Pendekatan Teori
Behavioristik Dalam Pembelajaran Karakteristik Siswa
Makalah ini disusununtukmemenuhisalahsatutugasdari mata kuliah
Teori Belajar Bahasa
Dosen Mata Kuliah: Haerudin, M.pd
DISUSUN OLEH:
Nama
: Putri Septiani
Npm :
1388201107
Kelas/ Semester : A.82/ 5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan taufiq serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Makalah Mata Kuliah Teori Belajar Bahasa tanpa halangan suatu apapun.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh sempurna,
sebab dalam menulis masih rendah dan pengetahuan penulis masih
terbatas. Oleh sebab itu, untuk dapat membuat makalah yang lebih baik
dimasa-masa mendatang penulis senantiasa menerima dengan tangan terbuka segala
kritik dan saran dari semua pihak.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga Allah SWT
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada mereka yang telah berjasa kepada
penulis dalam menyusun makalah ini. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima
kasih.
Tangerang, 19 Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR
.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI
........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang...................................................................................... 4
B.
RumusanMasalah................................................................................. 5
C.
TujuanMakalah .................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teori Belajar Behavioristik............................................. 6
B.
Hakikat Teori Belajar Behavioristi.................................................... 7
C.
Ciri dari Teori Belajar Behavioristik................................................. 7
D.
Tokoh-tokoh Aliran Behavioristik .................................................... 8
E.
Karakteristik Siwa…………………………………………………. 10
F.
Aliran Behavioristik Dengan Karakteristik Siswa…………………
12
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan...................................................................................... 17
B.
Saran................................................................................................ 18
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Belajar merupakan
suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan
dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar,
dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Belajar tidak
hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan.
Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif membuat atau pun
merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang
bermanfaat bagi pribadinya. Pembelajaran
merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan
sumber belajar dan lingkungan.
Teori adalah
seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia
nyata. Teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang
ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable
yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan
diuji serta dibuktikan kebenarannya. Dari dua pendapat diatas Teori adalah seperangkat azaz tentang
kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip
yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya. Teori belajar adalah suatu teori yang
di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara
guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas
maupun di luar kelas.
B.
Rumusan masalah
1. Apakah
pengertian teori belajar Behavioristik??
2. Apakah hakikat teori behavioristik?
3. Bagaimanakah ciri teori behavioristik ?
4. Apa saja teori-teori behavioristik ?
5. Bagaimana karakteristik siswa?
6. Bagaiman liran behavioristik dengan karakteristik
siswa ?
C.
Tujuan makalah
1. Menjelaskan
pengertian teori belajar Behavioristik.
2. Mengetahuai hakikat teori behavioristik.
3. Mengetahui cirri dari teori behavioristik.
4. Untuk mengetahui bagaimana karakteristik siswa.
5. Mengetahui teori- teori behavioristik.
6.
Mendeskripsikan hubungan teori behavioristik terhadap karakteristik
siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Teori
Belajar Behavioristik
Behavioristik
adalah perkembangan perilaku, yang dapat diukur, dinikmati dan dihasilkan oleh
respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap terhadap rangsangan
dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terdapat perilaku
kondisi yang diingkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan
tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Pendidikan
behavioristik merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar-dasar pemahaman
dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa
teori behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati ,diukur, dan
dinilai secara konkret.
Teori belajar behavioristik adalah
sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini lalu berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek
pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran
ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model
hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu
yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan
atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Belajar merupakan akibat adanya
interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap
telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut
teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan
output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada
pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap
stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus
dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan
tidak dapat diukur.
B. Hakikat
Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik lahir sebagai
upaya untuk menyempurnakan dua perspektif strukturalis dari Wundt dan psikologi
fungsionalis dari Dewey.
Perspektif strukturalis percaya akan perlunya
penelitian dasar yang mempelajari tentang otak manusia. Oleh karenanya kaum
strukturalis tidak percaya pada penelitian-penelitian aplikatif yang
menggunakan bintang untuk di rampatkan kemanusia terutama tentang cara kerja
otak manusia. Para strukturalis kemudian menggunakan alat “instrospeksi”
laporan diri tentang proses berpikir sebagai cara untuk mempelajari kerja otak
manusia. Namun alat tersebut di kritik mental dan lain-lain. Watson percaya
bahwa, semua makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap lingkungannya melalui
respons. Asumsi inilah yang menjadi landasan dari teori belajar behavioristik
sebelumnya.
C. Ciri dari Teori Belajar Behavioristik
cirri dari teori
behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat
mekanistis, menekankan, peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi
ataurespon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil
belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah
munculnya perilaku yang diingkan. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat
bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi terhapa lingkungann dan tingkah laku
hasil belajar.
D. Tokoh-tokoh
Aliran Behavioristik
1. Pengertian
belajar menurut pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori belajar behavioristik, belajar
adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanaya interaksi anatara
stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajarn merupakan bentuk perubahan yang
dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah lakudengan cara yang baru
sebagai hasil interaksi anatara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpentinng adalah
masuk atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau ouput yang berupa respon. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting
untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
2. Teori belajar
menurut Thorndike
menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi anatara stimulus
respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan
belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap
melalui alatindera. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran
koneksionisme (connectionism).
3. Teori Belajar
Menurut Watson
Menurut Watson, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan
respon namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku
yang dapat diamati (observable) yang
dapat diukur.
4. Teori Belajar
Menurut Clark Hull
Clark Hull
menggunakan variabel hubungan anatar stimulus dan respon untuk menjelaskan
pengertian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang
di kembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi,
semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup
manusia.
5.
Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Demikian juga
dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon
untuk menjelaskan terjadinya proses belajar.
Namun ia menggunakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan
kebutuhanatau pemuasan biologis sebagaimana dijelaskan oleh Clark dan Hull.
6.
Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep
yang digunakan oleh Skinner tentang belajar mampu mengungguli konsep-konsep
lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep
bel;ajar secara sederhana, namun dapat menunjukan konsepnya tentang belajar
secara lebih komperatif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon
yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan
menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sederhana yang digambarkan oleh
para tokoh sebelumnya.
Pandangan teori
belajar behavioristik ini cukup lama dianut oleh para guru dan pendidik. Namun
dari semua pendukung teori ini, teori Skinerlah yang paling besar pengaruhnya
terhadap perkembangan teori belajar behavioristik.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk
berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif . pandanga teori
ini bahwa belajar merupakan proses atau Shaping,
yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan
peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi.
E. Karakteristik
Siswa
Sebagai mana paparan di atas
karakter siswa merupakansalah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel
ini didefinisikan sebagai aspek –aspsek atau kualitas perseorangan siswa
aspek-aspek ini bisa berpa bakat,minat, sikap,motivasi belajar,gaya
belajar,kemampuan berpikir dan kemampuan (awal hasil) belajar yang telah
dimilikinya. Karakter siswa akan amat berpengaruh dalam memilih strategi
pengelolahan, yang berkaiatan dengan bagaimana menata perajaran, khususnya
komponen-komponen strategi pengajaran, agar sesuai dengan karakteristrik
perseorangan siswa.
Tampak sekali,
bahwa penelitin dan pengajaran telah di perkenalkan cara-cara yang berbeda
untuk membuat pengetahuan baru menjadi bermakna , oleh banyak
kalangan karenja menghasilkan data dan informasi yang sama sekali tidak
konsisten sehingga tidak dapat dipercaya.
Jika prespektif strukturalis cenderung
berwawasan sangat sempit (mikro) maka psikologi fungsionalis sebaliknya
berwawasan sangat luas (makro). Dalam keluasannya ini para ahli psikologi fungsionalis
menyatakan perlu hubungan anatara proses mental dan tubuh manusia. Namun
demikian, justru dengan keluasannya ini, psikologi fungsionalis dirasakan
menjadi kurang fokus dan tidak terorganisasi dengan baik.
Berangkat dari keterbatasan perspektif
stuktrualis dan psikologi fungsionalis, John B. Watson memulai upayanya
untuk mengkaji perilaku, terlepas dari
proses
yaiatu dengan mengaitkannya
pada jenis kemampuan awal ini, yang dapat digunakan untuk dapat memudahkan
perolehan, perorganisasian, dan psikologi kognitif, untuk memudahkan proses
penyajnjian, penyimpanan, dan pengungkapan informasi baru.
Reigeluth, (1983b) mengindentifikasi
7 tujuh jenis kemampuan awal yang dapat dipakai untuk memudahkan perolehan,
pengorganisasian, dan menguungkapkan kembali pengetahuan baru ketujuh jenis
kemampuan awal ini adalah sebagai berikut:
1)
Pengetahuan
bermakna tidak terorganisasi (arbitraly
meaningful knowleg), yang mengaitkan pengetahuan hafalan (yang tidak
bermakna) untuk memudahkan retensi.
2)
Pengetahuan
analogis (analogic knowledge), yang
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan lain yang amat serupa, yang
berada diluar isi yang dibicarakan.
3)
Pengetahuan
tingkat yang lebih tinggi (supererordinate knowledge), yang dapat berfungsi
sebagai kerangka cantolan bagi pengetahuan baru.
4)
Pengetahuan
setingkat (coordinate knowledge), yang dapat memenuhi fungsinya sebagai
pengetahuan asosiatif.
5)
Pengetahuan
tingkat yang lebih rendah (subordinate knowledge), yang berfungsi untuk
mengkonkretkan pengetahuan baru atau juga penyediaan contoh-contoh.
6)
Pengetahuan
pengalaman (experiential knowledge), yang memiliki fiungsi sama dengan
pengetahuan yang lebih rendah yaitu untuk mengkonkretkan dan menyediakan
contoh-contoh bagi pengetahuan baru.
7)
Strategi
kognitif ( cognitive stategy), yang menyediakan cara-cara mengolah pengetahuan
baru, dan penyandian, penyimpanan, sampai pada pengungkapan kembali pengetahuan
yang telah tersimpan dalam ingatan.
F. Aliran
Behavioristik Bekraitannya Dengan
Karaktersistik Siswa
Aliran perilaku
stimulus dan respon (S-R) adalah aliran
perilaku yang menengkankan antecendent
sebagai penyebab dari perilaku yang umumnya disebut metodologi aliran perilaku (Skiner,1974), seperti halnya
psikologi eksperimen actecendent
adalah variabel bebas dan perilaku adalah variabel bebas dan perilaku adalah
variabel terikat.
Salah satu aspek yang
berbeda dari pendekatan metodologi behavioris adalah pada permintaan untuk
data-data eksperimental (manipulasi). Untuk membenarkan setiap interprensi dari
perilaku adalah sebab akibat. Observasi secara ilmiah, pengalaman pribadi
,penilaian harus berdasarkan pada bukti-bukti untuk mendukung ssetiap
penjelasan secara psikologis.
Sebagai tambahan Gopper
(1963) menyarankan bahwa materi visual seharusnya dapat menolong murid-murid
untuk mendapatkan , mempertahankan dan mentransfer respon, karena visual mempunyai
kapasitas sebagai petunjuk dan memberdayakan respon khusus.
Salah satu masalah muncul
ketika akan mengembangkan teknik ini, (di mana respon yang tepat untuk
memperjelas rangsangan dapat diperhatikan dan diberdayakan ). Pengembangan
suatu media instruksional ini mengenali secara pasti respon apa yang diingkan
dari murid-murid jika tidak maka mustahil untuk mendesain dan mengevaluasi
intruksional. Sekali respon itu menjadi
jelas, maka masalahnya menjadi mudah bagi murid untuk menanggapi respon secara
tepat.
Beberapa hipotesis yang
berdasarkan riset pada media dan pendengaran adalah terjadinya beberapa
kemungkinan :
1.
Cara yang paling
efektif belajar adalah ketika adanya antara materi-materi rangsangan (stimulus)
melalui suatu medium dan kriterianya atau kinerja dari apa yang dipelajari.
2.
Pengulangan dari
materi-materi stimulus dan respond dalam belajar adalah suatu kondisi \yang
diharapkan dari belajar.
3.
Materi-materi
stimulus yang akurat, benar dan valid dapat meningkatkan kesempatan untu
belajar.
4.
Suatu kondisi
yang penting adalah suatu hubungan antara suatu perilaku dan konsekuensinya.
Belajar dapat dilakukan ketika perilaku orang di berdayakan. Pemberdayaan ini
harus segera setelah adanya respon.
5.
Urutan-urutan
kombinasi ilmu pengetahuan dan keahlian secara-hati-hati yang dipresentasikan
melalui langkah-langkah yang logis dan terbatas akan sangat efektif bagi
kenbanyakan tipe dari cara belajar.
6.
Prinsip-prinsip
yang terbangun tentang belajar, yang berasal dari situasi belajar yang
melibatkan pembelajaran berlangsung dari gurun adalah sangat tepat dalam
menggunakan materi-materi instruksional.
Mesin pengajar (teaching machines) adalah metode untuk
membuat pelajaran untuk segara mendapatkan informasi yang akurat dari suatu
respons. Mesin mengajar menggunakan
materi informasinya dengan pertanyaaan pilihan berganda yang tidak dapat
melanjutkan kepertanyaan berikut sampai pertanyaan sebelumnya bisa dijawab
dengan benar.
Metode lain, dengan film
yang menekankan pada stimulus, respons dan pemberdaya karakter dari alat-alat
audio visual.
1.
Pembelajaran
Terprogram
Yaitu alat-alat pengajaran
melalui buku-buku yang terprogram. Program ini mempunyai karakteristik
presentasi darin isi yang secara logis, respon yang harus jelas, dan mempresentasikan
pengetahuan baru dengan benar. Metode
ini menjadi populer karena lebih mudah untuk dihasilkan , fortable, tidak rumit,
tidak memberatkan dan tidak makan biaya. Contoh bentuk program
terprogram ini adalah linear programming
dan instrinsic programming.
2.
Desain
intruksional
Ialah proses yang sistematis
yang mensyaratkan penggunaan teori pembelajaran ini untuk merencanakan dan
menyajikan pembelajaran atau rangkaian urutan dari instruksional. Tujuan dari
desain intruksional adalah untuk meningkatkan belajar. Beberapa nilai yang menggaris bawahi desain
instruksional adalah
a)
Maksud dan
tujuan dari instruksional harus diidentifikasikan dan dicatat;
b)
Semua hasil
intruksional harus terukur dan memenuhi standar reliable dan valid;
c)
Konsep desain
instruksional berpusat pada perubahan dari perilaku murid.
Corey (1971) mengintifikasikan suatu model yang memuat
komponen di atas, antara lain:
1.
Penentuan dari
tujuan intruksional. Ini termasuk suatu deskripsi dari perilaku yang diharapkan
merupakan suatu hasil dari pengajaran dan deskripsikan dari stimulus yang
diharapkan perilaku tersebut merespons secara tepat.
2.
Analisis dari
tujuan intruksional. Ini termasuk menganalisis perilaku yang berada di bawah
pengawasan murid.
3.
Indentifikasikan
karakteristik dari murid-murid .
4.
Bukti-bukti dari
pencapaian, dari pengajaran. Ini termasuk pemberian tes.
5.
Membangun
lingkungan yang instruksional. Ini melibatkan pengembangan suatu lingkungan
yang akan membantu murid-murid menampilkan perilaku yang diingkan sebagai
tanggapan pada stimulus atau situasi tertentu.
6.
Melanjutkan
intruksi (umpan balik) ini termasuk
me-riview atau merevisi yang diperlukan untuk mempertahankan kontrol
stimulus pada perilaku pendengar.
Selanjutnya komponen penting agar pengajaran menjadi
efektif.
1.
Menganalisis
tugas dan spesifikasi dari tujuan suatu sistem intruksional.
2.
Intektifikasi
keahlian yang ada dari suatutarget populasi dan melakukan sistem penempatan
yang terdiri atas individu yang berbeda di antara anggota dalam suatu target
populasi.
3.
Suatu stategi
intruksional yang mana urutan dari langkah-langkah intruksional merefleksikan
prinsip-prinsip dari perilaku dalam satu formasi yang diskriminatif,
pembangunan suatu rantai yang saling terkait, mengelaborasi kedua komponen ini
ke dalam konsep dan prosedur.
4.
Meminta dan
member kesempatan bagi murid yang aktif untuk merespons dengan interval waktu
yang tepat.
5.
Suatu tambahan
(suplemen) yang tepat untuk mendukung respon-respon awal.
6.
Mentransfer
keahlian-keahlian baru pada penerapan-penerapannya yang sesuai.
7.
Provisi dan
umpan balik pada respond an laporan kemajuan yang kumulatif.
8.
Mendeteksi dan
mengoreksi kesalahan.
9.
Mensyaratkan
penguasaan yang baik dari setiap bagian.
10. Menginternalisasi perilaku yang baik dari setiap
bagian.
11. Kecepatan yang cukup untuk mengakomodasikan
individu-individu yang berbeda dalam tingkat penguasaan atau pemahaman materi
instruksional.
12. Memodifikasi program instruksi yang berdasarkan pada
data yang objektif akan keefektifan sampel dari individu-individu di dalam
suatu target populoasi.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Simpulan
Behavioristik adalah perkembangan perilaku, yang dapat diukur, dinikmati
dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap
terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif
terdapat perilaku kondisi yang diingkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam
menghilangkan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Teori
belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan
Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.Teori ini
lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah
pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai
aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang
tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model
hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu
yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan
atau pembiasaan semata.
Aliran perilaku
stimulus dan respon (S-R) adalah aliran
perilaku yang menengkankan antecendent
sebagai penyebab dari perilaku yang umumnya disebut metodologi aliran perilaku (Skiner,1974), seperti halnya
psikologi eksperimen actecendent
adalah variabel bebas dan perilaku adalah variabel bebas dan perilaku adalah
variabel terikat.
Salah satu aspek yang
berbeda dari pendekatan metodologi behavioris adalah pada permintaan untuk
data-data eksperimental (manipulasi). Untuk membenarkan setiap interprensi dari
perilaku adalah sebab akibat. Observasi secara ilmiah, pengalaman pribadi
,penilaian harus berdasarkan pada bukti-bukti untuk mendukung ssetiap
penjelasan secara psikologis.
B. Saran
kita
sebagai calon guru harusnya mampu mendidik para peserta didik kita dengan baik,
dengan metode serta teori yang tepat sehingga proses belajar mengajar berjalan
dengan baik. Oleh karena itu pelajarilah teori-teori pembelajaran yang ada agar
kita mampu menemukan kecocokan dalam metode mengajar yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah B.Uno.
2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Paulina
Pannen.2010.Teori Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka
http:// googleweblight.com/?lite_url=http://
belajar psikologi.com/teori-bahasa-behaviorisme di unduh pada tnggal 18-12-2015
pukul 23:24
Winataputra,
Udin S,dkk. Teori Belajar dan Pembelajaran . Jakarta: universitas terbuka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar