PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN
KOOPERATIF LEARNING DALAM KEMAMPUAN BELAJAR SISWA

Disusun
Oleh
Nama : Eka Dewi Rahmayanti
Nim : 1388201117
Kelas
/ Semester : A2 / 5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi, dan
meningkatkan kualitas belajar pada diri peserta didik. Maka kegiatan
pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat, dan jenis belajar serta hasil
belajar tersebut. pembelajaran harus menghasilkan belajar tapi tidak semua
proses belajar terjadi karena pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam
konteks interaksi sosial dalam lingkungan masayarakat.
Sehingga seorang guru harus mampu menentukan dan memilih model
pembelajaran yang cocok bagi siswanya. Salah satu model pembelajaran yang dapat
membantu guru dan siswa agar dapat lebih mudah menyampaikan dan menerima
pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif yaitu rangkaian kegiatan
belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
dirumuskan.
Kita ketahui bahwa kemampuan setiap individu pasti berbeda-beda oleh
sebab itu guru dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif learning dalam
proses pembelajaran, karena dalam pembelajaran kooperatif learning siswa
membaut kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang yang memiliki kemampuan
akademik yang berbeda sehingga mereka akan bekerja sama dalam menyelesaikan
materi yang akan diberikan secara bertanggung
jawab.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun
rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Apa
yang dimaksud pembelajaran kooperatif learning ?
2. Bagaimana
karakteristik pembelajaran kooperatif learning ?
3. Apa
tujuan pembelajaran kooperatif learning?
4. Bagaimana
prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif learning ?
5. Apa
saja prosedur pembelajaran kooperatif learning ?
6. Bagaimana
aplikasi pembelajaran kooperatif learning ?
7. Bagaimana
lingkungan belajar dan sistem pengelolaannya ?
8. Bagaiamana
peran sekolah dalam membentuk kemampuan diri ?
9. Bagaiamana
cara mengatur kemampuan diri ?
10. Bagaimana
penerapan model pembelajaran kooperatif learning dalam kemampuan belajar siswa
?
C.
Tujuan
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yaitu :
1. Mengetahui
pengertian, karakteristik, tujuan, prinsip-prinsip, prosedur, aplikasi,
lingkungan belajar dan sistem pengelolaan dalam model pembelajaran kooperatif
learning.
2. Mengetahui
peran sekolah dalam membentuk kemampuan diri dan cara mengatur kemampuan
tersebut
3. Untuk
memenuhi tugas yang diberikan mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif
learning dalam kemampuan belajar siswa.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pembelajaran Kooperatif Learning
Model
pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran
kooperatif ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham
konstruktivis. Dalam pembelajaran kooperatif diterapkan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan akademik,
jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas
kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling
membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran ini, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
bahan pelajaran. Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok
akan memperoleh penghargaan, jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang
dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai
ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan
memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok.
Pembelajaran
kooperatif merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini
menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin
(1995) mengemukakan dua alasan, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan
bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap
menerima kekurangan diri dan orang lain. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat
merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah.
B.
Karakteristik
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut
dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses
kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan
akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur
kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. adanya kerja sama inilah yang
menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Dengan demikian, karakteristik
strategi pembelajaran kooperatif dijelaskan sebagai berikut.
1. Pembelajaran
secara tim
Pembelajaran
secara tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus
mampu membuat setiap sisqa belajar. semua anggota tim harus saling membantu
untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Kemampuan
untuk bekerja sama
Keberhasilan
pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh
sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran
kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung
jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu.
3. Keterampilan
bekerja sama
Kemampuan
untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan
yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu
didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota
lain.
C.
Tujuan
Pembelajaran Kooperatif
Johnson
(1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan
belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara
individu maupun secara kelompok. Zamroni (2000) mengemukakan bahwa manfaat
penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan
khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar
kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan
belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki
prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Pembelajaran
kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa
bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak,
1996:279). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk
meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap
kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan
pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar
belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu
sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Para
ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja
siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir
kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa
kelompok bahwa maupun atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas
akademik.
D.
Prinsip-prinsip
Pembelajaran Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar
pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Prinsip
Ketergantungan Positif
Dalam
pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung
kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu
disadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok
akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua
anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantunga.
2. Tanggung
Jawab Perseorangan
Prinsip
ini merupakan konsekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhasilan
kelompok tergantung pada setiap anggotanya. Setiap anggota harus memberikan
yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.
3. Interaksi
Tatap Muka
Pembelajaran
kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota
kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling
membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga
kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan,
memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota dan mengisi kekurangan
masing-masing.
4. Partisipasi
dan Komunikasi
Pembelajaran
kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan
berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan
di masyarakat. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu
membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi.
E.
Prosedur
Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran
kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu :
1. Penjelasan
materi
Tahap
penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran
sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah
pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan
gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai dan selanjutnya
siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok(tim).
2. Belajar
dalam kelompok
Setelah
guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran,
selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang
telah dibentuk sebelumnya. Dalam hal kemampuan akademis, kelompok pembelajaran baisanya terdiri dari
satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan
satu dari kemampuan akademis kurang (Anita Lie, 2005). Melalui pembelajaran
dalam tim siswa didorong untuk melakukan tukar-menukar informasi dan pendapat,
mendiskusikan permasalahan secara bersama, memnandingkan jawaban mereka, dan
menggoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3. Penilaian
Penilaian
yang dilakukan dalam kooperatif bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau
kuis dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Tes individual nantinya
akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa. Hasil akhir setiap siswa
adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki
nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai
bersama dalam kelompoknya.
4. Pengakuan
tim
Pengakuan
tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol untuk kemudian diberikan
penghargaan atau hadiah. Pemberiaan penghargaan tersebut diharapakan dapat
memotivasi tim untuk terus berprestasi.
F.
Aplikasi
Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Slavin dalam Hamdani (2011 hal. 32). Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda
dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetensi, yaitu
keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Tujuan
pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu
ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok. Model pembelajaran
kooperatif ini dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting
yang dirangkum oleh ibrahim, yaitu sebagai berikut :
1. Hasil
belajar akademik
Dalam
belajar kooperatif, selain mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki
prestasi siswa atau tugas-tugas akademik penting lainnya. Beberapa ahli
berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep
sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa model struktur penghargaan
kooperatif dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik, dan perubahan
norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping itu, pelajaran
kooperatif dapat memberi keuntungan baik kepada kelompok siswa bawah maupun
kelompok siswa atas, yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2. Penerimaan
terhadap perbedaan individu
Tujuan
lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari
siswa-siswa yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan.
Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang
dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik
dan struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama
lain.
3. Pengembangan
keterampilan sosial
Tujuan
pengembangan keterampilan sosial adalah mengajarkan pada siswa keterampilan
bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki
oleh siswa sebab banyak di antara mereka yang keterampilan sosialnya masih
kurang.
G.
Lingkungan
Belajar dan Sistem Pengelolaan
Agar
pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat
bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan
keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut
berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan
kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan
peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
Lungren
(dalam Ratumanan, 2002), menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut
secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan yaitu :
a. Keterampilan
Kooperatif Tingkat Awal
- Berada dalam tugas,
yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
- Mengambil giliran dan
berbagi tugas
- Mendorong adanya
partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan
kontribusi
- Menggunakan
kesepakatan
b. Keterampialan
Kooperatif Tingkat Menengah
-
Mendengarkan denga aktif
-
Bertanya
-
Menafsirkan
-
Memeriksa ketepatan
c. Keterampilan
Kooperatif Tingkat Mahir
Mengkolaborasi,
yaitu memperluas konsep, membaut kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat
dengan topik tertentu. Arends (1997:111) menyatakan bahwa pelajaran yang
menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
b. Kelompok
dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila
memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin
yang beragam
d. Penghargaan
lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari
uraian tinjauan tentang pembelajaran kooperatif ini, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran kooperatif tersebut memerlukan kerja sama antar siswa dan saling
ketergantungan dalam struktur pencapaian
tugas, tujuan, dan penghargaan.
H.
Peran
Sekolah Dalam Membentuk Kemampuan Diri
Di
sekolah, pengetahuan dan keterampilan berpikir siswa secara terus menuerus
diuji dan dievaluasi dan para siswa itu sering dibandingkan satu terhadap yang
lain. Siswa yang cerdas atau baik akan dengan cepat mengembangkan keyakinan
akan kemampuan pribadinya, sedangkan siswa yang kurang cerdas akan mendapatkan
bahwa penilaian mereka terhadap kemampuan diri mereka sendiri ternyata tidak
baik, dan membawa kepada kinerja yang terus-menerus buruk. Hal ini dapat
terjadi bila : 1). Praktek pengajaran di
dalam kelas sangat kaku, di mana semua siswa diajarkan hal yang sama pada waktu
sama. 2). Siswa dikelompokkan
berdasarkan kemampuan sehingga mengurangi penilaian siswa, yang digolongkan
berkemampuan yang rendah, terhadap kemampuan pribadi mereka sendiri atau, 3).
Jika perolehan prestasi dilakukan secara penuh persaingan, karena hal ini
memperbesar kemungkinan gagal bagi siswa yang kurang cerdas untuk dapat memberi
kemenangan kepada beberapa siswa saja yang dinilai sangat cerdas (Bandura,
1986).
I.
Kemampuan
Mengatur Diri
Kemampuan
mengatur diri atau melatih untuk mempengaruhi perilaku sendiri adalah salah
satu fakta dari eksistensi manusia. Jika aksi ditentukan hanya oleh berbagai
keadaan di luar diri seseorang maka orang tersebut akan mudah terombang-ambing
oleh pengaruh luar apapun yang mengenai dirinya pada saat tersebut. meskipun
demikian kemampuan mengatur diri tidak akan di dapat hanya karena kuatnya
keinginan pribadi.
Setiap
orang memiliki kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri yang membuat mereka
mampu untuk menerapkan kendali terhadap pikiran dan tindakan mereka sendiri
berdasarkan konsekuensi dari pikiran dan tindakan tersebut terhadap diri mereka
sendiri (Bandura, 1986, p. 335). Meskipun demikian, banyak orang bersikap agak
kurang yakin terhadap kemampuan diri mereka dalam menerapkan kendali terhadap
perilaku mereka sendiri. Mereka cenderung untuk tidak yakin dengan usaha mereka
sendiri untuk mengatasi berbagai situasi, terutama yang memeras atau menantang
kemampuan pribadi mereka secara efektif.
J.
Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Learning dalam Kemampuan Belajar Siswa
Model
pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran
kooperatif diterapkan sesuai strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai
anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau
suku yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota
kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi
pelajaran.
Sedangkan
kemampuan yaitu salah satu kelebihan yang dimiliki oleh setiap orang yang sudah
pasti berbeda-beda kemampuannya. Dalam pembelajaran kooperatif siswa yang
memiliki kemampuan akademik tinggi harus mau berbagi pengetahuan yang dia
miliki kepada teman sekelompokknya, agar teman yang kemampuan akademiknya
kurang dapat memahami dan mengerti materi yang telah di ajarkan oleh guru.
Model
pembelajaran kooperatif learning sangat membantu guru dalam proses pembelajaran
di kelas saat menyampaikan materi, karena terkadang ada siswa yang sulit
menyerap materi yang disampaikan sehingga membuat guru merasa tidak efektif
dalam menyampaikan materi. Oleh karena itu model pembelajaran kooperatif
learning ini sangat membantu siswa dan
guru, dalam model ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri
dari 4-5 orang dengan kemampuan akademik yang berbeda, lalu guru memberikan
materi untuk mereka diskusikan secara bersama. Dalam pembelajaran ini, belajar
dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai
bahan pelajaran, sehingga mereka akan memiliki rasa tanggung jawab
masing-masing tanpa ada rasa egois diantara teman kelompoknya.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Model
pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok
tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran
kooperatif diterapkan sesuai strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai
anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau
suku yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota
kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi
pelajaran. Karakteristis dalam pembelajaran kooperatif learning terdiri dari
pembelajaran secara tim, kemauan untuk bekerja sama dan keterampilan bekerja
sama. Adapun tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menurut Johnson (1994)
menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar
siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu
maupun secara kelompok. Prinsip-prinsip dalam pembelajaran kooperati terdiri
dari prinsip ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi
tatap muka dan partisipasi dan komunikasi. Adapun prosedur pembelajaran kooperatif
yaitu penjelasan materi, belajar dalam kelompok, penilaian, dan pengakuan tim.
Aplikasi
pembelajaran kooperatif mencangkup tiga tujuan pembelajaran yang dirangkum oleh
ibrahim yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu,
pengembangan keterampilan sosial. Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan
sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam kelompok,
maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan
kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan
tugas. Sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif learning sangat
membantu dalam proses pembelajaran, karena siswa yang memiliki kemampuan
akademik tinggi harus mau berbagi pengetahuan yang dia miliki kepada teman
sekelompokknya, agar teman yang kemampuan akademiknya kurang dapat memahami dan
mengerti materi yang telah di ajarkan.
B.
Saran
Perlunya menggunakan model
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran agar
dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi sehingga siswa lebih mudah
menerima materi yang telah disampaikan. Dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif learning maka siswa akan lebih mudah bersosialisasi dan memiliki
rasa tanggung jawab.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV
Pustaka Setia
Sanjaya, Wina.
2011. Strategi pembelajaran berorientasi
standar proses pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif.
Jakarta : Kencana Prenada Media
Winataputra,
Udin S, dkk. 2011. Teori Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar