Selasa, 22 Desember 2015



TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK IMPLEMENTASINYA DALAM SETRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori Belajar Bahasa




Dosen Pengampun  : Haerudin,M.Pd
                     Di susun oleh
Nama           : Dela Alpinah
Npm                        :1388201008
Semester      : V (lima)
Kelas           : A2

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah “Teori Belajar Behavioristik Implementasinya dalam Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia” Penyusunan makalah ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Teori Belajar Bahasa  yang diampu oleh Bapak Haerudin M.Pd.
            Dalam penulisan makalah ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini yaitu :
  1. Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Haerudin M.Pd.selaku dosen pengampu mata Teori Belajar Bahasa .
  3. Keluarga yang selalu medukung penyusun dalam penyelesaian makalah ini.
  4. Rekan-rekan yang telah mengikuti perkuliahan Teori Belajar Bahasa.
  5. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah Teori Belajar Behavioristik Implementasinya dalam Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesi  yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.


Tangerang, 19 Desember 2015



Penyusun


DAFTAR ISI



BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah
            Teori Behavioristik adalah teori yang menekankan pada stimulus dan respon seorang anak atau siswa dalam menerima pembelajaran, setrategi adalah cara yang digunakan guru untuk mencapai suatu pembelajaran yang diinginkan dengan strategi-strategi yang menarik sehingga membuat proses belajar mengajar dapat tersampaikan dan berjalan dengan baik. Dalam pembelajaran kita memerlukan sebuah teori sebagai acuan untuk bahan pembelajaran karena teori dapat mengatur dan mengorganisasikan kita dalam belajar agar tercapai suatu tujuan atau hasil yang diinginkan.            Implementasinya bagi siswa adalah siswa dapat mengetahu dan mengikuti pelajaran yang diberikan guru dengan baik sesuai dengan setrategi yang diinginksn siswa agar lebih mudah untuk difahami Maka, dapat diartikan teori merupakan sumber bahan belajar dalam mengatur sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan pola pikir peserta didik dan belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap.
            Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya dan. behavioristik lebih sebagai wadah untuk mengatur stimulus daya kerja peserta didik dalam menerima berbagai teori pembelajaran. Jadi dapat disimpulkan bahwa Teori belajar Behavioristik adalah wadah atau teori yang dapat membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu dengan metode mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis agar sesuai dengan materi yang telah disampaikan dengan strategi yang tepat agar sesuai dengan materi atau bahan pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa.

         
B.   Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan hakikat belajar ?
2.      Sebutkan teori belajar Behavioristik menurut para ahli ?
3.      Apa yang dimaksud strategi pembelajaran Bahasa Indonesia?
4.      Sebutkan teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik?
5.      Sebutkan ciri-ciri belajar dengan  “trial-and-error” ?
6.      Apa yang dimaksud Implementasi prinsip dalam mendesai strategi?
7.      Apa yang dimaksud Teori sistematis behavioris ?
8.      Apa Hubungan teori belajar behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia?

C.   Tujuan Penelitian
           
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hakikat belajar !
2.      Untuk mengetahui teori belajar Behavioristik menurut para ahli !
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud strategi pembelajaran Bahasa Indonesia!
4.      Untuk mengetahui teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik !
5.      Untuk mengetahui ciri-ciri belajar dengan  “trial-and-error” !
6.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud Implementasi prinsip dalam mendesai strategi!
7.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud Teori sistematis behaviorik !
8.      Untuk menegtahui apa Hubungan teori belajar behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia!


BAB II
PEMBAHASAN

1.     Teori Belajar Behavioristik Implementasinya dalam Seterategi Pembelajaran Bahasa Indonesia

A.                Hakikat Belajar
            Belajar adalah ciri khas manusia sehingga manusia dapat dibedakan dengan binatang. Belajar dilakukan manusia seumur hidupnya, kapan saja, dimana saja, baik di sekolah, jalan, dan dalam waktu yangtidak ditentukan sebelumnya (Hamdani 2010).
            Belajar terjadi ketika ada interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan fisik adalah buku, alat peragadan alam sekitar. Adapun lingkungan pembelajaran adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa untuk belajar.

B.                 Teori belajar behavioristik menurut para ahli
Menurut para pakar psikologi behavioristik yang disebut “contemporary behaviorists” atau S-R psychologists”, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat  antara reaksi-reaksi behavioral dengan stimulasinya.
Menurut hamdani teori belajar behavioristik adalah teori ini memandang pikiran sebagai “ kotak hitam” dalam merespons rangsangan yang dapat diobservasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan prosesberfikir yang terjadi dalam otak.
Menurut Winara Sanjaya behavioristic, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecendrungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon. Oleh karena itulah teori ini juga dinamakan teori stimulus respon. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya.
Menurut Udin S Winata putra dkk belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap. Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia untuk belajar, terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia mempunyai sejarah panjang dan telah menghasilkan berbagai teori. Salah satu teori yang dikena adalah teori belajar behavioristic (sering diterjemahkan secara bebas sebagai teori prilaku atau teori tingkah laku)
Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupaka perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respon, yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar. Proses R-C ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu dorongan atau “drive”, Stimulus atau rangsangan, respon, dan penguatan atau “reinforcement”. Unsur dorongan diperhatikan jika seseorang merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan ini. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut seseorang kemudian berinteraksi dengan lingkungannya dengan menyediakan beragam stimulus yang menyebabkan timbulnya respon dari orang tersebut. Respon atau reaksi diberikan terhadap stimulus yang diterima seseorang dengan jalan melakukan sesuatu tindakan yang dapat dilihat.
Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat , dan tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalm otak manusia karena hal tersebut tidak dapat dilihat.
Menurut  Jhon B. Watson (1878-1958) berpendapat bahwa, belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melalui stimulus-stimulus pengganti.(dalam soemanto.2006:123)
Menurut pavlop (1849-1936) merupakan perubahan tingkah laku. Teori ini berdasarkan percobaanya yang terkenal yang melibatkan makanan anjing.(dalam soemanto.2006:124)
Menurut thorndike (1874-1958) mengemukakan hubungan sebab- akibat antara stimulus dan respon. (dalam soemanto.2006:124)
Menurut skinner (1904-1990) menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar.              
Guru berperan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah  tercapainya tujuan yang dirumuskan.(dalam soemanto.2006:125-126)
            Jadi behavioristik adalah suatu proses atau stimulus manusia untuk mengatur tingkah laku seseorang dalam hal belajar untuk meningkatkan keefektifan belajar siswa. Agar, pada saat menerima pembelajaran dapat tersimpan dengan baik sesuai dengan apa yang telah disampaikan dan dijelaskan oleh guru. Teori ini lebih menekankan kepada daya fikir siswa yang cenderung sulit mengimbangkan kemampuan belajarnya.
Guru-guru yang menganut pandangan ini berpendapat,bahwa tingkah laku murid-murid merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang,dan bahwa segenap  tingkah laku adalah merupakan hasil belajar.

C.                Strategi pembelajaran Bahasa Indonesia
1.      pengertian Setrategi
                        Menurut Hamdani Seterategi pembelajaran adalah seterategi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran kusus (yang diinginkan). Joni (1983) berpendapat bahawa yang dimaksud streategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
2.       Seterategi pengajaran
                        Seterategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Seterategi pembelajaran lebih luas dari pada metode atau teknik pengajaran. Dengan kata lain, metode atau teknik pengajar merupakan bagian dari strategi pengajaran.
                        Peranan strategi pengajaran lebih penting apabila guru mengajar siswa yang berbeda dari strategi kemampuan, pencapaian, kecendrungan, serta minat.
                        Jadi strategi adalah rencana atau metode yang digunakan gurui dalam mencapai pembelajaran bahasa Indonesia sesuai dengan teori behavioristik melalui stimulus dan respon.
3.         Bahasa Indonesia
            Bahasa Indonesia adalah bahasa Nasional dan alat pemersatu bangsa Indonesia dari banyaknya berbagai suku bahasa budaya dan adat istiadat. Karena bahasa sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan terus berkembang. Maka sebagai pelajar Indonesia wajib dan selayaknya mengetahui dan mempelajari bahasanya sendiri.

D.                Teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik
                        Psikologi aliran beavioristik mulai mengalami perkembangan denagan lahirnya tentang belajar yang dipelopori oleh Thomdike,paviov,wabon,dan ghuthrie.
Pada mulanya pendidikan dan pengajaran di Amerik Serikat  didominasi oleh pengaruh dari Thorndike (1874-1949). Teori belajar Thorndike disebut “connectionism”, karena belajar merupakan peroses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon.teori ini sering pula  disebut “trial-and error learing”. Individu yang belajar melakukan kegiatan melalaui proses “trial-and-error” dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus tertentu.

E.                 Ciri-ciri belajar dengan  “trial-and-error” yaitu:
a.       Ada motif pendorong aktivitas
b.      Ada berbagai respon terhadap situasi
c.       Ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah
d.      Ada kemajuan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan
Menurut Bapak behavioristik yang terkenal di Amerika yaitu John B. Watson (1878 – 1958). Bahasa merupakan bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia. Teori behavioristik memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Seorang berhavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respon tertentu yang dikuatkan, respons itu akan menjadi kebiasaan. (contoh: Anak yang minta susu pada ibunya oleh ibu diberi susu) maka hal ini apabila selalu dituruti oleh ibu, sang anak akan minta susu dengan cara seperti itu terus.  Pernyataan ini diteliti oleh Skinner yang dikenal dengan teorinya belajar disebut operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi di mana manusia/binatang mengirimkan respons /oprerant (ujaran/kalimat) tanpa ada stimulus yang tampak.Operant  itu dipertahankan dengan penguatan.
Pendapat Skinner ditentang ogzleh Noam Chomsky (1959), tetapi pada tahun 1970, Kenneth Mac Corquadale memberikan jawaban atas kritikan Chomsky. Beberapa linguis dan ahli psikologi sependapat dengan Skinner bahwa model Skinner tentang perilaku berbahasa dapat diterima secara memadai pada kapasitas memperoleh bahasa, perkembangan bahasa, hal bahasa,dan teori makna.
Ahli Psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme, contohnya terori modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas. Misalnya pengertian makna, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa rangsangan kebahasaan (kata/kalimat) memancing respons mediasi, yakni swastikulasi.
Charles Osgood menyebut swastimulasi sebuah proses mediasi representasional, yakni proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Teori mediasi menjelaskan hakikat bahasa dengan makna berbau mentalisme. Dalam teori mediasi masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, hakikat bahasa dan hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan
Pendukung teori behaviorisme yang lain adalah Jenkins dan Palermo (1964). Mereka mensitesiskan linguistik generatif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak. Anak memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Teorinya Jenkis dan Palermo mengalami kegagalan untuk menjelaskan hakikat bahasa yang abstrak. Pendapat ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tak tersentuh.
John B. Watson mengemukakan sebuah teori konspirasi mengenai sebuah teori belajar manusia. Di dalam teorinya, ia mengungkapkan bahwa teori belajar Behavorisme memusatkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Dalam teori ini, tanpa kita sadari bahwa teori ini mengungkapkan bahwa tindak balas atau respons diakibatkan oleh adanya rangsangan atau stimulus. Atau dalam kata lain, aksi berawal oleh adanya reaksi. Sehingga tanpa kita sadari sebab menghasilkan akibat.
Untuk membuktikan kebenaran teorinya, Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas bulan. Pada mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan senang bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya, Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu. Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secara nyata.
Pada teori yang lainnya, ilmuan kaum behavioristik Skinner, berhasil  mengungkapkan pada sebuah teori yang bernama Behavior Skinner. Dalam teori tersebut mengungkapkan bahwa Kemampuan berbicara dan memahami bahasa diperoleh melalui rangsangan lingkungan.Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning.
Menurut Skinner, perilaku verbal adalah perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan, perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan.
Jadi, pada teori ini kita mengetahui tentang akibat dan sebab perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Seandainya hal itu baik menurut individu itu maka akan terus dipertahankan atau akan ditingkatkan terus. Begitu juga sebaliknya, apabila individu tersebut merasakan hal yang dilakukannya itu buruk, maka hal yang dilakukannya itu pun akan segera dikuranginya atau bahkan ditinggalkanya.
Sebagai contoh dapat kita saksikan perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan lain dia akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya.
Ahli Psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme, contohnya terori modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas. Misalnya pengertian makna, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa rangsangan kebahasaan (kata/kalimat) memancing respons mediasi, yakni swastikulasi.
Charles Osgood menyebut swastimulasi sebuah proses mediasi representasional, yakni proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Teori mediasi menjelaskan hakikat bahasa dengan makna berbau mentalisme. Dalam teori mediasi masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, hakikat bahasa dan hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan
Pendukung teori behaviorisme yang lain adalah Jenkins dan Palermo (1964). Mereka mensitesiskan linguistik generatif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak. Anak memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Teorinya Jenkis dan Palermo mengalami kegagalan untuk menjelaskan hakikat bahasa yang abstrak. Pendapat ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tak tersentuh.
Behaviorisme memendang pikiran sebagai “kotak hitam”dalam merespon rangsangan yang dapat diobservasi secara kuantitatif, seluruhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. (Hamdani, Strategi belajar mengajar: 63)
Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi yang diukur sebagai indikatorbelajar.

F.                 Implementasi prinsip ini dalam mendesai strategi adalah sebagai berikut:
a.       Siswa harus diberi tau secara eksplesit ( hasil) belajar sehingga dapat menentukan harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinyatelah mencapai hasil dari pembelajaran atau tidak.
b.      Siswa harus diuji apakah mereka telah mencapai hasil pembelajaran atau tidak
c.       Materi belajar harus diurutkan dengan tepa tuntuk meningkatkan belajar.
d.      Siswa harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat mengetahui cara melakukan tindakan koreksi jika di perlukan.

G.                Teori sistematis behaviorik
            Clark C. Hull mengemukakan teorinya yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif,tujuan, maksud, aspirasi, ambisi).harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Dalam hal ini evisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu oleh respon-respon yang dibuat individu itu. Setiap objek kajian atau situasi dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan keadaan (kekurangan) pada diri individu.
            Prinsip penguat (reinforce) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang (misalnya uang, perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial tingkat tinggi  ). Jadi, perinsip yang utama adalah suatu kebutuhan atau motiv harus ada pada seseorang sebelumbelajar itu terjadi, dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.

H.                Hubungan teori belajar behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia.
            Teori belajar behavioristik menggunakan stimulus dan respond dan seterategi pembelajaran cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan, yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa.
            Jadi dapat disimpulkan bahwa Teori belajar Behavioristik adalah wadah atau teori yang dapat membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu dengan metode mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis agar sesuai dengan materi yang telah disampaikan dengan strategi yang tepat agar sesuai dengan materi atau bahan pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa.














BAB III
PENUTUP

A.   Simpulan
      Teori belajar behavioristik adalah wadah yang digunakan pendidik dalam mengembangkan stimulus dan respon peserta didik. Seterategi pembelajaran adalah cara yang digunakan pendidik agar siswa dapat menerima pelajaran yang disampaikan semaksimal mungkin.
      Hakikat belajar adalah Belajar adalah ciri khas manusia sehingga manusia dapat dibedakan dengan binatang. Belajar terjadi ketika ada interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
      Teori belajar Behavioristik menurut para ahli Menurut para pakar psikologi behavioristik yang disebut “contemporary behaviorists” atau S-R psychologists”, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Menurut hamdani teori belajar behavioristik adalah teori ini memandang pikiran sebagai “ kotak hitam” dalam merespons rangsangan yang dapat diobservasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan prosesberfikir yang terjadi dalam otak. Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupaka perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respon, yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu berdasarkan stimulus yang datang dari luar.
      Strategi pembelajaran Bahasa Indonesia Menurut Hamdani Seterategi pembelajaran adalah seterategi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Seterategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Seterategi pembelajaran lebih luas dari pada metode atau teknik pengajaran. Bahasa Indonesia adalah bahasa Nasional dan alat pemersatu bangsa Indonesia dari banyaknya berbagai suku bahasa budaya dan adat istiadat.
      Teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristic Psikologi aliran beavioristik mulai mengalami perkembangan denagan lahirnya tentang belajar yang dipelopori oleh Thomdike,paviov,wabon,dan ghuthrie.
      Ciri-ciri belajar dengan  “trial-and-error” Ada motif pendorong aktivitas ada berbagai respon terhadap situasi, ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah, ada kemajuan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
      Implementasi prinsip dalam mendesai strategi siswa dituntut untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, agar dapat mencapai tuyjuan yang diinginkan dalam proses belajar mengajar.
      Teori sistematis behavioris teorinya yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif,tujuan, maksud, aspirasi, ambisi).harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.
      Hubungan teori belajar behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia Teori belajar Behavioristik adalah wadah atau teori yang dapat membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu dengan metode mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis agar sesuai dengan materi yang telah disampaikan dengan strategi yang tepat agar sesuai dengan materi atau bahan pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa.

B.   Saran
      Teori dalam pembelajaran haruslah sesuai dengan tujuan yang diinginkan dengan menggunakan teori belajar siswa dapat dengan mudah menerima pembelajaran, dan dalam mengajar teori pembelajaran sangatlah penting. Teori belajar hendaknya terus berdampingan dengan strategi yang tepat yang dapat mendorong siswa agar lebih aktif dan berkembang dengan baik.
























DAFTAR PUSTAKA

Hamdani, 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Sanjaya Wina, 2008. Kurikulum dan pembelajatan. Jakarta: Kencana Prenanada Media Groop
Purwanto Ngalim, 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya
Winata Putra S Udin, dkk, 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
http://ainamulyana.blogspot.co.id/2012/01/pengertian-metode-pembelaaran-  dan.html. Diunduh pada hari sabtu tanggal 31 oktober 2015 pukul 13: 20 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar