Selasa, 22 Desember 2015




PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF LEARNING DALAM KEMAMPUAN BELAJAR SISWA


Disusun Oleh
Nama                  : Eka Dewi Rahmayanti
Nim                      : 1388201117
Kelas / Semester : A2 / 5





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2015



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
       Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi, dan meningkatkan kualitas belajar pada diri peserta didik. Maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat, dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. pembelajaran harus menghasilkan belajar tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosial dalam lingkungan masayarakat.
       Sehingga seorang guru harus mampu menentukan dan memilih model pembelajaran yang cocok bagi siswanya. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu guru dan siswa agar dapat lebih mudah menyampaikan dan menerima pembelajaran adalah model pembelajaran kooperatif yaitu rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
       Kita ketahui bahwa kemampuan setiap individu pasti berbeda-beda oleh sebab itu guru dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif learning dalam proses pembelajaran, karena dalam pembelajaran kooperatif learning siswa membaut kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang yang memiliki kemampuan akademik yang berbeda sehingga mereka akan bekerja sama dalam menyelesaikan materi yang akan diberikan secara bertanggung  jawab.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1.      Apa yang dimaksud pembelajaran kooperatif learning ?
2.      Bagaimana karakteristik pembelajaran kooperatif learning ?
3.      Apa tujuan pembelajaran kooperatif  learning?
4.      Bagaimana prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif learning ?
5.      Apa saja prosedur pembelajaran kooperatif learning ?
6.      Bagaimana aplikasi pembelajaran kooperatif learning ?
7.      Bagaimana lingkungan belajar dan sistem pengelolaannya ?
8.      Bagaiamana peran sekolah dalam membentuk kemampuan diri ?
9.      Bagaiamana cara mengatur kemampuan diri ?
10.  Bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif learning dalam kemampuan belajar siswa ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yaitu :
1.      Mengetahui pengertian, karakteristik, tujuan, prinsip-prinsip, prosedur, aplikasi, lingkungan belajar dan sistem pengelolaan dalam model pembelajaran kooperatif learning.
2.      Mengetahui peran sekolah dalam membentuk kemampuan diri dan cara mengatur kemampuan tersebut
3.    Untuk memenuhi tugas yang diberikan mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif learning dalam kemampuan belajar siswa.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif Learning
Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran kooperatif ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Dalam pembelajaran kooperatif diterapkan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran ini, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan, jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian, setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan memunculkan tanggung jawab individu terhadap kelompok.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995) mengemukakan dua alasan, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir, memecahkan masalah.

B.     Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran, tetapi juga adanya unsur kerja sama untuk penguasaan materi tersebut. adanya kerja sama inilah yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif. Dengan demikian, karakteristik strategi pembelajaran kooperatif dijelaskan sebagai berikut.
1.      Pembelajaran secara tim
Pembelajaran secara tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap sisqa belajar. semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2.      Kemampuan untuk bekerja sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu.
3.      Keterampilan bekerja sama
Kemampuan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.

C.    Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Zamroni (2000) mengemukakan bahwa manfaat penerapan belajar kooperatif adalah dapat mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat mengembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. Dengan belajar kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang kuat.
Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama (Eggen and Kauchak, 1996:279). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran kooperatif siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bahwa maupun atas yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

D.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif, yaitu :
1.      Prinsip Ketergantungan Positif
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung kepada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantunga.
2.      Tanggung Jawab Perseorangan
Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip yang pertama. Oleh karena keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya. Setiap anggota harus memberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.
3.      Interaksi Tatap Muka
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota dan mengisi kekurangan masing-masing.
4.      Partisipasi dan Komunikasi
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi.

E.     Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu :
1.      Penjelasan materi
Tahap penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai dan selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok(tim).
2.      Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya. Dalam hal kemampuan akademis,  kelompok pembelajaran baisanya terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang, dan satu dari kemampuan akademis kurang (Anita Lie, 2005). Melalui pembelajaran dalam tim siswa didorong untuk melakukan tukar-menukar informasi dan pendapat, mendiskusikan permasalahan secara bersama, memnandingkan jawaban mereka, dan menggoreksi hal-hal yang kurang tepat.
3.      Penilaian
Penilaian yang dilakukan dalam kooperatif bisa dilakukan dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya.
4.      Pengakuan tim
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pemberiaan penghargaan tersebut diharapakan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi.

F.     Aplikasi Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin dalam Hamdani (2011 hal. 32). Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetensi, yaitu keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok. Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan untuk mencapai tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh ibrahim, yaitu sebagai berikut :
1.      Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif, selain mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik, dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping itu, pelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik kepada kelompok siswa bawah maupun kelompok siswa atas, yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2.      Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari siswa-siswa yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3.      Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan pengembangan keterampilan sosial adalah mengajarkan pada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki oleh siswa sebab banyak di antara mereka yang keterampilan sosialnya masih kurang.




G.    Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dapat dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
Lungren (dalam Ratumanan, 2002), menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan yaitu :
a.       Keterampilan Kooperatif Tingkat Awal
- Berada dalam tugas, yaitu menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya.
- Mengambil giliran dan berbagi tugas
- Mendorong adanya partisipasi, yaitu memotivasi semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi
- Menggunakan kesepakatan
b. Keterampialan Kooperatif Tingkat Menengah
-  Mendengarkan denga aktif
- Bertanya
- Menafsirkan
- Memeriksa ketepatan
c. Keterampilan Kooperatif Tingkat Mahir
Mengkolaborasi, yaitu memperluas konsep, membaut kesimpulan dan menghubungkan pendapat-pendapat dengan topik tertentu. Arends (1997:111) menyatakan bahwa pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.       Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar
b.      Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.       Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam
d.      Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok dari pada individu.
Dari uraian tinjauan tentang pembelajaran kooperatif ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tersebut memerlukan kerja sama antar siswa dan saling ketergantungan dalam  struktur pencapaian tugas, tujuan, dan penghargaan.

H.    Peran Sekolah Dalam Membentuk Kemampuan Diri
Di sekolah, pengetahuan dan keterampilan berpikir siswa secara terus menuerus diuji dan dievaluasi dan para siswa itu sering dibandingkan satu terhadap yang lain. Siswa yang cerdas atau baik akan dengan cepat mengembangkan keyakinan akan kemampuan pribadinya, sedangkan siswa yang kurang cerdas akan mendapatkan bahwa penilaian mereka terhadap kemampuan diri mereka sendiri ternyata tidak baik, dan membawa kepada kinerja yang terus-menerus buruk. Hal ini dapat terjadi bila : 1).  Praktek pengajaran di dalam kelas sangat kaku, di mana semua siswa diajarkan hal yang sama pada waktu sama.    2). Siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan sehingga mengurangi penilaian siswa, yang digolongkan berkemampuan yang rendah, terhadap kemampuan pribadi mereka sendiri atau, 3). Jika perolehan prestasi dilakukan secara penuh persaingan, karena hal ini memperbesar kemungkinan gagal bagi siswa yang kurang cerdas untuk dapat memberi kemenangan kepada beberapa siswa saja yang dinilai sangat cerdas (Bandura, 1986).

I.       Kemampuan Mengatur Diri
Kemampuan mengatur diri atau melatih untuk mempengaruhi perilaku sendiri adalah salah satu fakta dari eksistensi manusia. Jika aksi ditentukan hanya oleh berbagai keadaan di luar diri seseorang maka orang tersebut akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar apapun yang mengenai dirinya pada saat tersebut. meskipun demikian kemampuan mengatur diri tidak akan di dapat hanya karena kuatnya keinginan pribadi.
Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri yang membuat mereka mampu untuk menerapkan kendali terhadap pikiran dan tindakan mereka sendiri berdasarkan konsekuensi dari pikiran dan tindakan tersebut terhadap diri mereka sendiri (Bandura, 1986, p. 335). Meskipun demikian, banyak orang bersikap agak kurang yakin terhadap kemampuan diri mereka dalam menerapkan kendali terhadap perilaku mereka sendiri. Mereka cenderung untuk tidak yakin dengan usaha mereka sendiri untuk mengatasi berbagai situasi, terutama yang memeras atau menantang kemampuan pribadi mereka secara efektif.

J.      Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Learning dalam Kemampuan Belajar Siswa
Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran kooperatif diterapkan sesuai strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.
Sedangkan kemampuan yaitu salah satu kelebihan yang dimiliki oleh setiap orang yang sudah pasti berbeda-beda kemampuannya. Dalam pembelajaran kooperatif siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi harus mau berbagi pengetahuan yang dia miliki kepada teman sekelompokknya, agar teman yang kemampuan akademiknya kurang dapat memahami dan mengerti materi yang telah di ajarkan oleh guru.
Model pembelajaran kooperatif learning sangat membantu guru dalam proses pembelajaran di kelas saat menyampaikan materi, karena terkadang ada siswa yang sulit menyerap materi yang disampaikan sehingga membuat guru merasa tidak efektif dalam menyampaikan materi. Oleh karena itu model pembelajaran kooperatif learning ini  sangat membantu siswa dan guru, dalam model ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan kemampuan akademik yang berbeda, lalu guru memberikan materi untuk mereka diskusikan secara bersama. Dalam pembelajaran ini, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran, sehingga mereka akan memiliki rasa tanggung jawab masing-masing tanpa ada rasa egois diantara teman kelompoknya.



BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Pembelajaran kooperatif diterapkan sesuai strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Karakteristis dalam pembelajaran kooperatif learning terdiri dari pembelajaran secara tim, kemauan untuk bekerja sama dan keterampilan bekerja sama. Adapun tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menurut Johnson (1994) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Prinsip-prinsip dalam pembelajaran kooperati terdiri dari prinsip ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, interaksi tatap muka dan partisipasi dan komunikasi. Adapun prosedur pembelajaran kooperatif yaitu penjelasan materi, belajar dalam kelompok, penilaian, dan pengakuan tim.
Aplikasi pembelajaran kooperatif mencangkup tiga tujuan pembelajaran yang dirangkum oleh ibrahim yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, pengembangan keterampilan sosial. Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan sesuai dengan harapan, dan siswa dapat bekerja secara produktif dalam kelompok, maka siswa perlu diajarkan keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif tersebut berfungsi untuk melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Sehingga penerapan model pembelajaran kooperatif learning sangat membantu dalam proses pembelajaran, karena siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi harus mau berbagi pengetahuan yang dia miliki kepada teman sekelompokknya, agar teman yang kemampuan akademiknya kurang dapat memahami dan mengerti materi yang telah di ajarkan.


B.     Saran
Perlunya menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran agar dapat memudahkan guru dalam menyampaikan materi sehingga siswa lebih mudah menerima materi yang telah disampaikan. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif learning maka siswa akan lebih mudah bersosialisasi dan memiliki rasa tanggung jawab.




















DAFTAR PUSTAKA
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : CV Pustaka Setia
Sanjaya, Wina. 2011. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta : Kencana Prenada Media
Winataputra, Udin S, dkk. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar