APLIKASI TEORI BELAJAR DAN COOPERATIF LEARNING DALAM POSES PEMBELAJARAN
Makalah ini disusun untuk memenuhi mata kuliah Teori Belajar Bahasa
Disusun oleh :
Iis Trisnawati (1388201173)
Semester : V (LIMA)
Kelas : A.2
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah
SWT yang telah mencurahkan rahmat dan karunianya, sehingga saya dapat
menyelesaikan pembuatan tugas makalah
ini.
Tugas makalah ini dibuat dan diajukan untuk memenuhi salah
satu syarat mata kuliah teori
belajar bahasa. Adapun judul yang penyusun ambil dari
tugas makalah ini ” Aplikasi Teori
Belajar Bahasa dan Cooperatif Learning dalam Proses Pembelajaran”.
Penyusun
sudah menulis dengan sebaik-baiknya oleh karena itu penyusun dengan senanghati
menerima kritik dan saran agar tugas makalah ini mempunyai nilai dan
manfaat bagi pembaca pada angkatan selanjutnya.
Tangerang, Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masyarakat
cenderung tidak peduli dan bersikap acuh terhadap pemerolehan bahasa pada anak
mereka, dan banyak sekali adanya jenis-jenis penyimpangan yang terjadi sehingga
menimbulkan dampak yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan bahasa anak.
Orang tua banyak yang kurang peduli bagaimana anak memperoleh asal dari bahasa
yang telah ia dapatkan sebelumnya. Serta banyak sekali masyarakat dunia yang
belum mengetahui atau bahkan belum tahu darimana sebenarnya manusia memperoleh
bahasa yang selama ini membantunya dalam memberitahukan kebutuhan kebutuhannya,
mengekspresikan apa yang dirasakannya, dan mengungkapkan perasaannya kepada
orang lain.
Memperoleh bahasa yang selama ini
membantunya dalam memberitahukan kebutuhannya, mengekspresikan apa yang
dirasakannya, dan mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. dapat berpikir
dan berbahasa merupakan cirri utama yang membedakan manusia dengan makhluk
lainnya. Karena memiliki keduanya, maka sering disebut manusia sebagai makhluk yang
mulia dan makhluk sosial. Dengan pikirannya, manusia menjelajah ke setiap
fenomena yang Nampak bahkan yang tidak Nampak. Dengan bahasanya, manusia
berkomunikasi untuk bersosialisasi dan menyampaikan hasil pemikirannya.
Salah satu objek pemikiran manusia
adalah bagaimana manusia dapat berbahasa. Pendapat para ahli tentang belajar
bahasa tersebut bermacam-maca. Di antara pendapat mereka ada yang bertentangan
namun ada juga yang saling mendukung dan melengkapi. Pemikiran para ahli
tentang teori belajar bahasa ini begitu menarik. Terdapat berbagai macam model
pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan
kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya
yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran
kooperatif mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Menggunakan pembelajaran kooperatif dapat mengubah peran guru,
dari yang berpusat pada gurunya ke pengelolaan siswa dalam kelompok-kelompok
kecil. Model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi
yang kompleks, dan yang lebih penting lagi, dapat membantu guru untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial dan hubungan antar manusia.
Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam
memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Dalam makalah ini saya akan mencoba memaparkan aplikasi teori
belajar dan cooperative learning dalam proses pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah
aplikasi teori belajar?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui aplikasi teori belajar dan cooperatif learning dalam proses
pembelajaran.
2. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah teori belajar bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Belajar
Menurut
M. Ngalim Purwanto, MP. (2013 h. 85). Belajar
merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, prose situ
terjadi didalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Sedangkan teori
belajar adalah proses dimana dalam proses belajar menghasilkan pengajaran yang
baik, manajemen yang baik dengan menggunakan teori belajar yang dikuasai.
Menurut
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, (2013 h. 30). Ada tiga jenis
teori belajar yang berkembang dan memiliki pengaruh terhadap pengembangan
kurikulum di Indonesia pada khususnya. Teori belajar tersebut adalah: (1).
Teori psikologi kognitif (kognitivisme), (2). Teori behavioristik. (3). Teori
psikologi humanistic.
1. Teori
psikologi kognitif (kognitivisme)
Teori
psikologi kognitif dikenal dengan cognitive
gestalt field. Teori belajar ini adalah teori instight. Aliran ini
bersumber dari Psikologi Gestalt Field. Menurut mereka belajar adalah proses
mengembangkan instight atau pemahaman
baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan
cara baru dalam menggunakan unsur-unsur yang ada di lingkungan, termasuk
struktur tubuhnya sendiri. Gestalt Field melihat belajar merupakan perbuatan
yang bertujuan, eksplorasi, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau instight merupakan citra dari perasaan
tentang pola-pola atau hubungan. Perkembangan teori Goal Instight dimulai dari psikologi configurationlism, yang mengemukakan bahwa individu selalu
bertujuan, diarahkan kepada pembentukan hubungan dengan lingkungan.
Teori
belajar kognitif memandang manusia sebagai pelajar yang aktif yang memprakarsai
pengalaman, mencari dan mengolah informasi, untuk memecahkan masalah,
mengorganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk mencapai pemahaman baru.
Karena itu teori ini juga disebut teori pengolahan informasi (information processing theory).
(Piaget:1970, dalam buku Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran),
memperkenalkan empat factor yang mendasari seseorang membuat pemahaman, yaitu:
a).
Kematangan, yaitu saatnya seseorang siap melaksanakan suatu tugas perkembangan
tertentu.
b).
Aktivitas adalah kemampuan untuk bertindak terhadap lingkungan dan belajar
darinya.
c).
Pengalaman social, proses belajar dari orang lain atau interaksi dengan
orang-orang yang ada di sekitar kita.
d).
Ekulibrasi adalah proses terjadinya perubahan-perubahan actual dalam berfikir.
Aplikasi
teori Kognitivisme
Aplikasi teori belajar kognitivisme dalam pembelajaran yaitu
guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam
proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar
menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru
menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana
kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan
individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
Menurut Tim
Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, (2013 h. 30). Adapun strategi pembelajaran (metode
dan teknik) model pemprosesan informasi ini meliputi, diantaranya:
1.
Mengajar
Induktif, yaitu untuk mencari dan menentukan informasi yang memang diperlukan.
2.
Latihan
Inquiry, yaitu untuk mencari dan menetukan informasi yang diperlukan.
3.
Inquiry
Keilmuan, bertujuan untuk mengajarkan system penelitian dalam domain-domain
disiplin ilmu lainnya.
4.
Pembentukan
Konsep, bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir induktif,
mengembangkan konsep, dan kemampuan analisis.
5.
Model
Pengembangan, bertujuan untuk mengembangkan inteligensi umum, terutama berfikir
logis, aspek social, dan moral.
6.
Advanted Organizer Model, bertujusn untuk mengembangkan
kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan
satuan ilmu penetahuan secara bermakna.
Sedangkan implikasi teori belajar Kognitif (Piaget) dalam
pembelajaran, di antaranya:
1.
Bahasa
dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, oleh karena itu guru
hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak akan
dapat belajar denagn baik apabila ia mampu menghadapi lingkungan dengan baik.
2. Guru harus dapat membantu anak agar
dapat berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sebaik mungkin (fasilitator, ing ngarso sung tulodo).
3.
Bahan
yang harus dipelajari hendaknya dirasakan baru, tetapi tidak asing, beri
peluang kepada anak untuk belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.
4.
Dikelas
berikan kesempatan pada anak untuk dapat bersosialisasi dan diskusi sebanyak
mungkin.
2. Teori Psikologi Behavioristik
Teori belajar behavioristik disebut
juga Stimulus-Respons Teory (S-R).
Kelompok ini mencakup tiga teori, yaitu S-R
Bond, Conditing, dan Reinforcement. Kelompok
teori ini berangkat dari asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau
membawa potensi apa-apa dari kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh
factor-faktor yang berasal dari lingkungan Lingkunganlah yang membentuknya,
apakah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, lingkungan manusia, alam,
budaya, maupun religi. Kelompok teori ini tidak mengakui sesuatu yang bersifat
mental. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dan
menekankan pada pengaruh factor eksternal pada diri individu.
Teori S-R Bond (stimulus-respons)
bersumber dari psikologi koneksionisme atau teori asosiasi dan merupakan teori
utama dari rumpun behaviorisme. Menurut konsep mereka, kehidupan ini tunduk
kepada hokum stimulus-respons atau aksi-reaksi. Setangkai bunga dapat merupakan
suatu stimulus dan respons oleh mata dengan cara meliriknya. Kesan indah yang
diterima oleh individu dapat merupakan stimulus yang mengakibatkan terespons
memetik bunga tersebut. Demikian halnya dengan
belajar, terdiri atas rentetan hubungan stimulus-respons.
Peranan guru dalam proses belajar
mengajar berdasarkan teori psikologi behavioristik adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi
perilaku yang dipelajari dan merumuskannya dalam rumusan yang spesifik.
b. Mengidentifikasikan
perilaku yang diharapkan dari proses belajar. Bentuk-bentuk kompetensi yang
diharapkan dalam bidang studi dijabarakan secara spesifik dalam tahap-tahap
kecil. Pengusaan keterampilan melalui tahap-tahap ini sebagai tujuan yang akan
dicapai dalam proses belajar.
c. Mengidentifikasi
reinfore yang memadai. Reinfore dapat membentuk mata pelajaran,
kegiatan belajar, perhatian dan penghargaan, dan kegiatan-kegiatan yang dipilih
siswa.
d. Menghindarkan
perilaku yang tidak diharapkan dengan jalan memperlemah pola perilaku yang
dikehendaki.
Aplikasi
teori behavioristik dalam kegiatan belajar tergantung beberapa hal seperti :
1. Tujuan pembelajaran
2. Sifat
materi pelajaran
3. Karakteristik
siswa
4. Media
5. Fasilitas
pembelajaran yang tersedia
Metode behavioristik ini sangat
cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang
mengandung unsur-unsur seperti :
Kecepatan,
spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
Percakapan Bahasa Asing, Mengetik, Menari, Menggunakan Komputer, Berenang,
Olahraga Dan Sebagainya.
Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan
dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru
dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau
pujian.
Ada empat fase dalam model
modifikasi tingkah laku, yaitu fase mesin pengajaran (CAI dan CBI), penggunaan
media, pengajaran berprogram (linier dan
branching) operant conditioning, dan operant reinforcement. Implementasi
dari model ini adalah meningkatkan ketelitian pengucapan pada anak, guru selalu
perhatian terhadap tingkah laku belajar siswa, modifikasi tingkah laku anak yang
kemampuan belajarnya rendah dengan reward, sebagai reinforcement pendukung, dan
penerapan prinsip pembelajran individual terhadap pembelajaran klasikal.
3.Teori
Psikologi Humanistik
Tokoh teori ini adalah Abraham H.
Maslow dan Carl R. Roger. Teori ini berpandangan bahwa perilaku manusia itu
ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh factor internal, dan bukan oleh factor
lingkungan. Oleh karena itu teori ini disebut juga dengan “self theory”. Manusia yang mencapai puncak perkembangannya adalah
yang mampu mengaktualisasikan dirinya, mampu mengembangkan potensinya dan
merasa dirinya itu utuh, bermakna, dan berfungsi atau full functioning person. Prinsip-prinsip belajar berdasarkan teori
psikologi humanistic sebagai berikut.
a. Manusia
mempunyai dorongan untuk belajar, dorongan ingin tahu, melakukan eksplorasi dan
mengasimilasi pengalaman baru.
b. Belajar
akan bermakna, apabila yang dipelajari itu relevan dengan kebutuhan anak.
c. Belajar
diperkuat dengan jalan mengurangi ancaman eksternal seperti hukuman, sikap
merendahkan murid, mencemoohkan, dan sebagainya.
d. Belajar
dengan inisiatif sendiri akan melibatkan keseluruhan pribadi, baik intelektual
maupun perasaan.
e. Sikap
berdiri sendiri, kreativitas dan percaya diri diperkuat dengan penilaian diri
sendiri. Penilaian dari luar merupakan hal yang sekunder.
Bertentangan
dengan teori behavioristik yang lebih menekankan partisipasi aktif guru dalam
belajar, peranan guru menurut teori belajar behavioristik adalah sebagai
pembimbing, sebagai fasilitator yang memberikan kemudahan kepada siswa dalam
belajar. Menurut Carl R. Rogers, peran guru sebagai fasilitator dapat
dijabarkan sebagai berikut:
a. Membantu
menciptakan iklim kelas yang kondusif dan sikap positif terhadap belajar.
b. Membantu
siswa mengklasifikasikan tujuan belajar, dan guru memberikan kesempatan secar
bebas kepada siswa untuk menyatakan apa yang hendak dan ingin mereka pelajari.
c. Membantu
siswa mengembngkan dorongan yang tujuannya sebagai kekuatan untuk belajar.
d. Menyediakan
sumber-sumber belajar, termasuk juga menyediakan dirinya sebagai sumber belajar
bagi siswa.
Guru
berdasarkan psikologi humanistic harus mampu menerima siswa sebagai seorang
yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan memandang bahwa siswa
adalah sumber belajar yang potensial bagi dirinya sendiri. Dengan demikian,
teori belajar ini lebih menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam belajar.
Aplikasi Teori
Humanistik
Aplikasi teori
humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang
mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran
humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan
motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru
memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk
memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa berperan sebagai pelaku utama (student
center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa
memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan
meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Menurut
buku Drs. Alex Sobur, M. Si (2003 h. 223). Dalam psikologi teori belajar selalu
dihubungkan dengan stimulus-respons dan teori-teori tingkah laku yang
menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat
dalam lingkungannya. Proses yang menunjukan hubungan yang terus-menerus antara
respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses
belajar. Teori yang dimaksud ialah: (1). Teori conditioning, dan (2). Teori
psikologi Gestalt.
1. Teori
Conditioning
Bentuk
paling sederhana dalam belajar ialah conditioning.
Karena conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya,
para ahli sering mengambilnya sebagai contoh untuk menjelaskan dasar-dasar dari
semua proses belajar. Meskipun demikian kegunaan conditioning sebagai contoh
bagi belajar, masih menjadi bahan perdebatan (Walker, 1967). Teori conditioning
terbagi menjadi dua yaitu:
a. Conditioning
Klasik (Classical Conditioning)
Conditioning
adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespons terhadap stimulus
tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain. Percobaan mengenai anjing yang
mengeluarkan air liur oleh Pavlov, sering kali dikutip karena dianggap sebagai
salah satu bentuk percobaan conditioning formal yang pertama. Percobaan yang
dilakukan oleh Pavlov dapat diketahui bahwa ternyata anjing bisa memperlihtkan
reaksi-reaksi
(dalam hal ini air liur) melalui
proses-proses persyaratan (conditioning).
Artinya dari suatu rancangan (stimulus) dipindahkan kerangsangan yang lain
(makanan-lonceng, dan lonceng dapat diteruskan dengan lampu). Dengan demikian
juga terjadi pemindahan dari satu reflex ke reflex lain. Langkah berikutnya,
membunyikan lonceng terus-menerus tanpa disertai makanan. Semakin sering
dibunyikan, semakin lama keluarnya air liur, makin sedikit dan akhirnya tidak
keluar sama sekali . Proses ini disebut kejenuhan (Extinction). Supaya anjing tersebut mengeluarkan air liur kembali,
sertai lagi dengan makanan pada waktu dibunyikan lonceng.
Aplikasi
Classic Conditioning
Jika kita ingin membujuk seseorang melakukan sesuatu, lakukan saat orang
itu melakukan sesuatu yang dia suka lalukan. Dan saat dia melakukan hal yang
anda sukai, saat itu sentuh mereka disuatu titik atau membuat suara. Saat
anda menyentuh tersebut atau mengeluarkan bunyi tersebut, maka dia akan
berpikir untuk melakukan kembali hal tersebut (bunyi dan titik menjadi tombol
pemicu).
b.
Conditioning Operan (Operant Conditioning)
Istilah conditioning operan (operant conditioning) diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum
conditioning perilaku. Istilah “operan” disini berarti operasi (operation) yang pengaruhnya
mengakibatkan organisme melakukan sesuatu perbuatan pada lingkungannya,
misalnya perilaku motor yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara
sadar (Hardy dan Heyes, 1985; Reber, 1988). Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respons dalam conditioning operan terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan
oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforce.
Reiforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan
kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, akan tetapi tidak sengaja
diadakan sebagai pasangan stimulus
lainnya seperti dalam classical
respondent conditioning.
Aplikasi
Teori Belajar Operant Conditioning B. F. Skinner Terhadap Pembelajaran:
·
Bahan yang
dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
·
Hasil
berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah
·
dibetulkan
dan jika benar diperkuat.
·
Proses
belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
·
Materi
pelajaran digunakan sistem modul.
·
Tes lebih
ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
·
Dalam proses
pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
·
Dalam proses
pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
·
Dalam
pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar
tidak menghukum.
·
Tingkah laku
yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
·
Hadiah
diberikan kadang-kadang (jika perlu)
·
Tingkah laku
yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
·
Dalam
pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
·
Mementingkan
kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
·
Dalam
belajar mengajar menggunakan teaching machine.
·
Melaksanakan
mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya
masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya.
2. Teori
Psikologi Gestalt
Teori
belajar menurut psikologi Gestalt sering kali disebut instight full learning atau field
theory. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini,
yaitu organismic, pattern, holistic,
integration, configuration,dan closure.
Jiwa manusia, menurut aliran ini adalah suatu keseluruhan yang berstruktur
atau merupakan suatu system, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau
unsur yang satu sama lain terpisah, yang tidak mempunyai hubungan fungsional.
Manusia adalah individu yang merupakan berbentuk jasmani-rohani. Sebagai
individu, manusia itu bereaksi atau lebih tepatnya berinteraksi dengan dunia
luar, denagn kepribadiannya, dan dengan cara yang unik pula. Manusia adalah
makhluk yang memiliki kebebasan. Ia bebas memilih cara bagaimana ia
berinteraksi, stimulusmana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya.
Atas
dasar itu, maka belajar dalam pandangan psikologi Gestalt, bukan sekedar proses
asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama kian kuat disebabkan adanya
latihan atau ulangan-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila
terdapat pengertian (insight). Pengertian
ini muncul jika seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu problem,
tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur
yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-pautnya untuk kemudian
dimengerti maknanya.
Aplikasi teori belajar Gestalt dalam pembelajaran adalah:
1. Pengalaman Instight/Tindakan. Dalam proses pembelajaran, siswa hendaknya
memiliki kemampuan instight, yaitu
kemampuan mengenal ketertarikan unsure-unsur dalam suatu objek. Guru hendaknya
mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan Insight.
2. Pembelajaran yang bermakna.
Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait dalam objek akan menunjang pembentukan
pemahaman dalam proses pembelajaran. Content
yang dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas baik bagi dirinya
maupun bagi kehidupannya di masa yang akan datang.
3. Perilaku bertujuan. Perilaku terarah
pada suatu tujuan. Perilaku di samping ada ikatannya dengan SR-bond, juga
berkaitan erat dengan tujuan yang hendak dicapai. Pembelajaran terjadi karena
siswa memiliki harapan tertentu. Sebab itu pembelajaran akan berhasil bila
siswa menegtahui tujuan yang akan dicapai.
4. Prinsip ruang hidup (Life space). Dikembangkan oleh Kurt
Lewin (teori medan/ field theory). Perilaku siswa terkait dengan lingkunagan
atau medan di mana ia berada. Materi yang disampaikan hendaknya memiliki kaitan
dengan situasi lingungan di mana siswa berada.
Model interaksi sosial
ini mencakup strategi pembelajaran atau metode pembelajaran sebagai
berikut:
1. Kerja kelompok, bertujuan
menegmbangkan keterampilan, berperan serta dalam proses bermasyarakat denagn
cara menegmbangkan hubungan interpersonal dan discovery skill dalam bidang
akademik.
2. Pertemuan kelas, bertujuan
mengembangkan pemahaman menganai diri sendiri dan rasa tanggung jawab, baik
terhadap diri sendiri maupun kelomok.
3. Pemecahan masalah social atau
inquiry social, bertujuan untuk mengembangakan kemampuan memecahkan masalah-masalah
social dengan cara berfikir logis.
4. Model laboratorium, bertujuan untuk
mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam kelompok.
5. Bermain peranan, bertujuan untuk
memberikan kesempatan kepada peserta didik menemukan nilai-nilai social dan
pribadi melalui situasi tiruan.
6. Simulasi social, bertujuan untuk
membantu siswa mengalami berbagai kenyataan social serta menguji reaksi mereka.
B. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Hamdani, M.A (2011 h. 30). Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian
kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang dirumuskan. Dalam pembelajaran kooperatif diterapkan strategi
belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota
kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi
pelajaran. Dalam pembelajaran ini belajar dikatakan belum selesai jika salah
satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Sedangkan
menurut Made Wena (2011 h. 188). Tentang pembelajaran kooperatif (Cooperative
Learning). Paradigma lama dalam proses pembelajaran adalah guru memberi
pengetahuan pada siswa secara pasif. Dalam konteks pendidikan, paradigma lama
ini juga berarti jika seseorang mempunyai pengetahuan dan keahlian dalam suatu
bidang, ia pasti akan dapat mengajar, ia tidak perlu tahu proses belajar
mengajar yang tepat; ia hanya perlu menuangkan apa yang diketahuinya ke dalam
botol kosong yang siap menerimanya. Banyak guru masih menggangap paradigma lama
ini sebagai satu-satunya alternatif. Mereka mengajar dengan strategi ceramah
dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat, dan hafal. (Lie, 2002)
Kondisi pembelajaran yang demikian,
masih mendominasi proses pembelajaran pada sebagian besar jenjang pendidikan.
Guna mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan
keikutsertaan peserta didik secara aktif dalam kegiatan proses belajar
mengajar. Seperti dikemukakan Kemp (1979) bahwa perlu adanya kegiatan belajar
mengajar sebagai pendorong peserta didik untuk aktif berpartisipasi. Dengan
aktifnya siswa dalam kegiatan pembelajaran diharapkan hasil pembelajaran dan
retensi siswa dapat meningkat dan kegiatan pembelajaran lebih bermakna.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif ternyata
lebih efektif dari pada pembelajaran oleh pengajar.
Pengertian
Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model
pembelajaran kelompok yang memiliki aturan-aturan tertentu. Prinsip dasar
pembelajaran kooperatif adalah siswa membentuk kelompok kecil dan saling
mengajar sesamanya untuk mencapai tujuan bersama. Dalam pembelajaran kooperatif
siswa pandai mengajar siswa yang kurang pandai tanpa merasa dirugikan. Siswa
kurang pandai dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan karena banyak teman
yang membantu dan memotivasinya. Siswa yang sebelumnya terbiasa bersikap pasif
setelah menggunakan pembelajaran kooperatif akan terpaksa berpartisipasi secara
aktif agar bisa diterima oleh anggota kelompoknya. (Priyanto, 2007). Sedangkan
menurut Etin Solihatin (2012 h. 101). Cooperative mengandung pengertian bekerja
bersama dalam mencapai tujuan bersama dalam kegiatan kooperatif, mahasiswa
secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota
kelompoknya. Jadi, belajar kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam
pengajaran yang memungkinkan mahasiswa bekerja bersama untuk memaksimalkan
belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok tersebut sehubungan
dengan pengertian tersebut, mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu
model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok
kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan
struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Cooperative learning lebih dari
sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model
cooperative learning harus ada ‘’struktur dorongan dan tugas yang bersifat
kooperatif,’’ sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan
hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota
kelompok (Slavin; 1983, Stahl; 1994).
Model belajar cooperative learning
merupakan suatu model pembelajaran yang membantu mahasiswa dalam mengembangkan
pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga
dengan bekerja secara bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan
meningkatkan motivasi, produktivitas dan perolehan belajar.
Berdasarkan pengertian tersebut,
maka dalam pembelajaran dengan menggunakan model cooperative learning,
pengembangan kualitas diri mahasiswa terutama aspek afektif mahasiswa dapat
dilakukan secara bersama-sama. Belajar dalam kelompok kecil dengan prinsip
kooperatif sangat baik digunakan untuk mencapai tujuan belajar, baik yang
sifatnya kognitif, afektif, maupun konatif suasana belajar yang berlangsung
dalam interaksi yang saling percaya, terbuka, dan rileks di antara anggota
kelompok memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh dan memberi
masukan diantara mereka untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan
moral, serta keterampilan yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran, dimana
sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat (siswa lain)
sebagai sumber belajar, di samping guru dan sumber belajar yang lainnya.
Menurut
Made Wena (2011, h. 190). Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif adalah
sebagai berikut:
a. Para
siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”.
b. Para
siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya,
selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam materi yang dihadapi.
c. Para
siswa harus berpandangan bahwa mereka memiliki tujuan yang sama.
d. Para
siswa berbagi tugas dan tanggung jawab diantara anggota kelomok.
e. Para
siswa diberikan suatu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap
evaluasi kelompok.
f. Para
siswa berbagi kepemimpinan dan mereka memperoleh keterampilan bekerja sama
selama belajar.
g. Setiap
siswa diminta untuk mempertanggungajawabkan secara individual materi yang
ditangani dalam kelompok kooperatif.
Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama
dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. kelas
disusun dalam kelompok yang terdiri atas empat atau enam orang siswa, dengan
kemampuan heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri atas campuran
kemampuan siswa, jenis kelamin , dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa
menerima perbedaan cara bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya.
Sedangkan menurut Made Wena (2011 h. 190).
Unsur-unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu
sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Menurut
Nurhadi dan Senduk (2003) dan Lie (2002). Ada berbagai elemen yang merupakan
ketentuan pokok dalam pembelajaran kooperatif, yaitu a). saling ketergantungan
positif (positive interdependence), b). berinteraksi tatap muka (face to face interaction),
c). akluntabilitas individual (individual accountability, dan d). keretampilan
untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial yang secara
sengaja diajarkan (use of collarative/social skill).
a. Saling
ketergantungan positif
Dalam sistem pembelajaran kooperatif, guru dituntut
untuk mampu menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling
membutuhkan. Siswa yang satu dengan siswa yang lain demikian pula sebaliknya.
b. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka menuntut para siswa dalam
kelompok saling dalam kelompok saling bertatap muka sehingga mereka dapat
melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa
(Nurhadi & Senduk, 2003). Jadi dalam hal ini, semua anggota kelompok
berinteraksi saling berhadapan, dengan menerapkan keterampilan bekerja sama
untuk menjalin hubungan sesama anggota kelompok. Dalam hal ini antaranggota
kelompok melaksanakan aktivitas-aktivitas dasar seperti bertanya, menjawab
pertanyaan, menunggu dengan sabar teman yang sedang memberi penjelasan, berkata
sopan, meminta bantuan, memberi penjelasan, dan sebagainya. Pada proses
pembelajaran yang demikian para siswa dapat saling menjadi sumber belajar
sehingga sumber belajar lebih bervariasi.
c. Akuntabilitas Individual
Mengingat pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran dalam bentuk kelompok, maka setiap anggota harus belajar dan
menyumbangkan pikiran demi keberhasilan pekerjaan kelompok. Untuk mencapai
tujuan kelompok (hasil belajar kelompok), setiap siswa (individu) harus bertanggung
jawab terhadap penguasaan materi pembelajaran secara maksimal, karena hasil
belajar kelompok didasari atas rata-rata nilai anggota kelompok. Kondisi
belajar yang belajar demikian akan mampu menumbuhkan tanggung jawab
(akuntabilitas) pada masing-masing individu siswa.
d. Keterampilan Menjalin Hubungan
Antar pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif dituntut untuk
membimbing siswa agar dapat berkolaborasi, bekerja sama dan bersosialisasi
antaranggota kelompok. Dengan demikian, dalam pembelajaran kooperatif,
keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap temen,
mengkritik ide dan bukan mengkritik temen, berani mempertahankan pikiran logis,
tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat
dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan, tetapi secara
sengaja diajarkan oleh guru.
C. Konsep Dasar Pengembangan Model Cooperative Learning
Menurut Etin Solihatin (2012 h. 105). Dalam
menggunakan model belajar cooperative learning di dalam kelas, ada beberapa
konsep mendasar yang perlu diperhatikan dan diupayakan oleh dosen. Dosen dalam
kedudukannya sebagai perancang dan pelaksana pembelajaran dalam menggunakan
model ini harus memerhatikan beberapa konsep dasar yang merupakan dasar-dasar
konseptual dalam penggunaan cooperative learning. Adapun prinsip-prinsip dasar
tersebut menurut Sthal (1994), adalah sebagai berikut:
a. Perumusan
tujuan belajar mahasiswa harus jelas,
b. Penerimaan
yang menyeluruh oleh mahasiswa tentang tujuan belajar,
c. Ketergantungan
yang bersifat positif,
d. Interaksi
yang bersifat terbuka,
e. Tanggung
jawab individu,
f. Kelompok
bersifat heterogen,
g. Interaksi
sikap dan perilaku sosial yang positif,
h. Tindak
lanjut (follow up),
i.
Kepuasan dalam belajar.
Konsep-konsep di atas dalam pelaksanaannya sering
disalah mengertikan oleh dosen. Banyak di antara mereka yang menganggap bahwa
dalam menggunakan model pembelajaran dengan cooperative learning cukup satu
atau beberapa konsep dasar saja yang ditargetkan. Hal ini menyebabkan
efektivitas dan produktivitas model ini secara akademis sangat terbatas. Secara
khusus dalam menerapkan model ini, dosen hendaknya memahami dan mampu
mengembangkan rancangan pembelajarannya sedemikian rupa sehingga memungkinkan
mengaplikasikan dan terpenuhinya keseluruhan konsep-konsep dasar dari
penggunaan cooperative learning dalam pembelajarannya.
Banyak guru pendidikan IPS yang mengatakan bahwa
saya tidak dapat menggunakan cooperative learning, karena mahasiswa saya tidak
mempunyai keterampilan untuk bekerja sama. Hal ini merupakan kenyataan yang
sering ditemukan di lapangan, karena dosen tanpa pemahaman yang baik mengenai
model dan prinsip penggunaannya begita saja menggunakan model belajar
cooperative learning tanpa pengkondisian iklim belajar yang memadai. Untuk
mengatasi hal tersebut, maka pengkondisian iklim bekerja sama di antara
mahasiswa dan pemberian informasi mengenai model pembelajaran yang akan
digunakan beserta langkah-langkahnya, serta proses refleksi dan evaluasi
setelah pembelajaran berlangsung.
D. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Hamdani, M.A (2011 h. 31). Beberapa ciri pembelajaran kooperatif adalah:
a. Setiap
anggota memiliki peran.
b. Terjadi
hubungan interaksi langsung diantara siswa.
c. Setiap
anggota kelompok bertanggung jawab atas cara belajarnya dan juga teman-teman
sekelompoknya.
d. Guru
membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok.
e. Guru
hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.
Tiga konsep sentral
karakteristik pembelajaran kooperatif, sebagaimana dikemukakan oleh Slavin
(1995), yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan
yang sama untuk berhasil.
Arends
(1997:111) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
b. Kelompok
dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila
memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang beragam
d. Penghargaan
lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari uraian tinjauan tentang pembelajaran kooperatif
ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tersebut memerlukan kerja
sama antar siswa dan saling ketergantungan dalam struktur pencapaian tugas, tujuan, dan
penghargaan.
E. Aplikasi Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin dalam Hamdani (2011 h. 32). Tujuan
pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan
sistem kompetensi, yaitu keberhasilan individudiorientasikan pada kegagalan
orang lain. Adapun tujuan Pembelajaran Kooperatif, menurut Johnson (1994)
menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar
siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu
maupun secara kelompok. Zamroni (2000). Mengemukakan bahwa manfaat penerapan
belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya
dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif
dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar
kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi
akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat. Jadi, tujuan
pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu
ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok
strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk
mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996:279). Pembelajaran kooperatif
disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi
siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam
kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar
bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran
kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran
kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul
dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan
keuntungan baik pada siswa kelompok bahwa maupun atas yang bekerja sama
menyelesaikan tugas-tugas akademik.
1. Unsur
Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Johnson dan Johnson (1994) dan Sutton (1992), terdapat lima unsur penting dalam
belajar kooperatif, yaitu :
a. Saling
ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif
siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan
terikat satu sama lain.
b. Interaksi
antara siswa yang semakin meningkat. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa
akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Interaksi yang
terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai
masalah yangs edang dipelajari bersama.
c. Tanggung
jawab individula, dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa
dalam hal : membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan siswa tidak dapat hanya
sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman.
d. Keterampilan
interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut
untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar
bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya.
e. Proses
kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok.
Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan
mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Selain lima unsur penting yang terdapat
dalam model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung
prinsip-prinsip yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama
dari belajar kooperatif menurut Slavin (1995) adalah :
a. Penghargaan
kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
b. Tanggung
jawab iindividual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar
individual semua anggota kelompok.
c. Kesempatan
yang sama untuk suksess, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan
cara meningkatkan belajar mereka sendiri.
2. Lingkungan
Belajar dan Sistem Pengelolaan
Agar
pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat
bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan
keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut
berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan
kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok,
sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota
kelompok. Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan untuk mencapai tiga
tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, yaitu sebagai berikut.
a. Hasil
belajar akademik.
b. Penerimaan
terhadap perbedaan individu.
c. Pengembangan
keterampilan sosial.
Menurut Elin Solihatin, (2012 h. 111).
Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Model Cooperative Learning. Langkah-langkah
dalam penggunaan model cooperative learning secara umum dapat dijelaskan secara
operasional sebagai berikut.
a. Langkah
pertama yang dilaksanakan oleh dosen adalah merancang rencana program
pembelajaran. Pada langkah ini dosen mempertimbangkan dan menetapkan target
pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Disamping itu, dosen juga
menetapkan sikap dan keterampilan-keterampilan sosial yang diharapkan
dikembangkan dan diperlihatkan oleh mahasiswa selama berlangsungnya
pembelajaran.
b. Langkah
kedua, dalam aplikasi pembelajarannya di kelas, dosen merancang lembar
observasi yang akan digunakan untuk mengobservasi kegiatan mahasiswa dalam
belajar secara bersama dengan kelompok-kelompok kecil. Dalam menyampaikan
materi, dosen tidak lagi menyampaikan materi secara panjang lebar, karena
pemahaman dan pendalaman materi itu nantinya akan dilakukan mahasiswa ketika
belajar secara bersama dalam kelompok. Dosen hanya menjelaskan pokok-pokok
materi dengan tujuan mahasiswa mempunyai wawasan dan orientasi yang memadai tentang
materi yang diajarkan.
c. Langkah
ketiga, dalam melakukan observasi terhadap kegiatan mahasiswa, dosen
mengarahkan dan membimbing mahasiswa baik secara individual maupun kelompok
baik dalam memahami materi maupun mengenai sikap dan perilaku mahasiswa selama
kegiatan belajarnya. Pemberian pujian dan kritik membangun dosen kepada
mahasiswa merupakan aspek penting yang harus diperhatikan oleh dosen pada saat
mahasiswa bekerja dalam kelompoknya. Di samping itu, pada saat kegiatan
kelompok berlangsung. Ketika mahasiwa terlibat dalam diskusi dalam
masing-masing kelompok, dosen secara periodik memberikan layanan kepada
mahasiswa baik secara individual maupun secara klasikal.
d. Langkah
keempat, dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari masing-masing
kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. Pada saat diskusi kelas ini,
dosen bertindak sebagai moderator. Hal ini dimaksudkan untuk mengarahkan dan
mengoreksi pengertian dan pemahaman mahasiswa terhadap materi atau hasil kerja
yang telah ditampilkannya. Pada saat presentasi mahasiswa berakhir, maka dosen
mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi diri, terhadap proses jalannya
pembelajaran, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada atau
sikap, serta perilaku menyimpang yang dilakukan selama pembelajaran.
F. Keterampilan Kooperatif
Menurut Hamdani (2011 h. 33). Pembelajaran
kooperatif tidak hanya mempelajari materi, tetapi siswa juga harus mempelajari
keterampilan-keterampilan khusus yang disebut kemampuan kooperatif. Kemampuan
tersebut sebagai berikut:
a. Keterampilan
kooperatif tingkat awal.
b. Keterampilan
tingkat menengah.
c. Keterampilan
tingkat mahir.
Lungren (dalam Ratumanan, 2002), menyusun
keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam tiga
tingkatan keterampilan yaitu :
a. Keterampilan
Kooperatif Tingkat Awal
-
Berada dalam tugas, yaitu menjalankan
tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
-
Mengambil giliran dan berbagi tugas
-
Mendorong adanya partisipasi, yaitu
memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi
-
Menggunakan kesepakatan
b. Keterampialan
Kooperatif Tingkat Menengah
-
Mendengarkan denga aktif
-
Bertanya
-
Menafsirkan
-
Memeriksa ketepatan
c. Keterampilan
Kooperatif Tingkat Mahir
Mengkolaborasi, yaitu memperluas
konsep, membaut kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik
tertentu.
G. Fase-fase Pembelajaran Koopertif
|
Fase-fase
|
Perilaku Guru
|
|
Fase 1:
Menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa.
|
Menyampaikan semua
tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa untuk
belajar.
|
|
Fase 2:
Menyajikan informasi.
|
Menyajikan informasi
kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan bacaan.
|
|
Fase 3:
Mengorganisasikan
siswa kedalam kelompok-kelompok belajar.
|
Menjelaskan kepada
siswa cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar
melakukan transisi secara efisien.
|
|
Fase 4:
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar.
|
Membimbing kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
|
|
Fase 5:
Evaluasi.
|
Mengevaluasi hasil
belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta presentasi hasil
kerja kepada kelompok.
|
|
Fase 6:
Memberikan
penghargaan.
|
Menghargai upaya dan
hasil belajar individu dan kelompok.
|
Pembelajaran dalam kooperatif dimulai
dengan informasi guru tentang tujuan-tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa
untuk belajar. Fase ini diikuti dengan penyajian informasi, sering dengan
bentuk teks, bukan verbal. Kemudian, siswa di bawah bimbingan guru bekerja sama
untuk menyelesaikan tugas-tugas yang saling berkaitan. Fase terakhir meliputi
penyajian produk akhir kelompok satu mengetes semua yang telah dipelajari
siswa, pengenalan kelompok dan usaha-usaha individu.
H. Pendekatan Pembelajaran Kooperatif
Menurut Hamdani (2011 h. 35). Walaupun
prinsip dasar pembelajaran koopertif tidak berubah, ada beberapa variasi dari
model tersebut. Ada empat pendekatan pembelajaran kooperatif.
a. Student
Teams Achievement Division (STAD).
b. Investigasi
kelompok.
c. Pendekatan
struktural.
d. Jigsaw.
I. Beberapa Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Made Wena (2011 h. 192). Beberapa model pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Model
STAD (Student Teams Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif model STAD dikembangkan oleh
Robert Slavin dari Universitas John Hopkin USA. Secara umum cara penerapan
model STAD di kelas adalah sebagai berikut.
1. Kelas
dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Tiap
kelompok siswa terdiri atas 4-5 orang yang bersifat heterogen, baik dari segi
kemampuan, jenis kelamin, budaya, dan sebagainya.
3. Tiap
kelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugas pembelajaran yang harus dikerjakan.
4. Tiap
kelompok didorong untuk mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas
pembelajaran melalui diskusi kelompok.
5. Selama
proses pembelajaran secara kelompok guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
6. Tiap
minggu atau dua minggu, guru melaksanakan evaluasi, baik secara individu maupun
kelompok untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.
7. Bagi
siswa dan kelompok siswa yang memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna
diberi penghargaan. Demikian pula jika semua kelompok memperoleh nilai hasil
belajar yang sempurna maka semua kelompok tersebut wajib diberi penghargaan.
b. Model
Jigsaw
Pembelajaran kooperatif model jigsaw
dikembangkan oleh Elliot Aronson dari Universitas Texas USA. Secara umum
penerapan model jigsaw di kelas adalah sebagai berikut.
1. Kelas
dibagi dalam beberapa kelompok.
2. Tiap
kelompok siswa terdiri atas 5-6 orang yang bersifat heterogen, baik dari segi
kemampuan, jenis kelamin, budaya, dan sebagainya.
3. Tiap
kelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugas pembelajaran yang harus dikerjakan.
4. Dari
masing-masing kelompok diambil seorang anggota untuk membentuk kelompok baru
(kelompok pakar) dengan membahas tugas yang sama. Dalam kelompok ini diadakan
diskusi antara anggota kelompok pakar.
5. Anggota
kelompok pakar kemudian kembali lagi ke kelompok semula, untuk mengajari
anggota kelompoknya. Dalam kelompok ini diadakan diskusi antara anggota
kelompok.
6. Selama
proses pembelajaran secara kelompok guru berperan sebagai fasilitator dan
motivator.
7. Tiap
minggu atau dua minggu, guru melaksanakan evaluasi, baik secara individu maupun
kelompok untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.
8. Bagi
siswa dan kelompok siswa yang memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna
diberi penghargaan. Demikian pula jika semua kelompok memperoleh nilai hasil
belajar yang sempurna maka wajib diberi penghargaan.
c. Model
GI (Group Investigation)
Pembentukan kelompok dalam model pembelajaran ini
didasari atas minat anggotanya. Pembelajaran dengan metode GI menuntut
melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara
untuk mempelajari melalui investigasi. (Nurhadi, Yasin dan Senduk, 2004).
J. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Johnson
(1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan
belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara
individu maupun secara kelompok. Zamroni (2000). Mengemukakan bahwa manfaat
penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan
khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar
kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan
belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki
prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Pembelajaran
kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa
bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak,
1996:279). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan
partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk
berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya.
Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa
ataupun sebagai guru.
Para
ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir
kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa
kelompok bahwa maupun atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas
akademik.
2.Unsur
Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Johnson dan Johnson (1994) dan Sutton (1992), terdapat lima unsur penting dalam
belajar kooperatif, yaitu :
a. Saling
ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif
siswa merasa bahwa mereka sedang bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan
terikat satu sama lain.
b. Interaksi
antara siswa yang semakin meningkat. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa
akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Interaksi yang
terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai
masalah yangs edang dipelajari bersama.
c. Tanggung
jawab individula, dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa
dalam hal : membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan siswa tidak dapat hanya
sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman.
d. Keterampilan
interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut
untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar
bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya.
e. Proses
kelompok. Belajar kooperatif tidak akan berlangsung tanpa proses kelompok.
Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka
akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Selain lima unsur penting yang terdapat dalam model
pembelajaran kooperatif, model pembelajaran ini juga mengandung prinsip-prinsip
yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya. Konsep utama dari belajar
kooperatif menurut Slavin (1995) adalah :
a. Penghargaan
kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.
b. Tanggung
jawab iindividual, bermakna bahwa suksesnya kelompok tergantung pada belajar
individual semua anggota kelompok.
c. Kesempatan
yang sama untuk suksess, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan
cara meningkatkan belajar mereka sendiri. Lingkungan Belajar dan Sistem
Pengelolaan
Agar pembelajaran kooperatif dapat
berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam
kelompok, maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif.
Keterampilan kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan
kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan
komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan
dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
Lungren (dalam Ratumanan, 2002),
menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam
tiga tingkatan keterampilan yaitu :
a. Keterampilan
Kooperatif Tingkat Awal
-
Berada dalam tugas, yaitu menjalankan
tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
-
Mengambil giliran dan berbagi tugas
-
Mendorong adanya partisipasi, yaitu
memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi
-
Menggunakan kesepakatan
b. Keterampialan
Kooperatif Tingkat Menengah
-
Mendengarkan denga aktif
-
Bertanya
-
Menafsirkan
-
Memeriksa ketepatan
c. Keterampilan
Kooperatif Tingkat Mahir
Mengkolaborasi, yaitu
memperluas konsep, membaut kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat
dengan topik tertentu.
Arends (1997:111) menyatakan bahwa
pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai
berikut :
a. Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
b. Kelompok
dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila
memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang beragam
d. Penghargaan
lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari uraian tinjauan
tentang pembelajaran kooperatif ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif tersebut memerlukan kerja sama antar siswa dan saling ketergantungan
dalam struktur pencapaian tugas, tujuan,
dan penghargaan.
BABIII
PENUTUP
A. Simpulan
Menurut Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran, (2013 h. 30). Ada tiga jenis teori belajar yang berkembang dan
memiliki pengaruh terhadap pengembangan kurikulum di Indonesia pada khususnya.
Teori belajar tersebut adalah: (1). Teori psikologi kognitif (kognitivisme),
(2). Teori behavioristik. (3). Teori psikologi humanistic. Adapun aplikasi
teori Kognitivisme yaitu
guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam
proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar
menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru
menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana
kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan
individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa. Selanjutnya aplikasi teori
behavioristik dalam kegiatan belajar tergantung beberapa hal seperti :
1. Tujuan
pembelajaran
2. Sifat
materi pelajaran
3. Karakteristik
siswa
4. Media
5. Fasilitas
pembelajaran yang tersedia. Selain itu, aplikasi Teori Humanistik yaitu lebih menunjuk
pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode
yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator
bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna
belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada
siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran. Siswa
berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman
belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri, mengembangkan
potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat
negatif.
Belajar
kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pengajaran yang memungkinkan
mahasiswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar
anggota lainnya dalam kelompok tersebut sehubungan dengan pengertian tersebut,
mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana
siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang
anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang
bersifat heterogen.
Menurut
Slavin dalam Hamdani (2011 h. 32). Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda
dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetensi, yaitu
keberhasilan individudiorientasikan pada kegagalan orang lain. Adapun tujuan
Pembelajaran Kooperatif, menurut Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok
belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan
prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.
Zamroni (2000). Mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah
dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level
individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas
sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan
muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan
memiliki solidaritas sosial yang kuat. Jadi, tujuan pembelajaran kooperatif
adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu ditentukan atau
dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok.
B. Saran
Setelah
mempelajari makalah ini diharapkan kepada pembaca untuk lebih mengetahui dan
memahami tentang aplikasi teori belajar dan cooperatif learning dalam proses
pembelajaran agar dapat mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran sehingga
pendidikan di Indonesia semakin berkembang.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamdani. 2011. Strategi
Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sobur,
Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung:
CV. Pustaka Setia.
Solihatin, Etin. 2012. Strategi Pembelajaran PPKN. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran.
2013. Kurikulum dan
Pembelajaran.
Jakarta:
Rajawali Pers.
Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi
Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar