Selasa, 22 Desember 2015



APLIKASI TEORI BELAJAR DAN COOPERATIF LEARNING DALAM POSES PEMBELAJARAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Teori Belajar Bahasa


Disusun oleh  :

Iis Trisnawati (1388201173)

Semester         : V (LIMA)                                                           Kelas                    : A.2

                                                                                                   

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2015


KATA PENGANTAR


                   Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan tugas makalah  ini.
                   Tugas makalah  ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah teori belajar bahasa. Adapun judul yang penyusun ambil dari tugas makalah  ini ” Aplikasi Teori Belajar Bahasa dan Cooperatif Learning dalam Proses Pembelajaran”.
Penyusun sudah menulis dengan sebaik-baiknya oleh karena itu penyusun dengan senanghati menerima kritik dan saran agar tugas makalah ini mempunyai nilai dan manfaat bagi pembaca pada angkatan selanjutnya.


Tangerang, Desember 2015

                   Penulis








DAFTAR ISI
DAFTAR PUSTAKA

 



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang


Masyarakat cenderung tidak peduli dan bersikap acuh terhadap pemerolehan bahasa pada anak mereka, dan banyak sekali adanya jenis-jenis penyimpangan yang terjadi sehingga menimbulkan dampak yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak. Orang tua banyak yang kurang peduli bagaimana anak memperoleh asal dari bahasa yang telah ia dapatkan sebelumnya. Serta banyak sekali masyarakat dunia yang belum mengetahui atau bahkan belum tahu darimana sebenarnya manusia memperoleh bahasa yang selama ini membantunya dalam memberitahukan kebutuhan kebutuhannya, mengekspresikan apa yang dirasakannya, dan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.
            Memperoleh bahasa yang selama ini membantunya dalam memberitahukan kebutuhannya, mengekspresikan apa yang dirasakannya, dan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. dapat berpikir dan berbahasa merupakan cirri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Karena memiliki keduanya, maka sering disebut manusia sebagai makhluk yang mulia dan makhluk sosial. Dengan pikirannya, manusia menjelajah ke setiap fenomena yang Nampak bahkan yang tidak Nampak. Dengan bahasanya, manusia berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil pemikirannya.
            Salah satu objek pemikiran manusia adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Pendapat para ahli tentang belajar bahasa tersebut bermacam-maca. Di antara pendapat mereka ada yang bertentangan namun ada juga yang saling mendukung dan melengkapi. Pemikiran para ahli tentang teori belajar bahasa ini begitu menarik. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menggunakan pembelajaran kooperatif dapat mengubah peran guru, dari yang berpusat pada gurunya ke pengelolaan siswa dalam kelompok-kelompok kecil. Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia. Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Dalam makalah ini saya akan mencoba memaparkan aplikasi teori belajar dan cooperative learning dalam proses pembelajaran.

B.     Rumusan  Masalah

1.      Bagaimanakah aplikasi teori belajar?
2.      Bagaimanakah cooperatif learning?

C. Tujuan

1.      Untuk mengetahui aplikasi teori belajar dan cooperatif learning dalam proses pembelajaran.
2.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah teori belajar bahasa.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Teori Belajar

Menurut  M. Ngalim Purwanto, MP. (2013 h. 85). Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, prose situ terjadi didalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Sedangkan teori belajar adalah proses dimana dalam proses belajar menghasilkan pengajaran yang baik, manajemen yang baik dengan menggunakan teori belajar  yang dikuasai.
Menurut Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, (2013 h. 30). Ada tiga jenis teori belajar yang berkembang dan memiliki pengaruh terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia pada khususnya. Teori belajar tersebut adalah: (1). Teori psikologi kognitif (kognitivisme), (2). Teori behavioristik. (3). Teori psikologi humanistic.
1.      Teori psikologi kognitif (kognitivisme)
Teori psikologi kognitif dikenal dengan cognitive gestalt field. Teori belajar ini adalah teori instight. Aliran ini bersumber dari Psikologi Gestalt Field. Menurut mereka belajar adalah proses mengembangkan instight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada di lingkungan, termasuk struktur tubuhnya sendiri. Gestalt Field melihat belajar merupakan perbuatan yang bertujuan, eksplorasi, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau instight merupakan citra dari perasaan tentang pola-pola atau hubungan. Perkembangan teori Goal Instight dimulai dari psikologi configurationlism, yang mengemukakan bahwa individu selalu bertujuan, diarahkan kepada pembentukan hubungan dengan lingkungan.
Teori belajar kognitif memandang manusia sebagai pelajar yang aktif yang memprakarsai pengalaman, mencari dan mengolah informasi, untuk memecahkan masalah, mengorganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk mencapai pemahaman baru. Karena itu teori ini juga disebut teori pengolahan informasi (information processing theory). (Piaget:1970, dalam buku Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran), memperkenalkan empat factor yang mendasari seseorang membuat pemahaman, yaitu:
a). Kematangan, yaitu saatnya seseorang siap melaksanakan suatu tugas perkembangan tertentu.
b). Aktivitas adalah kemampuan untuk bertindak terhadap lingkungan dan belajar darinya.
c). Pengalaman social, proses belajar dari orang lain atau interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.
d). Ekulibrasi adalah proses terjadinya perubahan-perubahan actual dalam berfikir.
Aplikasi teori Kognitivisme
Aplikasi teori belajar kognitivisme dalam pembelajaran yaitu guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
Menurut Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, (2013 h. 30). Adapun strategi pembelajaran (metode dan teknik) model pemprosesan informasi ini meliputi, diantaranya:
1.      Mengajar Induktif, yaitu untuk mencari dan menentukan informasi yang memang diperlukan.
2.      Latihan Inquiry, yaitu untuk mencari dan menetukan informasi yang diperlukan.
3.      Inquiry Keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan system penelitian dalam domain-domain disiplin ilmu lainnya.
4.      Pembentukan Konsep, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir induktif, mengembangkan konsep, dan kemampuan analisis.
5.      Model Pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan inteligensi umum, terutama berfikir logis, aspek social, dan moral.
6.      Advanted Organizer Model, bertujusn untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu penetahuan secara bermakna.
Sedangkan implikasi teori belajar Kognitif (Piaget) dalam pembelajaran, di antaranya:
1.      Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak akan dapat belajar denagn baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
2.      Guru harus dapat membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sebaik mungkin (fasilitator, ing ngarso sung tulodo).
3.      Bahan yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru, tetapi tidak asing, beri peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
4.      Dikelas berikan kesempatan pada anak untuk dapat bersosialisasi dan diskusi sebanyak mungkin.
2. Teori Psikologi Behavioristik
            Teori belajar behavioristik disebut juga Stimulus-Respons Teory (S-R). Kelompok ini mencakup tiga teori, yaitu S-R Bond, Conditing, dan Reinforcement. Kelompok teori ini berangkat dari asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensi apa-apa dari kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh factor-faktor yang berasal dari lingkungan Lingkunganlah yang membentuknya, apakah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, lingkungan manusia, alam, budaya, maupun religi. Kelompok teori ini tidak mengakui sesuatu yang bersifat mental. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dan menekankan pada pengaruh factor eksternal pada diri individu.
            Teori S-R Bond (stimulus-respons) bersumber dari psikologi koneksionisme atau teori asosiasi dan merupakan teori utama dari rumpun behaviorisme. Menurut konsep mereka, kehidupan ini tunduk kepada hokum stimulus-respons atau aksi-reaksi. Setangkai bunga dapat merupakan suatu stimulus dan respons oleh mata dengan cara meliriknya. Kesan indah yang diterima oleh individu dapat merupakan stimulus yang mengakibatkan terespons memetik bunga tersebut. Demikian halnya dengan  belajar, terdiri atas rentetan hubungan stimulus-respons.
            Peranan guru dalam proses belajar mengajar berdasarkan teori psikologi behavioristik adalah sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi perilaku yang dipelajari dan merumuskannya dalam rumusan yang spesifik.
b.      Mengidentifikasikan perilaku yang diharapkan dari proses belajar. Bentuk-bentuk kompetensi yang diharapkan dalam bidang studi dijabarakan secara spesifik dalam tahap-tahap kecil. Pengusaan keterampilan melalui tahap-tahap ini sebagai tujuan yang akan dicapai dalam proses belajar.
c.       Mengidentifikasi reinfore yang memadai. Reinfore dapat membentuk mata pelajaran, kegiatan belajar, perhatian dan penghargaan, dan kegiatan-kegiatan yang dipilih siswa.
d.      Menghindarkan perilaku yang tidak diharapkan dengan jalan memperlemah pola perilaku yang dikehendaki.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan belajar tergantung beberapa hal seperti :
1.      Tujuan pembelajaran
2.      Sifat materi pelajaran
3.      Karakteristik siswa
4.      Media
5.      Fasilitas pembelajaran yang tersedia
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti :
Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: Percakapan Bahasa Asing, Mengetik, Menari, Menggunakan Komputer, Berenang, Olahraga Dan Sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Ada empat fase dalam model modifikasi tingkah laku, yaitu fase mesin pengajaran (CAI dan CBI), penggunaan media, pengajaran berprogram (linier dan branching) operant conditioning, dan operant reinforcement. Implementasi dari model ini adalah meningkatkan ketelitian pengucapan pada anak, guru selalu perhatian terhadap tingkah laku belajar siswa, modifikasi tingkah laku anak yang kemampuan belajarnya rendah dengan reward, sebagai reinforcement pendukung, dan penerapan prinsip pembelajran individual terhadap pembelajaran klasikal.

3.Teori Psikologi Humanistik
            Tokoh teori ini adalah Abraham H. Maslow dan Carl R. Roger. Teori ini berpandangan bahwa perilaku manusia itu ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh factor internal, dan bukan oleh factor lingkungan. Oleh karena itu teori ini disebut juga dengan “self theory”. Manusia yang mencapai puncak perkembangannya adalah yang mampu mengaktualisasikan dirinya, mampu mengembangkan potensinya dan merasa dirinya itu utuh, bermakna, dan berfungsi atau full functioning person. Prinsip-prinsip belajar berdasarkan teori psikologi humanistic sebagai berikut.
a.       Manusia mempunyai dorongan untuk belajar, dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi dan mengasimilasi pengalaman baru.
b.      Belajar akan bermakna, apabila yang dipelajari itu relevan dengan kebutuhan anak.
c.       Belajar diperkuat dengan jalan mengurangi ancaman eksternal seperti hukuman, sikap merendahkan murid, mencemoohkan, dan sebagainya.
d.      Belajar dengan inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi, baik intelektual maupun perasaan.
e.       Sikap berdiri sendiri, kreativitas dan percaya diri diperkuat dengan penilaian diri sendiri. Penilaian dari luar merupakan hal yang sekunder.
Bertentangan dengan teori behavioristik yang lebih menekankan partisipasi aktif guru dalam belajar, peranan guru menurut teori belajar behavioristik adalah sebagai pembimbing, sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan kepada siswa dalam belajar. Menurut Carl R. Rogers, peran guru sebagai fasilitator dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.       Membantu menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap belajar.
b.      Membantu siswa mengklasifikasikan tujuan belajar, dan guru memberikan kesempatan secar bebas kepada siswa untuk menyatakan apa yang hendak dan ingin mereka pelajari.
c.       Membantu siswa mengembngkan dorongan yang tujuannya sebagai kekuatan untuk belajar.
d.      Menyediakan sumber-sumber belajar, termasuk juga menyediakan dirinya sebagai sumber belajar bagi siswa.
Guru berdasarkan psikologi humanistic harus mampu menerima siswa sebagai seorang yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan memandang bahwa siswa adalah sumber belajar yang potensial bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, teori belajar ini lebih menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam belajar.
Aplikasi Teori Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Menurut buku Drs. Alex Sobur, M. Si (2003 h. 223). Dalam psikologi teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus-respons dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya. Proses yang menunjukan hubungan yang terus-menerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses belajar. Teori yang dimaksud ialah: (1). Teori conditioning, dan (2). Teori psikologi Gestalt.
1.      Teori Conditioning
Bentuk paling sederhana dalam belajar ialah conditioning. Karena conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli sering mengambilnya sebagai contoh untuk menjelaskan dasar-dasar dari semua proses belajar. Meskipun demikian kegunaan conditioning sebagai contoh bagi belajar, masih menjadi bahan perdebatan (Walker, 1967). Teori conditioning terbagi menjadi dua yaitu:
a.       Conditioning Klasik (Classical Conditioning)
Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespons terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain. Percobaan mengenai anjing yang mengeluarkan air liur oleh Pavlov, sering kali dikutip karena dianggap sebagai salah satu bentuk percobaan conditioning formal yang pertama. Percobaan yang dilakukan oleh Pavlov dapat diketahui bahwa ternyata anjing bisa memperlihtkan reaksi-reaksi
(dalam hal ini air liur) melalui proses-proses persyaratan (conditioning). Artinya dari suatu rancangan (stimulus) dipindahkan kerangsangan yang lain (makanan-lonceng, dan lonceng dapat diteruskan dengan lampu). Dengan demikian juga terjadi pemindahan dari satu reflex ke reflex lain. Langkah berikutnya, membunyikan lonceng terus-menerus tanpa disertai makanan. Semakin sering dibunyikan, semakin lama keluarnya air liur, makin sedikit dan akhirnya tidak keluar sama sekali . Proses ini disebut kejenuhan (Extinction). Supaya anjing tersebut mengeluarkan air liur kembali, sertai lagi dengan makanan pada waktu dibunyikan lonceng.
Aplikasi Classic Conditioning
Jika kita ingin membujuk seseorang melakukan sesuatu, lakukan saat orang itu melakukan sesuatu yang dia suka lalukan. Dan saat dia melakukan hal yang anda sukai, saat itu sentuh mereka disuatu titik atau membuat suara.  Saat anda menyentuh tersebut atau mengeluarkan bunyi tersebut, maka dia akan berpikir untuk melakukan kembali hal tersebut (bunyi dan titik menjadi tombol pemicu).
b.      Conditioning Operan (Operant Conditioning)
Istilah conditioning operan (operant conditioning) diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum conditioning perilaku. Istilah “operan” disini berarti operasi (operation) yang pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan sesuatu perbuatan pada lingkungannya, misalnya perilaku motor yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara sadar (Hardy dan Heyes, 1985; Reber, 1988). Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respons dalam conditioning operan terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce. Reiforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai  pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Aplikasi Teori Belajar Operant Conditioning B. F. Skinner Terhadap Pembelajaran:
·         Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
·         Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah
·         dibetulkan dan jika benar diperkuat.
·         Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
·         Materi pelajaran digunakan sistem modul.
·         Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
·         Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
·         Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
·         Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
·         Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
·         Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
·         Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
·         Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
·         Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
·         Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
·         Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya.

2.      Teori Psikologi Gestalt
Teori belajar menurut psikologi Gestalt sering kali disebut instight full learning atau field theory. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, integration, configuration,dan closure. Jiwa manusia, menurut aliran ini adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau merupakan suatu system, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu sama lain terpisah, yang tidak mempunyai hubungan fungsional. Manusia adalah individu yang merupakan berbentuk jasmani-rohani. Sebagai individu, manusia itu bereaksi atau lebih tepatnya berinteraksi dengan dunia luar, denagn kepribadiannya, dan dengan cara yang unik pula. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Ia bebas memilih cara bagaimana ia berinteraksi, stimulusmana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya.
Atas dasar itu, maka belajar dalam pandangan psikologi Gestalt, bukan sekedar proses asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama kian kuat disebabkan adanya latihan atau ulangan-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila terdapat pengertian (insight). Pengertian ini muncul jika seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-pautnya untuk kemudian dimengerti maknanya.
Aplikasi teori belajar Gestalt dalam pembelajaran adalah:
1.      Pengalaman Instight/Tindakan. Dalam proses pembelajaran, siswa hendaknya memiliki kemampuan instight, yaitu kemampuan mengenal ketertarikan unsure-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan Insight.
2.      Pembelajaran yang bermakna. Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam objek akan menunjang pembentukan pemahaman dalam proses pembelajaran. Content yang dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya maupun bagi kehidupannya di masa yang akan datang.
3.      Perilaku bertujuan. Perilaku terarah pada suatu tujuan. Perilaku di samping ada ikatannya dengan SR-bond, juga berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena siswa memiliki harapan tertentu. Sebab itu pembelajaran akan berhasil bila siswa menegtahui tujuan yang akan dicapai.
4.      Prinsip ruang hidup (Life space). Dikembangkan oleh Kurt Lewin (teori medan/ field theory). Perilaku siswa terkait dengan lingkunagan atau medan di mana ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan dengan situasi lingungan di mana siswa berada.
                                                                                  
Model interaksi sosial ini mencakup strategi pembelajaran atau metode pembelajaran sebagai berikut:
1.      Kerja kelompok, bertujuan menegmbangkan keterampilan, berperan serta dalam proses bermasyarakat denagn cara menegmbangkan hubungan interpersonal dan discovery skill dalam bidang akademik.
2.      Pertemuan kelas, bertujuan mengembangkan pemahaman menganai diri sendiri dan rasa tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri maupun kelomok.
3.      Pemecahan masalah social atau inquiry social, bertujuan untuk mengembangakan kemampuan memecahkan masalah-masalah social dengan cara berfikir logis.
4.      Model laboratorium, bertujuan untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam kelompok.
5.      Bermain peranan, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai social dan pribadi melalui situasi tiruan.
6.      Simulasi social, bertujuan untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan social serta menguji reaksi mereka.                                                                     

B.     Pengertian Pembelajaran Kooperatif


Menurut Hamdani, M.A (2011 h. 30). Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Dalam pembelajaran kooperatif diterapkan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran ini belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Sedangkan menurut Made Wena (2011 h. 188). Tentang pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning). Paradigma lama dalam proses pembelajaran adalah guru memberi pengetahuan pada siswa secara pasif. Dalam konteks pendidikan, paradigma lama ini juga berarti jika seseorang mempunyai pengetahuan dan keahlian dalam suatu bidang, ia pasti akan dapat mengajar, ia tidak perlu tahu proses belajar mengajar yang tepat; ia hanya perlu menuangkan apa yang diketahuinya ke dalam botol kosong yang siap menerimanya. Banyak guru masih menggangap paradigma lama ini sebagai satu-satunya alternatif. Mereka mengajar dengan strategi ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat, dan hafal. (Lie, 2002)
            Kondisi pembelajaran yang demikian, masih mendominasi proses pembelajaran pada sebagian besar jenjang pendidikan. Guna mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan keikutsertaan peserta didik secara aktif dalam kegiatan proses belajar mengajar. Seperti dikemukakan Kemp (1979) bahwa perlu adanya kegiatan belajar mengajar sebagai pendorong peserta didik untuk aktif berpartisipasi. Dengan aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran diharapkan hasil pembelajaran dan retensi siswa dapat meningkat dan kegiatan pembelajaran lebih bermakna. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif ternyata lebih efektif dari pada pembelajaran oleh pengajar.
Pengertian Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling mengajar sesamanya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa pandai mengajar siswa yang kurang pandai tanpa merasa dirugikan. Siswa kurang pandai dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan karena banyak teman yang membantu dan memotivasinya. Siswa yang sebelumnya terbiasa bersikap pasif setelah menggunakan pembelajaran kooperatif akan terpaksa berpartisipasi secara aktif agar bisa diterima oleh anggota kelompoknya. (Priyanto, 2007). Sedangkan menurut Etin Solihatin (2012 h. 101). Cooperative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama dalam kegiatan kooperatif, mahasiswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Jadi, belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan mahasiswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut sehubungan dengan pengertian tersebut, mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
            Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model cooperative learning harus ada ‘’struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif,’’ sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok (Slavin; 1983, Stahl; 1994).
            Model belajar cooperative learning merupakan suatu model pembelajaran yang membantu mahasiswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas dan perolehan belajar.
            Berdasarkan pengertian tersebut, maka dalam pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning, pengembangan kualitas diri mahasiswa terutama aspek afektif mahasiswa dapat dilakukan secara bersama-sama. Belajar dalam kelompok kecil dengan prinsip kooperatif sangat baik digunakan untuk mencapai tujuan belajar, baik yang sifatnya kognitif, afektif, maupun konatif suasana belajar yang berlangsung dalam interaksi yang saling percaya, terbuka, dan rileks di antara anggota kelompok memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh dan memberi masukan diantara mereka untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan moral, serta keterampilan yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran, dimana sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat (siswa lain) sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar yang lainnya.
Menurut Made Wena (2011, h. 190). Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a.       Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”.
b.      Para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam materi yang dihadapi.
c.       Para siswa harus berpandangan bahwa mereka memiliki tujuan yang sama.
d.      Para siswa berbagi tugas dan tanggung jawab diantara anggota kelomok.
e.       Para siswa diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.
f.       Para siswa berbagi kepemimpinan dan mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.
g.      Setiap siswa diminta untuk mempertanggungajawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. kelas disusun dalam kelompok yang terdiri atas empat atau enam orang siswa, dengan kemampuan heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri atas campuran kemampuan siswa, jenis kelamin , dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan cara bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
Sedangkan menurut Made Wena (2011 h. 190). Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut Nurhadi dan Senduk (2003) dan Lie (2002). Ada berbagai elemen yang merupakan ketentuan pokok dalam pembelajaran kooperatif, yaitu a). saling ketergantungan positif (positive interdependence), b). berinteraksi tatap muka (face to face interaction), c). akluntabilitas individual (individual accountability, dan d). keretampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan (use of collarative/social skill).
a.       Saling ketergantungan positif
Dalam sistem pembelajaran kooperatif, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Siswa yang satu dengan siswa yang lain demikian pula sebaliknya.
            b. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam kelompok saling dalam kelompok saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa (Nurhadi & Senduk, 2003). Jadi dalam hal ini, semua anggota kelompok berinteraksi saling berhadapan, dengan menerapkan keterampilan bekerja sama untuk menjalin hubungan sesama anggota kelompok. Dalam hal ini antaranggota kelompok melaksanakan aktivitas-aktivitas dasar seperti bertanya, menjawab pertanyaan, menunggu dengan sabar teman yang sedang memberi penjelasan, berkata sopan, meminta bantuan, memberi penjelasan, dan sebagainya. Pada proses pembelajaran yang demikian para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi.
            c. Akuntabilitas Individual
Mengingat pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dalam bentuk kelompok, maka setiap anggota harus belajar dan menyumbangkan pikiran demi keberhasilan pekerjaan kelompok. Untuk mencapai tujuan kelompok (hasil belajar kelompok), setiap siswa (individu) harus bertanggung jawab terhadap penguasaan materi pembelajaran secara maksimal, karena hasil belajar kelompok didasari atas rata-rata nilai anggota kelompok. Kondisi belajar yang belajar demikian akan mampu menumbuhkan tanggung jawab (akuntabilitas) pada masing-masing individu siswa.
            d. Keterampilan Menjalin Hubungan Antar pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif dituntut untuk membimbing siswa agar dapat berkolaborasi, bekerja sama dan bersosialisasi antaranggota kelompok. Dengan demikian, dalam pembelajaran kooperatif, keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap temen, mengkritik ide dan bukan mengkritik temen, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan, tetapi secara
sengaja diajarkan oleh guru.

C.     Konsep Dasar Pengembangan Model Cooperative Learning


Menurut Etin Solihatin (2012 h. 105). Dalam menggunakan model belajar cooperative learning di dalam kelas, ada beberapa konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh dosen. Dosen dalam kedudukannya sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran dalam menggunakan model ini harus memerhatikan beberapa konsep dasar yang merupakan dasar-dasar konseptual dalam penggunaan cooperative learning. Adapun prinsip-prinsip dasar tersebut menurut Sthal (1994), adalah sebagai berikut:
a.       Perumusan tujuan belajar mahasiswa harus jelas,
b.      Penerimaan yang menyeluruh oleh mahasiswa tentang tujuan belajar,
c.       Ketergantungan yang bersifat positif,
d.      Interaksi yang bersifat terbuka,
e.       Tanggung jawab individu,
f.       Kelompok bersifat heterogen,
g.      Interaksi sikap dan perilaku sosial yang positif,
h.      Tindak lanjut (follow up),
i.        Kepuasan dalam belajar.
Konsep-konsep di atas dalam pelaksanaannya sering disalah mengertikan oleh dosen. Banyak di antara mereka yang menganggap bahwa dalam menggunakan model pembelajaran dengan cooperative learning cukup satu atau beberapa konsep dasar saja yang ditargetkan. Hal ini menyebabkan efektivitas dan produktivitas model ini secara akademis sangat terbatas. Secara khusus dalam menerapkan model ini, dosen hendaknya memahami dan mampu mengembangkan rancangan pembelajarannya sedemikian rupa sehingga memungkinkan mengaplikasikan dan terpenuhinya keseluruhan konsep-konsep dasar dari penggunaan cooperative learning dalam pembelajarannya.
Banyak guru pendidikan IPS yang mengatakan bahwa saya tidak dapat menggunakan cooperative learning, karena mahasiswa saya tidak mempunyai keterampilan untuk bekerja sama. Hal ini merupakan kenyataan yang sering ditemukan di lapangan, karena dosen tanpa pemahaman yang baik mengenai model dan prinsip penggunaannya begita saja menggunakan model belajar cooperative learning tanpa pengkondisian iklim belajar yang memadai. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pengkondisian iklim bekerja sama di antara mahasiswa dan pemberian informasi mengenai model pembelajaran yang akan digunakan beserta langkah-langkahnya, serta proses refleksi dan evaluasi setelah pembelajaran berlangsung.

D.    Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif


Menurut Hamdani, M.A (2011 h. 31). Beberapa ciri pembelajaran kooperatif adalah:
a.       Setiap anggota memiliki peran.
b.      Terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa.
c.       Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas cara belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya.
d.      Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok.
e.       Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Tiga konsep sentral karakteristik pembelajaran kooperatif, sebagaimana dikemukakan oleh Slavin (1995), yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
Arends (1997:111) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
b.      Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.       Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam
d.      Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari uraian tinjauan tentang pembelajaran kooperatif ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tersebut memerlukan kerja sama antar siswa dan saling ketergantungan dalam  struktur pencapaian tugas, tujuan, dan penghargaan.        

E.     Aplikasi Pembelajaran Kooperatif


Menurut Slavin dalam Hamdani (2011 h. 32). Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetensi, yaitu keberhasilan individudiorientasikan pada kegagalan orang lain. Adapun tujuan Pembelajaran Kooperatif, menurut Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Zamroni (2000). Mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat. Jadi, tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996:279). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bahwa maupun atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
1.      Unsur Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Kooperatif
Menurut Johnson dan Johnson (1994) dan Sutton (1992), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu :
a.       Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain.
b.      Interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yangs edang dipelajari bersama.
c.       Tanggung jawab individula, dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal : membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman.
d.      Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya.
e.       Proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama dari belajar kooperatif menurut Slavin (1995) adalah :
a.       Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
b.      Tanggung jawab iindividual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok.
c.       Kesempatan yang sama untuk suksess, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri.
2.      Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok. Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, yaitu sebagai berikut.
a.       Hasil belajar akademik.
b.      Penerimaan terhadap perbedaan individu.
c.       Pengembangan keterampilan sosial.
Menurut Elin Solihatin, (2012 h. 111). Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Model Cooperative Learning. Langkah-langkah dalam penggunaan model cooperative learning secara umum dapat dijelaskan secara operasional sebagai berikut.
a.       Langkah pertama yang dilaksanakan oleh dosen adalah merancang rencana program pembelajaran. Pada langkah ini dosen mempertimbangkan dan menetapkan target pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Disamping itu, dosen juga menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan dikembangkan dan diperlihatkan oleh mahasiswa selama berlangsungnya pembelajaran.
b.      Langkah kedua, dalam aplikasi pembelajarannya di kelas, dosen merancang lembar observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan mahasiswa dalam belajar secara bersama dengan kelompok-kelompok kecil. Dalam menyampaikan materi, dosen tidak lagi menyampaikan materi secara panjang lebar, karena pemahaman dan pendalaman materi itu nantinya akan dilakukan mahasiswa ketika belajar secara bersama dalam kelompok. Dosen hanya menjelaskan pokok-pokok materi dengan tujuan mahasiswa mempunyai wawasan dan orientasi yang memadai tentang materi yang diajarkan.
c.       Langkah ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan mahasiswa, dosen mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik secara individual maupun kelompok baik dalam memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama kegiatan belajarnya. Pemberian pujian dan kritik membangun dosen kepada mahasiswa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh dosen pada saat mahasiswa bekerja dalam kelompoknya. Di samping itu, pada saat kegiatan kelompok berlangsung. Ketika mahasiwa terlibat dalam diskusi dalam masing-masing kelompok, dosen secara periodik memberikan layanan kepada mahasiswa baik secara individual maupun secara klasikal.
d.      Langkah keempat, dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada saat diskusi kelas ini, dosen bertindak sebagai moderator. Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan dan mengoreksi pengertian dan pemahaman mahasiswa terhadap materi atau hasil kerja yang telah ditampilkannya. Pada saat presentasi mahasiswa berakhir, maka dosen mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi diri, terhadap proses jalannya pembelajaran, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada atau sikap, serta perilaku menyimpang yang dilakukan selama pembelajaran.


F.      Keterampilan Kooperatif


Menurut Hamdani (2011 h. 33). Pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut kemampuan kooperatif. Kemampuan tersebut sebagai berikut:
a.       Keterampilan kooperatif tingkat awal.
b.      Keterampilan tingkat menengah.
c.       Keterampilan tingkat mahir.
Lungren (dalam Ratumanan, 2002), menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan yaitu :
a.       Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal
-          Berada dalam tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
-          Mengambil giliran dan berbagi tugas
-          Mendorong adanya partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi
-          Menggunakan kesepakatan
b.      Keterampialan Kooperatif Tingkat Menengah
-          Mendengarkan denga aktif
-          Bertanya
-          Menafsirkan
-          Memeriksa ketepatan
c.       Keterampilan Kooperatif Tingkat Mahir
Mengkolaborasi, yaitu memperluas konsep, membaut kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik tertentu.

G.    Fase-fase Pembelajaran Koopertif


Fase-fase
Perilaku Guru
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Menyampaikan semua tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
Fase 2:
Menyajikan informasi.
Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan.
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.
Menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5:
Evaluasi.
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta presentasi hasil kerja kepada kelompok.
Fase 6:
Memberikan penghargaan.
Menghargai upaya dan hasil belajar individu dan kelompok.
Pembelajaran dalam kooperatif dimulai dengan informasi guru tentang tujuan-tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti dengan penyajian informasi, sering dengan bentuk teks, bukan verbal. Kemudian, siswa di bawah bimbingan guru bekerja sama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling berkaitan. Fase terakhir meliputi penyajian produk akhir kelompok satu mengetes semua yang telah dipelajari siswa, pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu.

H.    Pendekatan Pembelajaran Kooperatif


Menurut Hamdani (2011 h. 35). Walaupun prinsip dasar pembelajaran koopertif tidak berubah, ada beberapa variasi dari model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran kooperatif.
a.       Student Teams Achievement Division (STAD).
b.      Investigasi kelompok.
c.       Pendekatan struktural.
d.      Jigsaw.

I.       Beberapa Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Made Wena (2011 h. 192). Beberapa model pembelajaran kooperatif, yaitu:
a.       Model STAD (Student Teams Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif model STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dari Universitas John Hopkin USA. Secara umum cara penerapan model STAD di kelas adalah sebagai berikut.
1.      Kelas dibagi dalam beberapa kelompok.
2.      Tiap kelompok siswa terdiri atas 4-5 orang yang bersifat heterogen, baik dari segi kemampuan, jenis kelamin, budaya, dan sebagainya.
3.      Tiap kelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugas pembelajaran yang harus dikerjakan.
4.      Tiap kelompok didorong untuk mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran melalui diskusi kelompok.
5.      Selama proses pembelajaran secara kelompok guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
6.      Tiap minggu atau dua minggu, guru melaksanakan evaluasi, baik secara individu maupun kelompok untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.
7.      Bagi siswa dan kelompok siswa yang memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna diberi penghargaan. Demikian pula jika semua kelompok memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna maka semua kelompok tersebut wajib diberi penghargaan.
b.      Model Jigsaw
Pembelajaran kooperatif model jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dari Universitas Texas USA. Secara umum penerapan model jigsaw di kelas adalah sebagai berikut.
1.      Kelas dibagi dalam beberapa kelompok.
2.      Tiap kelompok siswa terdiri atas 5-6 orang yang bersifat heterogen, baik dari segi kemampuan, jenis kelamin, budaya, dan sebagainya.
3.      Tiap kelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugas pembelajaran yang harus dikerjakan.
4.      Dari masing-masing kelompok diambil seorang anggota untuk membentuk kelompok baru (kelompok pakar) dengan membahas tugas yang sama. Dalam kelompok ini diadakan diskusi antara anggota kelompok pakar.
5.      Anggota kelompok pakar kemudian kembali lagi ke kelompok semula, untuk mengajari anggota kelompoknya. Dalam kelompok ini diadakan diskusi antara anggota kelompok.
6.      Selama proses pembelajaran secara kelompok guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
7.      Tiap minggu atau dua minggu, guru melaksanakan evaluasi, baik secara individu maupun kelompok untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.
8.      Bagi siswa dan kelompok siswa yang memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna diberi penghargaan. Demikian pula jika semua kelompok memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna maka wajib diberi penghargaan.
c.       Model GI (Group Investigation)
Pembentukan kelompok dalam model pembelajaran ini didasari atas minat anggotanya. Pembelajaran dengan metode GI menuntut melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajari melalui investigasi. (Nurhadi, Yasin dan Senduk, 2004).

J.       Tujuan Pembelajaran Kooperatif


Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Zamroni (2000). Mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996:279). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bahwa maupun atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2.Unsur Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Kooperatif
Menurut Johnson dan Johnson (1994) dan Sutton (1992), terdapat lima unsur penting dalam belajar kooperatif, yaitu :
a.       Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain.
b.      Interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yangs edang dipelajari bersama.
c.       Tanggung jawab individula, dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal : membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan siswa tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman.
d.      Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya.
e.       Proses kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama dari belajar kooperatif menurut Slavin (1995) adalah :
a.       Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
b.      Tanggung jawab iindividual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok.
c.       Kesempatan yang sama untuk suksess, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
Lungren (dalam Ratumanan, 2002), menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan yaitu :
a.       Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal
-          Berada dalam tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
-          Mengambil giliran dan berbagi tugas
-          Mendorong adanya partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi
-          Menggunakan kesepakatan
b.      Keterampialan Kooperatif Tingkat Menengah
-          Mendengarkan denga aktif
-          Bertanya
-          Menafsirkan
-          Memeriksa ketepatan
c.       Keterampilan Kooperatif Tingkat Mahir
Mengkolaborasi, yaitu memperluas konsep, membaut kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik tertentu.
Arends (1997:111) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
b.      Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.       Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam
d.      Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari uraian tinjauan tentang pembelajaran kooperatif ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tersebut memerlukan kerja sama antar siswa dan saling ketergantungan dalam  struktur pencapaian tugas, tujuan, dan penghargaan.























BABIII

PENUTUP

A.    Simpulan

Menurut Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, (2013 h. 30). Ada tiga jenis teori belajar yang berkembang dan memiliki pengaruh terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia pada khususnya. Teori belajar tersebut adalah: (1). Teori psikologi kognitif (kognitivisme), (2). Teori behavioristik. (3). Teori psikologi humanistic. Adapun aplikasi teori Kognitivisme yaitu guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa. Selanjutnya aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan belajar tergantung beberapa hal seperti :
1.      Tujuan pembelajaran
2.      Sifat materi pelajaran
3.      Karakteristik siswa
4.      Media
5.      Fasilitas pembelajaran yang tersedia. Selain itu, aplikasi Teori Humanistik  yaitu lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan mahasiswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut sehubungan dengan pengertian tersebut, mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Menurut Slavin dalam Hamdani (2011 h. 32). Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetensi, yaitu keberhasilan individudiorientasikan pada kegagalan orang lain. Adapun tujuan Pembelajaran Kooperatif, menurut Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Zamroni (2000). Mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat. Jadi, tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok.

B.     Saran

Setelah mempelajari makalah ini diharapkan kepada pembaca untuk lebih mengetahui dan memahami tentang aplikasi teori belajar dan cooperatif learning dalam proses pembelajaran agar dapat mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran sehingga pendidikan di Indonesia semakin berkembang.



















DAFTAR PUSTAKA

Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Solihatin, Etin. 2012. Strategi Pembelajaran PPKN. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. 2013. Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi
Aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar