Teori Belajar Mengajar
“Penerapan Kontekstual di Kelas Melalui Pembelajaran
Inkuiri“
Disusun Oleh : Sri Haryati
Npm :
1388201092
Semester : V (lima)
Nama
dosen : Herudin. M.Pd
Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
Universitas muhammadiyah tangerang
2015
KATA PENGANTARA
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan
karunia terbesar-Nya, atas selesainya penyusunan makalah Perencanaan Belajar
Bahasa Indonesia yang membahas “Penerapan
Kontekstual di Kelas Melalui Pembelajaran Inkuiri” sebagai salah satu perangkat kelengkapan Tugas.
Saya ucapkan terima kasih kepada Dosen Pengajar atas arahan dan bimbingannya sehingga
terselesainya tugas makalah ini. Dalam makalah ini menjabarkan beberapa
pembahasan yang diambil dari referensi.
Apabila ada kekurangan dalam pembuatan makalah
ini saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu besar
harapan penyusun atas berbagai saran dan kritikan
yang menunjang agar makalah ini lebih baik lagi.
Tangerang, 22
Desember 2015
Sri Haryati
BAB l
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan
pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh
siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil
dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merencanakan kegiatan yang menunjuk
pada kegiatan menemukan, apapun materi ya;ng diajarkannya siklus inkuiri
terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan
(hyphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclussion). Macam-macam pembelajaran inkiiri
yaitu yang pertama inkuiri terbimbing , kedua inkuiri bebas, dan yang ketiga inkuiri
Bebas yang Dimodifikasikan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa itu Pengertian Pembelajaran
kontekstual ?
2.
Apa itu pengertian teori pembelajaran
inkuiri ?
3.
Bagaimana penggunaaan strategi
pembelajaran inkuiri ?
4.
Apa kelemahan dan keunggulan
pembelajaran inkuiri ?
1.3 Tujuan Penulisan
2.
Untuk mengetahui pengertian mengenai
pembelajaran kontekstual
3.
Untuk mengetahui apa itu teori
pembelajaran inkuiri
4.
Untuk mengetahui bagaimana penggunaan
teori pembelajaran inkuiri
5.
Untuk mengetahui kelemahan dan
keunggulan pembelajaran inkuiri
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep
belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran
kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan ketujuh
komponen utama pembelajaran efektif yaitu kontruktivisme, bertanya, menemukan,
masyarakat belajar, permodelan, dan penilaian sebenarnya. Pembelajaran
kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang
mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah pengetahuan. Melalui hubungan di dalam
dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan
pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan
yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran
kontekstual menyajikan suatu konsep yang menaitkan materi pelajaran yang
dipelajari siswadengan konteks materi tersebut digunakan, serta hubungan bagaimana
seseorang belajar atau cara siswa belajar.
B.
Pemikiran tentang belajar
Pendekatan kontekstual
mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.
1. Proses belajar
· Belajar tidak hanya
sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka.
· Anak belajar dari
mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan
bukan diberi begitu saja oleh guru.
· Para ahli sepakat bahwa
pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman
yang mendalam tentang sesuatu persoalan.
· Pengetahuan tidak dapat
dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi
mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
· Manusia mempunyai
tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
· Siswa perlu dibiasakan
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut
dengan ide-ide.
· Proses belajar dapat
mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring
dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.
2. Transfer Belajar
· Siswa belajar dari
mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain.
· Keterampilan dan
pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
· Penting bagi siswa tahu
untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan
itu
3. Siswa sebagai Pembelajar
· Manusia mempunyai
kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai
kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru.
· Strategi belajar itu
penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk
hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting.
· Peran orang dewasa
(guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
· Tugas guru memfasilitasi
agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan
dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan
strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya Lingkungan Belajar
· Belajar efektif itu
dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di
depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru
mengarahkan.
· Pengajaran harus
berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi
belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.
· Umpan balik amat penting
bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar.
· Menumbuhkan komunitas
belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
C. Pengertian Inkuiri
Inkuiri
merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.
Pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. (Trianto:144)
Amien
(1987) dan Roestiyah (1998) mengatakan bahwa inkuiri adalah suatu perluasan
proses discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa. Sebagai tambahan
pada proses discovery, inkuiri mengandung proses mental yang lebih tinggi
tingkatannya, misalnya merumuskan masalah, merancang eksperimen, melakukan
eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, menumbuhkan
sikap objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka dan sebagainya.
Menurut
Roestiyah (2008:75), inkuiri merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan
guru untuk mengajar didepan kelas. Inkuiri
adalah suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah,
merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis
data, dan menarik kesimpulan.
Jadi
inkuiri adalah suatu teori untuk membuat siswa keritis serta logis dalam
menganalisis dan memecahkan suatu masalah yang dihadapinya.
.
C. Macam-macam metode Inquiri
Inkuiri
terbagi menjadi tigamacam berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa
atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis
pendekatan inkuiri tersebut adalah:
a. Inkuiri Terbimbing
Pendekatan
inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa
melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu
diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan
tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi
siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan
pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari
guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini
siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik
melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan
masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada
dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai
dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan,
kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga
siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan
dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring
siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu,
bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur.
Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi
siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan
scafolding yang diperlukan oleh siswa.
b. Inkuiri Bebas
Pada
umumnya pendekatan ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar
dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini
menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi
kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan
masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang
diperlukan.
Selama
proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak
diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah
adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai
alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana
cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan
siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh
orang lain dari masalah yang diselidiki.
c.
Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan
Pendekatan
ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri
sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas.
Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap
diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam
pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk
diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini
menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan.
Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak
terstruktur.
Dalam
pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa
berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat
menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat
menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak
langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang
dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.
D. Langkah-Langkah Pelaksanaan
Pembelajaran Inkuiri
Secara umum proses pembelajaran
dengan menggunakan strategi dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah
untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini
guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru
merangsang dan Mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah
orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan startegi ini
sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan
kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan itu tak
mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar. Berapa hal yang dapat
dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah :
§ Menjelaskan
topic, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
§ Menjelaskan
pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta tujuan setiap langkah,
mulai dari langkah merumuskan kesimpulan.
§ Menjelaskan
pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka
memberikan motivasi belajar siswa.
b. Merumuskan
Masalah
Merumuskan masalah merupakan
langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan
yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa ntuk berpikir memecahkan
teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji
disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari
jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam
strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui
proses berpikir.
c. Merumuskan
Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara
dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara,
hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang
perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga
hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir
logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki
serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai
wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
d. Mengumpulkan
Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas
menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental
yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data
bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga
membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. Karena
itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari
informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala
siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak apresiatif itu
biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakgairahan dalam belajar. Manakala
guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara
terus-menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan
berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mereka
terangsang untuk berpikir.
e. Menguji
Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses
menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi
yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Dalam menguji hipotesis yang
terpenting adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan.
Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir
rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan
argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
f. Merumuskan
Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan
temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan
kesimpulan merupakan gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, karena
banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak
fokus pada masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai
kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana
yang relevan.
E. Keunggulan dan Kelemahan
Pembelajaran Inkuiri
a. Keunggulan
Strategi Pembelajaran Inkuiri
merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena strategi ini
memiliki beberapa keunggulan, di antaranya :
a) Startegi
ini merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran
melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
b) Startegi
ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
c) Startegi
ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi
belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku
berkat adanya pengalaman.
d) Keuntungan
lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang
memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan
belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
b. Kelemahan
Di samping memiliki keunggulan,
strategi ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
a) Jika
strategi ini digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit
mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b) Strategi
ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan
kebiasaan siswa dalam belajar.
c) Kadang-kadang
dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
d) Selama
kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi
pelajaran, maka startegi ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sehari-hari dengan melibatkan ketujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu
kontruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, permodelan, dan
penilaian sebenarnya.
Inkuiri adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada peroses berpikir secara
keritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan
melalui tanya jawab antra guru dan siswa.
Strategi
Pembelajaran Inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan,
karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya a. Startegi ini merupakan strategi
pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap
lebih bermakna, b. Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat
melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya,
siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa
yang lemah dalam belajar. Di samping memiliki keunggulan, strategi ini juga
mempunyai kelemahan, di antaranya, a. Jika strategi ini digunakan sebagai
strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan
siswa, b. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena
terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
DAFTAR PUSTAKA
http://dedi26.blogspot.co.id/2013/06/pengertian-pembelajaran-kontekstual.ht. (diunduh pada 9:30 21/12/2015
http://www.sekolahdasar.net/2011/06/pengertian-pembelajaran-kontekstualdan.html#i
xzz3uy 1LRrKT. (Diunduh pada, 9:52 21/12/2015)
Sunjaya Wina, 2009,
Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Prenanda Media Group.
Trianto, 2009,mendesain model pembelajaran inovatif,
Jakarta, kencana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar