TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK
IMPLEMENTASINYA DALAM SETRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori
Belajar Bahasa

Dosen Pengampun : Haerudin,M.Pd
Di susun oleh
Nama : Dela Alpinah
Npm :1388201008
Semester
: V (lima)
Kelas : A2
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penyusun ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya penyusun
dapat menyelesaikan makalah “Teori Belajar Behavioristik Implementasinya dalam Strategi Pembelajaran Bahasa
Indonesia” Penyusunan makalah ini
merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Teori Belajar
Bahasa yang diampu oleh Bapak Haerudin
M.Pd.
Dalam penulisan makalah ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini yaitu :
- Tuhan Yang Maha Esa.
- Haerudin M.Pd.selaku dosen pengampu mata Teori Belajar Bahasa .
- Keluarga yang selalu medukung penyusun dalam penyelesaian makalah ini.
- Rekan-rekan yang telah mengikuti perkuliahan Teori Belajar Bahasa.
- Semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah “Teori Belajar Behavioristik Implementasinya dalam Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesi” yang tidak dapat penyusun sebutkan satu persatu.
Makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan
makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Tangerang, 19 Desember 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Teori Behavioristik adalah teori
yang menekankan pada stimulus dan respon seorang anak atau siswa dalam menerima
pembelajaran, setrategi adalah cara yang digunakan guru untuk mencapai suatu
pembelajaran yang diinginkan dengan strategi-strategi yang menarik sehingga
membuat proses belajar mengajar dapat tersampaikan dan berjalan dengan baik. Dalam pembelajaran kita memerlukan sebuah teori sebagai
acuan untuk bahan pembelajaran karena teori dapat mengatur dan
mengorganisasikan kita dalam belajar agar tercapai suatu tujuan atau hasil yang
diinginkan. Implementasinya
bagi siswa adalah siswa dapat mengetahu dan mengikuti pelajaran yang diberikan
guru dengan baik sesuai dengan setrategi yang diinginksn siswa agar lebih mudah
untuk difahami Maka, dapat
diartikan teori merupakan sumber bahan belajar dalam mengatur sistem
pembelajaran yang disesuaikan dengan pola pikir peserta didik dan
belajar merupakan proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi,
keterampilan, dan sikap.
Proses belajar dimulai sejak manusia
masih bayi sampai sepanjang hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan
karakteristik penting yang membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya dan. behavioristik lebih sebagai wadah untuk mengatur
stimulus daya kerja peserta didik dalam menerima berbagai teori pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Teori
belajar Behavioristik adalah wadah atau teori yang dapat membantu guru dalam
menyampaikan pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu dengan metode mendengarkan,
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis agar sesuai dengan materi yang telah
disampaikan dengan strategi yang tepat agar sesuai dengan materi atau bahan
pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan hakikat belajar ?
2.
Sebutkan teori
belajar Behavioristik menurut para ahli ?
3.
Apa yang
dimaksud strategi pembelajaran Bahasa Indonesia?
4. Sebutkan
teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik?
5. Sebutkan
ciri-ciri belajar dengan
“trial-and-error” ?
6. Apa yang dimaksud Implementasi
prinsip
dalam mendesai
strategi?
7. Apa
yang dimaksud Teori sistematis behavioris ?
8. Apa Hubungan teori belajar
behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia?
C.
Tujuan Penelitian
1.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan hakikat belajar !
2.
Untuk
mengetahui teori belajar Behavioristik menurut para ahli !
3.
Untuk
mengetahui apa yang dimaksud strategi pembelajaran Bahasa Indonesia!
4. Untuk
mengetahui teori-teori yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik !
5. Untuk
mengetahui ciri-ciri belajar dengan
“trial-and-error” !
6. Untuk mengetahui apa yang dimaksud Implementasi
prinsip
dalam mendesai
strategi!
7. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud Teori sistematis behaviorik !
8. Untuk menegtahui apa Hubungan teori
belajar behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia!
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Teori
Belajar Behavioristik Implementasinya dalam Seterategi Pembelajaran Bahasa
Indonesia
A.
Hakikat
Belajar
Belajar adalah ciri khas manusia
sehingga manusia dapat dibedakan dengan binatang. Belajar dilakukan manusia
seumur hidupnya, kapan saja, dimana saja, baik di sekolah, jalan, dan dalam
waktu yangtidak ditentukan sebelumnya (Hamdani 2010).
Belajar terjadi ketika ada interaksi
antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan
sosial. Lingkungan fisik adalah buku, alat peragadan alam sekitar. Adapun
lingkungan pembelajaran adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa
untuk belajar.
B.
Teori
belajar behavioristik menurut para ahli
Menurut para pakar psikologi behavioristik yang
disebut “contemporary behaviorists” atau S-R psychologists”, bahwa tingkah laku
manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement)
dari lingkungan. Dengan demikian, dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan
yang erat antara reaksi-reaksi
behavioral dengan stimulasinya.
Menurut hamdani teori belajar behavioristik adalah
teori ini memandang pikiran sebagai “ kotak hitam” dalam merespons rangsangan
yang dapat diobservasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan
prosesberfikir yang terjadi dalam otak.
Menurut Winara Sanjaya behavioristic, belajar pada
hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra
dengan kecendrungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon.
Oleh karena itulah teori ini juga dinamakan teori stimulus respon. Belajar
adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya.
Menurut Udin S Winata putra dkk belajar merupakan
proses bagi manusia untuk menguasai berbagai kompetensi, keterampilan, dan
sikap. Proses belajar dimulai sejak manusia masih bayi sampai sepanjang
hayatnya. Kapasitas manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang
membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Kajian tentang kapasitas manusia
untuk belajar, terutama tentang bagaimana proses belajar terjadi pada manusia
mempunyai sejarah panjang dan telah menghasilkan berbagai teori. Salah satu
teori yang dikena adalah teori belajar behavioristic (sering diterjemahkan
secara bebas sebagai teori prilaku atau teori tingkah laku)
Menurut teori belajar behavioristik, belajar
merupaka perubahan tingkah laku hasil interaksi antara stimulus dan respon,
yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu berdasarkan stimulus yang
datang dari luar. Proses R-C ini terdiri dari beberapa unsur, yaitu dorongan
atau “drive”, Stimulus atau rangsangan, respon, dan penguatan atau
“reinforcement”. Unsur dorongan diperhatikan jika seseorang merasakan adanya
kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan ini. Dalam upaya
memenuhi kebutuhannya tersebut seseorang kemudian berinteraksi dengan
lingkungannya dengan menyediakan beragam stimulus yang menyebabkan timbulnya
respon dari orang tersebut. Respon atau reaksi diberikan terhadap stimulus yang
diterima seseorang dengan jalan melakukan sesuatu tindakan yang dapat dilihat.
Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada
hasil belajar (outcome), yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat , dan
tidak begitu memperhatikan apa yang terjadi di dalm otak manusia karena hal
tersebut tidak dapat dilihat.
Menurut Jhon
B. Watson (1878-1958) berpendapat bahwa, belajar merupakan proses terjadinya
refleks-refleks atau respon-respon bersyarat melalui stimulus-stimulus
pengganti.(dalam soemanto.2006:123)
Menurut pavlop (1849-1936) merupakan perubahan
tingkah laku. Teori ini berdasarkan percobaanya yang terkenal yang melibatkan
makanan anjing.(dalam soemanto.2006:124)
Menurut thorndike (1874-1958) mengemukakan hubungan
sebab- akibat antara stimulus dan respon. (dalam soemanto.2006:124)
Menurut skinner (1904-1990) menganggap “reward” atau
“reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar.
Guru
berperan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan
belajar ke arah tercapainya tujuan yang
dirumuskan.(dalam soemanto.2006:125-126)
Jadi
behavioristik adalah suatu proses atau stimulus manusia untuk mengatur tingkah
laku seseorang dalam hal belajar untuk meningkatkan keefektifan belajar siswa.
Agar, pada saat menerima pembelajaran dapat tersimpan dengan baik sesuai dengan
apa yang telah disampaikan dan dijelaskan oleh guru. Teori ini lebih menekankan
kepada daya fikir siswa yang cenderung sulit mengimbangkan kemampuan
belajarnya.
Guru-guru
yang menganut pandangan ini berpendapat,bahwa tingkah laku murid-murid
merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa
sekarang,dan bahwa segenap tingkah laku
adalah merupakan hasil belajar.
C.
Strategi
pembelajaran Bahasa Indonesia
1. pengertian
Setrategi
Menurut Hamdani
Seterategi pembelajaran adalah seterategi dapat diartikan sebagai suatu upaya
yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Strategi adalah rencana yang cermat mengenai
kegiatan untuk mencapai sasaran kusus (yang diinginkan). Joni (1983)
berpendapat bahawa yang dimaksud streategi adalah suatu prosedur yang digunakan
untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai
tujuan pembelajaran
2. Seterategi pengajaran
Seterategi pengajaran
terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai
tujuan. Seterategi pembelajaran lebih luas dari pada metode atau teknik
pengajaran. Dengan kata lain, metode atau teknik pengajar merupakan bagian dari
strategi pengajaran.
Peranan strategi
pengajaran lebih penting apabila guru mengajar siswa yang berbeda dari strategi
kemampuan, pencapaian, kecendrungan, serta minat.
Jadi strategi adalah
rencana atau metode yang digunakan gurui dalam mencapai pembelajaran bahasa
Indonesia sesuai dengan teori behavioristik melalui stimulus dan respon.
3.
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa
Nasional dan alat pemersatu bangsa Indonesia dari banyaknya berbagai suku
bahasa budaya dan adat istiadat. Karena bahasa sebagai alat komunikasi verbal
bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer dan terus
berkembang. Maka sebagai pelajar Indonesia wajib dan selayaknya mengetahui dan
mempelajari bahasanya sendiri.
D.
Teori-teori
yang mengawali perkembangan psikologi behavioristik
Psikologi aliran
beavioristik mulai mengalami perkembangan denagan lahirnya tentang belajar yang
dipelopori oleh Thomdike,paviov,wabon,dan ghuthrie.
Pada
mulanya pendidikan dan pengajaran di Amerik Serikat didominasi oleh pengaruh dari Thorndike
(1874-1949). Teori belajar Thorndike disebut “connectionism”, karena belajar
merupakan peroses pembentukan koneksi-koneksi antara stimulus dan respon.teori
ini sering pula disebut “trial-and error
learing”. Individu yang belajar melakukan kegiatan melalaui proses
“trial-and-error” dalam rangka memilih respon yang tepat bagi stimulus
tertentu.
E.
Ciri-ciri
belajar dengan “trial-and-error” yaitu:
a. Ada
motif pendorong aktivitas
b. Ada
berbagai respon terhadap situasi
c. Ada
eliminasi respon-respon yang gagal/salah
d. Ada
kemajuan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan
Menurut Bapak behavioristik yang terkenal di Amerika yaitu John B.
Watson (1878 – 1958). Bahasa merupakan bagian fundamental dari keseluruhan
perilaku manusia. Teori behavioristik memumpunkan perhatiannya pada aspek yang
dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara
stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Seorang berhavioris menganggap
bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respon tertentu yang
dikuatkan, respons itu akan menjadi kebiasaan. (contoh: Anak yang minta susu
pada ibunya oleh ibu diberi susu) maka hal ini apabila selalu dituruti oleh
ibu, sang anak akan minta susu dengan cara seperti itu terus. Pernyataan
ini diteliti oleh Skinner yang dikenal dengan teorinya belajar disebut operant
conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi di mana manusia/binatang
mengirimkan respons /oprerant (ujaran/kalimat) tanpa ada stimulus
yang tampak.Operant itu dipertahankan dengan penguatan.
Pendapat
Skinner ditentang ogzleh Noam Chomsky (1959), tetapi pada tahun 1970, Kenneth
Mac Corquadale memberikan jawaban atas kritikan Chomsky. Beberapa linguis dan
ahli psikologi sependapat dengan Skinner bahwa model Skinner tentang perilaku
berbahasa dapat diterima secara memadai pada kapasitas memperoleh bahasa,
perkembangan bahasa, hal bahasa,dan teori makna.
Ahli
Psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme, contohnya terori
modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas.
Misalnya pengertian makna, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa
rangsangan kebahasaan (kata/kalimat) memancing respons mediasi, yakni
swastikulasi.
Charles
Osgood menyebut swastimulasi sebuah proses mediasi representasional, yakni
proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Teori mediasi
menjelaskan hakikat bahasa dengan makna berbau mentalisme. Dalam teori mediasi
masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, hakikat bahasa dan
hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan
Pendukung
teori behaviorisme yang lain adalah Jenkins dan Palermo (1964). Mereka
mensitesiskan linguistik generatif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak.
Anak memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi
stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Teorinya
Jenkis dan Palermo mengalami kegagalan untuk menjelaskan hakikat bahasa yang
abstrak. Pendapat ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi
empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan
dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tak
tersentuh.
John
B. Watson mengemukakan sebuah teori konspirasi mengenai sebuah teori belajar
manusia. Di dalam teorinya, ia mengungkapkan bahwa teori belajar
Behavorisme memusatkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara
langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons
pada dunia sekelilingnya. Dalam
teori ini, tanpa kita sadari bahwa teori ini mengungkapkan bahwa tindak balas
atau respons diakibatkan oleh adanya rangsangan atau stimulus. Atau dalam kata
lain, aksi berawal oleh adanya reaksi. Sehingga tanpa kita sadari sebab
menghasilkan akibat.
Untuk membuktikan kebenaran teorinya,
Watson mengadakan eksperimen terhadap Albert, seorang bayi berumur sebelas
bulan. Pada mulanya Albert adalah bayi yang gembira dan tidak takut bahkan
senang bermain-main dengan tikus putih berbulu halus. Dalam eksperimennya,
Watson memulai proses pembiasaannya dengan cara memukul sebatang besi dengan
sebuah palu setiap kali Albert mendekati dan ingin memegang tikus putih itu.
Akibatnya, tidak lama kemudian Albert menjadi takut terhadap tikus putih juga
kelinci putih. Bahkan terhadap semua benda berbulu putih, termasuk jaket dan
topeng Sinterklas yang berjanggut putih. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pelaziman dapat mengubah perilaku seseorang secara nyata.
Pada
teori yang lainnya, ilmuan kaum behavioristik Skinner, berhasil
mengungkapkan pada sebuah teori yang bernama Behavior Skinner. Dalam
teori tersebut mengungkapkan bahwa Kemampuan berbicara dan memahami bahasa
diperoleh melalui rangsangan lingkungan.Teori skinner tentang perilaku verbal
merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning.
Menurut Skinner, perilaku verbal adalah
perilaku yang dikendalikan oleh akibatnya. Bila akibatnya itu hadiah, perilaku
itu akan terus dipertahankan. Kekuatan serta frekuensinya akan terus
dikembangkan. Bila akibatnya hukuman, atau bila kurang adanya penguatan,
perilaku itu akan diperlemah atau pelan-pelan akan disingkirkan.
Jadi,
pada teori ini kita mengetahui tentang akibat dan sebab perilaku yang
dikendalikan oleh akibatnya. Seandainya hal itu baik menurut individu itu maka
akan terus dipertahankan atau akan ditingkatkan terus. Begitu juga sebaliknya,
apabila individu tersebut merasakan hal yang dilakukannya itu buruk, maka hal
yang dilakukannya itu pun akan segera dikuranginya atau bahkan ditinggalkanya.
Sebagai contoh dapat kita saksikan
perilaku anak-anak di sekeliling kita. Ada anak kecil menangis meminta es pada
ibunya. Tetapi, karena ibunya yakin dan percaya bahwa es itu menggunakan
pemanis buatan maka sang ibu tidak meluluskan permintaan anaknya. Sang anak
terus menangis. Tetapi sang ibu bersikukuh tidak menuruti permintaannya. Lama
kelamaan tangis anak tersebut akan reda dan lain kali lain tidak akan minta es
semacam itu lagi kepada ibunya, apalagi dengan menangis. Seandainya anak itu
kemudian dituruti keinginannya oleh ibunya, apa yang terjadi? Pada kesempatan
yang lain sang anak akan minta es lagi. Apabila ibunya tidak meluluskannya maka
ia akan menangis dan terus menangis sebab dengan menangis ia akan mendapatkan
es. Kalau ibunya memberi es lagi maka perbuatan menangis itu dikuatkan. Pada kesempatan
lain dia akan menangis manakala ia meminta sesuatu pada ibunya.
Ahli
Psikologi mengusulkan modifikasi teori behaviorisme, contohnya terori
modifikasi yang dikembangkan dari teori Pavlov, yakni teori kontiguitas.
Misalnya pengertian makna, dipertanggungjawabkan dengan pernyataan bahwa
rangsangan kebahasaan (kata/kalimat) memancing respons mediasi, yakni
swastikulasi.
Charles
Osgood menyebut swastimulasi sebuah proses mediasi representasional, yakni
proses yang tidak tampak yang bergerak dalam diri pembelajar. Teori mediasi
menjelaskan hakikat bahasa dengan makna berbau mentalisme. Dalam teori mediasi
masih terdapat pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, hakikat bahasa dan
hubungan integral antara makna dan ujaran tak terpecahkan
Pendukung
teori behaviorisme yang lain adalah Jenkins dan Palermo (1964). Mereka
mensitesiskan linguistik generatif dengan pendekatan mediasi untuk bahasa anak.
Anak memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi
stimulus respons yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Teorinya
Jenkis dan Palermo mengalami kegagalan untuk menjelaskan hakikat bahasa yang
abstrak. Pendapat ahli psikologi behaviorisme yang menekankan pada observasi
empirik dan metode ilmiah hanya dapat mulai menjelaskan keajaiban pemerolehan
dan belajar bahasa dan ranah kajian bahasa yang sangat luas masih tak
tersentuh.
Behaviorisme memendang pikiran sebagai
“kotak hitam”dalam merespon rangsangan yang dapat diobservasi secara
kuantitatif, seluruhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak.
(Hamdani, Strategi belajar mengajar: 63)
Kelompok ini memandang tingkah laku
yang dapat diobservasi yang diukur sebagai indikatorbelajar.
F.
Implementasi
prinsip ini dalam mendesai strategi adalah sebagai berikut:
a.
Siswa harus diberi tau secara eksplesit
( hasil) belajar sehingga dapat menentukan harapan-harapan mereka dan
menentukan apakah dirinyatelah mencapai hasil dari pembelajaran atau tidak.
b.
Siswa harus diuji apakah mereka telah
mencapai hasil pembelajaran atau tidak
c.
Materi belajar harus diurutkan dengan
tepa tuntuk meningkatkan belajar.
d.
Siswa harus diberi umpan balik sehingga
mereka dapat mengetahui cara melakukan tindakan koreksi jika di perlukan.
G.
Teori
sistematis behaviorik
Clark C. Hull
mengemukakan teorinya yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong”
(oleh motif,tujuan, maksud, aspirasi, ambisi).harus ada dalam diri seseorang
yang belajar, sebelum suatu respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan
kebutuhan itu. Dalam hal ini evisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat
pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar itu
oleh respon-respon yang dibuat individu itu. Setiap objek kajian atau situasi
dapat mempunyai nilai sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan
penurunan keadaan (kekurangan) pada diri individu.
Prinsip
penguat (reinforce) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari
dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada
hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang (misalnya uang, perhatian,
afeksi, dan aspirasi sosial tingkat tinggi
). Jadi, perinsip yang utama adalah suatu kebutuhan atau motiv harus ada
pada seseorang sebelumbelajar itu terjadi, dan bahwa apa yang dipelajari itu
harus diamati oleh orang yang belajar sebagai sesuatu yang dapat mengurangi
kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya.
H.
Hubungan teori belajar behavioristik
dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia.
Teori
belajar behavioristik menggunakan stimulus dan respond dan seterategi
pembelajaran cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam
lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup, dan urutan
kegiatan, yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa Teori belajar Behavioristik adalah wadah atau teori
yang dapat membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran Bahasa Indonesia,
yaitu dengan metode mendengarkan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
agar sesuai dengan materi yang telah disampaikan dengan strategi yang tepat
agar sesuai dengan materi atau bahan pembelajaran yang akan di sampaikan kepada
siswa.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Teori belajar behavioristik adalah wadah
yang digunakan pendidik dalam mengembangkan stimulus dan respon peserta didik.
Seterategi pembelajaran adalah cara yang digunakan pendidik agar siswa dapat
menerima pelajaran yang disampaikan semaksimal mungkin.
Hakikat belajar adalah Belajar
adalah ciri khas manusia sehingga manusia dapat dibedakan dengan binatang.
Belajar terjadi ketika ada interaksi antara individu dengan lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Teori belajar
Behavioristik menurut para ahli Menurut para pakar
psikologi behavioristik yang disebut “contemporary behaviorists” atau S-R
psychologists”, bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran
(reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Menurut hamdani teori
belajar behavioristik adalah teori ini memandang pikiran sebagai “ kotak hitam”
dalam merespons rangsangan yang dapat diobservasi secara kuantitatif,
sepenuhnya mengabaikan prosesberfikir yang terjadi dalam otak. Menurut teori
belajar behavioristik, belajar merupaka perubahan tingkah laku hasil interaksi
antara stimulus dan respon, yaitu proses manusia untuk memberikan respon tertentu
berdasarkan stimulus yang datang dari luar.
Strategi pembelajaran Bahasa
Indonesia Menurut Hamdani Seterategi pembelajaran adalah
seterategi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang
atau organisasi untuk sampai pada tujuan. Seterategi pengajaran terdiri atas
metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Seterategi
pembelajaran lebih luas dari pada metode atau teknik pengajaran. Bahasa
Indonesia adalah bahasa Nasional dan alat pemersatu bangsa Indonesia dari banyaknya
berbagai suku bahasa budaya dan adat istiadat.
Teori-teori yang
mengawali perkembangan psikologi behavioristic Psikologi aliran beavioristik
mulai mengalami perkembangan denagan lahirnya tentang belajar yang dipelopori
oleh Thomdike,paviov,wabon,dan ghuthrie.
Ciri-ciri
belajar dengan “trial-and-error” Ada
motif pendorong aktivitas ada berbagai respon terhadap situasi, ada eliminasi respon-respon yang
gagal/salah, ada kemajuan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Implementasi prinsip dalam mendesai
strategi siswa dituntut untuk lebih aktif
dalam mengikuti pembelajaran, agar dapat mencapai tuyjuan yang diinginkan dalam
proses belajar mengajar.
Teori
sistematis behavioris
teorinya yaitu
bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif,tujuan, maksud,
aspirasi, ambisi).harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu
respon dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu.
Hubungan teori
belajar behavioristik dengan Sterategi pembelajaran Bahasa Indonesia Teori
belajar Behavioristik adalah wadah atau teori yang dapat membantu guru dalam
menyampaikan pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu dengan metode mendengarkan,
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis agar sesuai dengan materi yang telah
disampaikan dengan strategi yang tepat agar sesuai dengan materi atau bahan
pembelajaran yang akan di sampaikan kepada siswa.
B.
Saran
Teori dalam pembelajaran haruslah sesuai dengan tujuan yang
diinginkan dengan menggunakan teori belajar siswa dapat dengan mudah menerima
pembelajaran, dan dalam mengajar teori pembelajaran sangatlah penting. Teori belajar hendaknya terus
berdampingan dengan strategi yang tepat yang dapat mendorong siswa agar lebih
aktif dan berkembang dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani, 2011. Strategi
Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Sanjaya
Wina, 2008. Kurikulum dan pembelajatan.
Jakarta: Kencana Prenanada Media Groop
Purwanto Ngalim, 2013. Psikologi Pendidikan. Bandung: Pt Remaja Rosdakarya
Winata
Putra S Udin, dkk, 2011. Teori Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
http://ainamulyana.blogspot.co.id/2012/01/pengertian-metode-pembelaaran- dan.html. Diunduh
pada hari sabtu tanggal 31 oktober 2015 pukul 13: 20 wib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar