‘
TEORI BELAJAR BAHASA
“Peranan Media Cerpen Bergambar
terhadap Kosakata Bahasa Indonesia anak”
Disusun oleh :
Hilda Margita
(1388201029)
Kelas : A2 (A.4.2)
Dosen Pembimbing : Haerudin, M. Pd
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Media berasal
dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
tengah’.’perantara’, atau ‘pengantar’. Gerlach & Ely (1971) mengatakan
bahwa media apabila dipahami secara
garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang
membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Belajar merupakan
sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsungh
seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan
dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang
telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya.
Sedangkan, Menurut Syaiful Sagala (61: 2009) pembelajaran adalah
“membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang
merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa ituMedia ?
2.
Apa Pengertian
Belajar dan Pembelajaran Bahasa ?
3.
Apa yang dimaksud
dengan Cerpen bergambar?
4.
Apa peranan
Cerpen dalam Pembelajaran Bahasa ?
5.
Apa saja faktor
yang mempengaruhi perkembangan anak ?
C.
Tujuan
1.
Supaya kita
mengetahui tentang media.
2.
Mengetahui apa
pengertian belajar dan pembelajaran bahasa.
3.
Mengetahui apa
itu Cerpen bergambar.
4.
Mengetahui
peranan Cerpen bergambar dalam pembelajaran bahasa.
5.
Mengatahui
faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Apa itu Media ?
Media berasal
dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
tengah’.’perantara’, atau ‘pengantar’. Gerlach & Ely (1971) mengatakan
bahwa media apabila dipahami secara
garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang
membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam
pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara
lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartika
sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap,
memproses dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.
Media menurut para ahli, antara lain
:
1.
Menurut Syaiful
Bahri Djamarah: Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan
sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan.
2.
Menurut Schram: Media
adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan
pembelajaran.
3.
Menurut
National Education Asociation (NEA): Media adalah sarana komunikasidalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi
perangkat kerasnya.
4.
Menurut Briggs:
Media adalah alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses
belajar.
5.
Asociation of
Education Comunication Technology (AECT): Media adalah segala bentuk dan
saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
6.
Menurut
Gagne: Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang
dapat merangsang siswa untuk belajar.
7.
Menurut
Miarso: Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa
untuk
belajar.
B.
Jenis-jenis
media
Jenis-jenis media secara umum
dapat dibagi menjadi:
1.
Media
Visual: media visual adalah media yang bisa dilihat, dibaca dan diraba.
Media ini mengandalkan indra penglihatan dan peraba. Berbagai jenis media ini
sangat mudah untuk didapatkan. Contoh media yang sangat banyak dan mudah untuk
didapatkan maupun dibuat sendiri. Contoh: media foto, gambar, komik, gambar
tempel, poster, majalah, buku, miniatur, alat peraga dan sebagainya.
2.
Media
Audio: media audio adalah media yang bisa didengar saja, menggunakan indra
telinga sebagai salurannya. Contohnya: suara, musik dan lagu, alat musik,
siaran radio dan kaset suara atau CD dan sebagainya.
3.
Media Audio
Visual: media audio visual adalah media yang bisa didengar dan dilihat
secara bersamaan. Media ini menggerakkan indra pendengaran dan penglihatan
secara bersamaan. Contohnya: media drama, pementasan, film, televisi dan media
yang sekarang menjamur, yaitu VCD. Internet termasuk
dalam bentuk media audio visual, tetapi lebih lengkap dan menyatukan semua
jenis format media, disebut Multimedia karena
berbagai format ada dalam internet.
C.
Pengertian
Belajar dan Pembelajaran
Dalam konteks
pendidikan, hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar.
Para Pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau
aktivitas belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat
ditandai, bahwa belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang
terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam pengembangan
potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu
misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan
kejiwaan dan seterusnya.
Bahwa setiap
saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau
tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada
umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang
optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan
terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar
mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik;
dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.
Belajar
merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan
berlangsungh seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah
satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan
tingkah laku dalam dirinya. Sedangkan, Menurut Syaiful Sagala (61:
2009) pembelajaran adalah “membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun
teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”.
Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak
guru sebagai pendidik., sedangkan belajar oleh peserta didik.
Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan
seeorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam
tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi
tertentu.
Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan pembelajaran
adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar”. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun
oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan
pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap
materi pelajaran.
D.
Fungsi media
dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
Media berperan
dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Media pembelajaran menurut Winkel (1991)
memiliki fungsi-fungsi:
1.
Menyimpan dan
merekam daftar informasi
2.
Memanipulasi
objek yang tidak dapat dihadirkan
3.
Memudahkan
proses belajar; dan mengkonkretkan konsep abstrak.
Dalam pembelajaran bahasa, fungsi
media dapat dikhususkan pada 4 ketrampilan bahasa, yaitu:
a.
Fungsi media
dalam mendengarkan / menyimak adalah sebagai berikut:
1)
Memotivasi
siswa siswi untuk mencari dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dengan
medengarkan.
2)
Agar
siswa-siswi merasa bahwa apa yang didengarkan berhubungan dengan kehidupan
nyata.
3)
Memberi
petunjuk tentang makna detil.
4)
Memberi
petunjuk tentang makna pokok.
5)
Memberi materi
non-verbal yang bias dipahami.
b.
Fungsi media
dalam pembelajaran berbicara:
1)
Memotivasi
siswa untuk ingin berani berbicara.
2)
Mengembangkan
dalam wicaranya.
3)
Memberi
informasi dalam wicara yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa, dan
keterkaitannya.
4)
Memberi
isyarat-isyarat non-verbal dengan aman.
5)
Mendorong untuk
berdialog atau menemukan.
c.
Fungsi media
dalam pembelajaran membaca:
1)
Memotivasi
siswa-siswi agar ingin membaca.
2)
Memberikan
petunjuk makna detil.
3)
Memberikan
petunjuk tentang isi pokok paragrap /wacana.
4)
Memberikan
informasi tambahan berkenaan dengan isi teks.
5)
Memberikan
materi non-verbal yang dipahaminya.
6)
Memberikan
analisis simbolik tentang hubungan bahasa tulis dan bunyi luar.
d.
Fungsi media
dalam pembelajaran menulis:
1)
Memotivasi
siswa-siswi
2)
Mengembangkan
konteks dalam tulisan
3)
Memberikan
informasi yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa, dan keterkaitannya
4)
Memberikan
isyarat nonverbal dari latihan manipulasi
5)
Menyediakan
rencana nonverbal untuk menulis karangan (wright, 1983).
E.
Apa itu Cerpen
Bergambar ?
Cerpen adalah
cerita pendek, jenis karya sastra yang memaparkan kisah ataupun cerita tentang
manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek. Atau definisi cerpen yang
lainnya yaitu merupakan karangan fiktif yang isinya sebagian kehidupan
seseorang atau juga kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus
pada suatu tokoh sja. Maksud dari cerita pendek disini ialah ceritanya kurang
dari 10.000 (sepuluh ribu) kata atau kurang dari 10 (sepuluh) halaman. Selain
itu, cerpen hanya memberikan kesan tunggal yang demikian dan memusatkan diri
pada satu tokoh dan satu situasi saja. Jadi cerpen bergambar adalah certa
pendek yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang menunjang cerita tersebut dan
memudahkan si anak untu mengimajinasikan apa yang ia baca.
F.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Anak
Pada dasarnya
dilihat dari aspek psikologis penyelenggaraan pendidikan, khususnya mengenai
pembelajaran, para ahli mengemukakan ada empat pandangan yang dapat digunakan
untuk mengkaji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam
belaar yaitu (Syaiful Sagala, 2010:94) ;
1.
Pandangan Nativisme
Tokoh aliran
ini bernama Arthur Schopenhauer 91788 – 1860) seorang filosof dari Jerman.
Aliran Nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis karena berkeyakinan
bahwa manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan
pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti
ini disebut “pesimisme pedagogis”. Seorang ahli yang bernama Noam A. Chomsky
(ahli linguistik) beranggapan bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia
tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tetapi juga oleh adanya
“biological predisposition” (kecenderungan biologis) yang dibawa sejak lahir.
Namun demikian, Chomsky tidak mematikan sama sekali peranan belajar dan
pengalaman berbahasa, juga lingkungan tetapi pembawaan bertata bahasa jauh
lebih besar bagi perkembangan manusia.
2.
Pandangan
Naturalisme
Pandangan
Naturalisme di pelopori oleh filusuf Prancis J.J.Rousseau (1712-1778). Berbeda
dengan Schopenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang beru lahir
mempunyai pembawaan Baik dan tidak seorangpun yang lahir dengan pembawaan
buruk. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan
atau budaya manusia itu sendiri. Dia juga berpendapat bahwa pendidikan orang
dewasa malah merusak pembawaan anak yang baik tersebut.
Pandangan
Naturalisme tidak memandang penting pendidikan, aliran ini disebut juga
“Negativisme”. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan yang
dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak yang diperoleh secara alamiah
sejak kelahiran itu dapat tampak secara spontan dan bebas. Ia mengusulkan
perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya,
kemampuannya dan kecenderungannya. Pendidik sendiri harus dijauhkan dari
perkembangan anak hal itu berarti dapat menjauhkan anak dari sifat dibuat-buat
dan dapat membawa anak kembali ke alam untuk mempertahankan segala yang baik.
Menurut pandangan naturalis :
Menurut pandangan naturalis :
a.
Semua orang
yang normal berpotensi menjadi orang yang hebat
b.
Manusia sebagai
satu kepribadian yang utuh, jiwa manusia ada tiga aspek yaitu Afektif, Kognitif
dan Psiikomotor
c.
Belajar adalah
Membiarkan anak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alamiah dan
jangan diapa-apakan.
3.
Pandangan
Empirisme
Tokoh utama
aliran ini adalah John Locke (1632 – 1704) nama asli aliran ini adalah “The
School of British Empirisem” (aliran empirisme Inggris). Namun aliranini lebih
bepengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingag melahirkan aliran
filsafat yang bernama “Anvironmendalisme” (aliran lingungan) dan aliran
psikologi yang bernama “environmental psycology” (Psikologi lingkungan yang
relatif masih baru.
Doktrin aliran
empirisme yang amat masyhur adalah “tabularasa” sebuah istilah bahasa latin
yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tabel).
Doktrin tabuh rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan
pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada
lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak
lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme
menganggap setiap anak lahir seperti tabuka rasa, hendak menjadi apa seorang
anak kelak bergantung pada pengalaman / lingkungan yang mendidiknya.
4.
Pandangan
Konvergensi
Aliran ini
merupakan gabungan antara aliran nativisme dengan aliran empirisme. Aliran ini
menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai
faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utam aliran
ini bernama Louis William Stern (1871 – 1938), seorang filosof psikolog Jerman.
Dalam
menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, aliran ini tidak
hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman kedua faktor yang sama pentingnya
itu, faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika tanpa pengalaman. Demikian
pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu
mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan. Banyak faktor yang
mempengaruhi perilaku individu, baik faktor internal maupun faktor eksternal.
Faktor internal merupakan segala sifat dan kecakapan yang dimiliki individu
dalam perkembangannya, yang diperoleh dari hasil keturunan atau karena
interaksi keturunan dengan lingkungan sedangkan faktor eksternal merupakan
segala hal yang diterima individu dari lingkungannya.
Ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku individu :
Ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku individu :
a.
Faktor
keturunan
Keturunan,
pembawaan, atau hereditas merupakan segala ciri, sifat, potensi dna kemampuan
yang dimiliki individu yang dibawa kedua orang tuanya. Individu memulai
kehidupannya sejak masa konsepsi, yaitu masa terjadi pertemuan antara kedua sel
tersebut, berlangsunglah proses penurunan sifat. Hal-hal yang diturunkan pada
masa konsepsi barulah berupa potensi-potensi, bakal-bakal sesuatu atau sesuatu
yang masih perlu dikembangkan. Pengembangan dari potensi atau bakal-bakal
tersebut tidak bisa berlangsung dalam ruang lamma, tetapi selalu terjadi dalam
sesuatu ruang atau lingkungan.
Ada dua
kategori sifat yang dimiliki individu yaitu sifat yang menetap (permanent
state) dan sifat yang bisa berubah (temporary state). Sifat-sifat yang menetap
itulah yang dipandang sebagai pembawaan atau keturunan, seperti warna kulit,
rambut, bentuk hidung, mata telinga, dan lain-lain. Sedangkan sifat yang bisa
berubah seperti penakut, pemberani, periang dan lain-lain masih diragukan
sebagai faktor pembawaan, karena kemungkinan besar masih bisa diubah oleh
faktor lingkungan.
b.
Faktor
lingkungan
Lingkungan alam
dan geografis dimana individu bertempat tinggal mempengaruhi perkembangan dna
perilaku individu. Perilaku yang diperlihatkan oleh individu bukan sesuatu yang
dilakukan sendiri tetapi selalu dalam interaksinya dengan lingkungan. Demikian
juga dengan sifat dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki individu sebagian besar
diperoleh melalui hubungannya dengan lingkungan.
Perkembangan
dan perilaku individu juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, yaitu
lingkungan yang berkenaan dengan cara-cara manusia mengatur dan memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, lingkungan budaya juga berpengaruh.
Lingkungan budaya merupakan lingkungan yang berkenaan dengansegala hasil kreasi
manusia, baik hasil kreasi yang konkrit maupun abstrak, berupa benda, ilmu
pengetahuan, teknologi ataupun aturan-aturan, lembaga-lembaga serta adat
istiadat dan lain-lain.
Lingkungan lain
yang tak kalah penting adalah lingkungan politik dan keamanan. Lingkungan
politik berkenaan dengan bagaimana cara manusia membagi dan mengatur kekuasaan
atas manusia yang lainnya. Lingkungan keamanan berkenaan dengan situasi
ketentraman dan keterlindungan manusia dari ancaman dan gangguan-gangguan, baik
dari sesama manusia, binatang maupun alam.
G.
Peranan Cerpen
Bergambar terhadap Kosakata bahasa Indonesia yang dimiliki anak
Dari penjelasan
dia atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen bergambar sangat berperan dalam
pemerolehan bahasa atau Pemerolehan kosakata pada anak. Dengan media yang mudah
mereka mengerti dan membaca akan lebih menyenangkan jika terdapat gambar yang
menunjang imajinasi aak saat membacanya. Karena pada dasarnya anak Balita belum
menguasai kosakata bahasa Indonesia dengan baik. Dengan adanya cerpen bergambar
mereka kan berlatih untuk membaca.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Simpulan
Gerlach &
Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi,
atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh
pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks,
dan lingkungan sekolah merupakan media. Setiap saat dalam kehidupan mesti
terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak.
Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil
belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus
dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas
dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu
ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap
panca indera ikut berperan.
B.
Saran
Berikan anak bahan
bacaan yang sesuai dengan umur atau sesuai dengan kebutuhannya, jangan sorang
tua keliru dan memberikan bahan bacaan yang tak layak untuk dibaca oleh anak
dibawah umur.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar, 2011, Media Pembelajaran, Jakarta : PT
Rajagrafindo Persada
Siregar, Eveline & Hartini Nara, 2014, Teori Belajar dan Pembelajaran, Bogor :
Ghalia Indonesia.
Syaiful
Sagala, 2010, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung : Alfabeta
www.pengertianahli.com/2014/07/pengertian-media-dan-jenis-media.html. diunduh pada tanggal 21 Desember 2015 pada pukul 23:50
www.pengertianku.net/2014/11/pengertian-cerpen-dan-strukturnya-dilengkapi-unsur-unsurnya.html. diunduh pada tanggal 21 Desember 2015 pada pukul 23:55
yeayyyy
BalasHapus