Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR BAHASA
 Peranan Media Cerpen Bergambar terhadap Kosakata Bahasa Indonesia anak”

 


Disusun oleh   :
          
Hilda Margita
(1388201029)
      Kelas                                   : A2 (A.4.2)
      Dosen Pembimbing            : Haerudin, M. Pd

Universitas Muhammadiyah Tangerang
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah’.’perantara’, atau ‘pengantar’. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami  secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsungh seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan  dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Sedangkan, Menurut Syaiful Sagala (61: 2009) pembelajaran adalah “membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”.
B.     Rumusan Masalah

1.      Apa ituMedia ?
2.      Apa Pengertian Belajar dan Pembelajaran Bahasa ?
3.      Apa yang dimaksud dengan Cerpen bergambar?
4.      Apa peranan Cerpen dalam Pembelajaran Bahasa ?
5.      Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan anak ?

C.     Tujuan
1.      Supaya kita mengetahui tentang media.
2.      Mengetahui apa pengertian belajar dan pembelajaran bahasa.
3.      Mengetahui apa itu Cerpen bergambar.
4.      Mengetahui peranan Cerpen bergambar dalam pembelajaran bahasa.
5.      Mengatahui faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Apa itu Media ?
Media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah’.’perantara’, atau ‘pengantar’. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami  secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartika sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.
Media menurut para ahli, antara lain :
1.      Menurut Syaiful Bahri Djamarah: Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan.
2.      Menurut Schram: Media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
3.      Menurut National Education Asociation (NEA): Media adalah sarana komunikasidalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya.
4.      Menurut Briggs: Media adalah alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar.
5.      Asociation of Education Comunication Technology (AECT): Media adalah segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
6.      Menurut Gagne: Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar.
7.      Menurut Miarso: Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa untuk
belajar.


B.     Jenis-jenis media 
Jenis-jenis media secara umum dapat dibagi menjadi: 
1.      Media Visual: media visual adalah media yang bisa dilihat, dibaca dan diraba. Media ini mengandalkan indra penglihatan dan peraba. Berbagai jenis media ini sangat mudah untuk didapatkan. Contoh media yang sangat banyak dan mudah untuk didapatkan maupun dibuat sendiri. Contoh: media foto, gambar, komik, gambar tempel, poster, majalah, buku, miniatur, alat peraga dan sebagainya.
2.      Media Audio: media audio adalah media yang bisa didengar saja, menggunakan indra telinga sebagai salurannya. Contohnya: suara, musik dan lagu, alat musik, siaran radio dan kaset suara atau CD dan sebagainya.
3.      Media Audio Visual: media audio visual adalah media yang bisa didengar dan dilihat secara bersamaan. Media ini menggerakkan indra pendengaran dan penglihatan secara bersamaan. Contohnya: media drama, pementasan, film, televisi dan media yang sekarang menjamur, yaitu VCD. Internet termasuk dalam bentuk media audio visual, tetapi lebih lengkap dan menyatukan semua jenis format media, disebut Multimedia karena berbagai format ada dalam internet.

C.     Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Dalam konteks pendidikan, hampir semua aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas belajar. Para Pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau aktivitas belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat ditandai, bahwa belajar yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan kejiwaan dan seterusnya.
Bahwa setiap saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.
Belajar merupakan sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsungh seumur hidup, sejak masih bayi (bahkan  dalam kandungan) hingga liang lahat. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Sedangkan, Menurut Syaiful Sagala (61: 2009) pembelajaran adalah “membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan pihak guru sebagai pendidik., sedangkan belajar oleh peserta didik. Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seeorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
            Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

D.    Fungsi media dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
Media berperan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Media pembelajaran menurut Winkel (1991) memiliki fungsi-fungsi:
1.      Menyimpan dan merekam daftar informasi
2.      Memanipulasi objek yang tidak dapat dihadirkan
3.      Memudahkan proses belajar; dan mengkonkretkan konsep abstrak.
Dalam pembelajaran bahasa, fungsi media dapat dikhususkan pada 4 ketrampilan bahasa, yaitu:
a.       Fungsi media dalam mendengarkan / menyimak adalah sebagai berikut:
1)      Memotivasi siswa siswi untuk mencari dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dengan medengarkan.
2)      Agar siswa-siswi merasa bahwa apa yang didengarkan berhubungan dengan kehidupan nyata.
3)      Memberi petunjuk tentang makna detil.
4)      Memberi petunjuk tentang makna pokok.
5)      Memberi materi non-verbal yang bias dipahami.

b.      Fungsi media dalam pembelajaran berbicara:
1)      Memotivasi siswa untuk ingin berani berbicara.
2)      Mengembangkan dalam wicaranya.
3)      Memberi informasi dalam wicara yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa, dan keterkaitannya.
4)      Memberi isyarat-isyarat non-verbal dengan aman.
5)      Mendorong untuk berdialog atau menemukan.

c.       Fungsi media dalam pembelajaran membaca:
1)      Memotivasi siswa-siswi agar ingin membaca.
2)      Memberikan petunjuk makna detil.
3)      Memberikan petunjuk tentang isi pokok paragrap /wacana.
4)      Memberikan informasi tambahan berkenaan dengan isi teks.
5)      Memberikan materi non-verbal yang dipahaminya.
6)      Memberikan analisis simbolik tentang hubungan bahasa tulis dan bunyi luar.


d.      Fungsi media dalam pembelajaran menulis:
1)      Memotivasi siswa-siswi
2)      Mengembangkan konteks dalam tulisan
3)      Memberikan informasi yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa, dan keterkaitannya
4)      Memberikan isyarat nonverbal dari latihan manipulasi
5)      Menyediakan rencana nonverbal untuk menulis karangan (wright, 1983).


E.     Apa itu Cerpen Bergambar ?
Cerpen adalah cerita pendek, jenis karya sastra yang memaparkan kisah ataupun cerita tentang manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek. Atau definisi cerpen yang lainnya yaitu merupakan karangan fiktif yang isinya sebagian kehidupan seseorang atau juga kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh sja. Maksud dari cerita pendek disini ialah ceritanya kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) kata atau kurang dari 10 (sepuluh) halaman. Selain itu, cerpen hanya memberikan kesan tunggal yang demikian dan memusatkan diri pada satu tokoh dan satu situasi saja. Jadi cerpen bergambar adalah certa pendek yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang menunjang cerita tersebut dan memudahkan si anak untu mengimajinasikan apa yang ia baca.
F.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak
Pada dasarnya dilihat dari aspek psikologis penyelenggaraan pendidikan, khususnya mengenai pembelajaran, para ahli mengemukakan ada empat pandangan yang dapat digunakan untuk mengkaji faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam belaar yaitu (Syaiful Sagala, 2010:94) ;
1.      Pandangan Nativisme
Tokoh aliran ini bernama Arthur Schopenhauer 91788 – 1860) seorang filosof dari Jerman. Aliran Nativisme konon dijuluki sebagai aliran pesimistis karena berkeyakinan bahwa manusia itu ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan pandangan seperti ini disebut “pesimisme pedagogis”. Seorang ahli yang bernama Noam A. Chomsky (ahli linguistik) beranggapan bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tetapi juga oleh adanya “biological predisposition” (kecenderungan biologis) yang dibawa sejak lahir. Namun demikian, Chomsky tidak mematikan sama sekali peranan belajar dan pengalaman berbahasa, juga lingkungan tetapi pembawaan bertata bahasa jauh lebih besar bagi perkembangan manusia.
2.      Pandangan Naturalisme
Pandangan Naturalisme di pelopori oleh filusuf Prancis J.J.Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan Schopenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang beru lahir mempunyai pembawaan Baik dan tidak seorangpun yang lahir dengan pembawaan buruk. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan atau budaya manusia itu sendiri. Dia juga berpendapat bahwa pendidikan orang dewasa malah merusak pembawaan anak yang baik tersebut.
Pandangan Naturalisme tidak memandang penting pendidikan, aliran ini disebut juga “Negativisme”. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan yang dibuat-buat (artificial) sehingga kebaikan anak yang diperoleh secara alamiah sejak kelahiran itu dapat tampak secara spontan dan bebas. Ia mengusulkan perlunya permainan bebas kepada anak didik untuk mengembangkan pembawaannya, kemampuannya dan kecenderungannya. Pendidik sendiri harus dijauhkan dari perkembangan anak hal itu berarti dapat menjauhkan anak dari sifat dibuat-buat dan dapat membawa anak kembali ke alam untuk mempertahankan segala yang baik.
Menurut pandangan naturalis :
a.       Semua orang yang normal berpotensi menjadi orang yang hebat
b.      Manusia sebagai satu kepribadian yang utuh, jiwa manusia ada tiga aspek yaitu Afektif, Kognitif dan Psiikomotor
c.       Belajar adalah Membiarkan anak tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alamiah dan jangan diapa-apakan.

3.      Pandangan Empirisme
Tokoh utama aliran ini adalah John Locke (1632 – 1704) nama asli aliran ini adalah “The School of British Empirisem” (aliran empirisme Inggris). Namun aliranini lebih bepengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingag melahirkan aliran filsafat yang bernama “Anvironmendalisme” (aliran lingungan) dan aliran psikologi yang bernama “environmental psycology” (Psikologi lingkungan yang relatif masih baru.
Doktrin aliran empirisme yang amat masyhur adalah “tabularasa” sebuah istilah bahasa latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong (blank slate/blank tabel). Doktrin tabuh rasa menekankan arti penting pengalaman, lingkungan dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisme menganggap setiap anak lahir seperti tabuka rasa, hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman / lingkungan yang mendidiknya.


4.      Pandangan Konvergensi
Aliran ini merupakan gabungan antara aliran nativisme dengan aliran empirisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utam aliran ini bernama Louis William Stern (1871 – 1938), seorang filosof psikolog Jerman.
Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, aliran ini tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman kedua faktor yang sama pentingnya itu, faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika tanpa pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku individu, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal merupakan segala sifat dan kecakapan yang dimiliki individu dalam perkembangannya, yang diperoleh dari hasil keturunan atau karena interaksi keturunan dengan lingkungan sedangkan faktor eksternal merupakan segala hal yang diterima individu dari lingkungannya.
Ada dua faktor yang mempengaruhi perilaku individu :
a.       Faktor keturunan
Keturunan, pembawaan, atau hereditas merupakan segala ciri, sifat, potensi dna kemampuan yang dimiliki individu yang dibawa kedua orang tuanya. Individu memulai kehidupannya sejak masa konsepsi, yaitu masa terjadi pertemuan antara kedua sel tersebut, berlangsunglah proses penurunan sifat. Hal-hal yang diturunkan pada masa konsepsi barulah berupa potensi-potensi, bakal-bakal sesuatu atau sesuatu yang masih perlu dikembangkan. Pengembangan dari potensi atau bakal-bakal tersebut tidak bisa berlangsung dalam ruang lamma, tetapi selalu terjadi dalam sesuatu ruang atau lingkungan.
Ada dua kategori sifat yang dimiliki individu yaitu sifat yang menetap (permanent state) dan sifat yang bisa berubah (temporary state). Sifat-sifat yang menetap itulah yang dipandang sebagai pembawaan atau keturunan, seperti warna kulit, rambut, bentuk hidung, mata telinga, dan lain-lain. Sedangkan sifat yang bisa berubah seperti penakut, pemberani, periang dan lain-lain masih diragukan sebagai faktor pembawaan, karena kemungkinan besar masih bisa diubah oleh faktor lingkungan.
b.      Faktor lingkungan
Lingkungan alam dan geografis dimana individu bertempat tinggal mempengaruhi perkembangan dna perilaku individu. Perilaku yang diperlihatkan oleh individu bukan sesuatu yang dilakukan sendiri tetapi selalu dalam interaksinya dengan lingkungan. Demikian juga dengan sifat dan kecakapan-kecakapan yang dimiliki individu sebagian besar diperoleh melalui hubungannya dengan lingkungan.
Perkembangan dan perilaku individu juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, yaitu lingkungan yang berkenaan dengan cara-cara manusia mengatur dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, lingkungan budaya juga berpengaruh. Lingkungan budaya merupakan lingkungan yang berkenaan dengansegala hasil kreasi manusia, baik hasil kreasi yang konkrit maupun abstrak, berupa benda, ilmu pengetahuan, teknologi ataupun aturan-aturan, lembaga-lembaga serta adat istiadat dan lain-lain.
Lingkungan lain yang tak kalah penting adalah lingkungan politik dan keamanan. Lingkungan politik berkenaan dengan bagaimana cara manusia membagi dan mengatur kekuasaan atas manusia yang lainnya. Lingkungan keamanan berkenaan dengan situasi ketentraman dan keterlindungan manusia dari ancaman dan gangguan-gangguan, baik dari sesama manusia, binatang maupun alam.
G.    Peranan Cerpen Bergambar terhadap Kosakata bahasa Indonesia yang dimiliki anak
Dari penjelasan dia atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen bergambar sangat berperan dalam pemerolehan bahasa atau Pemerolehan kosakata pada anak. Dengan media yang mudah mereka mengerti dan membaca akan lebih menyenangkan jika terdapat gambar yang menunjang imajinasi aak saat membacanya. Karena pada dasarnya anak Balita belum menguasai kosakata bahasa Indonesia dengan baik. Dengan adanya cerpen bergambar mereka kan berlatih untuk membaca.


BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami  secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Setiap saat dalam kehidupan mesti terjadi suatu proses belajar, baik disengaja atau tidak, disadari maupun tidak. Dari proses ini diperoleh suatu hasil, yang pada umumnya disebut sebagai hasil belajar. Tapi untuk memperoleh hasil yang optimal, maka proses belajar harus dilakukan dengan sadar dan sengaja dan terorganisasi dengan baik dan rapi. Atas dasar ini, maka proses belajar mengandung makna: proses internalisasi sesuatu ke dalam diri subyek didik; dilakukan dengan sadar dan aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.
B.     Saran
Berikan anak bahan bacaan yang sesuai dengan umur atau sesuai dengan kebutuhannya, jangan sorang tua keliru dan memberikan bahan bacaan yang tak layak untuk dibaca oleh anak dibawah umur.


DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar, 2011, Media Pembelajaran, Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Siregar, Eveline & Hartini Nara, 2014,  Teori Belajar dan Pembelajaran, Bogor : Ghalia Indonesia.
Syaiful Sagala, 2010, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung : Alfabeta

www.pengertianahli.com/2014/07/pengertian-media-dan-jenis-media.html. diunduh pada tanggal 21 Desember 2015 pada pukul 23:50





1 komentar: