Selasa, 22 Desember 2015



Pendekatan Teori Behavioristik  Dalam  Pembelajaran Karakteristik  Siswa
Makalah ini disusununtukmemenuhisalahsatutugasdari mata kuliah
Teori Belajar Bahasa
Dosen Mata Kuliah: Haerudin, M.pd


DISUSUN OLEH:
Nama      : Putri Septiani
Npm       : 1388201107

Kelas/ Semester : A.82/ 5


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufiq serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa tanpa halangan suatu apapun.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh sempurna, sebab dalam menulis masih rendah dan pengetahuan penulis masih terbatas. Oleh sebab itu, untuk dapat membuat makalah yang lebih baik dimasa-masa mendatang penulis senantiasa menerima dengan tangan terbuka segala kritik dan saran dari semua pihak.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada mereka yang telah berjasa kepada penulis dalam menyusun makalah ini. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih.


Tangerang, 19 Desember  2015


Penulis









DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                         ...........................................................................................   i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................   ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................  iii
BAB I   PENDAHULUAN
A.    LatarBelakang...................................................................................... 4
B.     RumusanMasalah................................................................................. 5
C.     TujuanMakalah ..................................................................................  5

BAB II   PEMBAHASAN
A.    Pengertian Teori Belajar Behavioristik.............................................  6
B.     Hakikat Teori Belajar Behavioristi.................................................... 7
C.     Ciri dari Teori Belajar Behavioristik................................................. 7
D.    Tokoh-tokoh Aliran Behavioristik .................................................... 8
E.     Karakteristik Siwa…………………………………………………. 10
F.      Aliran Behavioristik Dengan Karakteristik Siswa………………… 12

BAB III   PENUTUP
A.    Kesimpulan...................................................................................... 17
B.     Saran................................................................................................ 18
Daftar Pustaka





BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu.  Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.  Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif  membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.  Pembelajaran merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. 
Teori adalah seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya. Dari dua pendapat diatas Teori adalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya.  Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.



B.     Rumusan masalah
1.      Apakah pengertian teori belajar Behavioristik??
2.      Apakah hakikat teori behavioristik?
3.      Bagaimanakah ciri teori behavioristik ?
4.      Apa saja teori-teori behavioristik ?
5.      Bagaimana karakteristik siswa?
6.      Bagaiman liran behavioristik dengan karakteristik siswa ?

C.                 Tujuan makalah
1.      Menjelaskan pengertian teori belajar Behavioristik.
2.      Mengetahuai hakikat teori behavioristik.
3.      Mengetahui cirri dari teori behavioristik.
4.      Untuk mengetahui bagaimana karakteristik siswa.
5.      Mengetahui teori- teori behavioristik.
6.      Mendeskripsikan hubungan teori behavioristik terhadap karakteristik siswa.









BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Teori Belajar Behavioristik
Behavioristik adalah perkembangan perilaku, yang dapat diukur, dinikmati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terdapat perilaku kondisi yang diingkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Pendidikan behavioristik merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati ,diukur, dan dinilai secara konkret.

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.

B.      Hakikat Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik lahir sebagai upaya untuk menyempurnakan dua perspektif strukturalis dari Wundt dan psikologi fungsionalis dari Dewey.
Perspektif strukturalis percaya akan perlunya penelitian dasar yang mempelajari tentang otak manusia. Oleh karenanya kaum strukturalis tidak percaya pada penelitian-penelitian aplikatif yang menggunakan bintang untuk di rampatkan kemanusia terutama tentang cara kerja otak manusia. Para strukturalis kemudian menggunakan alat “instrospeksi” laporan diri tentang proses berpikir sebagai cara untuk mempelajari kerja otak manusia. Namun alat tersebut di kritik mental dan lain-lain. Watson percaya bahwa, semua makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui respons. Asumsi inilah yang menjadi landasan dari teori belajar behavioristik sebelumnya.

C.    Ciri dari Teori Belajar Behavioristik

cirri dari teori behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan, peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi ataurespon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diingkan. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhapa lingkungann dan tingkah laku hasil belajar.

D.    Tokoh-tokoh  Aliran  Behavioristik
1.      Pengertian belajar menurut pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori belajar behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanaya interaksi anatara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajarn merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah lakudengan cara yang baru sebagai hasil interaksi anatara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpentinng adalah masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran  atau ouput yang berupa respon. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.


2.      Teori belajar menurut Thorndike
menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi anatara stimulus respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alatindera. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran koneksionisme (connectionism).
3.      Teori Belajar Menurut Watson
Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observable) yang dapat diukur.
4.      Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull menggunakan variabel hubungan anatar stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang di kembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia.
5.      Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.  Namun ia menggunakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhanatau pemuasan biologis sebagaimana dijelaskan oleh Clark dan Hull.
6.      Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang digunakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep bel;ajar secara sederhana, namun dapat menunjukan konsepnya tentang belajar secara lebih komperatif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya.

Pandangan teori belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Namun dari semua pendukung teori ini, teori Skinerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.
      Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif . pandanga teori ini bahwa belajar merupakan proses atau Shaping, yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.


E.     Karakteristik Siswa
Sebagai mana paparan di atas karakter siswa merupakansalah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel ini didefinisikan sebagai aspek –aspsek atau kualitas perseorangan siswa aspek-aspek ini bisa berpa bakat,minat, sikap,motivasi belajar,gaya belajar,kemampuan berpikir dan kemampuan (awal hasil) belajar yang telah dimilikinya. Karakter siswa akan amat berpengaruh dalam memilih strategi pengelolahan, yang berkaiatan dengan bagaimana menata perajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran, agar sesuai dengan karakteristrik perseorangan siswa.
Tampak sekali, bahwa penelitin dan pengajaran telah di perkenalkan cara-cara yang berbeda untuk membuat pengetahuan baru menjadi bermakna , oleh banyak kalangan karenja menghasilkan data dan informasi yang sama sekali tidak konsisten sehingga tidak dapat dipercaya.
Jika prespektif strukturalis cenderung berwawasan sangat sempit (mikro) maka psikologi fungsionalis sebaliknya berwawasan sangat luas (makro). Dalam keluasannya ini para ahli psikologi fungsionalis menyatakan perlu hubungan anatara proses mental dan tubuh manusia. Namun demikian, justru dengan keluasannya ini, psikologi fungsionalis dirasakan menjadi kurang fokus dan tidak terorganisasi dengan baik.
Berangkat dari keterbatasan perspektif stuktrualis dan psikologi fungsionalis, John B. Watson memulai upayanya untuk  mengkaji perilaku, terlepas dari proses
yaiatu dengan mengaitkannya pada jenis kemampuan awal ini, yang dapat digunakan untuk dapat memudahkan perolehan, perorganisasian, dan psikologi kognitif, untuk memudahkan proses penyajnjian, penyimpanan, dan pengungkapan informasi baru.
Reigeluth, (1983b) mengindentifikasi 7 tujuh jenis kemampuan awal yang dapat dipakai untuk memudahkan perolehan, pengorganisasian, dan menguungkapkan kembali pengetahuan baru ketujuh jenis kemampuan awal ini adalah sebagai berikut:
1)      Pengetahuan bermakna tidak terorganisasi (arbitraly meaningful knowleg), yang mengaitkan pengetahuan hafalan (yang tidak bermakna) untuk memudahkan retensi.
2)      Pengetahuan analogis (analogic knowledge), yang mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang berada diluar isi yang dibicarakan.
3)      Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi (supererordinate knowledge), yang dapat berfungsi sebagai kerangka cantolan bagi pengetahuan baru.
4)      Pengetahuan setingkat (coordinate knowledge), yang dapat memenuhi fungsinya sebagai pengetahuan asosiatif.
5)      Pengetahuan tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang berfungsi untuk mengkonkretkan pengetahuan baru atau juga penyediaan contoh-contoh.
6)      Pengetahuan pengalaman (experiential knowledge), yang memiliki fiungsi sama dengan pengetahuan yang lebih rendah yaitu untuk mengkonkretkan dan menyediakan contoh-contoh bagi pengetahuan baru.
7)      Strategi kognitif ( cognitive stategy), yang menyediakan cara-cara mengolah pengetahuan baru, dan penyandian, penyimpanan, sampai pada pengungkapan kembali pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan.




F.     Aliran Behavioristik  Bekraitannya Dengan Karaktersistik Siswa

Aliran perilaku stimulus  dan respon (S-R) adalah aliran perilaku yang menengkankan antecendent sebagai penyebab dari perilaku yang umumnya disebut metodologi aliran  perilaku (Skiner,1974), seperti halnya psikologi eksperimen actecendent adalah variabel bebas dan perilaku adalah variabel bebas dan perilaku adalah variabel terikat.
Salah satu aspek yang berbeda dari pendekatan metodologi behavioris adalah pada permintaan untuk data-data eksperimental (manipulasi). Untuk membenarkan setiap interprensi dari perilaku adalah sebab akibat. Observasi secara ilmiah, pengalaman pribadi ,penilaian harus berdasarkan pada bukti-bukti untuk mendukung ssetiap penjelasan secara psikologis.
Sebagai tambahan Gopper (1963) menyarankan bahwa materi visual seharusnya dapat menolong murid-murid untuk mendapatkan , mempertahankan dan mentransfer respon, karena visual mempunyai kapasitas sebagai petunjuk dan memberdayakan respon khusus.
Salah satu masalah muncul ketika akan mengembangkan teknik ini, (di mana respon yang tepat untuk memperjelas rangsangan dapat diperhatikan dan diberdayakan ). Pengembangan suatu media instruksional ini mengenali secara pasti respon apa yang diingkan dari murid-murid jika tidak maka mustahil untuk mendesain dan mengevaluasi intruksional.  Sekali respon itu menjadi jelas, maka masalahnya menjadi mudah bagi murid untuk menanggapi respon secara tepat.
Beberapa hipotesis yang berdasarkan riset pada media dan pendengaran adalah terjadinya beberapa kemungkinan :
1.      Cara yang paling efektif belajar adalah ketika adanya antara materi-materi rangsangan (stimulus) melalui suatu medium dan kriterianya atau kinerja dari apa yang dipelajari.
2.      Pengulangan dari materi-materi stimulus dan respond dalam belajar adalah suatu kondisi \yang diharapkan dari belajar.
3.      Materi-materi stimulus yang akurat, benar dan valid dapat meningkatkan kesempatan untu belajar.
4.      Suatu kondisi yang penting adalah suatu hubungan antara suatu perilaku dan konsekuensinya. Belajar dapat dilakukan ketika perilaku orang di berdayakan. Pemberdayaan ini harus segera setelah adanya respon.
5.      Urutan-urutan kombinasi ilmu pengetahuan dan keahlian secara-hati-hati yang dipresentasikan melalui langkah-langkah yang logis dan terbatas akan sangat efektif bagi kenbanyakan tipe dari cara belajar.
6.      Prinsip-prinsip yang terbangun tentang belajar, yang berasal dari situasi belajar yang melibatkan pembelajaran berlangsung dari gurun adalah sangat tepat dalam menggunakan materi-materi instruksional.
Mesin pengajar (teaching machines) adalah metode untuk membuat pelajaran untuk segara mendapatkan informasi yang akurat dari suatu respons.  Mesin mengajar menggunakan materi informasinya dengan pertanyaaan pilihan berganda yang tidak dapat melanjutkan kepertanyaan berikut sampai pertanyaan sebelumnya bisa dijawab dengan benar.
Metode lain, dengan film yang menekankan pada stimulus, respons dan pemberdaya karakter dari alat-alat audio visual.
1.      Pembelajaran Terprogram
Yaitu alat-alat pengajaran melalui buku-buku yang terprogram. Program ini mempunyai karakteristik presentasi darin isi yang secara logis, respon yang harus jelas, dan mempresentasikan pengetahuan baru dengan benar.  Metode ini menjadi populer karena lebih mudah untuk dihasilkan , fortable, tidak rumit,  tidak memberatkan dan tidak makan biaya. Contoh bentuk program terprogram ini adalah linear programming dan instrinsic programming.
2.      Desain intruksional
Ialah proses yang sistematis yang mensyaratkan penggunaan teori pembelajaran ini untuk merencanakan dan menyajikan pembelajaran atau rangkaian urutan dari instruksional. Tujuan dari desain intruksional adalah untuk meningkatkan belajar.  Beberapa nilai yang menggaris bawahi desain instruksional adalah
a)      Maksud dan tujuan dari instruksional harus diidentifikasikan  dan dicatat;
b)      Semua hasil intruksional harus terukur dan memenuhi standar reliable dan valid;
c)      Konsep desain instruksional berpusat pada perubahan dari perilaku murid.
Corey (1971) mengintifikasikan suatu model yang memuat komponen di atas, antara lain:
1.      Penentuan dari tujuan intruksional. Ini termasuk suatu deskripsi dari perilaku yang diharapkan merupakan suatu hasil dari pengajaran dan deskripsikan dari stimulus yang diharapkan perilaku tersebut merespons secara tepat.
2.      Analisis dari tujuan intruksional. Ini termasuk menganalisis perilaku yang berada di bawah pengawasan murid.
3.      Indentifikasikan karakteristik dari murid-murid .
4.      Bukti-bukti dari pencapaian, dari pengajaran. Ini termasuk pemberian tes.
5.      Membangun lingkungan yang instruksional. Ini melibatkan pengembangan suatu lingkungan yang akan membantu murid-murid menampilkan perilaku yang diingkan sebagai tanggapan pada stimulus atau situasi tertentu.
6.      Melanjutkan intruksi (umpan balik) ini termasuk  me-riview atau merevisi yang diperlukan untuk mempertahankan kontrol stimulus pada perilaku pendengar.
Selanjutnya komponen penting agar pengajaran menjadi efektif.
1.      Menganalisis tugas dan spesifikasi dari tujuan suatu sistem intruksional.
2.      Intektifikasi keahlian yang ada dari suatutarget populasi dan melakukan sistem penempatan yang terdiri atas individu yang berbeda di antara anggota dalam suatu target populasi.
3.      Suatu stategi intruksional yang mana urutan dari langkah-langkah intruksional merefleksikan prinsip-prinsip dari perilaku dalam satu formasi yang diskriminatif, pembangunan suatu rantai yang saling terkait, mengelaborasi kedua komponen ini ke dalam konsep dan prosedur.
4.      Meminta dan member kesempatan bagi murid yang aktif untuk merespons dengan interval waktu yang tepat.
5.      Suatu tambahan (suplemen) yang tepat untuk mendukung respon-respon awal.
6.      Mentransfer keahlian-keahlian baru pada penerapan-penerapannya yang sesuai.
7.      Provisi dan umpan balik pada respond an laporan kemajuan yang kumulatif.
8.      Mendeteksi dan mengoreksi kesalahan.
9.      Mensyaratkan penguasaan yang baik dari setiap bagian.
10.  Menginternalisasi perilaku yang baik dari setiap bagian.
11.  Kecepatan yang cukup untuk mengakomodasikan individu-individu yang berbeda dalam tingkat penguasaan atau pemahaman materi instruksional.
12.  Memodifikasi program instruksi yang berdasarkan pada data yang objektif akan keefektifan sampel dari individu-individu di dalam suatu target populoasi.


























BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan

Behavioristik adalah perkembangan perilaku, yang dapat diukur, dinikmati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terdapat perilaku kondisi yang diingkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.

Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Aliran perilaku stimulus  dan respon (S-R) adalah aliran perilaku yang menengkankan antecendent sebagai penyebab dari perilaku yang umumnya disebut metodologi aliran  perilaku (Skiner,1974), seperti halnya psikologi eksperimen actecendent adalah variabel bebas dan perilaku adalah variabel bebas dan perilaku adalah variabel terikat.
Salah satu aspek yang berbeda dari pendekatan metodologi behavioris adalah pada permintaan untuk data-data eksperimental (manipulasi). Untuk membenarkan setiap interprensi dari perilaku adalah sebab akibat. Observasi secara ilmiah, pengalaman pribadi ,penilaian harus berdasarkan pada bukti-bukti untuk mendukung ssetiap penjelasan secara psikologis.

B.     Saran

kita sebagai calon guru harusnya mampu mendidik para peserta didik kita dengan baik, dengan metode serta teori yang tepat sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Oleh karena itu pelajarilah teori-teori pembelajaran yang ada agar kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar yang tepat.











DAFTAR PUSTAKA

Hamzah B.Uno. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara

Paulina Pannen.2010.Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
http:// googleweblight.com/?lite_url=http:// belajar psikologi.com/teori-bahasa-behaviorisme di unduh pada tnggal 18-12-2015 pukul 23:24

Winataputra, Udin S,dkk. Teori Belajar dan Pembelajaran . Jakarta: universitas terbuka



Tidak ada komentar:

Posting Komentar