mengajar. Dengan mempelajari teori belajar bahasa, para pendidik
atau calon pendidik dapat meningkatkan cara pembelajaran yang baik sehingga
tercipta mutu pendidikan itu sendiri.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Teori Humanistik
Menurut Gagne dalam Soemanto
(1999:238) mengemukakan bahwa teori belajar humanistik adalah pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi
yang dihendaki secara sosial dan pemerolehan pengetahuan yang luas dalam
strategi berpikir yang luas.
Teori ini berpandangan bahwa
perilaku manusis itu ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh faktor internal, dan
bukan oleh faktor lingkungan. Keberhasilan siswa dalam belajar tidak ditentukan
oleh guru atau faktor eksternal lainnya, akan tetapi oleh siswa itu sendiri.
Aliran ini percaya bahwa dorongan untuk belajar akan timbul dari dalam diri
sendiri.
B. Teori
Belajar Humanistik Menurut Para Ahli
Bagi
penganut teori humanistik proses belajar harus berhulu dan bermuara pada
manusia. Dari teori-teori belajar seperti behavioristic, kognitif dan
konstruktivistik, teori inilah yang paling abstrak yang paling mendekati dunia
filsafat daripada dunia pendidikan. Pada kenyataannya teori ini lebih banyak
berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling
ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada gagasan tentang belajar
dan bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa yang biasa
diamati dalam dunia keseharian. Karena itu teori ini bersifat ekletik, artinya
teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuannya untuk “memanusiakan manusia”
(mencapai aktualisasi diri) dapat tercapai. Sebagai contoh teori belajar
bermakna ausubel (meaning fuul learning)
dan taksonomi tujuan belajar Blooom dan Krtahwohl diusulkan sebagai pendekatan
yang dapat dipakai oleh aliran humanistik (padahal teori-teori tersebut juga
dimasukkan dalam aliran kognitif) empat pakar lain yang termasuk ilmuan kubu
humanistik adalah Kolb, Honey, Mumford, Hubermas, Cari Rogers.
- Bloom dan Krathwohl
Blom
dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa
tercakup dalam tiga kawasan yaitu kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik
(telah dibahas dalam bab I halaman 8-12). Taksonomi Bloom telah berhasil
memberi inspirasi kepada banyak pakar lain utnuk mengembangkan teori-teori
belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini
telah banyak membantu praktisi pendidikan untuk merumuskan tujuan-tujuan
belajar dalam bahasa yang mudah diapahami operasional serta dapat diukur.
Selain itu, teori Bloom juga bnayk dijadikan pedoman untuk emmbuat butir-butir
soal ujian bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut.
- Kolb
Sementara,
Kolb membagi tahapan belajar dalam empat tahap yaitu sebagai berikut :
a.
Pengalaman konkret : pada tahap dini,
seorang siswa hanya mampu sekedar ikut mengalami suatu kejadian, ia belum
mengerti bagaimana dan mengapa suatu kejadian harus terjadi seperi itu. Inilah
yang terjadi pada tahap awal proses belajar.
b.
Pengamatan aktif dan relektif : siswa
lambat laun mampu mengadakan pengamatan aktif terhadap kejadian itu, serta
mulai berusaha memikirkan dan memahaminya.
c.
Konseptualisasi : siswa mulai belajar
membuat abstraksi atau “teori” tentang hal yang pernah diamatinya. Pada tahapan
ini siswa diharapkan sudah mampu untuk membuat aturan-aturan umum
(generalisasi) dari berbagai contoh kejadian yang meskipun tampak berbeda-beda
tetapi mempunyai landasan yang sama.
d. Eksperimentasi
aktif : pada tahap ini siswa sudah mampu mengaplikasikan suatu aturan umum ke
situasi yang baru. Dalam dunia matematika, misalnya siswa tidak hanya memahami
asal-usul sebuah rumus, tetapi ia juga mampu memakai rumus tersebut untuk
memecahkan suatu masalah yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Menurut Kolb
siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di
luar kesadaran siswa. meskipun dalam teorinya dapat dibuat garis tegas antara
tahap satu dengan tahap lainnya, namun seringkali terjadi begitu sja, sulit
ditentukan kapan beralihnya.
- Honey dan Mumford
Berdasarkan
teori Kolb, Honey dan Mumford menggolongkan siswa atas empat tipe yaitu sebagai
berikut :
a.
Siswa tipe aktivis : siswa yang suka
melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru, cenderung berpikiran terbuka
dan mudah diajak berdialog, namun biasanya kurang skeptis terhadap sesuatu,
atau identic dengan sikap mudah percaya. Mereka menyukai metode yang mampu
mendorong menemukan hal-hal baru seperti brainstorming
dan problem selving.
b.
Siswa tipe reflector : cenderung sangat
berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan cenderung
konservatif, dalam arti suka menimbang-menimbang secara cermat baik buruknya
suatu keputusan.
c.
Siswa tipe teoris : biasanya sangat
kritis, senang meganalisis dan tidak meyukai pendapat atau penilaian yang
sifatnya subjektif. Bagi mereka berpikir rasional adalah sesuatu yang sangat
penting. Mereka juga sangat skeptic dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat
spekulatif.
d.
Siswa tipe pragmatis : menaruh perhatian
besar pada aspek-aspek praktis dalam
segala hal, mereka tidak suka berlama-lama membahas aspek teoritis-filosofis
dari sesuatu. Bagi mereka sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika
bisa dipraktikan.
- Habermas
Pada
perspektif yang lain seperti dalam
pandangan Habermas, belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan
lingkungan maupun dengan sesama manusia. Habermas membagi tiga macam tipe
belajar yaitu sebagai berikut :
a. Technical learning : (belajar
tekins) siswa belajar berinteraksi debgab alam-alam sekelilingnya mereka
berusah menguasai dan mengelola alam dengan mempelajari keterampilan dan
pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
b. Practical learning (belajar
praktis) pada tahap ini siswa berinteraksi dengan orang-orang di kelilingnya.
Pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagi suatu pemahaman yang kering
dan terlepas kaitannya dengan manusia, pemahamannya justru relevan jika
berkaitan dengan kepentingan manusia.
c. Emancipatory learning (belajar
emansipatoris) siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik
mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkaran.
Pemahaman ini dianggap sebagai tahap belajar yang paling tinggi karena dianggap
sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi.
- Carl Rogers
Carl
Rogers mengemukakan bahwa siswa yang belajar hendaknya tidak dipaksa, melainkan
dibiarkan belajar bebas, siswa diharapkan dapat mengambil keputusan sendiri dan
berani bertanggung jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya sendiri.
Dalam konteks tersebut Rogers mengemukakan lima hal penting dalam proses
belajar humanistik yaitu sebagai berikut :
a.
Hasrat untuk belajar : hasrat untuk
belajar disebabkan adanya hasrat ingin tahu manusia yang teruas menerus
terhadap dunia sekelilingnya. Dalam proses mencari jawabnay seseorang mengalami
aktivitas-aktivitas belajar.
b.
Belajar bermakna : seseorang yang
berativitas akan selalu menimbang-menimbang apakah aktivitas tersebut mempunyai
makna bagi dirinya. Jika tidak, tentu tuidak akan dilakukannya.
c.
Belajar tanpa hukuman : belajar yang
terbebas dari ancaman hukuman mengakibatkan anak bebas melakukan apa saja
megadakan eksperimentasi hingga menemukan sendiri sesuatu yang baru.
d.
Belajar dengan inisiatif sendiri :
menyiratkan tingginya motivasi internal yang dimiliki. Siswa yang berbanyak
berinisiatif mampu mengarahkan dirinya sendiri, menen tukan pilihannya sendiri
serata berusaha menimbang sendiri hal yang baik bagi dirinya sendiri.
e.
Belajar dan perubahan : dunia terus
berubah karena itu siswa harus belajar untuk dapat menghadapi kondisi dan
situasi yang terus berubah. Dengan demikian belajar yang hanya sekedar
mengingat fakta atau menghafal sesuatu dipandang tak cukup.
- Abraham Maslow
Teori
Maslow yang sangat terkenal adalah teori kebutuhan. Kebutuhan pada diri manusia
selalu menuntut pemenuhan dimulai dari tahapan yang paling dasar secara
hierarkis menuju kepada kebutuhan yang paling tinggi tahapan-tahapan kebutuhan
tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Physiological
needs :kebutuhan fisiologis adalah kebutuihan akan makan
dan minum, pakaian dan tempat tinggal termasuk juga kebutuhan biologis. Disebut
sebagai kebutuhan paling dasar karena dibutuhkan semua makhluk hidup termasuk
manusia.
b.
Safetylsecurity
needs : kebutuhan akan rasa aman secara fisik dan psikis,
aman secara fisik, seperti terhindar dari gangguan kriminalitas, teroris,
binatang buas, orang lain, tempat yang tidak aman dan sebagainya.
c.
social
needs : kebutuhan sosial dibutuhkan manusia agar ia dianggap
sebagai warga komunitas sosialnya. Bagi siswa agar belajar dengan baik ia harus
merasa diterima dengan baik oleh teman-temannya.
d.
Esteem
needs : kebutuhan ego termasuk keinginan untuk berprestasi
dan memiliki prestise. Seseorang membutuhkan kepercayaan dan tanggung jawab
dari orang lain.
e.
Self
actualization needs : kebutuhan aktualisasi adalah kebutuhan
untuk membuktikan dan menunjukkan diri kepada orang lain. Pada tahap seseorang
mengembangkan secara maksimal mungkin potensi yang dimilikinya.
Terhadap teori
humanistik ini, terdapat sejumlah kritik dan diajukan. Kritik tersebut antara
lain karena sifatnya yang terlalu deskriftif dan sulit diterjemahkan dalam
langkah-langkah yang praktis dan konkret.namun karena sifatnya yang deskriftif
teori ini cenderung memberi arah dan proses belajar. Tujuan pendidikan
seharusnya bersifat ideal dan teori humanis inilah yang menjelaskan bagaimana
tujuan ideal itu seharusnya.
C. Prinsip-prinsip
Belajar Berdasarkan Teori Humanistik
Prinsip-prinsip dalam teori
belajar humanistic sebagai berikut :
1. Manusia
mempunyai dororangan untuk belajar, dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi
dan mengasimilasi pengalaman baru.
2. Belajar
akan bermakna, apabila yang dipelajari itu relevan dengan kebutuhan anak.
3. Belajar
diperkuat dengan jalan mengurangi ancaman eksternal seperti hukumanm, sikap
merendahkan murid, mencemoohkan, dan sebagainya.
4. Belajar dengan inisiatif sendiri akan melibatkan
keseluruhan pribadi, baik intelektual maupun perasaan.
5. Sikap
berdiri sendiri, kreativitas dan percaya diri diperkuat dengan penilaian
diri sendiri. Penilaian dari luar merupakan hal yang sekunder.
Peranan guru dalam proses belajar berdasarkan teori
psikologi humanistik adalah sebagai berikut :
1. Membantu
menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap belajar.
2. Membantu
siswa mengklasifikasikan tujuan belajar, dan guru memberikan kesempatan secara
bebas kepada siswa untuk menyatakan apa yang hendak dan ingin mereka pelajari.
3. Membantu
siswa mengembangkan dorongan dan tujuannya sebagai kekuatan untuk belajar.
4. Menyediakan
sumber-sumber belajar, termasuk juga menyediakan dirinya sebagai sumber belajar
bagi siswa.
Guru
berdasarkan psikologi humanistik harus mampu menerima siswa sebagai seorang
yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan mampu mengembangkan
dirinya secara utuh dan bermakana. Dengan demikian, teori belajar ini lebih
menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam belajar.
D. Aplikasi
Psikologi Humanistik Pada Pendidikan
Guru-guru
cenderung berpendapat bahawa pendidikan adalah warisan kebudyaan, pertanggungjawaban
sosial, dan bahan pengajaran yang khusus. Mereka percaya bahwa maslah ini tidak
dapat diserahkan begitu saja kepada siswa. Pada tipe ini guru memberikan
tekanan akan perlunya seseuatu rencana pelajaran yang telah disiapkan dengan
baik, materi yang tersusun dengan logis, dan tujan instruksional yang tertentu,
dan mereka mempunyai kecendrungan untuk mencapai hasil yang telah ditentukan.
E. Pikiran
dan Berpikir
Pikiran
dapat diartikan sebagai kondisi letak hubungan antar bagian pengetahuan yang
telah ada dalam diri yang dikontrol oleh akal. Akal adalah sebagai kekuatan
yang mengendalikan pikiran. Sedangkan berpikir berarti meletakan hubungan antar
bagian pengetahuan yang diperoleh manusia. Berpikir sebagai proses menentukan
hubungan-hubungan secara bermakna antara aspek-aspek dari suatu bagian
pengetahuan. Sedangkan bentuk aktifitas berpikir merupakan tingkah laku
simbolis, karena seluruh aktivitas ini berhubungan dengan atau mengenai
penggantian hal-hal yang konkret. Berpikir merupakan proses dinamis yang
menempuh tiga langkah berpikir yaitu: (1) pembentukan pengertian yaitu melalui
proses mendeskripsi cirri-ciri objek yang sejenis mengklasifikasi cirri-ciri
yang sama mengabstraksi dengan menyisihkan, membuang, dan menganggap cirri-ciri
yang hakiki; (2) pembentukan pendapat, yaitu meletakan hubungan antar dua buah
pengertian atau lebih yang hubungan itu dapat dirumuskan secara verbal berupa
pendapat menolak, pendapat menerima atau mengiakan, dan pendapat asumtif yaitu
mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan suatu sifat pada suatu hal; dan (3)
pembentukan keputusan, yaitu penarikan kesimpulan yang berupa keputusan sebagai
hasil pekerjaan akal berupa pendapat baru yang dibentuk berdasarkan
pendapat-pendapat yang sudah ada.
Berpikir
adalah daya yang paling utama dan merupakan cirri yang khas yang membedakan
manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa,
hewan tidak. “Bahasa” hewan bukanlah bahasa seperti yang dimiliki manusia.
“Bahasa” hewan adalah bahasa instink yang tidak perlu dipelajari dan diajarkan.
Bahasa manusia adalah hasil kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dalam arti yang terbatas berpikir itu tidak dapat didefinisikan. Tiap kegiatan
jiwa yang menggunakan kata-kata dan pengertian selalu mengandung hal bepikir.
Berpikir adalah satu keaktipan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang
terarah kepada suatu tujuan. Kita berpikir untuk menemukan pemahaman/pengertian
yang kita kehendaki.
F. Pengertian
Belajar
Sebagai
landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, terlebih dahulu
akan dikemukakan beberapa definisi.
1. Hilgard
dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan. “Belajar
berhubungan dengan perubahan dengan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu
situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam
situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau
dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan
seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
2. Gagne,
dalam buku The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa: “Belajar terjadi
apabila suatu situasi stimulus bersama
dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga
perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi
itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
3. Morgan,
dalam buku Introduction to psychology (1978) mngemukakan: “Belajar adalah
setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
4. Witheringto,
dalam buku Educational Psychology mengemukakan: “Belajar adalah suatu perubahan
di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada
reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu
pengertian.”
Dari
definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut
berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam
pengertian, pemecahan suatu masalah/berpikir, keterampilan, kecakapan,
kebiasaan, ataupun sikap.
G. Cara
Meningkatkan Motivasi Siswa dalam Belajar
Insentif
adalah sarana penguatan yang dapat diharapkan orang untuk diterima jika mereka
mewujudkan perilaku tertentu. Insentif instrinsik adalah aspek tugas tertentu
yang dalam dirinya mempunyai cukup nilai ekstrinsik meliputi nilai sekolah,
bintang emas, dan imbalan lain guru dapat meningkatkan motivasi instrinsik
dengan membangkitkan ketertarikan siswa, mempertahankan keingintahuan,
menggunakan berbagai cara presentasi, dan member kesempatan siswa menentukan
sasaran mereka sendiri. Cara untuk menawarkan intensif ekstrinsik meliputi
pengungkapan harapan yang jelas; pemberian umpan balik yang jelas, langsung,
dan sering;dan peningkatan nilai dan ketersediaan imbalan. Imbalan diruang
kelas meliputi pujian, yang akan paling efektif jika hal itu bersyarat khusus,
dan terpecaya.
1. Lingkungan
yang memotivasi
Lingkungan berpotensi bemberi
dampak besar pada pembelajaran, namun preferensi terhadap lingkungn sangat
individual dan sangat bergantung pada gaya belajar seseorang. Sementara itu,
penting kita membantu individu menemukan lingkungan belajar terbaiknya, menjadi
titik realistik jika kita mengakomodasikan seluruh preferensi terhadap
lingkungan belajar di ruang kelas. Akan tetapi, sejumlah upaya dapat dilakukan
untuk meyakinkan bahwa lingkungan ruang kelas menyediakan berbagai preferensi.
2. Sekolah
yang Memberi Motivasi
Seperti ditunjukan pada bab ini,
motivasi merupakan tanggung jawab seluruh unsur sekolah dan terutama melibatkan
menejemen sekolah. Penting motivasi kita tanamkan ke etos sekolah. Sering moto
sekolah memiliki pesan mendalam dan motivasi, seperti terlihat dalam contoh
berikut.
Penting pula motivasi terlihat
dalam semua aspek sekolah dan tidak hanya dalam pencapaian prestasinnya. Salah
satu cara meraih prestasi ini ialah melalui kolaborasi antara.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Teori humanistik merupakan sutatu
teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana peserta didik mampu
mngembangkan potensi dirinya. Salah satu prinsip teori belajar humanistik bahwa
manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. Artinya seseorang secara
ilmiah memliki rasa ingin tahu dan keinginan yang mendalam untuk mengeksplorasi
terhadap dunianya. Sesungguhnya seorang guru harus dapat berpartisipasi di
dalam semua kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswanya sehingga mereka merasa
diperhatikan oleh gurunya.
B. Saran
Setelah
membaca makalah ini diharapkan kepada pembaca untuk lebih mengetahui dan memahami
tentang penggunaan teori humanistic terhadap pola piker siswa dalam proses
belajar mengajar, agar dapat mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran
sehingga pendidikan di Indonesia semakin berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu.2013. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Purwanto, Ngalimin.
2011. Psikologi Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sagala,
Syaiful. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Siregar,Eveline.2014. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor:
Ghalih Indonesia.
Syah,
Muhibin. 2012. Psikologi Belajar.
Jakarta : Grafindo Persada.
Tim
Pengembangan MKDP. 2013 Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Pt.Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar